Ali Audah, Sastrawan dan Penerjemah Tanpa Sekolah (1)

Budiman S Hartoyo
http://harian-aceh.com/

Ia belajar membaca dan menulis dari teman sepermainan dengan mencoret-coret di tanah. Membaca buku apa saja hingga menguasai beberapa bahasa asing. Akhirnya jadi sastrawan, kolomnis, dan penerjemah andal. Contoh baik keberhasilan pendidikan lewat buku.

Anda niscaya akan membelalakkan mata, berdecak kagum, dan menggeleng-gelengkan kepala mengetahui bahwa lelaki yang namanya terkenal sebagai sastrawan, intelektual, dan penerjemah andal ini ternyata tak tamat madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar.

Ia bahkan pernah menjadi ketua Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan pembantu rektor sebuah perguruan tinggi. Kini bahkan masih aktif sebagai dosen.

Dulu, di madrasah ia begitu badung sehingga sempat dikerangkeng oleh gurunya. Maka sejak lepas dari hukuman itu, ia tidak pernah lagi “makan sekolahan” sampai tua.

Tahun 1930-an, pada zaman kolonial Belanda itu, ia hanya sempat belajar huruf latin dari kawan-kawan sepermainan. “Saya belajar membaca dan menulis dengan mencoret-coret huruf di tanah sambil main gundu,” tuturnya. Selebihnya, ia bermain layang-layang atau mandi di kali seperti layaknya anak-anak bengal.

Tapi, kemauan belajarnya keras. Ia belajar sendiri, ‘mengunyah’ buku apa saja. Meski lahir dari keluarga berdarah Arab, untuk dapat menguasai Bahasa Arab yang baik, di zaman Jepang ia merasa perlu mengambil kursus tertulis Soember Pengetahoean, Bandung.

Ia adalah Ali Audah kelahiran 14 Juli 1924. Niscaya tak seorang pun peminat sastra Indonesia modern yang tak mengenal namanya, baik sebagai sastrawan, maupun penerjemah.

Karya terjemahan unggulannya yang terbit pada 1995 adalah Abu Bakar as-Siddiq, Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi–alih bahasa dari karya wartawan dan sastrawan Mesir terkenal, Dr Muhammad Husain Haekal (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1995, 391 halaman).

Sebelumnya, ia meluncurkan buku Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya karya mufasir terkenal, Abdullah Yusuf Ali, dua jilid (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993, masing-masing 750 halaman) hasil terjemahannya.

Salah satu karyamasterpiece-nya ialah Konkordansi Qur’an, Panduan Kata dalam Mencari Ayat Qur’an (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1991, 861 halaman).

Ide menyusun konkordansi itu muncul ketika beberapa dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) mengeluh sangat sulit mancari ayat Al-Quran karena mereka kurang mengenal Bahasa Arab. Konkordansi Ali Audah ini memang sangat memudahkan bagi orang awam sekalipun untuk mencari ayat Al-Quran.

Dari tangannya juga telah lahir karya terjemahan yang mendapat pujian banyak kalangan dan juga laku di pasaran buku, yaitu Sejarah Hidup Muhammad, juga karya Muhammad Husain Haikal (Litera AntarNusa, Bogor-Jakarta, 1992, 697 halaman).

Pertama kali terbit pada 1992, buku itu sudah dicetak ulang sampai 15 kali. Pada 1995 ini mungkin sudah dicetak ulang lagi beberapa kali.

Sebagai sastrawan (dan intelektual) Ali Audah tidak pernah menerima pesanan untuk menerjemahkan sembarang buku. “Saya hanya menerjemahkan karya-karya besar yang saya nilai bermutu dan bermanfaat,” katanya.

Pengarang dan penerjemah jenis begini lazimnya memang sama sekali tidak memperhitungkan apakah kelak bukunya laku dan menghasilkan untung. Ia semata-mata hanya memikirkan mutu sebuah karya.

Ali Audah, misalnya, menerjemahkan novel Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir pertama penerima Hadiah Nobel, yang diterjemahkan dengan judul Lorong Midaq (Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, 421 halaman), biarpun pembelinya mungkin hanya segelintir peminat sastra saja.

Tokoh kita ini berpembawaan tenang dan pendiam. Sifat itu pula agaknya yang berpengaruh atas perjalanan karirnya sebagai sastrawan. Sebagaimana terungkap dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (Pustaka Grafiti, Jakarta), ia berhasil mengangkat namanya di gelanggang sastra tidak dengan cara yang meletup-letup, sementara popularitasnya juga ajeg. Itu tak berarti tak ada frustrasi dalam diri tokoh novelnya, Jalan Terbuka.

Bahkan ada kritikus sastra yang cenderung menggolongkan novel tersebut–juga novel-novel Indonesia lainnya yang terbit antara tahun 1950-1966, seperti Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis dan Royan Revolusi karya Ramadhan KH–sebagai cerminan rasa frustrasi kaum intelektual terhadap kehidupan sosial dan politik.

