AKU INGIN TIDUR NYENYAK DI KOTAKU

Muhammad Mak Al Fine*
Radar Mojokerto, 12 Feb 2012

Air berguguran dari celah langit, gelap mencekam segenap hati dan jiwa. Bintang tak berani mengintip apalagi penerang malam, enggan membelah kain hitam yang menyelimuti bumi. Suara gemericik terus menuntun kerinduan alam. Kilat melukis langit, guntur membisu kejauhan sana. Percikan-percikan air berterbangan, bercinta dengan angin yang menelusup kamarku. Suara-suara malam membisu diamuk tetesan air hujan.

Selimut setebal bulu domba, bantal yang terus menggoda untuk bercanda tawa. Angin mulai merasuk pori-pori tulangku. Mata pun terbuai kesahduan alunan nada air yang satu persatu jatuh dari genting dan dedaunan. Aku ingin tidur nyenyak malam ini, ditemani selimut yang memberi kehangatan. Diiringi kesunyian bernada hujan, malam yang indah untuk memejamkan mata. Kesejukan yang selalu kurindukan. Angin Kotaku yang dihasilkan dari hembusan angin Merbabu.

Seperempat jam mata terpejam, air sudah enggan terjun payung lagi. Alunan musik terhenti, langit sudah bosan mengiringi kehidupan manusia. Awan kehabisan bahan bakar, memanaskan tubuhnya. Suara-suara penghuni malam, berteriak lagi. Jangkrik keluar dari lubang persembunyiannya. Belalang mengepakkan sayapnya, kelelawar menyambar-nyambar buah jambu yang baru berusia satu minggu.

Kung kang kung kong krek krek suara terus bersahut-sahutan, berurutan dan berbaris. Mereka terus berteriak, meneriakkan apa yang harus diteriakkan. Sawah yang terbentang di timur rumahku semakin ramai paduan suara alam. Suara ini mengalahkan suara malam yang lainnya. Keras. Bergantian nada. Kadang bosan, kadang melintang ke daun telinga tak bisa dihindari lagi. Aku dipaksa untuk mendengarkan orchestra malam peraduan.

“Mungkin mereka sedang demo.” Batinku terucap lirih.

“Turunkan harga nyamuk, turunkan harga BBK (bahan bakar katak).” Teriak para demonstran yang terus memperjuangkan nasib rakyat atau teman-teman mereka bahkan hidup mereka sendiri. Semua itu dilakukan demi ketentraman kehidupan katak yang termarjinalkan. Walaupun hujan mengguyur jalan-jalan menjadi licin, genangan air semakin besar, semangat mereka tetap menyala untuk membela nasip rakyat dan teman-temannya.

“Turunkan Kodok Bangkong” teriak kodok sawah yang kecil, tapi suara menggoreng telinga.

“Pecat dan jebloskan kelubang penyikasan. Kami sudah muak atas tindakkannya. Banyak rakyat yang binasa atas tindakannya. Kami sudah muak melihatnya.” Terdengar pelan di telingaku. Aku masih dipaksa untuk menyaksikan dan mendengarkan teriakan-teriakan mereka.

Suara mereka tak dihiraukan lagi oleh Kodok Bangkong. Semua diangkap tabu, Kodok Bangkok berleha-leha di dalam istana sambil ngobrol-ngobrol bersama krunya. Sambil ditemani vodka dan martini, mereka bernyanyi, menyanyi, menyumbat suara yang seharusnya mereka dengar. Tapi apalah sebuah kata. Biarkanlah katak berteriak-teriak yang penting kita hepi-hepi.

Para demonstran pun kelelahan akhirnya mereka kembali ke tempat markas. Membawa kekecewaan. Menyimpan dendam berbalut ketidakmampuan untuk melakukan kudeta alam.

Suara pun berganti nada, krek krek kung kong krek krek kung kong. Ternyata mereka sedang menikmati indahnya malam ini, dengan minum air campur lumut sampai teler. Berjoget-joget, bernyanyi-nyanyi tanpa henti. Mereka berpesta, menepiskan dendam yang bergejolak. Setelah lelah berpesta, mereka berkumpul dalam satu kubang besar. Di situlah kodok jantan, betina, tua muda, besar kecil bersatu padu dalam keadaan telanjang bulat.

