Persahabatan di Kaki Borobudur

Seno Joko Suyono, Lucia Idayani
http://majalah.tempointeraktif.com/

STUPA puncak itu tampak begitu terang. Dari jarak sekitar satu kilometer, stupa itu seolah berbinar sendirian di ketinggian.

Malam itu, disambut hembusan udara dingin, para penulis masuk kawasan Borobudur melalui sisi tenggara candi, lewat pintu masuk halaman Hotel Manohara. Panggung terbuka Aksobya, yang letaknya di pelataran sisi timur candi, menunggu mereka. Panggung itu hanya berjarak 50 meter dari candi. Bila berdiri di situ terasa kekokohan candi.

Bagian bawah tubuh candi tampak gelap, tapi semakin ke atas kepekatan itu semakin pudar, dindingnya menjadi remang-remang. Dan pada pucuknya, sinar lampu putih mengguyur stupa dari berbagai penjuru.

Sean M. Whelan, penyair Australia itu, maju. Ia masih mengenakan topi laken hitam. Topi itu se olah tak pernah lepas dari kepalanya. Penampilannya atraktif, hafal puisinya di luar kepala. Konon, ia sering melantunkan puisi bersama band-band rock di bar. Elvis Tears sebuah sajak kocak, tentang air di kaca jendela mobil yang bertetesan seperti linangan para fans Elvis saat raja rock and roll itu wafat, dibacakannya. Penonton tak kesulitan mencerna karena di panggung ada layar terjemahan:

“Ibumu pasti sangat menggemari Elvis,” kau berkata “Ibuku benci padanya,” ujarnya. “Ia membencinya karena Elvis sekarat sembari membaca majalah porno dalam WC.

Sebagian penonton lesehan di karpet merah, sebagian duduk di belas kursi malas panjang dari kayu (risban). Sebagian lagi berdiri di sana-sini bergelut dengan dinginnya malam yang menggigit kulit. Suasana santai seperti menonton wayang kulit.

Tiba giliran Mamang Dai, penulis cerpen asal Itanagar, India, membacakan cerpennya: Tempat yang Gelap, Kota-kota Kecil. Ia dikenal sebagai ahli sejarah Arunachal Pradesh, sebuah kota bagian timur laut India yang kental tradisinya. Puisi itu merupakan pengalamannya di sana. Menjelang Sharanya Manivannan, penyair asal Sri Lanka, maju, hujan tipis turun sebentar. Tatkala hujan berhenti, dua puisi nya, Poem dan The Mapmaker’s Wife, membuai penonton.

Dan tiap malam di tempat tidur kita aku menjadi istri sang pembuat peta Tiap belaian adalah bagian dari kartografi keramat setiap kecupan adalah persilangan bumi dan segenap abstraksinya.

***

Dua puluh penulis dari luar negeri dan 26 penulis dari dalam hadir dalam Utan Kayu International Literary Biennale Festival, 23?30 Agustus lalu. Perkenalan pertama berlangsung di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta. Bersama-sama kemudian mereka berjalan menuju Taman Ismail Marzuki (TIM). Acara berlangsung selama dua hari di TIM dan dua hari di Teater Utan Kayu (TUK).

Rata-rata penulis belum pernah datang ke sini. Ada yang sudah mendengar nama kepulauan di sini sejak kecil. Terence Ward, penulis buku perjalanan yang mengesankan, The Hidden Face of Iran, adalah salah satunya. Buku ini bercerita tentang pengalamannya ke Iran, mencari bekas pelayan keluarga bernama Hassan yang di masa kecilnya adalah segalanya. Ia yang membimbing Ward mengenal tradisi Iran, ia yang pandai memasak fesanjan bebek bersaus kenari tumbuk dan sari delima kegemarannya.

