Amanat Bunda

Ahmad Zaini
_Radar Bojonegoro, 13 Mei 2012

Tak ada pilihan lain bagi Ila kecuali hanya satu. Dia harus tetap di rumah menjaga adiknya. Dia harus memandikan, mengganti pakaian, menyuapi makan adiknya ketika sudah waktunya makan.

“Glodak!” suara benda jatuh.

Ila bergegas menuju ke ruang dapur. Ia menjumpai adiknya melempar piring dari rak dapur. Ila segera mengambil piring yang tergeletak di lantai tanah.

“Adik tidak apa-apa?” tanya Ila kepada adiknya.

Si adik hanya tersenyum. Dia dia hanya merasakan puas karena telah melempar piring. Dia tidak menghiraukan pertanyaan kakaknya yang mengkhawatirkan dirinya.

Dengan rasa kasih sayang, Ila menggendong adiknya ke ruang depan. Di ruang tersebut berserak berbagai macam mainan.

“Nah, adik di sini dulu, ya, jangan ke mana-mana. Kakak mau mencuci baju.” Ila segera ke kamar mandi untuk mencuci baju yang semalam diompoli adiknya. Sementara itu adiknya senang sekali karena berbagai macam mainan tersedia di depannya.

Hari telah beranjak siang. Baju yang telah dicuci sudah kering. Ila segera mengambil baju itu dari penjemuran. Dia melipat baju-baju itu dengan rapi kemudian dimasukkan ke dalam almari.

“Ibu!” rengek adiknya.

“Sabar, ya, Dik! Ibu segera pulang,” jawab Ila untuk menenangkan adiknya. Setelah mendengar jawaban itu adiknya kembali bermain-main di ruang tamu.

Sudah tiga hari ini, kalau siang Ila harus menjaga dan merawat adiknya karena ditinggal ibunya bergiliran menjaga nenek yang sedang terbaring sakit di rumah sakit. Ibunya baru pulang kalau menjelang malam. Jadi, selama tiga hari ini Ila tidak bisa masuk ke sekolah karena melaksanakan amanat yang telah dibebankan ibunya kepadanya. Ila tidak mau jika dikatakan sebagai anak yang tidak bertanggung jawab. Makanya dia meminta izin kepada gurunya tidak masuk sekolah demi membuktikan kepada ibunya kalau dia mampu menjaga dan merawa adiknya.

Adik Ila memang luar biasa. Dia banyak tingkah. Ia selalu merepotkan kakaknya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Kemarin lusa, buku Ila yang tertata rapi di rak buku diporak-porandakan adiknya. Bahkan tidak jarang buku sekolah Ila disobek adiknya yang masih belum mengerti tentang buku. Ila tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis lalu melaporkan kejadian itu kepada ayah atau ibunya. Ila tidak membalas perbuatan adiknya itu dengan menyakitinya. Dia mengerti bahwa apa yang dilakukan adiknya itu tanpa pertimbangan apa-apa. Dia belum mengerti bahwa buku itu sangat penting bagi kakaknya.

“Adik, ayo, mandi!” ajak Ila.

Si adik tetap asyik bermain-main di ruang tamu.

“Adik, cepat!”

“Nggak!” adiknya menolak.

“Kalau Adik tidak mau mandi, Adik nanti malam tidak boleh tidur dengan kakak dan ibu!” rayunya.

Adiknya bergeming. Dia tidak menggubris segala bentuk rayuan kakaknya. Dia tetap asyik melajutkan permainan robot-robotan yang dibelikan ayahnya dua minggu yang lalu.

“Adik, lihatlah!” Ila memperlihatkan kapal-kapalan kepada adiknya, tetapi adiknya tidak mau melihat apa yang dibawanya.

Ila tetap sabar. Ia tidak memaksa adiknya harus melihat kapal-kapalan yang dibawanya. Ia khawatir kalau dipaksa, adiknya pasti akan menangis. Jika sudah menangis, urusan bisa menjadi tambah rumit.

Ila tidak putus asa. Ia mencari cara yang lain untuk membujuk adiknya agar mau ikut mandi bersamanya.

