Sastra dari Bahasa Yang Rapuh

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Dan kampungku telah menolak semua peralihan?ledakan angin, sebentuk sabit; dimana bahasaku (mungkin) tak memberi ruang pada semua lambang, semua kehadiraan (puisi “Peralihan”, 2002).
Ada kemegahan dalam puisi W. Haryanto. Dalam satu satuan gramatik, semacam kalimat sederhana, tercakup berbagai khasanah. Tentang kampung yang menolak peralihan, angin yang meledak, sebentuk sabit, tentang lambang, tentang kehadiran. Sebuah kemegahan yang dibungkus oleh kecemasan; di mana bahasa, mungkin, tidak memberi ruang kepada semua lambang dan kehadiran.

Mengapa penyair W. Haryanto memiliki kegamangan terhadap bahasa? Kiranya, pengakuan A.A. Navis sedikit memberi gambaran problem kebahasaan sastrawan Indonesia. Tahun 1972, di Taman Ismail Marzuki yang melegenda, Navis memberikan ceramah bertajuk “Proses Penciptaan”: “Mungkin karena saya tidak banyak bergaul dengan orang-orang yang memakai bahasa Indonesia. Sehingga ketika saya menulis, saya berpikir dalam struktur bahasa Minangkabau, lalu menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia”.

Bahasa Indonesia, bahasa yang berasal dari lingua franca, bahasa Melayu Pasar, dan sekarang menjadi bahasa resmi, memiliki ratusan juta pengguna. Hampir seluruh penduduk kelas menengah Indonesia, termasuk sastrawan, menguasai bahasa Indonesia. Hanya saja, keintiman berbahasa Indonesia bagi seluruh masyarakat sangat dipertanyakan. Bahasa Indonesia lebih sebagai bahasa resmi daripada bahasa keseharian. Pada perkembangannya, bahasa Indonesia bergerak jauh untuk semakin meninggalkan bahasa-bahasa daerah, bahkan bahasa Melayu. Kondisi yang berbeda dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketika itu, bahasa Indonesia yang resmi masih mengacu kepada data empiris dari bahasa suatu masyarakat penutur; bahasa Melayu yang dipergunakan di Sumatra, terutama Sumatra Barat dan Riau. Sifat-sifat keseharian amat menonjol. Dapat dinyatakan, ketika itu, bahasa Indonesia merupakan “bahasa yang bersifat kultural”. Dan kini tragis, A.A. Navis yang berasal dari Minangkabau (Sumatra Barat) pun merasa tidak akrab dengan bahasa Indonesia. Keterputusan terjadi dalam perkembangan bahasa Indonesia. Wujud kemegahan bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Perkembangan bahasa Indonesia selayak nasib “gadis” dalam ilustrasi puisi Chairil Anwar “gadis manis iseng sendiri”. Bahasa Indonesia yang dimaksudkan sebagai bahasa Nasional, sebagai identitas bangsa, terjebak dalam dimensi kesepian. Bahasa yang iseng sendiri. Sastra Indonesia, sastra berbahasa Indonesia, yang iseng sendiri (?).

Bahasa Indonesia mengalami keterputusan dengan masa silamnya sendiri. Karakter dasar bahasa Melayu sedikit demi sedikit terkikis, melemah, dan nyaris pudar. Keterputusan yang dapat ilustrasikan dari pergeseran arti pepatah Melayu “bahasa menunjukkan bangsa”. Ariel Heryanto dalam tulisan “Berjangkitnya Bahasa-bahasa di Indonesia” (Prisma, I tahun XVIII) menyatakan, terjadi perbedaan arti “bangsa” dalam pepatah tersebut. Kata “Bangsa” berarti pemahaman keturunan, dan latar belakang sosialisasi “keluarga” yang memberikan keturunan seseorang. Sekarang, kata “bangsa” dalam pepatah tersebut diartikan sebagai bangsa dalam pengertian politik. Misalnya bangsa Inggris, Sinegal, Argentina, atau Jerman.

Terdapat unggah ungguh atau tingkatan bahasa dalam bahasa Melayu, sama seperti dalam bahasa Jawa yang mengenal adanya kelas “krama inggil” (ragam tinggi), “krama madya” (ragam menengah), dan “ngoko” (ragam rendah). Rustam Effendi ketika menuliskan bait-bait puisi, bukan beta bijak perperi, pandai menggubah madahan syair, bukan beta budak negeri, mesti penuhi undangan mair, saat itu, dia sedang menggunakan ragam bahasa Melayu tinggi. Ragam bahasa yang hanya layak dimiliki oleh keluarga kerajaan dan masyarakat kelas menengah-atas. Di situ, bahasa menandai kelas sosial.