Pada 1960-an, saat Shah Iran berkuasa, keluarga Ward hidup di Iran. Di TUK ia menceritakan kenang annya bagaimana Hassan mengajari ia dan ketiga saudara laki-lakinya melompat di atas unggunan api saat mengikuti Chaharshanbe Souri, festival api Zoroaster. Keluarga Ward kemudian pindah ke Amerika Serikat dan setelah 16 tahun berlalu mencoba mengunjungi Iran yang telah berubah. “Kami adalah orang Amerika yang pertama kembali ke Iran,” ka tanya. “Kami mencari Hassan tanpa tahu alamatnya, nomor teleponnya, kecuali kampung leluhur bernama Toodesh.”

Hassan begitu penting bagi Ward. Dari Hassanlah mungkin gambaran kepulauan di sini terbayang di kepalanya. “Saya ingat suatu hari saya mengu nyah cengkeh di sebuah pasar di Tajrish, Teheran. Mulut saya terasa terbakar.” Ia lalu bertanya dari mana cengkeh berasal. “”Dari ujung dunia: Maluku, pulau para raja di ujung Asia, di batas lautan, suatu hari, Nak, kau akan ke sana,” jawab pemilik toko. Waktu itu ia ingat Hassan berkata: “Insya Allah.” Dan “insya Allah” itu terbukti. Kini Ward telah beberapa kali menjejakkan kaki di Jakarta, kota yang dulu mengatur perdagangan cengkeh.

Seperti kisah Terence Ward, selama perhelatan penonton seolah mendengar bahwa para penulis Amerika Latin, Amerika, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia itu saling tukar memori, berbagi masa lalu, menceritakan samar-samar kota-kota yang disinggahi sampai kenangan erotis.

Kangni Alem dari Togo, misalnya, penasaran akan kolonialisme Belanda di sini. “Saya ingin memban dingkan dengan imperialisme Belanda di Afrika.” Ia baru saja menyelesaikan novelnya, The Day of the Caravels, tentang budak-budak asal Afrika di Brasil abad ke-19 (bakal dirilis penerbit Gallimard, Paris, Januari 2008). Di situ ia membeberkan aktivitas ekonomi Belanda di Afrika “Dari Ghana sampai Nigeria, benteng-benteng Belanda jauh lebih besar daripada benteng Portugis. Di Afrika Selatan, mereka membangun kota dengan budak-budak dari Indonesia, Madagaskar, Mozambik.”

Lalu Idanna Pucci dari Florence, Italia, membacakan memoar bangsawan Karangasem, Anak Agung Made Djelantik, tentang Bagdad. Pucci menerbitkan buku Against All Odds: The Strange Destiny of a Balinese Prince yang berisi fragmen-fragmen kenangan Djelantik. Pada 1999, di usianya yang ke-80, Djelantik mengalami koma. Ia saat itu pulih dan kemudian menjalani terapi dengan cara menumpahkan kenangan-kenangannya dalam lukisan cat air. Pucci kemudian menggali pengalaman di balik lukisan cat air itu. Dan kita mendapat cerita yang luar biasa, seperti saat Djelantik bertugas sebagai dokter WHO di Bagdad. Ia ditangkap serdadu Irak, dianggap mata-mata Israel dan terancam hukuman gantung hanya gara-gara memotret langit Bagdad. Memoar Djelantik yang dibacakan Pucci itu terasa kuat , menancap di ingatan-apalagi ketika dua minggu sesudah pembacaan itu, Rabu 5 September lalu, kita mendengar kabar Djelantik meninggal dalam usianya yang 88 tahun.

Yang menarik adalah saat Pucci bercerita bagaimana di Florence, kotanya, pernah tinggal W.O.J. Nieuwenkamp, seniman Belanda yang dikenal sebagai tokoh awal yang mengeksplorasi Bali. Pada 1906, Nieuwenkamp tiba di Bali. Ia saksi mata Perang Puputan. Ia membuat sketsa tentang segala hal di Bali hingga banyak pura yang hilang karena gempa di Bali; kini masih dapat dibayangkan lewat coretannya. Pada 1926 ia menetap Florence dan meninggal di sana pada 1950. Pucci bercerita tentang masa kecil: ia sering dolan ke rumah Nieuwenkamp, bermain de ngan cucu-cucunya, tapi itu tak disadarinya sampai 1986 di Bali, seorang kawannya mengatakan bahwa itu adalah sang seniman legendaris.

