Rekonstruksi Monologik

Judul : TANHA, Kekasih yang Terlupa
Penulis : S. Jai
Penerbit : Jogja Mediautama
Cetakan : Pertama, Juni 2011
Tebal : 321 + vi halaman ; 14.8 x 21 cm
ISBN : 978-602-99092-1
Peresensi : Beni Setia
http://www.balipost.co.id/

ALI BABA menyaksikan si penyamun masuk ke gua tempat penyimpanan harta rampokan dan kemudian ke luar lagi untuk menyamun di tempat lain, menyaksikan si kepala penyamun itu meneriakkan kata ”sesame” untuk membuka serta menutup pintu gua. Saat penyamun pergi Ali Baba meneriakkan ”sesame” buat membuka pintu gua, mengambil harta rampokan dan menutup pintu gua lagi. Aman, terkendali, setidaknya sampai terbersit niat menimbang harta curian dan meminjam alat penimbang Kasim–orang licik yang diam-diam memasang lem untuk mengetahui apa yang ditimbang.

Dengan memeras si Kasim tahu kata kunci pembuka pintu gua, dengan kemaruk mencari letak gua tempat penyamun menyimpan harta rampokam, tapi di depan pintu gua ia lupa diksi kunci. Berjam-jam dan berulang kali mencari kata yang tepat. Diksi ”sesame” memang ditemukan, tapi setelah masuk, menutup pintu dan meraup banyak harta ia lupa kata itu–sehingga gopoh mencari kata-kata. Pintu gua akhirnya terbuka, tapi bukan karena kata kunci ditemukan tapi penyamun itu kembali untuk menyimpan jarahan. Mereka kaget, marah, serta sakit hati saat tahu harta rampokan mereka dicuri.

Sebagai pembaca, saya terkadang jadi Kasim yang termangu depan novel S. Jai, Tanha (Jogja Media Utama dan Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unair, 2010). Bingung mencari kata kunci, berimrovisasi merangkai sederet tebakan tanpa tahu apa diksi inti–berkutat di varian bunyi yang mendekati kata ”sesame”.Usai membaca saya mengerti, novel setebal 318 halaman itu bergerak dalam pola point of view aku, semua diceritakan dari sudut pandang seorang aku yang serba tahu tentang (dan karenanya mengomentari) tokoh lain, kejadian yang penting pada alur apa yang terjadi dalam novel, dan terutamanya tafsir intelektual dari semua itu. Saya katakan intelektual, sebab dalam novel itu ada pendekatan dan pemsibenaran yang irasional–yang menentukan aktualisasi diri dari tokoh-tokoh novel.

Baik yang pagan pemujaan bulan dan ritual penyerapan energi purnama, hingga ruh abadi meski tubuh menua pada diri Mak Kaji Idayu Kayati–yang dikaitkan S, Jai dengan mitos Candra Kirana dari folklore Panji. Si yang tak mungkin mati meski anak tunggalnya mati dan ia jadi si pendiri sekte sesat pemuja kegilaan– ini diakomodasi S, Jai dari cerita Calon Arang, yang mensisalahkan setiap orang saat nasib putrinya amat papa. Pengetahuan yang telat disadari si tokoh utama keluarga, Maya Durghata Karini, ahli psikologi dari Unair yang kemudian menyerap pengetahuan pagan neneknya, dan bermetamorfosa jadi Mak Kaji Idayu, yang setelah punya anak menceraikan suaminya dan jadi penyerap energi purnama–Candra Kirana berkonteks klenik, seperti tersirat dalam lakon Panji yang berseting Kediri.

Atau kekecewaan si tak berdaya berperan di masa kini, yang membuat Matjain, si menantu Mak Kaji Idayu, bersikukuh dengan garis silsilah ibu, dengan fakta ia titik terjauh garis Sunan Bonang. Karenanya bertekad berziarah menyusuri kegemilangan leluhur, agar sampai pada puncak kejayaan leluhur. Sayang penelusuran mistik itu tiba di kenyataan pahit: ia menerima estafet (sebagai) juru kunci bagi kekayaan keluarga, dari Eyang Lawu yang moksa saat Matjain sampai. Warisan irasional nan tak bersipat fisik–sementara Matjain mengharap menemukan gua harta seperti lakon si Ali Baba–membuat Matjain gila. Sebuah tendensi yang membuat ia sering berada di luar rumah dalam ketidakpedulian pada keluarga yang sia-sia. Absurd!

