Gede Karang menuju Laut

I Made Iwan Darmawan
http://www.balipost.co.id/

Kaki telanjang itu tenggelam setumit ke dalam pasir hitam basah. Pemiliknya menenteng dua jerigen penuh bensin. Pandangannya ke arah laut yang sedang bergelora. Dari arah berlawanan angin bertiup kencang dan basah. Dadanya telanjang, selembar kain batik kusam menggelantung di leher; pahanya dibalut celana pendek, robek di sana sini. Malam gelap, hampir tanpa bintang.

GEDE Karang, begitu ia dipanggil, kini melanjutkan langkahnya. Suara yang timbul akibat pasir terinjak dalam dan kaki satunya melepaskan pijakan — secara bergantian — terdengar seperti langkah lain yang menguntitnya. Melewati belasan jukung, perahu nelayan yang terbuat dari satu batang pohon utuh yang dilubangi dan memiliki dua cadik bambu betung di cat putih. Setiba di jukung miliknya — paling sederhana dibandingkan yang lain — ia mengambil ember yang biasanya dipakai untuk menguras air laut. Dasar jukung-nya retak, Karang tidak pernah peduli, namun selalu menggerutu bila air laut semakin deras masuk ke dalam jukung lewat sela keretakan kayu, sementara tali pancing berantainya harus segera ditarik, karena belasan ekor ikan tongkol sudah memakan umpannya. Kesibukan menguras air membuat ikan-ikan tersebut berhasil melepaskan diri dan hanya satu dua ekor yang tersisa. Selalu tangkapan Karang paling sedikit, termasuk bila dibandingkan lelaki muda yang baru pertama kalinya melaut seorang diri.

Karang kembali bergerak. Langkahnya semakin mantap dan lebih cepat. Tidak ada lagi jukung, cuma belasan bangku pantai berderet rapi di atas hamparan pasir putih yang tidak begitu luas. Juga tak satu orang tampak, karena malam itu bukan musim melaut: ombak sedang marah dan angin sering tak setia, sebentar tenang tak berselang lama jadi badai. Ia menghempaskan pantatnya di ujung salah satu bangku pantai yang sehari-hari dipakai turis berjemur. Sesaat tertarik akan buih di ujung lidah ombak yang merayap di atas pasir. Di belakangnya berdiri bungalo: memiliki bangunan terpisah satu dengan lainnya, mengambil ciri khas arsitektur Bali, bertiang batang pohon kelapa utuh. Setiap bangunan dibatasi taman dengan pohon hias rimbun yang didatangkan dari Denpasar. Masing-masing memiliki lampu taman yang menyebarkan cahaya ke segala penjuru. Bungalo itu sunyi dan bisu.

Karang melepas guci buah labu kering yang terikat di pinggang dan meneguk isinya: tuak yang disadapnya dari pohon lontar tadi siang. Lebih tenang perasaannya, lalu mulai menuangkan bensin dari jerigen ke dalam ember. Setelah penuh, ia mulai berpikir bagaimana memberi tahu turis di bungalo, karena ia tak mau ada korban jiwa. “Rumah pijat disiram bensin lalu dibakar. Angin laut pasti akan membantu menyeberangkan api ke atas bangunan lain,” ujarnya dalam hati sambil memandang alang-alang yang berfungsi sebagai atap pada semua bangunan di bungalo tersebut, “Mungkin aku harus berteriak-teriak, tapi kalau ditangkap bagaimana?”

* * *

Semua kenal Gede Karang. Dada ringkihnya dibalut kulit tipis hitam legam, tulangnya menonjol dan hanya selembar kain batik lusuh sering disampirkan ke bahunya. Hanya saat mendatangi undangan kerabat, ia mengenakan baju kaos, sementara kain batik membalut paha dan ujung kainnya dibiarkan menjuntai ke bawah. Biasanya, baju kaos itu dilepas setelah mulai minum tuak, kemudian bernyanyi dan menari. Rambutnya berombak sebahu dan selalu terlihat tidak terawat, namun wajahnya yang semakin tua masih tetap menampilkan sisa ketampanan. Tulang pipinya timbul, rahangnya besar dan hidungnya sedikit mancung. Berkumis tipis, dan seperti juga rambutnya — mulai diselang-selingi uban.

