Barongsai dan Liong dari Kampung Seteran

Meliuk hingga Makassar dan Sumatera
Muhammad Syukron
http://www.suaramerdeka.com/

SUARA genderang dan simbal yang dipukul anak-anak muda itu mengalun memekakkan telinga. Beberapa saat kemudian, muncul naga atau liong dengan panjang mencapai 20 meter meliuk-liuk diatas panggung sebuah pusat perbelanjaan besar di Kota Semarang.

Naga yang selama ini dikenal sebagai legenda dari daratan China itu menari dengan lingkaran dan berjalan berputar. Anak-anak balita yang menonton pun tanpa takut memberikan angpau sambil tangannya dimasukkan ke dalam mulut naga.

Beberapa saat kemudian, barongsai berkepala kuning yang dimainkan oleh dua pemuda itu tiba-tiba meloncat dari panggung ke atas meja dan dua patok bambu yang menjulang ke atas. Riuh tepuk tangan pun para pengunjung mal siang itupun langsung menggema.

Itulah penampilan group barongsai dan liong pimpinan Soetekno Wiroutomo yang memiliki nama Elang Terbang Dari Timur (ETDT). Bapak tiga putra yang juga warga Jl Seteran Tengah I/3 Kelurahan Seteran, Kecamatan Semarang Tengah itu menuturkan, barongsay merupakan budaya Cina dan menjadi ciri khas perayaan imlek di Indonesia.

Selain sebagai pimpinan kelompok, lelaki kelahiran Semarang 30 Oktober 1951 itu juga dikenal sebagai perajin yang produknya tak hanya dikenal di Kota Semarang.

Sejak memproduksi barongsay dan liong pada 1994, produk Soetekno dikenal hingga pelosok nusantara. ”Saya kerap menerima pesanan dari Jakarta, Surabaya, NTT, NTB, Sumatera, Kalimantan. Saat ini, saya sedang menyelesaikan pesanan barongsay dan liong dari Makassar,” tutur Soetekno alias Oei Eng Tek, saat ditemui dirumahnya, kemarin.

Untuk membuat satu barongsai, Soetekno membutuhkan waktu hanya seminggu, sedangkan untuk naga atau liong, rata-rata dibutuhkan waktu hingga dua minggu.

Proses pembuatan kerangka kepala baik barongsai maupun naga dari bambu, kata dia, memakan waktu yang lama. Setelah rangka terbentuk, baru diteruskan dengan rangka badan dan ekor.

”Setelah rangka terbentuk, langsung ditempeli kertas dorslag hingga tiga lapis dengan lem. Kemudian baru dijemur. Setelah kering, kembali ditempel kertas hologram dan proses pengecatan, pemasangan mata, aksesori dan bulu yang selama ini masih kami impor dari Korea. Kalau musim penghujan seperti ini paling lama pengeringannya, karena hampir tidak ada sinar matahari,” katanya.

Tak hanya bulu yang selama ini didatangkan dari Korea, genderang sebagai musik pengiring atraksi barongsai dan liong pun didatangkan dari Cina. Pasalnya, kulit hewan yang digunakan genderang buatan lokal kualitasnya tidak sebaik buatan negara itu. ”Perbedaannya ketika terkena air hujan. Genderang buatan Cina dipukul suaranya tidak berubah, jika buatan lokal, suaranya hilang,” tandasnya.

Soal harga, Soetekno mematok harga Rp 4 hingga Rp 8 juta untuk satu unit naga dengan panjang 20 meter, sedangkan barongsai dengan ukuran 2,5 meter, pihaknya memasang harga Rp 2 juta hingga Rp 6 juta.

Tukang Becak

Usaha yang dilakukan turun temurun dari ayahnya itu berawal saat orangtuanya bergabung dengan perkumpulan barongsai. Setelah merasa mampu untuk membuka usaha sendiri seperti saat ini, Soetekno pun melayani jasa sebagai tenaga pengajar kesenian barongsai maupun liong.

”Saya juga melatih atraksi barongsai dan liong di Jakarta, Surabaya dan Kupang. Sekolah-sekolah di Kota Semarang selain memesan barongsai, juga sering meminta saya melatih siswa-siswanya,” ujarnya.

Jadwal pentas menjelang imlek anggota ETDT yang mayoritas anak-anak muda dari Kampung Seteran yang masih aktif sekolah, kuliah maupun karyawannya itupun selalu padat.

Dari sekitar 30 anggota, Suwandi (61) merupakan anggota tertua. Warga Jl Wonosari Gang VI RT 5 RW 3 itu mengaku senang bermain liong sejak usia 5 tahun. Pasalnya, ia dilahirkan di Gang Lombok Kawasan Pecinan yang mayoritas merupakan warga Tionghoa.

”Sejak kecil saya sudah bergaul dengan anak-anak Tionghoa, sehingga secara tidak langsung, saya menyukai kesenian barongsai dan ikut dalam sebuah kelompok,” tutur bapak delapan anak dan enam cucu itu.

Namun, saat pemerintahan Orde Baru berkuasa dan melarang kesenian barongsai tampil di tengah masyarakat umum, ia pun beralih profesi sebagai tukang becak. Namun, setelah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional dan menghapus Surat Bukti Kewarganegaraan RI, Suwandi pun kembali aktif bergabung dengan kelompok kesenian barongsai.

”Bermain barongsai atau liong itu yang dibutuhkan adalah kekompakan antar individu, kalau tidak kompak, gigi bisa rontok atau badan terkilir karena jatuh,” ungkap lelaki berambut putih yang mengaku tidak merasa lelah setelah bermain liong 3 jam itu, kemarin.

/13 April 2012