“Itu mengejutkan saya.” Segera ia kembali ke Florence dan menuju vila almarhum Niewenkamp di daerah Fiesole. Ia menyaksikan koleksi topeng, kain, lukisan, patung kayu, dan batu Bali milik Nieuwenkamp yang luar biasa. “Seolah kapsul waktu. Bali yang belum tersentuh turisme,” katanya

Bila dari penulis luar kita mendapat kisah-kisah tak terduga, mereka juga mendengar kisah para sastrawan kita yang beragam. Mong Lan, penyair asal Vietnam pasti khidmat mendengar bagaimana Abdul Hadi W.M. membacakan puisinya tentang Luang Prabhang, sebuah kota di Laos: Arca Buddha terbaring di lapangan yang kotor merenungi gerimis yang berdoa kepada daun-daunan dan rumputan…. Seperti juga Lan Po Chou, penyair Taiwan yang mengangguk-angguk seolah mengerti danau yang dimaksud Amarzan Ismail Hamid ketika Amarzan membaca puisi tentang sebuah telaga di Hanzhou, Cina, yang dikunjunginya pada 1964.

Simak sajak Oka Rusmini yang menggetarkan: Tanpa kau tahu, aku telah menyelipkan harum keju dari seorang laki-laki merah yang kuperas di cafe …. Dan ketika Laksmi Pamuntjak membacakan tafsirnya tentang Dewi Amba dan Bisma, Sharanya Manivannan mengatakan: “Seperti Laksmi, saya juga membongkar epos.” Ia menceritakan dirinya yang membuat sajak yang menampilkan Karna sebagai seorang perempuan.

Dari forum seperti ini, penonton mendengar bahwa masih ada saja pemerintah yang menganggap karya sastra sebuah ancaman. Feryal Ali Gauhar Petilan, aktris dan sutradara asal Pakistan, mengabarkan bahwa novelnya, No Space for Further Burials, tak diterjemahkan ke dalam bahasa Pakistan lantaran fundamentalisme di sana. “Novel ini berbicara tentang masyarakat perbatasan Pakistan-India yang terlupakan,” katanya. Dari negara tetangga kita Si nga pura, Cyril Wong membacakan sajak berjudul Interrogation. Terhadap sajak yang kritis di Singapura masih berlaku Internal Security Act (ISA), seseorang dapat ditangkap tanpa proses pengadilan. Ia pedih, kemudian berdendang. Suaranya begitu menyentuh karena sehari-hari ia seorang penyanyi countertenor. “Ini tembang nina bobo dari Cina,” katanya

Lantunan Cyril menyajikan memori akan masa kanak-kanak, memang, merupakan sumber yang tak termatikan. Dan Chris Keuleman dari Belanda membacakan sajak berjudul “Jakarta 1971”. Ayahnya seorang insinyur pertanian. Pada 1968?1971 ia tinggal di Bogor, dan Chris ingat ke mana saja saat itu ia diantar sopirnya yang bernama Saud. “Dia adalah Hassan saya,” membandingkan dengan kisah Terence Ward.

Saat itu PKI baru saja diberangus. Gambaran menakutkan tentang orang-orang komunis didapatkan dari Saud. “Tiap malam aku mengontrol apa kah jeruji di depan jendela kamarku sudah tertutup rapat….” Pada 1971 Presiden Tito datang ke Jakarta. Ia ingat bersama seorang teman, anak staf kedutaan Yugoslavia, mengibarkan bendera merah, tapi kemudian dilarang. “Aku mengacungkan bendera ke udara…seseorang merebut benda itu tiba-tiba dari ta nganku…Tiba-tiba hanya bendera merah-putih dari sini saja yang dikibarkan orang, benda menyebalkan tanpa bintang….