Semua kenal gaya menarinya, saat membuka tangan, jari-jemarinya menghadap ke atas, tubuhnya sedikit doyong ke kiri depan dan kedua kakinya membuka lebar. Juntai kainnya hampir menyentuh tanah. Suara gamelan berasal dari mulut belasan laki-laki yang duduk mengitarinya, semakin cepat tempo nada, semakin atraktif pula gerakan tubuhnya; berputar ke kiri, berputar ke kanan mengikuti irama. Sesaat ekspresi wajahnya manis bersimpul senyum, sesaat kemudian sangar dan keras. Tariannya berhenti bila menemukan laki-laki lain yang dianggap cocok dan menyerahkan satu gelas bambu berisi tuak sebagai kehormatan. Laki-laki itu akan minum tuak dengan rasa takjub dan mulai menari menggantikannya, begitu seterusnya sampai sebuah lagu berhenti dinyanyikan. Tuak kembali dibagi oleh salah seorang penari, satu gelas bambu demi satu gelas bambu hingga semua terbakar hasratnya. Dalam masa istirahat mereka tetap dalam lingkaran, saling mendiskusikan lagu apa yang akan dinyanyikan berikutnya.

Para ibu berkerumun di dekat petromak, menyaksikan hiburan tari genjek yang ditampilkan para suami dan anak-anak mereka yang telah beranjak dewasa. Gadis-gadisnya, bergerombol di samping sambil memperhatikan para jejaka dalam lingkaran genjek; sekali dua kali membicarakan perjaka mana yang sedang ditaksir. Bila impian hatinya menari, gadis yang memuja akan memperlihatkan bahwa dirinya tidak suka, sedikit mengejek gerakan tariannya dan tidak jarang disampaikan secara menyolok, sehingga gadis lain tahu dan mengalihkan pilihan hatinya.

Semua mengagumi lagu genjek ciptaan Karang. Tentang cinta, keindahan alam dan keagungan Tuhan. Terkadang unsur bahasa Indonesia dan humor diramu sebagai pemanis. Dimulai dari bait kata-kata indah yang dilantunkan satu orang bersuara merdu dan mendayu-dayu, kadang diiringi tiupan suling bambu. Sampai beberapa bait lagu, kemudian setiap peserta yang sudah tahu bagian nadanya — satu orang bertugas menjaga tempo dengan suara monoton — melakukan improvisasi suara sambil menari di tempat, menjulurkan kedua tangannya ke depan, kadang ke atas: jari jemarinya bergetar. Saling menoleh dan membuat senyum. Suara mereka menyerupai suara gamelan: saling sahut, saling mengisi celah nada dan saling mendahului hingga muncul sebuah harmoni. Hanya satu orang menari di tengah lingkaran. Kepiawaian mencipta lagu genjek dan kemasyuran menari membuat Karang sering menerima undangan dari warga desa tetangga, menjadi perhatian dan pemberi inspirasi penari genjek desa setempat. Pulang, Karang dibekali beras, lauk pauk yang sudah dimasak dan rokok oleh pemilik karya. Tidak jarang uang sekadarnya juga diselipkan.

Walau sangat dikenal, namun sedikit yang tahu asal usulnya. Laki-laki seumur atau lebih tua hanya tahu Karang datang ke desa ketika muda dan menempati puncak Bukit Kresek. Awalnya ada rumor, ia pelarian politik, tapi siapa peduli politik di daerah gersang, desas-desus itu pun cepat hilang dan dilupakan.

Di Bukit Kresek, Karang membangun rumah, satu bangunan utama berdinding bambu dan beratap alang-alang, dibagi menjadi dua kamar. Satu untuk ia dan istrinya dan satu lagi untuk Sari, anak gadis semata wayang yang beranjak remaja (Karang sudah membelikan Sari seekor anak babi di pasar Desa Abang untuk dipelihara secara mandiri). Bangunan lain, lebih kecil sebagai dapur dan kadang jadi tempat tidur bersama bila udara sangat dingin; tungku dinyalakan agar panas bara api bisa menghangatkan tubuh. Sari dan ibunya setiap pagi dan sore turun menuju mata air untuk mandi dan mencuci. Pulang, mereka masing-masing menjunjung satu ember air di kepala. Tidak seperti ibu-ibu lain yang disibuki belasan anak, istri Karang baru dikaruniai momongan setelah menunggu hampir 12 tahun.

Tanah datar di puncak Bukit Kresek tidak terlalu luas, bila musim hujan Karang menanami tanah di sela-sela batu besar yang menjadi bagian utama bukit tersebut dengan jagung. Sementara itu, kebanyakan penduduk menetap secara permanen di tanah datar di tepi pantai di mana banyak pohon lontar dan kelapa tumbuh. Tanahnya juga lebih subur. Sejak ada jalan tembus puluhan kilometer dari kota Amlapura ke Desa Culik, menyusuri pantai timur Pulau Bali, membentang dan memotong perbukitan Seraya yang dibangun beberapa tahun lalu, mulai banyak turis asing lewat. Melirik peluang, banyak investor dari Denpasar membangun hotel di tanah datar pinggir pantai.

