Evi Melyati
http://www.suarakarya-online.com/

Saat sepasukan orang bersenjata datang ke rumahnya menjelang tengah malam, Masdin sedang lelap. Samsinar membangunkan anak lelaki sebelas tahun itu. “Lari, Din, lari!” seru sang ibu menyuruhnya lari, sambil mematikan satu-satunya lampu listrik yang menyala.

Tapi, sudah terlambat. Badrun mendengar sepatu rimba menapaki anak tangga pintu belakang. Ia menyelinap ke kamar penyimpanan padi dan bersembunyi dalam gulungan tikar pandan. Terdengar pintu depan dan belakang didobrak bersamaan, dan langkah-langkah berat memasuki rumah panggung itu.

“Mana Si Samsul!” seseorang berteriak. Tak ada jawaban. Masdin tahu ibunya sedang ketakutan. “Mana!” Pintu kamar sebelah, kamar Samsinar ditendang, diiringi jerit ketakutan penghuninya. “Ayo, jawab! Aku menginginkan Samsul.” Lalu, lampu kamar itu dihidupkan. “Oh,” Suara sang pemimpin pasukan merendah. “Kau istri Samsul, ya? Mmh, cantik juga … ” bisiknya. Hidung mancung khas perempuan Aceh membangkitkan seleranya.

Masdin menahan napas ketika seseorang yang lain menghidupkan lampu di kamar persembunyiannya. Tapi, bohlam di kamar itu sudah lama putus. Orang yang sama menorotkan nyala lampu senter ke seluruh ruangan, namun tak memergoki Masdin. ia kemudian berbalik menuju kamar Samsinar. “Semua kamar sudah diperiksa, Komandan. Tak ditemukan seorang pun,” katanya.
“Ya, sudah.” seru komandan. “Sekarang, berjaga sampai aku selesai menanyai perempuan ini.”

Tentu saja yang ditanyai menjawab “hana tepeu”. Karena, Samsinar memang benar-benar tak mengetahui keberadaan suaminya. Kunjungan Samsul terakhir, enam bulan silam, terjadi selepas tengah malam, dan untuk satu jam saja. Dan, kalaupun tahu keberadaannya sekarang, ia tidak akan berani mengatakannya, atau nyawa ibu satu anak itu siap melayang.

Masdin mendengar detak sepatu diiringi suara pergeseran tubuh ke tempat tidur. Terdengar lelaki itu berkata lirih, “Karena kau tak mau menyebutkan dimana suamimu, aku bisa membunuhmu”. Kemudian, suara itu berubah serak, “Kecuali kau mau meladeniku”.

Samsinar langsung memahami maksud komandan. Ia terdengar berkata dengan suara gemetar, “Jangan, Pak. Jangan! Bunuh saja saya, Pak”
“Aku tak ingin membunuhmu.”

Kemudian terdengar tempat tidur berderik, tubuh didorong dengan kasar, dan upaya Samsinar melawan. “Jangan, Pak. Ini dosa, Pak.” Lalu, plak-plak! diiringi suara tangis perempuan tertahan-tahan, kemudian suara bentakan laki-laki: “Diam!”

Masdin di kamar terkesiap. Ia keluar dari persembunyiannya, menyerbu kamar ibunya. Melihat Samsinar terdesak ke sudut tempat tidur, dan sedang dilucuti pakaiannya, Masdin menubruk lelaki itu, sambil memekik, “Binatang paleh!” Lelaki yang disebut “biadab” itu terperanjat, lalu menangkap tubuh Masdin, membawanya ke luar kamar, dan mencampakkannya ke bawah. Ia menggelinding melalui tangga dan jatuh ke tanah. “Mak, Mak” jeritnya. “Aku tidak terima. Tunggu kalau aku besar, akan kucari dan kubunuh dia!” Ia kemudian pingsan.

Di antara sadar dan tidak, Masdin lamat-lamat mendengar suara burung-burung pagi menyambut cahaya terang di ufuk timur. Lalu, kokok ayam. Dan, ketika azan dikumandangkan di meunasah, ia tersentak dan meneriakkan “Mak!” orang sekampung mengerubunginya. “Mak. Mak” serunya lagi. “Makmu dibawa”, kata seseorang. “Kalau kau tak pingsan, kau pun dibawa mereka. Ibumu akan dilepas kalau ayahmu menyerahkan diri.”

