Puisi-Puisi Akhiriyati Sundari

Kabut di Trowulan

Kesiur angin ketuk malammalam paripurna
Bulan Juli mengering
Singgah di pucukpucuk tunas
Trowulan yang menulis ingatan

Halimun berkerubung, ngungun
Mendekatkan aku pada wajahwajah masa lalu
Mahapatih Gadjahmada– Dyah Ayu Pitaloka

Sepasang kekasih prahara
Yang menitikkan cinta
Di antara nguar harum melati
Meski tanpa puisi

Kau lihatlah telapak tanganku yang kusam
Wahai kota dengan sejuta elok cerita
Tatkala kepalaku runduk membaca riwayatmu diamdiam
Geliat kotamu, molek
Mematung di cermin peradaban
Tak usaiusai berdandan
Entah apa yang kini tengah berkelindan

Kau tataplah ceruk mataku penuh isyarat peristiwa
Wahai kota dengan sejarah jelita nusantara
Jiwaku haru di depan jagad ketakmengertian
Saat aku lihat orang-orang
Bergegas menyulut masa depan

Maka,
Kumohon tak kau halau hadirku dengan putih kabutmu
Namun antarkanlah aku
Menaiki angin yang menipiskan bayangan dan kenyataan

Akan aku sibak rekah tanahtanah
Yang tak lapuk memuntahkan sejarah
Hingga buram mataku benarbenar tak lagi mampu menjamah

STIT Raden Wijaya Mojokerto, 11 Juli 2010

Perempuan yang Mencemaskan Hujan
buat AriZur Ea

Tibatiba kau menaiki hujan
hujan umpatan
Menera rindu meski patahpatah
[Pada selembar senja
Yang tak kunjung jingga
Terendap di cangkir kopimu]*

Lalu kau melarikan diri ke laut
Mencaricari sunyi yang karam
Di antara gulungan ombak dan hempasan
bijibiji kenangan
Kau akui sebagai harapanmu yang hilang
: harapan yang jahat, karena hanya memperpanjang usia kesengsaraan

Kenapa hujan kau cemaskan
Jika hanya memandu sajakmu tentang
Kekasihmu yang asu..

Tidakkah rencana kerja
Peta tak jelas penghuninya
Sampah bodoh di ruang rapat serta
Kertaskertas berkeringat
Lebih mencemaskan bagi kita?

Hanya di hadapan purnama kau
tampak bertenaga
Mengutuk rindu yang penghabisan
Rindu yang sempurna
bungkuslah
dan bawa pulang!

Ngestiharjo-Wates, 2009

*] dari Sajak AriZur EA dalam “Seorang Gadis, Sesobek Indonesia” (Lumbung Aksara, 2006)