Atau anak sulung Matjain, Ujub Kajat, anak lelaki berfisik menceng dan seluruh perkembangannya terhenti di usia kanak–selain rambut yang tumbuh normal–, yang menerima takdir dirinya dengan mencoba mendekatkan diri kepada Allah lewat jalur alternatif sufistik yang dipelajarinya dari buku. Tasauf tanpa guru–sehingga satu teks fiksi karangan manusia tak beraura wali dianggap hikayat mistik dan dijadikan acuan yang membawanya ke kesesatan, ke maqom aneh: tak perlu meneruskan keberadaan, tak usah meneguhi syahwat dengan mengebiri diri. Atau si bungsu Della Ringgit yang tak mempedulikan apapun, sekaligus menerima perhatian dan mengempati kepuasan sebagai si diperhatikan sebagai anak manja. Gaya hidup santai asal mengsigelundung yang membuatanya tersanjung saat pacaran, lantas hamil sebelum menikah.

Fakta itu membuat ibu mereka, Lastri Srigati, yang sakit jantung itu shock serta meninggal dunia–yang diekspolitasi sebagi budak oleh Mak Haji Idayu setelah jatuh miskin dan tak punya pembantu, sebagai ekspresi kekecewaan pada Matjain, menatu yang tak membuat putrinya bahagia dan si jadi titik aktualisasi (diri) Mak Kaji Idayu bertransformasi jadi Calon Arang. Padahal Maya Dughata Kirani juga merelakan diri diperawani pacarnya–Sobulkahfi–untuk memaknai apa inti dari keyakinan pagan si nenek. Sohibulkahfi menelusuri teks Panji secara intelektual dan interteksual, tapi ia lupa kalau inti dari cerita Panji itu ritual bertelanjang menyerap energi purnama. Saat paham dan menerima warisan ilmu itu, iapun menendang Sohibulkkahfi.

Menjadi si Candra Karini yang tidak butuh lelaki–hanya butuh energi bulan dan ritual mistik untuk membahagiakan putrinya, seperti si Calon Arang yang ikhlas mati setelah putrinya, Ratna Mangali, jadi si menantu resmi Airlangga. Dan kesemuaan itu diceritakan Sohibulkahfi dengan memilahnya jadi fragmen, tempat si tokoh terpilih itu tampil menceritakan peristiwa, dan terutamanya: mesilakukan penafsiran dan analisis intelektual atas akibat yang ditimbulkan tokoh lain. Teks-teks berat yang membebani ini penuh dengan argumen dari kejadian penting yang terkadang lupa diceritakan apa detilnya–macam penyerapan ilmu pagan Mak Haji Idayu Kiyati oleh Maya Duighata Karini, misalnya. Masalahnya: Kenapa gaya penulisannya begitu?

Jawabanya ada di biografi S. Jai. Di hlm 320 tertulis: ”… mendirikan Komunitas Teater Keluarga … mengagas teater monolog Alibi yang ditulis dan disutradarainya …dalam bentuk ”Gerakan Seni Budaya Mengelola Spirit Neo-Primitif: Sebuah Konsep Gagasan Teater Tutur”. Itu kata kuncinya. S, Jai sedang merekonstruksi tafsir atas cerita Panji, di dalam cerita dengan banyak data serta argumentasi intelektual dan intertekstual. Tidak sebagai cerita rekaan tertulis, tapi persiapan pentas monolog tutur, di mana Sohibulkahfi–si aku pengarang, yang keceplosan menghubungkan tiga anak Matjain dengan tiga orang anaknya, setidaknya di hlm 292–menuturkan semua secara njelimet. Sebuah cerita (monolog) tutur berbingkai yang rumit.***

*BENI SETIA, pengarang /19 Februari 2012