Apa yang Sebenar? Bagaimana yang Semesti?

Alvi Puspita
http://www.riaupos.co.id/

Mengikuti tulisan Marhalim Zaini “Akulah Melayu yang Berlari” yang disambut oleh Syaukani Al Karim dengan “Ikhwal Melayu dan Jalan Kemelayuan” dan disinggung pula oleh Yusmar Yusuf lewat tulisannya “Kata Rayap”, maka pertanyaan yang muncul pada diri saya adalah apakah yang sebenarnya? Apakah yang sebenarnya sedang diperbincangkan? Kenapa? Persoalan Melayu? Persoalan apanya? Marhalim dan Syaukani sama-sama menulis tentang Melayu. Tapi adakah sama Melayu yang dimaksud Marhalim dengan yang dimaksud Syaukani? Kalau berbeda, di mana titik bedanya dan adakah titik temu dari yang berbeda itu?

Maka beginilah dugaan saya. Membaca paragraf awal tulisan Marhalim: Hari ini, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak (kembali) ditegakkan itu, hal yang saya tangkap dari kalimat pembuka ini adalah usaha Marhalim untuk menggambarkan realitas kekinian kita di sini, di Riau, yaitu berada dalam sebuah kesadaran akan pentingnya sebuah eksistensi identitas kemelayuan yang mengarah pada etnisitas. Tapi mengapa, untuk apa dan bagaimana? Saya pikir hal-hal itu yang dicoba dikemukakan oleh Marhalim lewat tulisannya itu yang saya pahami sebagai bentuk autokritik terhadap kemelayuan dan juga disertai dengan tawaran solusi langkah konkrit yang bisa kita lakukan.

Jawaban Marhalim atas pertanyaan mengapa munculnya kesadaran ikhwal identitas itu adalah sebagai bentuk reaksi logis Riau setelah puluhan tahun berada dalam derita diskriminasi, baik sosial, politik, ekonomi maupun kultural yang kesemua hal tersebut menurutnya menyebabkan kita tanpa sadar berada dalam situasi krisis identitas. Kita disini sedang mengalami krisis identitas karenanya muncul kesadaran untuk memunculkan eksistensi identitas yang mengarah pada etnisitas yang mewujud pada even-even budaya yang kita buat. Positif atau negatifkah ini?

Berdasarkan pembacaan saya, keseluruhan pada tulisan itu maka jawaban yang ia berikan, akan menjadi negatif jika kesadaran ini membuat kita orang-orang Melayu di Riau menjadi orang-orang yang tertutup dan mengisolasi diri dengan sengaja atau tanpa sadar. Asumsi atau katakan juga kritikan tentang Riau yang tertutup dapat kita tangkap dari kalimat, “Melayu” harus dimaknai sebagai sebuah rumah yang terbuka. Namun kesadaran identitas itu akan menjadi positif jika disertai dengan kesadaran yang didalamnya terkandung ideologi yang jelas yang teraplikasi lewat gerakan kebudayaan. Karena realitasnya bahwa memang kita berada dalam kepungan nilai-nilai baru yang saban hari disebarkan lewat media massa, media elektronik dll, sehingga memang perlu adanya kesadaran akan identitas lokal dan etnisitas sebagai tameng ataupun penapis atas segala hal yang dari luar. Tapi identitas dan etnisitas yang seperti apakah? Dan Marhalim mengutip Dwyer bahwa etnisitas itu bukan hasil dari proses isolasi, tapi dari proses hubungan. Dan proses hubungan atau interaksi sosial itu tentu tak dapat secara secepat kilat menjelmakannya dalam kegiatan-kegiatan yang instant namun disertai dengan gerakan yang disertai upaya yang sinergis antara berbagai pihak untuk membentuk pilar-pilar penyanggah dari tujuan yang hendak dicapai.

Begitulah, ujar Marhalim, dan menjadi Melayu yang berlari, kiranya itulah yang dihimbaukan Marhalim karena ia memahami bahwa identitas adalah sesuatu yang bergerak, sebuah proses terus-menerus. Dan sekiranya tujuan yang ingin dicapai dari Melayu yang berlari itu adalah individu-individu yang sadar diri kalau ia sedang berada pada masa kekinian sehingga tindakan-tindakannya mengarah pada upaya-upaya untuk menjawab persoalan kekinian tersebut. Dan menurut saya beruntunglah kita sebenarnya karena kita memiliki masa lalu tempat menoleh yaitu Melayu dulu yang meminjam istilah Syaukani sesuatu yang telah selesai.

Kemudian, dari tulisan Syaukani Al Karim “Ikhwal dan Jalan Kemelayuan” begini pula pembacaan saya. Membaca paparan Syaukani dari paragraf pertama sampai ketiga, maka kita seolah diajak pada alur pikiran bahwa persoalan ikhwal eksistensi sebuah puak, ras atau bangsa itu adalah biasa. Persoalan kami dan kalian itu menjadi wajar dikemukakan karena sudah menjadi semacam bagian perjalanan kehidupan manusia dari masa ke masa kerena seperti apa yang dikatakan Syaukani di awal tulisannya bahwa secara kejiwaan, seorang anak manusia, selalu merasa lebih nyaman dan terlindungi, ketika berada di tengah-tengah komunitas yang dekat dengan dirinya, seperti keluarga sedarah, kawan sekampung, teman bermain, serta hal-hal lain yang mendekatkan secara batiniah.