Sejak memutuskan menetap, Karang sudah memilih Bukit Kresek. Sampai kini belum ada warga lain yang ingin membangun rumah di sekitarnya. Mereka lebih memilih bukit di sebelah timur yang masih menyatu dengan Gunung Lempuyang, selain lebih subur, tanah datarnya lebih luas.

Karang begitu mencintai tempat tinggalnya sampai menjadi inspirasi salah satu lagu genjek:

Aku pengembara kehidupan
beristana di puncak Bukit Kresek.
Bila tirai awan pagi di timur menyibak
matahari menyembul dari birunya laut

Gili Trawangan berada di depan
Gunung Rinjani menjaga di belakang, angkuh.
Menggiring perahu nelayan berlomba-lomba menepi
membawa ikan tangkapan sejak malam

Saat sore datang, burung camar melayang
melintasi pondok I Gede Karang
mengantar matahari menyelinap
ke samping Gunung Agung
Langit merah
gelap menggantikan kemudian

Malam, bulan purnama. Karang justru mengundang warga datang dan ikut menyanyi dan menari genjek di halaman rumahnya. Biasanya ia sudah berhasil mencipta satu dua lagu genjek. Undangan datang, ada yang membawa tuak, ikan tongkol bakar bahkan sate babi sebagai teman minum tuak. Sejak ada turis asing di bungalo pinggir pantai, banyak pemandu membawa turis ke rumah Karang. Terkadang ada yang mau terlibat, tapi kebanyakan hanya menonton dan tak jarang menyampaikan donasi. Bila bulan beradu di ufuk barat genjek pun berhenti, suara angin mulai terdengar dan deburan ombak di kejauhan yang mulanya seperti berbisik terdengar keras.

Siang hari, Karang kerap turun ke pantai dan bertemu turis asing. Walau tak mengerti bahasanya, banyak turis betah berlama-lama bercengkrama dengannya, menyaksikan ia mempertontonkan kemampuan menari dan menyanyi. Sekali dua kali, Karang juga menawarkan jasa jukung dan memandunya melihat pemandangan bawah laut yang memiliki terumbu karang indah dan ikan hias warna-warni; Karang mengutip komisi dari pemilik jukung.

Kemasyuran membuat Karang berkenalan dengan beberapa pemilik bungalo. Pada mereka ia meminta agar anaknya diterima bekerja. Salah satu menyanggupi dengan senang hati.

* * *

Karang sangat marah saat tahu Sari duduk di tepi bangku pantai. Rambutnya yang panjang diikat dan sebuah bunga kamboja putih diselipkan di sana. Lengan dan jemarinya yang cukup terjaga kebersihannya — selama ini digunakan untuk menari — mengurut dari atas ke bawah punggung laki-laki berkulit putih dan berbintik-bintik coklat yang sedang terlungkup santai di sebelahnya. Sari mengambil botol lotion, menuangkan ke telapak kirinya, lalu kedua telapak tangannya saling digesekkan dan berikutnya kembali mengurut tubuh besar yang sudah lama tertidur.

Melihat pemandangan itu, Karang tidak juga melompat dari atas jukung walau layar sudah digulung. Tubuhnya serasa panas dan tak lagi punya kata, persis seperti saat pertama kali menemui ombak setinggi rumah yang segera mengurung jukung kecilnya, untuk sesaat kemudian melambungkan ke puncak dan ia melihat daratan, pohon kelapa dan awan dan secepat itu pula kembali ditarik ke kedalaman sampai seisi perutnya rasanya akan terburai ke mana-mana. Kala itu sebenarnya ia tak perlu menunjukkan kemampuan melaut sendirian agar bisa menyunting Asih. Calon mertuanya tidak terlalu mempermasalahkan bila tidak mengikuti inisiasi tersebut, karena maklum Karang muda bukan orang setempat, “Asih kan sudah mampu memelihara babi sampai besar, dan bahkan sudah dijual. Jadi kalian sudah pantas untuk menikah.”

Beberapa laki-laki yang datang membantu menepikan perahu Karang, memanggil namanya berkali-kali. Karang malah duduk di tepi jukung yang terombang-ambing dan terlihat lesu. Lelaki-lelaki itu tidak peduli, dengan bahu berotot mereka memanggul kayu yang menghubungkan jukung dengan cadiknya, masing-masing di empat penjuru. Sambil berteriak mereka mendorong ke atas pasir pantai yang mendaki, dengan kesal mereka lalu pindah ke jukung lain yang belum mendarat. Beberapa saudagar yang ingin menawar ikan mendekati jukung Karang, namun sama sekali tak digubris. Karang menunggu di depan rumah, duduk di atas batu tanpa makan. Istrinya tidak disapa, walau sudah tiga kali menawarkan diri untuk menghidangkan makanan. Arah pandang tidak beranjak dari bungalo yang membentang di tanah datar pinggir pantai, yang tiba-tiba disadari telah menjadi musuh.

