Fiksi dalam Pelajaran Sejarah

Junaidi Abdul Munif
Lampung Post, 29 Nov 2011

WASIAT Bung Karno tentang sejarah; jasmerah (jangan sampai melupakan sejarah) menjadi sinyal bahwa sejarah menjadi bagian penting dari sebuah peradaban bangsa. Sejarah menjadi mozaik yang membentuk generasi kemudian, yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa generasi tua (masa lalu).

Di sini, sejarah kemudian tampil dalam oposisi biner; hitam-putih. Mozaik sejarah itu memunculkan konstruksi tentang apa yang disebut pahlawan dan pengkhianat. Begitulah sejarah diajarkan kepada anak didik di sekolah pada masa Orde Baru. Sebuah megaproyek pembentukan ideologi anak bangsa yang kerdil dan traumatis menghadapi sisi kelam sejarah.

Di titik inilah, kita sebetulnya sedang dibonsai untuk menjadi penakut, menjadi masyarakat yang tidak dewasa menghadapi perbedaan.

Secara aplikatif, pembonsaian masyarakat lewat sejarah bisa dilihat dari perangkat kurikulum pelajaran sejarah yang penuh sesak. Akurasi (5 W 1 H) berusaha dikejar semaksimal mungkin, kendati yang tampak adalah paparan sepotong demi sepotong peristiwa yang datar. Dengan alokasi waktu (jam pelajaran) yang sedikit, mustahil sejarah akan dipelajari (dan dipahami) dengan sangat mendalam oleh siswa. Sejarah yang diajarkan akhirnya menjadi sejarah yang muncul untuk dilupakan.

Pelajaran sejarah selama ini menitikberatkan pada pola sinkronik; peristiwa hanya didasarkan pada kurun waktu historis tertentu. Bukan pada pola diakronik, yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan perubahan sepanjang waktu. Kalau mengikuti strukturalisme, setiap peristiwa akan selalu berkaitan dengan perisitwa lain. Ini yang kurang menjadi perhatian dalam penulisan sejarah.

Budaya Menulis

Faktor yang membuat sejarah kurang diminati adalah rendahnya budaya baca dan menulis. Yang lantas memunculkan budaya dokumentasi yang masih lemah di banding budaya Barat. Tak aneh, buku babon sejarah Indonesia justru ditulis orang asing yang pernah melakukan kolonialisasi atau penelitian di Indonesia. Babad Tanah Jawi yang merekam sejarah masyarakat Jawa justru ada di Leiden, Belanda. Karena berbagai kelemahan itu, sejarah Indonesia selalu tampak remang-remang. Verifikasi sejarah sulit dilakukan karena minimnya sumber primer tertulis peristiwa (ber)sejarah.

Sejarah menjadi “dongeng” dan tuturan lisan yang rentan terjadi manipulasi fakta. Dan karena berbagai kepentingan pragmatis-politis untuk menancapkan hegemonisasi penguasa pada masyarakat, sejarah mengalami seleksi yang ketat untuk diajarkan di sekolah.

Sejarah bukan lagi history, melainkan his story (cerita dia/penguasa). His story ini menguat, misalnya ketika pemerintah menarik buku-buku pelajaran sejarah untuk SMP dan SMA dalam KBK 2004, yang membingungkan siswa (Dharmini, 2007).

Di samping itu, guru menyampaikan pelajaran sejarah masih terbatas pada metode ceramah yang sangat membosankan. Keberhasilan metode ini hanya sekitar 20%. Perlu dikembangkan sebuah metode berbasis kontekstual dengan menjadikan guru sebagai inovator penting untuk menyampaikan sejarah (Nurrakhman, 2007).

Novel Sejarah

Pelajaran sejarah dan kurikulum yang membingungkan demikian berdampak pada siswa yang menjadi objek pelajaran sejarah. Kebingungan tersebut dapat menyebabkan siswa tercerabut dari akar sejarah yang membentuk bangsa dan negaranya. Padahal, sejarah menjadi medium penting bagi siswa untuk mengenal dan memahami Indonesia.

Dunia sastra Tanah Air kini marak dengan novel berlatar belakang sejarah. Di rak sastra toko buku, novel sejarah hampir memenuhi separuh isinya. Kita tiba-tiba seolah kembali disentak dengan nama-nama tokoh yang mungkin nyaris terlupakan di benak kita seandainya novel sejarah itu tak masif seperti sekarang.

Ada dua kategori novel sejarah yang membanjiri rak toko buku. Pertama, adalah novel sejarah yang terkait dengan suatu peristiwa yang panjang dalam kurun tertentu -seperti tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, dan kedua novel sejarah yang merupakan “biografi” tokoh. Untuk kategori kedua ini, novel Presiden Prawiranegara (Akmal Nassery Basral) dan Gadjah Mada (Langit Kresna Hadi) bisa diajukan sebagai contoh.

Apsanti Djokosujatno (2002) meneliti beberapa contoh novel sejarah yang menjadi prototipe penulisan novel sejarah di Indonesia. Setidaknya, dari paparan dia, sejarah menjadi tema sentral kendati ada yang memperlakukan tokoh sejarah sebagai latar utama cerita maupun hanya pelengkap.

Penulisan novel sejarah akan menghadirkan tantangan tersendiri. Novel adalah fiksi (dunia rekaan), sementara sejarah adalah fakta (peristiwa) yang telah terjadi. Penulis novel sejarah dengan demikian, sejatinya adalah peneliti sejarah. Pramoedya Ananta Toer adalah contoh sastrawan yang juga peneliti sejarah yang baik karena semasa hidupnya dia mengumpulkan kliping koran sebagai arsip peristiwa.

Maraknya penulisan novel sejarah adalah sebuah otokritik bagaimana sejarah dan pelajaran sejarah belum menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Novel-novel Pram yang di masa Orde Baru dilarang terbit, kini menjadi buruan masyarakat yang ingin melihat sejarah Indonesia dari kacamata “subversif”. Sementara itu, novel sejarah akhir-akhir ini seperti latah, tanpa harus melakukan kerja riset yang mendalam. Banyak kisah dari tuturan lisan yang lantas dinovelkan, menyaru sebagai novel sejarah.
__________________________
*) Junaidi Abdul Munif, Peneliti el-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/11/fiksi-dalam-pelajaran-sejarah.html

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/