Itu artinya, Ali Audah, si anak yang hanya kelas I SD–tapi “membanting otak” untuk belajar sendiri dengan sangat keras itu–saat itu mampu mempersoalkan problem kejiwaan kaum intelektual Indonesia.

Bayangkan, betapa keras Ali Audah mendidik diri sendiri sepanjang umurnya. Biarpun ia “membolos” sampai di hari tuanya, ia mampu menguasai berbagai bahasa asing dengan baik: Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda.

Tak hanya bercakap-cakap, membaca dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, tapi juga menguasai seluk-beluk tata bahasanya, terutama Bahasa Arab dan Inggris. Ia sering bertandang ke Singapura, Malaysia, beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa, untuk menghadiri konferensi atau seminar kebudayaan.

Tentu saja ia harus menulis makalah dalam bahasa asing. Biasanya dalam Bahasa Arab atau Inggris. Kalau kini ia merupakan seorang dari sangat sedikit penerjemah yang andal, bisa dipahami betapa baiknya ia menguasai bahasa asing.

Tentu saja ia juga menguasai Bahasa Indonesia. Bukan hanya lantaran ia orang Indonesia, lebih dari itu ia juga menguasai tata bahasa dan seluk beluknya. Ia dikenal sebagai penulis kolom yang baik dan sastrawan yang kreatif, dengan Bahasa Indonesia yang terpelihara.

Sejak mampu membaca dan menulis di usia SD, Ali Audah kecil rupanya penasaran. Ia belajar sendiri dengan “mengunyah” apa saja. “Saya baca apa saja, mulai dari kertas koran pembungkus kue atau gula pasir, sampai majalah bekas dan buku-buku pelajaran atau bacaan anak-anak sekolah kawan sepermainan,” tuturnya.

Ia sendiri sudah lupa mengapa tertarik pada sastra. Tapi, yang pertama kali ia baca antara lain karya pengarang Merajoe Soekma dari Banjarmasin. Di usia remaja, di Bondowoso, Jawa Timur, mula-mula ia gemar melukis. Belakangan menulis puisi dan naskah drama.

Pada tahun 1940-an, ia mendapat hadiah pertama dan kedua dalam lomba menulis puisi dan drama se-Jawa Timur. Dan untuk pertama kali, puisinya dimuat di majalah Sastrawan, Malang, di awal revolusi.

Karena tertarik pada karya-karya pengarang Muhammad Dimjati, ia pun berusaha mencari dan berkenalan dengan wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal di tahun 1950-an itu di Solo.

“Saya banyak belajar dan mendapat dorongan semangat dari Pak Dim (Muhammad Dimjati) yang tinggal di sebuah rumah sederhana di perkampungan batik di Laweyan,” tuturnya lagi. Ia pun lantas menetap di Solo.

Barangkali lantaran mendambakan suasana tenang dan sejuk untuk menulis, maka di awal 1950-an ia pindah ke Bogor. Dan memang, bahkan sampai sekarang pun, Ali Audah hanya hidup dari menulis, dan “berkantor” di rumahnya.

Sejak itu dari tangannya meluncur sejumlah karya berupa cerita pendek, esai, kritik sastra, beberapa artikel mengenai berbagai masalah kebudayaan dan kesenian. Ia juga menerjemahkan karya-karya sastra dan buku-buku agama karya para sastrawan dan penulis terkenal.

Selain itu, ia juga menulis artikel atau kolom mengenai berbagai hal–terutama mengenai kebudayaan dan agama–di berbagai harian seperti Pedoman, Abadi, Indonesia Raya, Kompas, Sinar Harapan, dan beberapa majalah seperti Kiblat, Gema Islam, Panji Masyarakat, Optimis, TEMPO.

Sebelumnya, ia pernah menjadi penulis tetap di Harian KAMI (1966-1973). Karya-karya sastranya, berupa cerita pendek, esai, maupun karya terjemahan, dimuat di beberapa majalah sastra dan budaya terkemuka, seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Zenith, Indonesia, Kisah, Cerita, Sastra, Budaya Jaya, dan Horison.

Karya sastra aslinya, antara lain, Malam Bimbang (Nusantara, Medan, 1961) dan Icih (Pustaka Jaya, Jakarta, 1972), keduanya kumpulan cerpen; serta novel Jalan Terbuka (Litera, Jakarta, 1971). Buku lainnya, Ibn Khaldun, Sebuah Pengantar (studi biografi); Konkordansi Qur’an (referensi, 1991).

Beberapa karya terjemahan, antara lain: Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karya Muhammad Allamah Iqbal (bersama Taufiq Ismail dan Goenawan Mohamad); Dua Tokoh, Abu Bakar dan Umar; serta Hari-hari Berlalu, keduanya karya sastrawan Mesir, Thaha Husain. Juga Lampu Minyak Abu Hasyim karangan Yahya Haqqi, juga sastrawan Mesir terkenal.