Sulitnya meminta Samsul menyerahkan diri, apapun yang menjadi taruhannya. Mereka telah menjadi anggota Angkatan Gerakan Aceh Merdeka alias AGAM itu kemana-mana, sejak ia mwembunuh orang-orang yang dianggap memusuhinya, baik sipil maupun militer, terutama di kawasan Pidie dan sekitarnya. Demi keselamatannya pula, ia tak pernah lagi menghubungi Samsinar maupun Masdin.

Anak tanggung yang tadinya ceria itu kini jadi pemurung. Sudah seminggu ibu Masdin ditahan di pos komandan, tapi belum juga dipulangkan. Ketika menjenguknya, ia melihat ibunya makin kurus dan cekung. kata penjaga, Samsinar tak akan dipulangkan sebelum Samsul menyerahkan diri. Masdin putus asa.

Enam bulan kemudian. Samsinar dipulangkan. Badannya tinggal kulit pembungkus tulang. Tapi Masdin heran, mengapa perutnya gemuk? Lalu, ada yang mengatakan, ia akan segera punya adik. Ketika menanyakan pada ibunya, yang ditanya menjawab dengan lelehan air mata. “Entahlah, Din. Jangan kau siksa lagi aku dengan pertanyaan itu. “Suatu malam yang berhujan lebat, Masdin terbangun. Ia mendengar suara ayahnya yang memaki-maki ibunya. “Dasar perempuan lacur, relanya kau menyerahkan kehormatanmu pada serdadu-serdadu itu.”
“Tidak, Bang! Demi Allah. Aku dipaksa”
“Kau mestinya memilih mati daripada…”
“Aku minta dibunuh,tapi mereka tak melakukannya.”
“Mengapa kau tak bunuh diri saja”
“Astagfirullah, Bang! Itu dosa!”
“Aku tak bisa menerima aib ini. Aku sering diejek-ejek rekan-rekanku”

“Terserahlah, apa hukuman Abang padaku. Cuma bayi yang kukandung ini” Masdin mendengar senjata dikokang. Ia lari ke kamar ibunya, dan berteriak, “Ayah! Mak!”

Pistol Samsul meledak. peluru tembus ke jantung Samsinar, dan ia langsung terkulai. Matanya sempat bertemu dengan mata Masdin, lalu redup.

Masdin terpana menatap ibunya, lalu ke ayahnya. Samsul membelai kepala anaknya. “Ini demi kehormatan kita, Nak.” Ia lalu bergegas pergi. Hati anak itu luka. Sejak itu, Masdin berpatah arang dengan ayahnya. Apapun alasannya, ia tak habis mengerti, bagaimana seorang lelaki tega membunuh istrinya yang merupakan ibu anak kandungnya. Hubungan badan ibunya dengan komandan, pikir Masdin, terjadi karena paksaan.

Meski neneknya mengurus Masdin dengan kasih sayang, sebagai janda renta ia lemah mengontrol cucunya itu. Anak tersebut tetap ke sekolah, yang baru dibangun setelah dibakar oleh entah siapa. Cuma, ia kini lebih banyak merenung, dan jadi perokok ganja yang hanya perlu melangkah ke belakang rumah untuk mendapatkannya.

Masdin hidup dalam kebencian dan dendam yang tak kunjung padam. Membenci dan mendendami ayahnya dan komandan. Ia berjanji akan bikin perhitungan dengan keduanya. Entah bagaimana caranya, ia ingin ke Jakarta, tempat komandan kini berada.

Niatnya itu diketahui seorang pengumpul ganja bernama Bongi. Di warung kopi Nyak Neh, lelaki itu berkata “Aku dengar kau ingin membunuh pembunuh ibumu?”
“Darimana Bang Bongi tahu?” kata Masdin. “Tapi, tidak sekarang. Kalau aku sudah agak besar.”
“Kau tak perlu melakukannya sendiri, Din. Kau bisa mengupah seseorang…”
Masdin termenung. Benar juga. “Bantulah aku mengawal bakong ke Jakarta. Kau akan diupah.”

Masdin tahu bahayanya, sehingga membuatnya ragu. Tapi, dendamnya kepada si pemerkosa ibunya mendorong anak itu mempertimbangkannya. “Kau akan dapat Rp 5 juta sesampai di Jakarta.” kata Bongi.
“Cukupkah Rp 2,5 juta sewa pembunuh?” ujar Masdin.
“Di Jakarta,” tanggap Bongi, “seseorang siap membunuh hanya karena uang sepuluh ribu.”

Perjalanan ke Jakarta lancar. Mungkin karena truk yang mengangkut 100 kg ganja yang ditimbun banyakberkeranjang isi jeruk nipis itu dikawal seorang aparat berseragam yang duduk di samping sopir. Masdin tidak tahu, sang oknum dimanfaatkan Bongi atau ia sendiri ikut dalam bisnis daun ganja itu. Yang penting bagi Masdin, janji Bongi padanya ditepati.