***

Perjalanan kereta pagi Jakarta-Surabaya mungkin meletihkan mereka, tapi kemudian agaknya berkunjung ke Prambanan, Candi Ratu Boko, dan kemudian Borobudur meletupkan imajinasi mereka. Pelatar an panggung yang diterangi 21 obor dan panggung yang ditata seniman gunung, Ismanto, dengan 20 ku rungan bambu setinggi pinggang memberi suasana berbeda.

“Seolah saya melihat ada kehidupan abadi di puncak,” komentar Idanna Pucci di hari kedua, yang tetap mengagumi kilau stupa puncak Borobudur. Entah apakah dia tahu bahwa Niewenkamp pada 1933 pernah berteori bahwa Borobudur dulu dibangun di tengah telaga seperti teratai dalam kolam. Saat itu pandangannya masih diragukan, tapi beberapa bulan lalu tim geolog UGM, yang melakukan penelitian di Borobudur sejak 1995 seolah meneguhkan hipo tesis Niewenkamp. Mereka menemukan sebaran lumpur hitam di berbagai kawasan Borobudur, menandakan bahwa dulu Borobudur daerah wet land.

Edmundo Paz Soldan, sastrawan Bolivia, mengaku langsung teringat pada Manchu Pichu, candi per adaban Inca di Peru, begitu sampai di Prambanan. Ia melihat bermacam-macam arca dewa-dewi. “Ini tidak bisa dilihat di Machu Picchu; di sana banyak dewa tetapi tidak di tempat yang sama.” Melihat bahwa Borobudur adalah candi Buddha yang sama sekali lain dengan Prambanan, ia berkomentar: “Ini tidak bisa ditemukan di agama Inca. Dalam budaya Inca, ketika penguasa baru muncul, mereka membangun kuil baru di atas kuil lama.”

Duduk di trap batu-batu, ia kemudian berkisah bagaimana saat Spanyol datang ke Amerika Latin. Mereka menghancurkan kuil dan membangun gereja Katolik di atasnya. Tradisi di Amerika Latin adalah membangun sesuatu yang baru di atas yang lain.

Dua hari melihat kesenian khas petani-petani lereng Merapi, dan atraksi musik truntung dari petani-petani lereng Merbabu yang membungkus dirinya dengan rangkaian bonggol jagung, akapela Mataram an pimpinan Pardiman Djojonegoro yang sableng dan kocak serta Soimah yang menampilkan songkekan, menembang lagu Jawa diselingi dialog membuat suasana betul-betul berbeda dengan Jakarta. “Saya ka get betapa kompleksnya bangsa Indonesia. Ketika saya berada di luar (Indonesia), Indonesia digambarkan begitu sederhana,” kata Edmundo.

Dan pesta di kaki Borobudur seolah tak mau berhenti. Feryal Ali-Gauhar malam itu membacakan karyanya yang berjudul Panen Musim Gugur.

“Di malam hari samudra adalah lahan gandum di mana angin ratakan biji-biji yang ranum…. Di kejauhan lampu-lampu perahu nelayan adalah kunang-kunang menari di atas ombak. Dan kaok-kaok pelikan itu-tawa anak-anak kecil……….”

Dan Terence Ward kembali membacakan sajaknya, Kota Orang Mati, yang bercerita tentang lorong-lorong kuno dan kehidupan di Kairo. Ia sangat tenang, intonasinya tepat, sesekali muncul kalimat Arab yang dilantunkannya secara fasih. Borobudur bukan sebuah mausoleum. Ia bukan kuil arwah seperti piramid-piramid di Mesir. Penonton bisa membayangkan betapa berbedanya itu dengan Kairo yang diceritakan Ward:

“Kudekati nekropolis itu melalui labirin Kairo abad pertengahan, melewati gelaran pasar besar di Khan el-Khalili….”

*) Seno Joko Suyono (Jakarta), Lucia Idayani (Yogya) /10 September 2007