Puisi-Puisi Syaifuddin Gani

_Kedaulatan Rakyat, 20 Des 2009
RINDU MEREBUS SEMBAHYANG

1
laut lengang
karang diam
ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian
nun, perahu bersayap zikir, tafakur
menghikmati ikan-ikan pulang.

jemari-jemari angin bergelantungan di urat-urat bakau
cis-cis butir air menyelam ke karam
jatuh dari camar yang terbang

tak ada kasidah hujan yang biasa mengelana
di birahi-birahi gelombang
dan anak-anak hitam, ayah-ayah karang
berlibur di ranjang berselimutkan gerimis cahaya
yang menembus dinding lontar.

2
wahai Kekasih
rindu merebus sembahyang dan tualang
menjelma bianglala dan cahaya lila yang cebur ke air.

laut lengang.
rindu dan galau bergelora
seumpama gelombang ini
memburuMu ke langit ke cakrawala
tiada kira.

zikirku, takbirku
mereka-reka Engkau yang tak terkira.
sementara tasbih mencair bersama gelombang.

Kendari, 24 Mei 2006

SURAT JULIET

seteguk racun
setikam belati
kuburkan riwayat kita

tapi di altar pemakaman durja
kabut subuh gundah
tanggalkan sehelai rambutmu kirmizi
menjelma cakrawala sepanjang Italy

telah melapuk dinding montague dan capulet
yang kaudaki aku di puncak renjana
dan menembakkan kesumat di sembab ranjang

tapi badan dan ranjang pun membangkai.

lambaian dan lolongan orang-orang
yang berkabung di kota verona
melukis bibirmu menyihir.

dan airmatamu mengalir
kan diziarahi para pelancong
kesejatian cinta
kemolekan luka.

kita pun
tak pernah mati.

romeo.

Jakarta-Kendari, Juni-Desember 2005

SERIBU BULAN

awan-awan bergerak perlahan menggandeng rembulan
mata-mata bintang dirundung diam
pepohonan lengang, daun-daun rindang
merunduk mendekap rumputan

malam apa gerangan
sandingkan seribu bulan.

angin hentikan perjalanan, lafadzkan ayat-ayat tuhan
gelombang tiada bergerak
seperti perahu layar mematung di tengah lautan

seribu iblis diringkus di penjara tuhan
seribu malaikat melanglang,
adakah si fulan mengeja tasbih dan zikir.
pintu surga disibak seribu lapis
bersama pintu jahanam dibungkam seribu lapis

rumah siapa diarak malaikat tengah malam
semburatkan cahaya dan aroma kesturi.
tujuh belas bidadari berlendang
sembilan puluh sembilan merjan
terbujur di setiap pintu dan jendela
berlayar ke negeri tuhan.

bulir-bulir hujan yang subtil berguguran
menanggalkan kalam ilahi yang basah
lesap ke jantung bumi.

Kendari, 18 Oktober 2005

SURAT DARI MATAHARI

pagi gugur
matahari tampak kabur
disongsong keranda laut
anak-anak berdatangan menuju kubur.
tak sempat kuhantarkan doa-doa
sebelum engkau
melesak ke terminal tuhan.

airmata langit
dan gerimis yang jatuh bersuara parau
mengguyur serambi ini
yang tinggal batu-batu
dan sebiji peluru.

pabila malam pulang
hanya udara yang datang sempoyongan
bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
yang berlabuh di meulaboh.

Bekasi, 13 Juni 2005

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=240040006642