Suramnya Sastra Daerah Lampung

Kuswinarto
http://www.lampungpost.com/

“Lampung Gagal Raih Hadiah Sastra Rancage 2012.” Demikian judul salah satu berita di Lampung Post, Rabu, 1 Februari 2012. Ini berarti sudah lima kali penghargaan sastra tahunan ini diberikan kepada sastra Lampung, tetapi dua penghargaan saja yang berhasil diraih sastrawan Lampung.

HADIAH Sastra Rancage diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage kepada sastra Lampung sejak 2008. “Bapak Puisi Modern Lampung Udo Z. Karzi, sastrawan Lampung pertama yang berhasil meraih penghargaan ini lewat kumpulan sajaknya Mak Dawah Mak Dibingi. Berita diterimanya Hadiah Sastra Rancage oleh Udo Z. Karzi di tahun 2008 itu disambut gembira oleh banyak pihak. Sebab, boleh jadi (dan memang diharapkan) itu akan memacu masyarakat Lampung untuk lebih bergairah dalam bersastra dalam bahasa daerahnya.

Harapan itu ternyata tinggal harapan. Tahun berikutnya, 2009, tidak ada sastrawan Lampung yang menerima penghargaan yang diberikan kepada siapa saja yang dianggap berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah itu. Ini berarti, setelah Udo Z. Karzi menerima hadiah ini di tahun 2008, tidak ada lagi pengembang bahasa dan sastra Lampung yang layak diberi penghargaan. Mungkin malah tidak ada lagi orang yang berusaha mengembangkan bahasa dan sastra daerah Lampung.

Apalagi, Program Studi Bahasa dan Sastra Daerah Lampung di Universitas Lampung pun ditutup. Padahal, program yang terutama mempersiapkan pendidik dan pengajar mata pelajaran muatan lokal Bahasa dan Sastra Daerah Lampung di sekolah-sekolah di Lampung itu belum lama dibuka. Tentu saja penutupan program ini bukan kabar baik bagi upaya pengembang bahasa dan sastra Lampung lewat pendidikan formal. Sebab, sudah tentu sekolah-sekolah di Lampung akan kesulitan mendapatkan pengajar-pengajar profesional untuk mata pelajaran muatan lokal Bahasa dan Sastra Daerah Lampung.

Satu hal yang sedikit menghibur, lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 untuk sastra Lampung hanyalah karena kesalahan teknis. Sebab, ketika itu sebetulnya ada dua buku baru sastra Lampung, yakni kumpulan cerita pendek Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Bapak Cerpen Modern Lampung Asarpin Aslami dan kumpulan sajak Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya. Hanya saja kedua buku itu terlambat dikirimkan ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Ini menghibur, karena meskipun Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 untuk sastra Lampung lepas, itu tidak berarti bahwa sastra modern Lampung stagnan karena masih ada sastrawan yang menggelutinya. Jadi, tak hanya Udo Z. Karzi.

Tahun 2010 Lampung kembali meraih Hadiah Sastra Rancage. Asarpin Aslami yang berhak atas penghargaan itu lewat kumpulan cerpennya Cerita-Cerita Jak Bandar Negeri Semuong. Ini cukup melegakan dan diharapkan banyak orang menjadi pelecut gairah bersastra dalam bahasa Lampung. Sebab, lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009 dari sastrawan Lampung menimbulkan kegelisahan bagi sebagian masyarakat Lampung ketika itu. Masalah itu pun menjadi bahan diskusi. Dan diraihnya Hadiah Sastra Rancage 2010 oleh Asarpin Aslami merupakan salah satu jawaban positif bagi kegelisahan itu.

Akan tetapi, tahun berikutnya, 2011, Yayasan Kebudayaan Rancage kembali kebingungan menentukan kepada siapa Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung akan diberikan. Tidak ada karya yang masuk ke panitia, juga tidak ada karya yang terlambat masuk. Artinya, saat itu memang tidak ada buku baru sastra Lampung yang terbit. Sebab itu, diputuskan tidak ada sastrawan Lampung yang menerima Hadiah Sastra Rancage 2011.