Sedang bahasa Indonesia, oleh semangatnya yang nasionalis dan kebersamaan, diarahkan pada sifat universalitas. Bahasa tidak mencerminkan kelas sosial, kalaulah ada, itu hanya pada beberapa kata sapaan. Sebuah bahasa ideal. Bahasa yang dipersiapkan untuk “persamaan nasib sosial” bagi masyarakat penggunanya. Bahasa Indonesia memang bahasa ideal. Sebuah bahasa yang perkembangannya teratur dan terkontrol. Sebuah bahasa ciptaan; diciptakan oleh lembaga Pusat Bahasa. Pemerintah. Masyarakat sekadar diposisikan sebagai pengguna. Hak-hak penentuan dan pergeserannya karakter dibatasi undang-undang. Pemerintah pun perlu repot-repot menandaskan “bahasa yang baik dan benar” atau “Ejaan yang disempurnakan” (EYD). Pernah juga, kebijakan pemerintah dikeluhkan oleh masyarakat. Dua tahun pertama pemberlakuan EYD (1972), media massa disesaki oleh kritik dan ketidaksenangan masyarakat. Alasan yang diajukan seputar ketidakbiasaan, penyayangan karena Bahasa Indonesia kehilangan karakter ejaan, dan yang paling pokok alasan dana. Penggantian ejaan berarti penggantian seluruh buku atau tulisan cetak yang tertulis dalam ejaan lama. Masyarakat keberatan dengan besarnya biaya yang mesti ditanggung. Namun seperti dugaan semua orang, sosialisasi (namanya “sosialisasi” dan bukannya “pemaksaan”) pemberlakuan EYD berjalan dengan langkah tegap tak tertahan. Masyarakat tinggal memakai, pemerintahlah yang memproduksi, mengoperasikan, dan menafsirkan bahasa Indonesia. Tidak hanya EYD, pemerintah juga mengurusi tata cara serapan. Kata-kata bahasa asing atau bahasa daerah yang layak menghuni bahasa Indonesia. Dan yang paling riskan, bahasa Indonesia diimunkan dari tema-tema khusus. Tema-tema yang dianggap mempersoalkan kesukuan, agama, ras, golongan. Aturan bahasa yang “kaku dalam operasional” namun “remang-remang dalam batasan”. H.B. Jassin pernah dikenai 1 tahun penjara karena membela cerpen yang dianggap meresahkan umat (kasus cerpen “Langit Makin Mendung” karangan Ki Panjikusmin).

Aturan-aturan yang dilesakkan dalam Bahasa Indonesia, seluruhnya dilakukan oleh pemerintah, berpengaruh besar bagi kepemilikan dan keintiman bahasa. Masyarakat menjadi asing terhadap bahasa. Bagi masyarakat, bahasa Indonesia seperti berputar-putar dalam kepala sendiri. Bergerak semakin jauh dari kehidupan masyarakat, semakin jauh dari kondisi bahasa kultural. Bahasa Indonesia menjadi rapuh dari dalam. Bahasa Indonesia yang asyik iseng sendiri. Sastra Indonesia yang iseng sendiri(?).

Sulit memastikan keterkaitan langsung antara sastra dan bahasa. Satu yang tidak bisa dipungkiri, sastra memanfaatkan bahasa sebagai materi pokok. Patut pula ditengok pikiran F.W. Bateson dalam buku English Poetry and the English Language (Oxford, 1934, hal. vi): “Tesis saya menyatakan bahwa pengaruh zaman pada sebuah puisi tidak dilihat dari penyairnya, tapi dari bahasa yang dipakainya. Sejarah puisi yang sebenarnya, menurut saya, adalah sejarah perubahan jenis bahasa yang dipakai dalam beberapa puisi yang ditulis secara berurutan. Dan hanya perubahan-perubahan inilah yang merupakan akibat dari tekanan sosial dan kecenderungan intelektual”. F.W. Bateson percaya, bahasa berpengaruh besar terhadap karya sastra. Misalnya pengaruh bahasa pada puisi; dasar irama tiap bahasa berbeda-beda. Irama dalam Bahasa Inggris sangat ditentukan oleh tekanan kata, kuantitas menyusul sebagai faktor penentu kedua, dan pembatasan jumlah kata juga memainkan peranan. Perbedaan irama antara kalimat yang terdiri dari satu suku kata, dan kalimat yang terdiri dari lebih satu suku kata, sangat menonjol. Di Cekoslowakia, batas jumlah suku kata adalah dasar irama, yang diikuti oleh tekanan yang teratur. Kualitas hanya merupakan variasi yang kadang-kadang dipakai. Di Cina, tinggi rendah suara adalah dasar irama; sedangkan di Yunani, kualitas merupakan prinsip untuk menyusun puisi. Tinggi rendah suara dan pembatasan jumlah kata merupakan unsur variasi. Sastra bahasa Melayu pun senantiasa memperhitungkan pola rima dan jumlah suku kata. Pantun, talibun, bidal, syair, mantra, gurindam dua belas; semuanya memiliki bentuk rima yang berbeda-beda.