“Ayo bermain air sambil berenang-renang!” mendengar ajakan kakaknya, kali ini dia menurut.

“Ayo, Kak!”

Mereka segera menuju kamar mandi. Ila dengan cekatan membersihkan kotoran-kotoran yang ada di lantai kamar mandi. Setelah dipastikan bersih, Ila menyumbat lubang pembuangan air kamar mandi dengan sandal jepitnya agar air yang ditumpahkan dari bak mandi bisa tergenang tidak merembes keluar. Satu dua timba air ia tumpahkan. Dalam sekejap kolam renang mini terbentuk. Adiknya pun berkecipak riang di kolam renang buatannya. Ia senang sekali bisa bermain air.

Lama mereka di kamar mandi. Tubuh adiknya yang masih mungil terlihat membiru. Ia kedinginan. Ila segera menyuruh adiknya agar segera menyudahi mandinya. Adiknya menolak. Ia tetap berkecipak di genangan air kamar mandi.

“Ayo, Dik! Lekas kemari!” seru Ila sambil membawa handuk buat adiknya.

Dasar anak kecil. Kalau sudah bermain dengan air sehari pun ia tetap betah. Ia tidak akan memedulikan kondisi tubuhnya yang semakin menggigil kedingin. Bibir adik Ila bergetar. Giginya gemeretak. Namun sekali lagi, ia tetap bergeming tak mau mentas dari tempatnya bermain air.

Ila tidak memaksakan kehendak kepada adiknya agar segera keluar dari kamar mandi. Ia menunggu adiknya hingga usai mandi. Ila ingat kalau adiknya suka naik kereta kelinci yang setiap hari berkeliling di kampungnya. Ia akhirnya menggunakan jurus pamungkas itu agar adiknya keluar dari kamar mandi.

“Adik, ayo cepat keluar! Kakak sudah menyiapkan handuk dan pakaian baru ini. Kalau sudah berpakaian baru, nanti kuajak naik kereta kelinci.”

Mendengar kata kereta kelinci, sang adik terperanjat. Ia serta merta menyudahi mandinya di kolam renang dadakan. Ia muncul dari balik pintu kamar mandi lalu mendekat kepada kakaknya, Ila. Dengan rasa kasih sayang dan demi melaksanakan amanat bunda, Ila segera mengeringkan sekujur tubuh adiknya dengan handuk. Adiknya diam tak bergerak. Ia menggigil kedinginan. Setalah kering semua, Ila memakaikan baju baru adiknya. Si adik senang sekali karena ia dijanjikan akan diajak naik kereta kelinci.

“Mana, Kak kereta kelincinya?”

“Sabar dulu, Dik! Nanti juga akan muncul.”

Kakak dan adik itu berjalan ke pinggir jalan kampung. Mereka berdiri di pinggir jalan itu sambil menanti ada kereta kelinci yang lewat. Hampir sejam mereka menanti, tetapi kereta kelinci tak kunjung datang. Sementara hari sudah semakin senja. Ibunya sudah waktunya datang dari rumah sakit menunggu neneknya yang masih terbaring sakit.

Sehari penuh Ila menjaga adiknya. Ini sudah hari ketiga ia berhasil menjaga adiknya tidak menangis mencari-cari ibunya. Walaupun usianya masih bau kencur, akan tetapi dia mampu menjalankan amanat bundanya dengan baik.

“Din, din!” suara klakson motor.

Ila dan adiknya menoleh ke arah suara tersebut. Betapa riang hati mereka karena yang mengklakson tadi adalah bunda tercinta yang baru pulang dari rumah sakit. Wanita berhati lembut itu tersenyum dengan rasa kasih pada kedua buah hatinya. Ia segera mengajak kedua anaknya naik ke sepeda motor. Dalam suasa bergembira karena ketiga jiwa telah berkumpul, motor itu melaju mengangkut mereka ke rumah yang berdiri kokoh di tepi jalan.

Lamongan, Mei 2012
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/ahmad-zaini/amanat-bunda-baca-di-radar-bojonegoro-edisi-minggu-13-mei-2012/10150764875462470