Ia juga menerjemahkan kumpulan cerpen pengarang Arab modern, Kleopatra dalam Konperensi Perdamaian (Mahmud Taymur) dan Genta Daerah Wadi (1967); karya sastrawan Mesir seperti Suasana Bergema (kumpulan cerpen pengarang Mesir A. Hamid G. As-Sahar, Balai Pustaka, 1957); Kisah-kisah dari Mesir (1977); Murka (drama, Mustafa Hallaj); Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Hussein Heikal) dan Lorong Midaq (Najib Mahfuz).

Kemudian karya sastrawan Aljazair, misalnya, Peluru dan Asap (Alma’arif, Bandung, 1972); Jembatan Gantung (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1980). Selain itu juga Oedipusdan Theseus, keduanya karya Andre Gide; Marie Antoinette (Stefan Zweig).

Adalah sastrawan dan sutradara Asrul Sani yang pertama menganjurkannya menerjemahkan karya-karya sastra Timur Tengah. Ketika itu Ali Audah tengah menerjemahkan karya sastrawan Rusia, Leo Tolstoy.

“Menurut Asrul, saya lebih menguasai Bahasa Arab,” katanya. Maka ketika di tahun 1960-an sastrawan Pramoedya Ananta Toer menuduh novel Tenggelamnya Kapan v/d Wijck karya Hamka sebagai jiplakan roman Majdulin karya sastrawan Mesir Luthfi al-Manfaluthi, ia menanggapi persoalan tersebut, kemudian menerbitkan terjemahan Majdulin.

Ali Audah dan sastra Arab seperti pertemuan jodoh. Setelah mendengar anjuran Asrul itu ia lantas berpikir: penerjemah sastra Barat sudah banyak, yang belum ada ialah penerjemah sastra Arab. Kalaupun ada, mereka lazimnya menerjemahkan buku-buku agama, bukan karya sastra.

Ia lantas memutuskan untuk mengkhususkan diri sebagai penerjemah karya sastra Arab. Suatu hari ketika ia ke toko kitab Salim Nabhan di Surabaya, ditemukannya seabrek buku sastra yang berdebu, tidak laku.

“Dan ternyata nilai sastranya tinggi. Lalu saya borong, kebetulan buku-buku itu dijual dengan harga murah, karena sudah lama numpuk tidak laku,” katanya lagi sambil tertawa.

Bukan hanya menulis, Ali Audah juga aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan dunia intelektual, kebudayaan, dan perbukuan.

Ia misalnya pernah menjadi Direktur Utama Penerbit Tintamas, Jakarta (1961-1978), anggota Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra bergengsi Horison (1968-1993), ikut serta menggagas penerbitan majalah sastra Horison dan menjadi anggota dewan redaksi, Dekan Fakultas Syariah (1966-1977) kemudian Pembantu Rektor II (1971-1982) lalu Pembantu Rektor I (1982-1985) Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1971-1980), tenaga pengajar Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kemudian bernama Institut Kesenian Jakarta (1971-1980), ketua Perhimpunan Penerjemah Indonesia (1974-1984), wakil ketua Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (1978-1984), anggota Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional Departemen P dan K (1978-1985), tenaga pengajar di Institut Pertanian Bogor (sejak 1978), wakil ketua Yayasan Amal Mulia (sejak 1984).

Berkat karya-karyanya, ia sering diminta menjadi konsultan penulisan skripsi para mahasiswa Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Padjadjaran (Bandung). Ia juga sering diundang berceramah dan mengikuti seminar mengenai penerjemahan Bahasa Arab.

Sehari-hari ia “berkantor” di rumah. Kecuali menghadiri seminar atau diskusi di dalam atau luar negeri, atau mengajar, ia menghabiskan waktunya di rumah. Usai salat Subuh ia mendengarkan warta berita dari radio, kemudian berolah raga jalan kaki selama satu-dua jam, lalu pulang untuk sarapan pagi, mandi.

Sekitar pukul 9 pagi ia mulai “bekerja”, yaitu membaca atau menulis di ruang kerjanya di lantai atas, sampai pukul 9 malam. Berbagai ensiklopedi dan kamus berderet di beberapa rak di kamar kerjanya. Koleksi buku di perpustakaan pribadinya cukup lengkap. Tentu diseling istrirahat, baca koran atau majalah, makan, salat, tidur siang, dan bercengkerama dengan sang isteri.[Berita Buku/1-1996]

“Saya baca apa saja, mulai dari kertas koran pembungkus kue atau gula pasir, sampai majalah bekas dan buku-buku pelajaran atau bacaan anak-anak sekolah kawan sepermainan.”

“Usai salat Subuh ia mendengarkan warta berita dari radio, kemudian berolah raga jalan kaki selama satu-dua jam, lalu pulang untuk sarapan pagi, mandi. Sekitar pukul 9 pagi ia mulai ‘bekerja’, yaitu membaca atau menulis di ruang kerjanya di lantai atas, sampai pukul 9 malam.”

2 February 2012
Dijumput dari: http://harian-aceh.com/2012/02/02/sastrawan-dan-penerjemah-tanpa-sekolah-1

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/