Inilah pesta yang dinanti-nanti para peserta. Mereka menyemaikan cinta pada kekasih, bergumul dua sedjoli-sedjoli untuk menyatukan nafsu. Tua muda tak ada perbedaan. Bahkan katak kecil diajak bermain cinta sama bapak dan kakeknya. Dua kodok betina bercinta dengan mesrahnya di pintu lubang kolam. Sedangkan di atas pohon yang tumbang, dua katak jantan berperang dengan senjatanya. Mereka terus mendendangkan lagu kebangsaaan mereka yang terbalut akan keindahan. Mereka tak tau akan kehidupan kelak. Mereka terus berpesta. Mereka frustasi dengan koalisi Kodok Bagkong.

Ladang pekerjaan yang dirampas pasukan Kodok Bangkong. Hanya meyisakan penderitaan. Mengiris hati bila tak punya saudara dalam kandungan. Sejenis katak, namun berhati serigala. Katak marjinal, berpesta bukan karena nafsu mereka. Mereka di kebiri lewat budaya-budaya baru yang bermuculan di layar kaca. Membungkam budaya khas Negara.

Aku ingin tidur nyenyak malam ini.

“Untung ada katak yang setia menemaniku malam ini“. Tatapan mataku terus menerawang ke langit-langit kamarku. Pikiranku terus merayap-rayap menuruti garis-garis langit-langit kamarku yang selalu bersimpangan dan sangat teratur tatanannya. Seumpama negaraku ditata seperti itu, kemungkinan negaraku akan dikenal dunia. Negaraku akan bisa mengalahkan negara yang dijuluki “Paman Sam” sekaligus. Perekonomian yang tercukupi, utang-utang terlunasi tanpa harus menjual sebidang tanah yang muncul di tengah laut, menjual kekayaan alamku yang masih mentah. Banyak sekali yang lalai dengan kekayaan yang begitu besar di negara ini, rakyat kecil sampai besar belum menyadari kekayaan itu. Mereka hanya tersihir dengan sorotan-sorotan barat. Mereka terjajah dari segi manapun.

Ku telusuri garis itu sampai ke dinding putih diterangi sedikit cahaya. Mataku tak percaya, gambar itu berubah, gambar yang di tengah terus meneteskan air mata darah dan kepala yang sebelumnya tegak memandang kemenanangan sekarang menunduk malu. Sayap-sayap patah satu persatu, sampai tak satu pun bulu yang menancap di tubuhnya. Alangkah terkejutnya ketika aku lirik ke kanan ke kiri, dua gambar itu malah tertawa. Ntah apa yang ditertawakan mereka. Apakah mereka tertawa ketika melihat burung yang paling gagah itu rapuh. Atau tertawa di atas keberhasilan mereka memberantas sekaligus memperkembangbiakkan tikus-tikus. Setelah aku amati kedua foto itu tak sejalan, foto kanan tertawa sambil berpaling ke kanan, sedangkan foto yang kiri tertawa sambil menghadap ke kiri. Ada apa dengan kedua belah pihak.

Glodak-glodak meong-meong cuit-cuit.

“aduh dasar kucing dan tikus gak pernah rukun, setiap hari perang terus. Apa tidak bosan perang terus. Sudah banyak korban yang berjatuhan dari saudara-saudaramu yang tak berdosa. Banyak bom-bom yang meledak. Bom politik, bom mati, bom agama, bom korupsi, bom lupa, dan itu semua akan menjadi boomerang mereka kelak. Sudahlah, Jangan ganggu aku yang sedang imajinasi. Tu lihat gambarnya senyum lagi dan burungnya kembali gagah perkasa.”

Kucing dan tikus terus berkajar-kejaran di langit-langit kamarku. Suara yang sunyi kini ramai dengan hentakan-hentakan kaki kucing dan tikus. Akhirnya tikus bisa melarikan diri dari kejaran kucing. Tikus lebih gesit irit namun memakan makanan-makanan orang lain. Sedangkan nasib kucing yang tak berhasil menangkap mangsanya yang sudah keterlaluan mencuri makanan majikannya, malah merusak langit-langit kamarku yang di tata rapi oleh bapakku.

Brok, suara kucing jatuh ke lantai, diiringi reruntuhan ternit. Si kucing tertunduk malu dengan kesalahannya. Sambil meminta maaf, kumis panjangnya yang semula berdiri, kini tertunduk dengan wajah manyunnya.

