AKADEMI JAKARTA Sutardji Calzoum Bachri Pantas Dapat Penghargaan

Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Akademi Jakarta (AJ) kembali memberikan penghargaan kepada seniman setelah melalui argumentasi dewan juri yang terdiri dari Remy Sylado, Alfons Taryadi, Enin Supriyanto, Iman Soleh dan Karlina Supelli. Penghargaan untuk yang ke-8 kali tahun ini menetapkan Sutardji Calzoum Bachri sebagai penerimanya. Penghargaan pertama yang waktu itu berupa Hadiah Seni diberikan kepada drawawan WS Rendra AJ (1975).

Ketua Tim Juri Remy Sylado membacakan alasan masing-masing tim juri kenapa mereka memilih penyair kelahiran Rengat, Riau 24 Juni 1941. Alasan ini disampaikan pada acara penyerahan penghargaan Akademi Jakarta 2007 di Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Senin (10 Desember 2007).

Pada peristiwa yang sama AJ juga memberikan penghormatan kepada mantan Gubernur DKI Ali Sadikin sebagai pemancang tonggak peradaban dan martabat bangsa.

Alasan Alfons, intisari kebebasan Sutardji selaras dengan perspektif inspiratif yang menjadi salah satu dasar pertimbangan. Katanya : “Jika dulu Chairil Anwar mencetuskan “Tiga Menguak Takdir” sekarang “Satu Tardji Menguak Chairil”.

Enin menilai Sutardji berhasil merevitalisasi bahasa Indonesia , membuahkan hasil bahasa Indonesia yang utuh. Imam Umar berpendapat lewat kredonya Sutardji telah memerdekakan diri dari keterbatasan dalam bahasa Indonesia .

Sementara Karlina menilai Sutardji menguak yang semiotik dalam bahasa, bukan hanya simbolik, tetapi berhasil menggali makna bahasa dengan menemukan pentingnya bahan mentah bahasa, antara bunyi, gerak, tubuh, yang memang hanya mungkin tersingkap dalam bahasa puisi dan bukan logika bahasa konvensional.

Alasan Remy antara lain Sutardji menunjukkan larasnya antara sikap hidupnya, sikap keseniannya, dan tanggung jawab atas karyanya.Dan hal yang dilakukan Sutardji dengan cerdas dan cendekia. Jadi Sutardji pantas menerima penghargaan Akademi Jakarta

Seusai Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyerahkan sertifikat penghargaan, Sutardji pun menyampaikan pidato kebudayaan yang intinya di ambil dari kumpulan esainya Isyarat (2007). Ditegaskan Sutardji bahwa ia adalah penyair yang menulis tidak dari suatu kekosongan. Ia menulis di atas kertas yang telah berisi tulisan dan menulis di atas tulisan.Tulisan itu adalah hasil budaya dari subkultur yang sangat ia akrabi yaitu budaya Riau berupa mantera.

Sebagai penyair yang konsisten lebih 30 tahun yang lalu, Sutardji beberapa kali menerima penghargaan dalam dan luar negeri. Antara lain Anugerah Sastra berupa tropi lempengan patung wajah penyair Chairil Anwar, piagam penghargaan Dewan Kesenian Jakarta dan uang Rp 25 juta. Anugerah Sastra ini disampaikan Gubernur DKI waktu itu Sutiyoso (Jumat 20 Maret 1998). Untuk penghargaan dari AJ selain sertifikat, Sutardji juga menerima uang tunai Rp.50 juta.

Pidato Rendra

Meskipun kondisi fisik sudah melemah, Ali Sadikin (81) hadir menerima piagam penghormatan AJ yang disampaikan Ketua AJ Taufik Abdullah. Sementara pidato pengantar pemberian penghormatan disampaikan penyair/dramawan WS Rendra.

Menurut Rendra, di zaman Orde Baru ketika martabat kemanusiaan dan kebudayaan terpuruk di Indonesia, muncullah tokoh Ali Sadikin sebagai gubernur DKI Jakarta. Beliau tidak hanya membangun sosial dan ekonomi kota metropolitan, tetapi juga sadar akan pentingnya membangun kebudayaan.

Segi cita rasa dan tata nilai, kedua-duanya, diindahkan. Sebagai sarana pembinaan cita rasa didirikan Dewan Kesenian Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta, lengkap dengan sarananya Taman Ismail Marzuki yang dikelola oleh Lembaga Pusat Kesenian Jakarta. Bahkan juga diperhatikan pula Dokumentasi Sastra HB Jassin yang diberi gedung dan fasilitas yang semuanya berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta . Sedangkan di luar TIM didirikan gelanggang-gelangang remaja.

Adapun di bidang tata nilai, beliau mendirikan Akademi Jakarta yang bertindak sebagai pemantau dan penjaga tata nilai. Dan beliau selalu membela LBH (Lembaga Bantuan Hukum) sebagai pembela tata nilai yang berbentuk hukum.

Untuk semua itu Ali Sadikin juga mengalirkan dana pengelolaannya yang memadai. Bahkan tersedia pula dana untuk festival festival seni dan hadiah-hadiah seni. Ali Sadikin tidak sekedar menciptakan sarana-sarana dan dana-dana untuk kiprah kebudayaan, tetapi beliau memberikan kedaulatan yang penuh kepada lembaga-lembaga kesenian dan kebudayaan tersebut supaya berkiprah lebih mandiri, sesuai dengan hak azaz yang diperlukan.

Menurut Rendra, dampak pembangunan kesenian dan kebudayaan Ali Sadikin di Jakarta ini teryata menjadi takaran nilai bagi perkembangan kesenian dan kebudayaan di seluruh Nusantara. Seniman dan budayawan di seluruh Indonesia berpaling ke Taman Ismail Marzuki demi inspirasi dan dorongan dinamika kreativitas.

Dengan demikian, lanjut Rendra kepemimpinan Ali Sadikin yang cerdas, dinamis dan demokratis telah mampu menciptakan tolok ukur yang inspiratif bagi perkembangan peradaban dan martabat bangsanya.

Kenyataan sejarah inilah yang mendorong Akademi Jakarta mempersembahkan gelar kepada Ali Sadikin sebagai Pemancang Tonggak Peradaban dan Martabat Bangsa.

15 Desember 2007