Matinya Tukang Kritik dan Menanti Kelahiran Kritikus Baru (Tanggapan untuk George dan Zulfikar)

Damar Juniarto
kompasiana.com/damdubidudam

Bertentangan dengan apa yang diharapkan banyak pihak, kritikus justru telah lama mati sehingga karya-karya yang ada seolah berjalan tanpa kritik. Sebenarnya siapa yang berkepentingan atas kelahiran kritikus baru di tengah derasnya arus produktivitas karya, baik melalui media cetak maupun digital, kalau bukan kita? Continue reading “Matinya Tukang Kritik dan Menanti Kelahiran Kritikus Baru (Tanggapan untuk George dan Zulfikar)”

Mereduksi Karya Sastra, Melepas Kacamata (Tanggapan untuk George)

Zulfikar Akbar

Kacamata tentu saja merupakan sesuatu yang melekat pada kedirian, keakuan, dan bisa juga sebagai simbol ketidakmurnian dalam penglihatan. Di sini, George muncul mengambil kacamata-kacamata itu, dan seakan menghardik untuk pastikan dulu kemampuan melihat sesuatu secara apa adanya, tanpa perlu alat bantu itu. Sampai ia dengan bahasa lugas, katakan tidak ada karya sastra dan tidak ada sastrawan di Kompasiana (taruhlah dunia cyber juga, untuk lebih umum). Continue reading “Mereduksi Karya Sastra, Melepas Kacamata (Tanggapan untuk George)”

Mereduksi Karya Sastra

George Soedarsono Esthu
http://www.kompasiana.com/soedarsonoesthu

Ada beberapa teman dekat bertanya kepada saya: “Mas, Om, Pakde, Lik, Mbah, apakah tulisan di Kompasiana itu ada yang sudah bisa disebut karya sastra?” Saya menjawab: “Tidak tahu!”. Ketika saya terus ditanya: “Kenapa tidak tahu?”, saya menjawab yang mau dijadikan ukuran apa. Continue reading “Mereduksi Karya Sastra”

Bahasa »