“Sekarang pergi dari hadapanku dan jangan kembali sebelum menangkap tikus tadi. Ingat jangan sampai kau merusak benda-benda yang menghalangimu. Kamu harus hati-hati. Pakai matamu. Jangan pakai emosimu dan nafsumu”

“kamu sudah saya gaji besar, kenapa tidak becus menangkap tikus. Itu saja tikus kelas teri belum tikus yang berdedikasi tinggi. Cepat kejar tikus itu, kalau kamu tidak bisa menangkapnya. Maka kamu akan aku buang ke jalanan. Biar hidupmu susah. Mencari makan di tong sampah. Meminum air selokan. Mau kamu merasakan hidup seperti itu. Kamu tidak akan bisa lagi merasakan makan ikan bandeng, daging ayam dan susu kesukaanmu. Terus tempat tidurmu juga akan terganti dengan kucing yang baru. Cepat laksanakan tugasmu dengan baik. Jangan sampai tikus-tikus itu lolos dan menguasai rumah ini. Dan aku juga tidak ingin kamu merusak lagi ternit, mengobrak-abrik rumah ini?”

“siap tuan?” aku sempat kaget. Imajinasiku masuk dalam percakapanku. Dari katak yang sedang menuntut kebijakan bisa aku dengar percakapannya. Sampai kucing peliharaanku.

“ya sudah sana pergi. Ingat. Jangan kembali lagi, sebelum tikus tadi kamu dapatkan. Karena tikus tadi otak kejahatan yang menjatuhkan keuangan negaramu!” kucing langsung berlalu menuju bekas kaki tikus yang bercampur dengan kencingnya.

Sekarang aku ingin tidur nyenyak malam ini.

Merasakan mimpi yang bertabur kegembiraan. Mengambil selimut besar, menutupi seluruh tubuhku. Hangat akan menyerbu. Dingin terusir sendiri atas keberadaan alam yang aku buat di atas tempat tidurku. Akh…akhirnya kantuk menjemputku, perlahan-lahan mata ini bersenandung mengiringi kelopak mata untuk terlentang. Doa tak terlupakan untuk negeri ini yang mulai digerogoti gigi tikus yang mulai tajam dan menyebarkan virus gatal melalui kutu kecil yang disebarkan lewat tubuhnya. Ketika aku memasuki setengah sadar, ku dengar dari kejahuan sekelompok ayam jago mulai menjalankan tugasnya. Suara jangkrik dan belalang mulai redup ditelan kokokan ayam jago. Suara itu menjawab sahutan mentari yang masih jauh di arah timur. Guratan cahaya belum terukir indah. Masih sayup aura.

Sekarang aku ingin tidur nyenyak malam ini.

Namun malam sudah tersiram pagi muda bermulu orange.

Jaring-jaring manusia malam yang dipasang erat di dinding hati. Menuai segala macam doa. Mengumbar air mata kerinduan yang terpantul seperempat malam menjemput subuh datang. Aku hanya bisa bermandi selimut kering. Membasahiku dalam kekusukan panjang. Menekuri kelalaian tiang agamaku yang mulai runtuh dengan pengakuanku. Aku bangun, begitu juga aku robohkan kembali.

011011. Brajan-salatiga.

*) Muhammad Mak Al Fine adalah nama pena dari Muhammad Maksum. Tinggal di dusun Brajan yang terbelah JLS, Desa Blotongan, kota Salatiga, Jawa Tengah. Karyanya berupa “Manusia Berlendir” termuat dalam Antologi Titik Nol (Azam Jaya, 2011), antologi puisi Mata Pena PSK (Penulis Syair Kehidupan. Azam Jaya, 2011), Kumcer “Kapan Ibu Mencium Keningku Lagi” (LeutikaPrio 2011), antologi cerpen “Karena Aku Tercipta Istimewa” (Medika23, 201), antologi cerpen “Mozaik Kehidupan” (AGP, 2012), antologi cerpen “Waktu, Berbicara Tentang Rindu” (LeutikaPrio, 2012), Antologi cerpen “Senandung Cinta” (AGP, 2012), dan beberapa karya yang dimuat di media massa. Ada juga beberapa karya yang masih proses terbit. Pernah menimba ilmu di SD Blotongan 03, MTsN Salatiga, MA Darussalam, STKIP PGRI Jombang dan mengabdikan ilmu di Madrasah Aliyah Darussalam Jombang, MA Madrasatul Quran. Pernah berproses di Teater Ringin Contong serta mengamalkan ilmunya di Teater Islam Darussalam (TRISDA) Jombang. Sekarang mulai mengabdi di MI Global Blotongan Salatiga dan dengan teman-teman mendirikan SGK (Sanggar Gubuk Kata). Bisa dihubungi lewat akun FB (Muhammad mak), cp : 085731600245.