Sore, Sari pulang. Menjunjung seember air melewati jalan setapak di sela-sela batu. Ketika masuk ke halaman, si Hitam, anjingnya, berlari menyongsong. Ekornya bergoyang-goyang. Sari membawa masuk air ke dapur. Keluar, sang ayah sudah berkacak pinggang di depannya.

“Mulai besok kau berhenti bekerja!”
“Bapa? Kenapa?”
“Apa kau tidak malu menyentuh tubuh lelaki yang baru kau kenal. Apa yang akan kau katakan nanti pada calon suamimu, calon mertuamu dan masyarakat di sini. Apa kau mau dikatakan gadis gatal?” Karang bicara panjang lebar, istrinya keluar dari rumah, tapi tidak ikut bicara.

“Tapi saya bekerja, bapa,” suara Sari memelas.
“Kau bekerja hanya untuk menunggu waktu dilamar laki-laki terhormat. Bapa sudah belikan anak babi dan bila sudah besar kau bisa menjualnya dan calon mertuamu pasti akan menyetujui karena kau sudah dianggap mampu menjadi calon istri.”

“Pokoknya saya tetap bekerja. Supaya bisa beli lipstik, beli bedak dan beli baju bagus. Memijat kan bukan pekerjaan hina,” ujar Sari melawan. Airmatanya bersimbah dan ia berlari masuk ke dapur, membanting pintu. Suara tangisnya semakin keras.

“Sari!” Karang tidak puas. Bukan masuk ke dapur, justru berlari menuruni bukit dengan sigap, menghindar semak belukar berduri dan melompat dari satu batu ke batu lainnya. Nafasnya memburu. Tiba di bawah, segera masuk ke halaman bungalo tanpa permisi; Satpam yang sedang bertugas mengejar, “Aku mau ketemu bosmu! Ada?” teriak Karang keras sebelum Satpam kekar itu menangkap dirinya.

Karang diantar menemui pemilik bungalo yang kebetulan hari itu ada di ruang kerjanya. Pengusaha dari Denpasar itu terlihat gemetar; ini pertama kali warga setempat marah dan protes sejak bungalonya berdiri dua tahun lalu.

“Bekerja di bungalo ada bagian masing-masing. Aku sudah berusaha menolong Sari dan pekerjaan yang ada buatnya cuma massage, memijat. Seperti dokter, mereka juga memegang tubuh orang tak dikenal dan tetap dikatakan mulia. Sari kan cuma tamatan SD, pekerjaan lain perlu ketrampilan. Siapa tahu Sari cepat bisa berbahasa Inggris, mungkin aku bisa pindahkan jadi waitress, melayani turis makan.”

“Aku minta dia dipindahkan sekarang juga.”
“Tidak bisa begitu cepat. Dan lagi tangan Sari halus bila dibandingkan gadis lain di sini, kalau pelayanan bagus bisa dapat uang tip lumayan. Apalagi Sari cantik dan murah senyum.”
Karang menangkap salah maksud pemilik bungalo, “Anakku bukan sundal! Biar aku, bapaknya, yang akan memberi makan,” telunjuknya diarahkan ke dada telanjangnya, “Aku akan membelikan Sari bedak dan pemerah bibir. Aku tidak biarkan kalian merusaknya,” Karang keluar ruangan dikuntit Satpam yang sejak tadi berjaga-jaga terhadap gerakan tubuhnya yang sulit diduga. Pergi meninggalkan bungalo dan sama sekali tidak pulang.

* * *

Karang menuangkan bensin ke atas pasir; airmatanya berlinang, “Dunia sudah semakin tua. Aku tidak lagi mampu melawan,” ujarnya dalam hati. Berjalan lesu ke arah jukung-jukung yang membisu. Susah payah ia mendorong jukung-nya sampai menyentuh air laut. Angin masih bertiup kencang dan ombak bergulung-gulung cepat. Di tengah gelap dan dingin, dengan keras Karang mendayung, melewati gundukan gelombang. Setelah agak jauh, ia bentangkan layar plastik penuh tempelan di sana sini dan mengarahkan jukung berkepala mulut ikan itu ke lautan luas. Menghilang di kegelapan malam.

Sampai kini Sari masih menunggu. Saat tangannya mengurut punggung turis yang terlungkup santai — dari atas ke bawah — matanya memandang ke arah laut, “Bapa, aku minta maaf. Pulanglah,” bisiknya dan berharap angin akan mengabarkan.

Denpasar, Januari 2003