Bagaimanakah bahasa dalam sastra Indonesia? Apakah terjadi keterputusan juga dengan sastra tradisional? Penyair Indra Tjahyadi pernah menuliskan puisi yang apik. Ziarah atas burung-burung, cahaya dari rasa sakit yang bertumpuk, yang baru digali dari setiap kubur, seperti ikalan-ikalan topan, atau impian seribu gadis, dan pelacur. Puisi “Katastrope” dari antologi Manifesto Surrealisme (FS3LP Surabaya, 2002). Indra Tjahyadi telah melakukan produksi bahasa secara maksimal. Entah, dari belahan tradisi mana asal puitik Indra Tjahyadi. Puisi tradisional yang paling mungkin untuk mendekati adalah mantra. Itu pun dengan berbagai reduksi dan penambahan aspek. Atau, Indra Tjahyadi justru sama sekali tidak mengambil dari tradisi mantra. Bisa diartikan, puisi “Katastrope” tidak memiliki pijakan sastra tradisional.

Dilihat dari padanannya dengan dunia yang dibangun, puisi “Katastrope” juga sangat tidak sesuai dengan kenyataan empirik. Segalanya datang dan pergi tanpa bisa dikenali. Satu-satunya fakta yang tersisa dalam puisi Indra Tjahyadi ialah fakta bahasa. Ditinjau dari segi kategori bahasa Indonesia, puisi tersebut benar; larik-larik yang menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata sandang. Secara fungsi bahasa Indonesia, puisi Indra Tjahyadi tidak memenuhi persyaratan minimal sebuah kalimat, subyek + predikat; larik-lariknya hanya berposisi sebagai subyek, predikat tidak ada. Ditinjau dari segi peran, puisi “Katastrope” juga tidak sesuai dengan tindak bahasa yang benar, pelaku dan penyertanya tidak ada. Hanya saja, seluruh larik-lariknya menggunakan kata dari bahasa Indonesia. Segi kategori-nya pun benar. Meski tidak menemukan paduannya dalam realitas, dunia dalam puisi Indra Tjahyadi bisa dibayangkan oleh pembaca. Aspek tema menyusul di pembacaan selanjutnya.

Keseluruhannya menempatkan puisi “Katastrope” dalam wilayah fantasi, puisi fantasi. Puisi yang hanya bersandar pada fakta bahasa, tanpa acuan realitas, atau “puisi membentuk realitas” tersendiri. Realitas puisi yang tidak perlu berurusan dengan realitas empirik. Ini berseberangan dengan harapan Nirwan Dewanto tentang sastra ideal. Pada buku Senjakala Kebudayaan, seraya merujuk puisi Octavio Paz dan novel Gabriel Garcia Marquez, Nirwan menegaskan, sastra mesti “mengimajinasikan realitas” dan bukannya “menghancurkan realitas”. Nirwan benar, puisi Paz dan novel Gabriel memang bersandar pada realitas Amerika Latin, dan oleh sandaran yang diolah secara cerdas, dua sastrawan tersebut layak memperoleh hadiah Nobel. Pernyataan Nirwanlah yang bermasalah, ialah sastra mesti seperti Paz dan Gabriel. Mengedepankan sastra imajinasi dengan serta merta merendahkan sastra fantasi. Bagaimana dengan Labirin Impian karangan Jorge Luis Borges, karya sastra yang amat berciri fantasi, teks-teks yang amat menghancurkan realitas. Dan bersandar pada puisi Indra Tjahyadi yang lugas namun beringas, bisa jadi, bahasa Indonesia berpotensi besar menghasilkan sastra fantasi yang bermutu. Bisa jadi juga, bahasa Indonesia kurang berpotensi menghasilkan sastra imajinasi. Bahasa Melayu justru berposisi sebaliknya, sifat kultural-keseharian yang diemban oleh bahasa tersebut memungkinkan lahirnya sastra yang mengimajinasikan realitas.

Para sastrawan Indonesia sebelum tahun 1950-an patut bersyukur. Bahan mentah sastra, saat itu, bahasa Melayu, belum terlalu direcoki oleh aturan-aturan. Pembakuan bahasa yang dilakukan Ch. A. van Openhusyen (1856-1917) dalam buku Spraakkunst van het Maleisch yang cemerlang, tidak lebih dan tidak kurang, berasal dari pendataan bahasa tulis dan terutama bahasa lisan yang dipergunakan oleh masyarakat Melayu. Openhusyen tidak melesakkan aturan-aturan aneh yang membuat bahasa Melayu berlainan dengan bahasa keseharian.

