Jangan Sampai Sejarah Indonesia Lebih Dikenal Orang Asing

Jimmy Hitipeuw
Kompas, 1 Des 2011

Pesan dari judul di atas bisa dianggap berlebihan, tetapi justru hal ini yang terjadi saat sejumlah warga asing lebih peduli terhadap sejarah maupun kebudayaan Indonesia. Indikator sederhana yang bisa dijadikan contoh, di antaranya, masih minimnya jumlah pengunjung museum di Indonesia.

Jumlah pengunjung museum setiap tahunnya masih di bawah 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya. Pemerintah sampai menetapkan Tahun Kunjung Museum 2010 setelah jumlah pengunjung museum dari tahun ke tahun mengalami penurunan seperti tercatat pada 2006 jumlah pengunjung sebesar 4,56 juta dan terus menyusut menjadi 4,17 juta pada 2008.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan rendahnya jumlah pengunjung museum di Indonesia, mulai dari rendahnya apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan hingga pilihan masyarakat yang lebih besar dijatuhkan pada liburan di pusat keramaian, seperti tempat hiburan dan pusat perbelanjaan ketimbang di museum.

“Kaum muda lebih memilih tempat hiburan ataupun pusat perbelanjaan untuk menghabiskan masa liburan daripada datang ke museum,” seperti diakui Reni Susanti Radi, Sales & Marketing Director Museum Pasifika, dalam wawancara melalui telepon dengan Kompas.com, akhir pekan lalu.

Padahal, menurut Reni, museum merupakan sarana yang baik untuk meningkatkan wawasan mereka. Bahkan, Reni menambahkan, Indonesia dikenal luas di sejumlah negara lain karena kekayaan kebudayaan dan sejarahnya.

Reni mencontohkan museum seni Pasifika, tempat ia berprofesi, lebih dikenal di luar negeri ketimbang di dalam negeri. “Sejak pertama kali dibuka, Perdana Menteri Singapura dan para tamu negara menyempatkan diri untuk melihat museum ini,” kenang Reni saat museum yang terletak di BTDC Area, Blok P Nusa Dua, Bali, itu dibuka 5 tahun lalu.

Dari Museum Pasifika yang didirikan oleh warga Perancis, Philippe Augier, itu, pengunjung akan melihat fakta sejarah bahwa popularitas Indonesia di mata dunia terbentuk, di antaranya, melalui campur tangan sejumlah seniman asing, seperti Miguel Covarrubias. Sejarawan, ilustrator, kartunis, etnolog, dan seniman asal Meksiko ini melambungkan citra Bali di New York pada tahun 1930-an lewat buku yang ditulisnya, Island of Bali.

Miguel bersama istrinya Rossa saat itu juga memproduksi film dokumenter yang menggambarkan Bali pada tahun 1930-an. Buku dan film dokumenter ini banyak menginspirasi para pengunjung dan seniman asing saat itu untuk mengunjungi Bali dengan keunikan seni budayanya.

Masih ada banyak lagi warga asing yang memopulerkan Indonesia, khususnya Bali, lewat apresiasi seni dan budaya pada masa lalu, seperti pelukis asal Belgia, Adrien Jean Le Mayeur; seniman asal Australia, Donald Friend; serta Gabrielle Ferrand, seniman dan wartawan Perancis yang berkeliling Nusantara pada awal tahun 1920.

Reni menilai kesadaran akan nilai seni dan budaya telah menumbuhkan apresiasi warga asing terhadap keberadaan museum di Indonesia. Beranjak dari masalah ini pula, Reni menuturkan, nilai seni dan budaya yang ditawarkan museum di Indonesia seakan kurang terangkat publikasinya karena masih banyak wartawan yang belum mengerti akan nilai-nilai ini.

“Masih banyak kaum muda yang tidak mengenai seni. Padahal, seni bisa mengharumkan nama bangsa…. Mereka justru lebih mengenal artis sinetron. Kalau ke Bali, mereka tentu lebih sibuk dengan water sports atau belanja kaus,” jelas Reni saat mendeskripsikan masih rendahnya animo masyarakat, terutama kaum muda, untuk berkunjung ke museum.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/jangan-sampai-sejarah-indonesia-lebih.html