Obsesi Yang Tertinggal di Toko Buku

Wahyudi Akmaliah Muhammad

Bagi saya, berkunjung ke toko buku bukan sekedar bertemu penjual kertas dengan isi tinta yang tertuang di dalamnya untuk melakukan transaksi ekonomi, melainkan ruang pertemuan yang mengumpulkan beragam keinginan dan obsesi; rasa penasaran terhadap wajah buku, kemauan mencecap ilmu di dalam buku, meraup pengalaman yang tercecer yang termaktub dalam berlembar-lembar buku, dan perjalanan obsesi “kegilaan” diri seiring dengan bertambahnya umur terhadap buku. Continue reading “Obsesi Yang Tertinggal di Toko Buku”

Memahami “Shakespearean Tragedy”

Donny Syofyan *
http://padangekspres.co.id/

Pada umumnya, drama dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu tragedi dan komedi. Pengelompokan ini didasarkan pada cara pandang filosofis drama tersebut terhadap hakikat hidup manusia. Pandangan hidup yang khas dalam drama tragedi terletak pada penegasan bahwa manusia harus menerima suratan nasib yang tidak dapat dihindarkan. Jadi, drama tragedi adalah drama yang menampilkan tokoh yang sedih dan muram. Continue reading “Memahami “Shakespearean Tragedy””

Tebaran Buku di Jalan

Indira Rezkisari
Republika, 01 Juni 2008

BERHENTI sejenak dari mengayuh sepeda, beberapa orangtua kemudian bermain bulutangkis sembari menunggu anaknya menyelesaikan bacaan. Cukup banyak pengendara sepeda yang mampir ke perpustakaan di Jl Sudirman, Jakarta, itu, Ahad (25/5).

Ada pula orangtua yang memilih bermain congklak bersama anaknya. Azmun (40 tahun), misalnya, malah membaca buku anak-anak yang tersedia di rak usai berolahraga di Senayan. Continue reading “Tebaran Buku di Jalan”

Penghargaan “Kompas”: Cendekiawan Berkomitmen

St Sularto
Kompas, 27 Juni 2008

MENURUT Antonio Gramsci (1891-1937), sejarah dan politik tidak bisa lepas dari keterikatan intelektual dan masyarakat (Selections from Political Writings 1921-1926). Cendekiawan harus memihak kelas atau kelompok tertentu. Justru kalau kaum intelektual terbenam dalam menara gading dengan moralitasnya dan abai memberikan sumbangan untuk masyarakatnya, mereka adalah intelektual yang tak bermoral. Continue reading “Penghargaan “Kompas”: Cendekiawan Berkomitmen”

Bahasa »