Sastrawan Nusantara tinggal memilih salah satu ragam, bahasa Melayu tinggi atau bahasa Melayu rendah. Kedua telah mengandung unsur asosiatif yang tebal. Bahasa yang dibentuk oleh kata-kata bermuatan kultural-mitologis. Hampir setiap kata merangsang kesan kejiwaan, transendensi, kesenyapan, atau traumatik ingatan. Kata-kata memrepresentasikan tuah. Ini disebabkan; bahasa Melayu difungsikan, dipercaya, dan dihidupi masyarakat. Bahasa sebagai produk kebudayaan. Bahasa Melayu dipergunakan dalam bahasa tulis biasa pun hasilnya sudah cukup memberi kesan. Sastrawan tinggal menyisipkan gagasan atas bahasa.

Kondisi bahasa Melayu jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Usaha Pusat Bahasa yang mencanangkan “satu kata satu makna” menyudutkan bahasa sekadar media informasi. Tidak ada kesan, tanpa asosiasi, kering, dan kurang menyiratkan aspek kejiwaan. Bahasa yang jauh dari kenyataan empirik. Bahasa ditekankan sebagai alat komunikasi daripada sebagai produk kebudayaan. Karya sastra fantasi, yang secara sifat, jauh dari kenyataan menemukan “wilayah subur” bahasanya. Tentu bukan tanpa jebakan, mulut-mulut kegenitan sudah siap menganga dan siap melumat karya sastra menjelma karya sampah.

Belajar kepada Borges, sastra fantasi memang dimaksudkan miskin rujukan jiwa dan realitas. Karya sastra menekankan fakta bahasa, dan bukannya fakta empirik. Namun, fakta bahasa juga berarti fakta tradisi sastra. Karya-karya Borges sarat dengan mitologi dan pola-pola tradisi sastra yang telah pernah ada. Mitologi dan tradisi dipertaut-silangkan sampai menemukan bentuk baru. Pada cerpen “Jalan Setapak Bercecabang”, Borges mengadopsi kerumitan tradisi sastra Cina dan dipersilangkan dengan kejutan-kejutan naratif yang berpangkal dari tradisi sastra Populer-Detektif. Apakah sastra fantasi Indonesia sudah cukup mengeksplorasi khasanah tradisi sastra? Pendekatan cermat masih perlu lakukan.

Begitulah sastra, eksplorasi sastra senantiasa melibatkan masa silamnya. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, “Jasmerah”, seperti dipidatokan Presiden Soekarno tahun 1967. Segala jenis kanon sastra, tidak hanya sastra fantasi, penuh dengan libatan tradisi sastra sebelumnya, melibatkan juga aspek kultural dan kejiwaan manusia. Karya-karya William Shakespeare pun menjadi agung karena secara tepat mengolah kultur Eropa dan tradisi sastra Epik.

Tentang sastra Melayu, perlu dicatat proses kreatif sastrawan Abdullah bin Abdulkadir Munsy. Kepekaan jiwa estetik (negative capability) menuntun Abdullah giat mencatat kejadian hari sehari. Mempelajari kehidupan Barat dan menjalani petualangan-petualangan berbahaya. Untuk alasan proses kreatif, Abdullah berani bersimpangan dengan perintah sang ayah; larangan mempelajari bahasa Inggris. Kenyataannya, Abdullah bahkan turut membantu kaum missionaris menerjemahkan Injil. Ketika tiba menulis karya sastra, Abdullah pun bergelut bersama budaya dan tradisi sastra Melayu. Pada karya Hikayat Abdullah, ia mengecam perilaku raja-raja Melayu dengan menggunakan rujukan Islam. Di sana-sini Abdullah menyelipkan pantun, petuah, peribahasa. Tahu atau tidak tahu, kinerja Abdullah bin Abdulkadir Munsy berkesuaian dengan pernyataan Umberto Eco dalam Theory of Semiotics (1976): “Hubungan antara kode dan pesan, yang dengan begitu kode mengontrol pengeluaran pesan dan pesan baru merestruktur (menyusun kembali) kode, merupakan dasar bagi aspek ganda bahasa sebagai “kreativitas yang terikat aturan” dan “krativitas yang mengubah aturan”.

Bersandar pada Umberto Eco, kerapuhan bahasa Indonesia bukanlah kerapuhan yang langsung berpengaruh pada karya sastra. Saat ini, di tanah air, kerapuhan bahasa Indonesia adalah ruang yang menanti karakter dan gagasan dari sastra berbahasa Indonesia. Sama seperti yang terjadi pada bahasa-bahasa lain, perkembangan bahasa senantiasa melibatkan kinerja sastrawannya; bahasa Melayu diperkaya oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsy, bahasa Jerman pun tidak akan seperti sekarang tanpa karya-karya Goethe. Saat ini, di tanah air, kerapuhan bahasa Indonesia adalah ruang yang menanti karakter dan gagasan dari sastra berbahasa Indonesia.

________Studio Teater Gapus
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/4/