Lantas tahun 2012 ini, lagi-lagi Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tidak ada penerimanya. Berarti, dua tahun berturut-turut Hadiah Sastra Rancage absen di Lampung. Tahun 2011 sebetulnya terbit dua buku sastra Lampung, yakni Raden Intan II karya Rudi Suhaimi Kalianda dan Warahan Radin Jambat suntingan Iwan Nurdaya-Djafar. Namun, Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tahun 2012 tetap tidak diberikan untuk satu dari dua buku tersebut. Alasannya, kedua buku itu bukan karya sastra baru.

Keputusan Yayasan Kebudayaan Rancage untuk tidak meloloskan buku Raden Intan II atau Warahan Radin Jambat sebagai penerima Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung tahun 2012, saya kira, sangat tepat. Untung saja, panitia tidak berpikir, “Tidak ada karya yang baru, karya lama jadilah. Toh, terbitnya juga baru saja.” Kalau saja pikiran itu digunakan, lantas salah satu dari dua buku itu diberi Hadiah Sastra Rancage, bisa jadi Yayasan Kebudayaan Rancage akan kebanjiran karya-karya serupa.

Sebab, bukan tidak mungkin ke depan lantas akan banyak orang yang sibuk berburu dan mengetiki cerita rakyat yang berlimpah jumlahnya itu dan diterbitkan supaya mendapat Hadiah Sastra Rancage. Tidak hanya di Lampung, tetapi juga di Sunda, Jawa, dan Bali pun orang akan berbondong-bondong mengetik karya-karya sastra lama demi mendapat Hadiah Sastra Rancage. Jika ini terjadi, Hadiah Sastra Rancage memang bisa diberikan secara konsisten, tetapi boleh jadi tidak ada karya sastra baru yang terbit.

Menjaga konsistensi melahirkan buku sastra baru, inilah problem sastra Lampung. Akibatnya, Hadiah Sastra Rancage tidak dapat diterima rutin setiap tahun. Ketidakkonsistenan penerimaan Hadiah Sastra Rancage ini juga memperlihatkan bahwa penghargaan sastra itu, khusus di Lampung, kurang memberi akibat positif. Ketika memutuskan memberikan hadiah untuk sastra Lampung di tahun 2008, Ajip Rosidi berharap penghargaan itu mampu menjadikan kehidupan sastra daerah Lampung menjadi lebih dinamis. Kalau melihat kenyataan yang terjadi, Ajip Rosidi pun agaknya boleh kecewa karena harapannya tidak menjadi nyata. Sebab, Hadiah Sastra Rancage ternyata tidak membuat upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra daerah Lampung menjadi lebih bergairah, lebih hidup, dan lebih greget. Alhasil, khusus untuk sastra Lampung, Yayasan Kebudayaan Rancage tidak dapat memberikan hadiah secara konsisten tiap tahun karena karya yang hendak diberi hadiah tidak ada!

Selama beberapa minggu sejak ada berita bahwa tahun 2012 ini tidak ada penerima Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Lampung, saya menengok media massa dan sejumlah forum online. Saya ingin tahu apa kata dunia—terutama kata orang-orang Lampung—tentang berita menyedihkan ini. Yang ada ternyata hanya sepi. Tak banyak orang membicarakan hal ini. Padahal, berbagai kritik, saran, dan masukan yang disampaikan sejumlah pihak untuk pemerintah daerah Lampung, lembaga pendidikan, sastrawan, dan sebagainya juga kurang mendapat sikap positif.

Kesannya, sastra Lampung seolah-olah tak ada pemiliknya. Seperti sebatangkara. Dan sejauh ini, sastra Lampung kondisinya seperti apa, memang tak banyak orang yang peduli.

Memang, Hadiah Sastra Rancage bukanlah tolokukur bagi bahasa dan sastra daerah Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung dikembangkan atau tidak. Kalaupun boleh disebut tolokukur, Hadiah Sastra Rancage bukanlah satu-satunya tolokukur bagi dikembangkan atau tidaknya bahasa dan sastra daerah-daerah tersebut.

Namun, dari kasus ketidakmampuan menyediakan “produk” secara konsisten setiap tahun untuk diberi Hadiah Sastra Rancage ini, tampak sekali bahwa sastra Lampung dalam masalah besar.

26 February 2012