Oleh karenanya Syaukani maklum kenapa pertanyaan-pertanyaan seputar Melayu dan kemelayuan yang sudah sering dipertanyakan sedari dulu kala kembali dipertanyakan oleh Marhalim. Namun, pada paparan selanjutnya maka kita dapat melihat titik beda antara pandangan Marhalim dan Syaukani. Syaukani berpendapat bahwa persoalan identitas dan etnisitas bagi orang Melayu sudah selesai. Sudah sangat terang sama sekali seperti bersuluh matahari. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana naskah-naskah lama sudah menjawab persoalan-persoalan itu dan secara jasadi menurut Syaukani juga sudah selesai dan teramat jelas pula ketika Provinsi Riau terbentuk pada tahun 1957.

Perbedaan cara pandang selanjutnya antara Syaukani dan Marhalim adalah soal keterbukaan orang Melayu. Kalau dari tulisan Marhalim secara implisit kita menangkap bahwa Melayu itu tertutup dan mengisolasi diri maka menurut Syaukani, Melayu sungguh amat sangat terbuka bahkan sampai-sampai tak berpintu sama sekali. Dan kejayaan kebudayaan serta peradaban Melayu itu malah terbentuk karena proses keterbukaan yang dimiliki oleh orang-orang Melayu. Keterbukaan malah sudah menjadi sifat dasar orang Melayu. Karenanya, kalau Marhalim mengajak Melayu untuk berlari (proses mengejar sesuatu, yang bisa pula diartikan bagian dari proses membentuk sesuatu yang baru) maka Syaukani mengajak untuk mengisi Melayu (karena ia sudah selesai) dengan roh kemelayuan yang lebih mengarah pada pembentukan individu-individu yang memiliki nilai-nilai keberanian, kedermawanan, kebersamaan, kehormatan, toleransi, intelektualitas, dan kesungguhan atau kegigihan dalam dirinya.

Maka dari pembacaan kedua tulisan tersebut, menurut saya memang terdapat perbedaan antara Melayu yang dimaksud Marhalim dan Melayu yang dimaksud Syaukani sehingga berbeda pula cara menyikapinya. Terdapat perbedaan pemaknaan tentang identitas. Kalau Marhalim memandang identitas sebagai proses menjadi terus menerus maka bagi Syaukani identitas adalah soal mengisi dan meneruskan karena ia sudah selesai. Jika boleh saya menyebut begini, Marhalim beranjak dari kini sedang Syaukani beranjak dari masa lalu dalam artian bukan berarti salah satu adalah negatif atau salah.

Perbedaan pemaknaan identitas menyebabkan perbedaan cara menyikapi. Namun saya pikir dari perbedaan pandangan tersebut ada titik temu antara keduanya yaitu rasa cinta terhadap Melayu, keinginan untuk membangun agar Melayu itu tetap “ada”. Yang satu mewujudkan rasa cinta itu dengan autokritik sedang yang satu dengan semangat romantisme. Dan hal ini bagi saya menarik dan saya pahami sebagai salah satu bentuk perwujudan dari istilah “rumah yang terbuka” itu. Terbuka terhadap dialog dan wacana lain. Kalaulah kita mencoba jujur bertanya dan menjawab telah betul-betul terbukakah kita untuk saling berdialog antara kita yang di dalam (di Riau) dan dengan yang di luar walaupun memiliki paradigma yang berbeda? Kalau sudah, syukurlah. Kalau belum, mengapa? Rasa gamangkah atau rasa enggan? Mengapa enggan?

Dan sebagai penutup tulisan ini, saya ingin turut pula menyampaikan apa yang saya pikirkan. Menurut saya segala apa yang dihasilkan oleh orang-orang dulu adalah reaksi terhadap kekinian pada masa itu. Dan adakah kita bisa menjamin kalau kekinian dulu betul-betul sama dengan kekinian sekarang. Kalau sama ya sudah selesai kita tinggal pakai apa yang sudah ada. Tapi kalau tidak sama, maka tetap memakai hal-hal yang merupakan hasil produk dulu tanpa sikap kritis itu menurut saya membuat kita mematikan diri sendiri. Mematikan Melayu, walaupun wacananya adalah ingin menghidupkan dan bahkan membuatnya mendunia. Dan agar tidak mati bagaimana?

Menurut saya salah satunya adalah dengan membaca keadaan kita kini secara jujur dan menjawabnya secara jujur pula, apa yang kita alami, apa yang kita butuhkan dan apa yang bisa kita lakukan dari segala potensi kita kini. Walaupun tidak tertutup kemungkinan salah satu solusinya adalah tetap melihat pada masa lalu tapi itu bukanlah hal mutlak dan harus dan tanpa disertai pula pembacaan kritis. Dan apakah mesti dengan berlari? Ya belum tentu juga.
Lalu, apa yang sebenar? Bagaimana yang semesti? Mari…***

Alvi Puspita, Lahir di Teratak, Kampar, saat ini sedang studi S-2 di salah satu program studi UGM. /25 Desember 2011