Ali Akbar Navis, Sang Pencemooh yang Dicintai (17 Nov 1924 – 22 Maret 1993)

M. Rifan Fajrin
_Majalah Lingkar FLP Semarang – dari berbagai sumber

Dia adalah salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama A.A Navis, di kalangan sastrawan dia digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya.

Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padang Panjang, 17 November 1924, ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih.

Navis memulai menulis sejak tahun 1950. Hasil karyanya mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar tahun 1955 dan telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri, dihimpun dalam buku “Yang Berjalan Sepanjang Jalan”.

Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Dia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Dia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya, dia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Dia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan.

Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Hingga usia senja, ia terus saja berkarya, karena baginya menulis harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam hidupnya. Pada 17 November 1999, AA Navis genap berusia 75 tahun. Di usia segaek itu, sastrawan dan budayawan kondang hasil didikan Mohammad Sjafei di INS Kayutaman (1932-1942) ini masih tetap produktif. Ia masih tetap menulis, menulis, dan terus menulis.

Bagi Navis, menulis itu alat. Namun bukan alat pokok untuk mencetuskan ideologinya. Ia mengaku tak termasuk orang yang menulis cerpen mirip mesin.

“Bila sedang mood menulis cerpen, ya tulis cerpen. Bila mood menulis novel, ya tulis novel. Kadang dalam setahun, ambo hanya mampu menulis dua-tiga cerpen,” kata Navis.

“Menulis adalah panggilan hati. Menulis adalah tantangan dan untuk melatih otot-otot otak. Senjata ambo hanya menulis. Dengan menulis ambo bisa membela orang atau pihak yang tertindas. Ambo menulis dengan satu visi, tetapi bukan mencari ketenaran. Ada pikiran yang ingin ambo tuangkan melalui karya sastra,” jelas penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K, tahun 1988 itu.

Dalam konteks kesusastraan ia mengemukakan pandangannya bahwa kurikulum pendidikan nasional saat itu, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi siswa ataupun mahasiswa hanya diajarkan untuk menerima, tidak diajarkan untuk mengemukakan pemikiran. Dalam hal ini, siswa tidak diajarkan agar pandai menulis, karena menulis itu membuka pikiran. Siswa tidak diajarkan membaca, karena membaca itu memberikan perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi, mahasiswa tidak pandai membaca dan menulis. Oleh karena itu terjadi pembodohan terhadap generasi penerus akibat tingkah-polah kekuasaan. Oleh karena itu, strategi pembodohan itu harus dilawan dan dibenahi. Menurutnya, salah satu caranya adalah dengan memfungsikan pelajaran sastra dalam kurikulum pendidikan nasional. Pelajaran sastra adalah pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir kritis dan memahami konsep-konsep tentang kehidupan. Membaca sebuah karya manapun yang baik, itu berarti meyuruh orang berpikir berbuat betul.

Sebagai seorang sastrawan, sejumlah penghargaan pernah diterimanya, antara lain pemenang pertama dan menerima hadiah Kincir Emas dari Radio Belanda (1975), dan anugerah sastra South East Asia Writer Award dari Thailand (1992). Cerpennya juga telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing: Inggris, Jerman, dan bahasa Perancis.

Penulis ‘Robohnya Surau Kami’ dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. []

Karya :
Robohnya Surau Kami (1955)
Bianglala (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi (1970)
Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
Di Lintasan Mendung (1983)
Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
Jodoh (1998).

Penghargaan :
Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988),
Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989),
Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya dari Gubernur Sumbar (1990),
Hadiah sastra dari Mendikbud (1992),
Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994),
Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999),

Dijumput dari: http://kamarberisik.blogspot.com/2011/05/aa-navis.html
Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/