Setelah dua bulan di Jakarta, Masdin menyadari tak mudah meluapkan dendamnya pada pemerkosa ibunya. Sejumlah orang yang ditemuinya di kantong orang Aceh di Jakarta menertawai gagasannya. “Tak gampang Din.

Apalagi ia tinggal di asrama,” kata Arifin yang masih kerabatnya di Pasar Minggu. Arifin semasih di Aceh adalah pedagang kain di pasar Seulimeum yang bangkrut karena diperas kiri-kanan.Lari ke Jakarta dengan sisa kejayaannya, Arifin mencoba merintis usaha di Ibukota. Memang ada yang membantu Masdin mengintip di sejumlah tempat, yang ternyata hanya menghabiskan uangnya untuk transfortasi dan makan-minum. Lalu pemuda tanggung itu bertekad, “Aku harus melakukan dengan tanganku sendiri, nanti, setelah aku lebih besar.”

Lama Masdin menghilang dari Pasar Minggu, seperti ingin menghindar dari orang-orang sedaerahnya. Ketika akhirnya singgah juga, Arifin langsung menyambar. “Aku sudah lama mencarimu. Ada pesan penting dari nenekmu.” Masdin mulai menduga yang buruk-buruk.
Arifin menggeleng. “Ia baik saja. Tapi, ayahmu”
“Apa peduliku dengan Ayah,” ujar Masdin.
“Tapi ayahmu meninggal”
Air muka Masdin dingin saja. “Syukurlah. Aku tak perlu berpayah lagi,” katanya.
“Masdin. Itu kan ayahmu”
“Tapi, ia pembunuh ibuku”
Arifin terdiam. “Ayahmu tertembak teuntra di Padangtiji,” katanya lama kemudian.
Masdin menunduk. Matanya panas, lalu basah. Ia sesunggukan, dan rebah di pelukan Arifin.
“Kau sedih ayahmu meninggal?”
Masdin menggeleng. “Aku ingat ibuku, Bang Arifin”

Bertahun-tahun kemudian, dendam dan bencinya itu bertambah. Ia ingat nama pemerkosa itu. Berperawakan tegap dengan bekas jerawat batu di wajahnya dan sebuah tahi lalat sebesar kacang hijau di dagunya.

Jatuhnya Soeharto dan terbongkarnya kekejaman masa Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh tak meredam benci dendamnya. Tanpa pekerjaan dan uang, Masdin terjerumus dalam peredaran ganja. Kalau sudah menjadi pengedar, jadi pemakai tinggal selangkah. Ketika bayangan Samsinar sering muncul dalam mimpinya, ibunya seperti menuntutnya: pembalasan dendam. Masdin pun tambah frustrasi.

Dalam keadaan demikian, ia mulai berkumpul dengan pemakai narkoba sambil memakainya. Ia juga menjajakannya kepada anak-anak sebayanya. Karena bukan pemakai yang berada, mereka acap menggunakan jarum suntik yang sama untuk banyak pemakai. Mereka pun saling menukarkan virus penyakit yang melemahkan kekebalan tubuh.

Kini Masdin tak bisa melepaskan diri dari jarum suntik. Dan, ia menerima vonisnya. Badannya ceking tanpa daging, matanya sayu, sering muntah dan tanpa gairah hidup, kecuali ketika ia lagi sakau. Jika ia terluka, sukar sembuhnya. Makin lama berat badannya merosot, kesehatannya menurun, dan ia tinggal menghitung hari.
Teman-teman dan pemasok “obat”nya sudah tak pernah singgah lagi di rumah kosong itu.
Suatu hari Masdin tergolek lemah di rumah itu. Tempat itu sudah diintai aparat.
“Mak” lenguhnya lirih ketika menyadari hari akhirnya akan segera tiba. ‘Dendamku belum impas, Mak”.

Hari masih pagi ketika polisi mengepungnya. “Masdin dan yang lainnya!” seru seorang polisi. “Keluar dengan tangan di kepala! Atau, kalian akan terbunuh!”

Tak ada tanggapan. Polisi mengulang seruan, tetap tak berjawab. Setelah seruan diulang tiga kali, dan tanpa jawaban, rumah kosong itu diserbu.

Tapi, polisi hanya menemukan sebatang tubuh kurus terbaring kaku, dikerubuti lalar hijau. Ia tewas membawa luka yang abadi.

***26 November 2011

Categories: Cerpen