Bunga Tulip

Yusri Fajar
http://www.malang-post.com/

Bunga tulip basah tergeletak di depan pintu apartemenku di jalan Smaragdlaan 98 Leiden. Bunga tulip merah muda itu basah berlumur air mata. Tak ada pesan juga tulisan. Aku mengambilnya, melihat butiran-butiran air mata masih menempel. Siapakah yang mengirim bunga tulip basah airmata ini? Tulip adalah lambang keindahan yang memesona banyak orang. Seharusnya tulip tak tercemari kesedihan.

Aku menyeka air mata yang melekat pada bunga tulip itu sampai bersih, lalu menaruhnya di atas meja. Aku keluar dari apartemenku dan mengetuk pintu apartemen tetanggaku. Aku bertanya apakah ia melihat ada orang yang datang dan meletakkan bunga tulip di depan pintu apartemenku. Dia menjawab tidak tahu. Aku pun kembali ke apartemenku dan duduk di kursi sambil memandangi bunga tulip tadi.

Dulu waktu aku masih SMP ayahku yang berprofesi sebagai pelukis pernah melukis bunga tulip yang penuh percikan warna merah. Ketika aku bertanya mengapa bunga tulip itu harus dikotori oleh percikan cat warna merah, ayahku bilang warna merah itu adalah darah. Darah para pejuang Indonesia yang gugur dibunuh orang-orang berambut pirang dari negeri bunga tulip. Kakekku, kata ayah, juga gugur. Dadanya tertembus pelor ketika hendak bergerak maju melawan penjajah dari negeri kincir angin itu.

Ayahku bilang noni-noni Belanda yang datang ke Indonesia cantik-cantik. Noni-noni yang berpenampilan indah menawan hingga bisa diibaratkan bunga tulip. Tetapi mereka bersenang-senang di atas genangan darah orang-orang pribumi yang gugur di atas bumi pertiwi. Itulah penjelasan ayah atas makna lukisan bunga tulip berlumur percikan warna merah. Begitu subjektif dan membutuhkan waktu untuk mencernanya.

Aku masih duduk di dalam apartemenku, wajahku menghadap kaca jendela lebar yang langsung menghadap halte bis Turkooislan. Jika aku lagi tidak ingin mengayuh sepeda pancal ke kampus Uni Leiden, aku biasanya naik bis nomor 11 dan 12 dari halte itu. Apartemanku dan halte bis itu hanya di pisahkan halaman luas penuh rumput hijau. Halte yang jika pagi dipenuhi anak dan orang mengantri hendak pergi ke sekolah dan bekerja.

Bis nomor 11 dengan jumlah penumpang bisa dihitung jari berhenti ketika aku hendak beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Gadis cantik tinggi semampai berambut pendek mengenakan tank top keluar melewati pintu bis bagian tengah dan berjalan menuju apartemenku. Dengan mengenakan celana jeans pendek dan ketat, kaki indah gadis itu memantulkan bayangan indah di atas rumput hijau yang tertata. Matanya tertutup kacamata hitam bulat. Beberapa menit langkah gadis itu makin mendekat. Langkahnya terhenti persis di depan pintu apartemenku. Aku bergegas menuju pintu.

“Kau tak punya perasaan, Fraya! Benar-benar tak punya perasaan!” kalimat dengan suara kencang meluncur dari bibirnya. Aku tak tahu persis arah pembicarannya.

“Duduk dulu Annika. Aku ambilkan jus, kau tampak haus,”aku berusaha mencairkan suasana. Aku mengenal dengan baik Annika. Dia adalah teman sekelasku di jurusan Antropologi Universitas Leiden. Dia cukup fasih berbahasa Indonesia meskipun lahir dan besar di Amsterdam. Dia belajar bahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa di Universitas Leiden.

“Mengapa kau meninggalkan Inge?” tanya Annika. Aku mulai memahami maksud Annika.

“Aku tidak mau menikah dengan cucu seorang pembunuh,” jawabku.

“Siapa yang menjadi pembunuh?”

“Kakek Inge. Dia adalah pembunuh berdarah dingin!”

“Tapi Inge bukanlah seorang pembunuh. Dia ramah dan tulus menginginkanmu.”

“Darah pembunuh telah mengalir dalam diri Inge. Aku tak mungkin menikah dengannya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan cucu orang yang membuat keluargaku kehilangan orang-orang tercinta.”

“Apakah Inge patut menyandang dosa dan limpahan dendam? Apakah Inge menginginkan pembunuhan itu?”

Aku terdiam. Mungkin aku emosional ketika mengetahui Inge adalah cucu seorang lelaki bengis yang menembaki para pemuda di Rawagede pada 9 September 1947. Salah satu pemuda yang tertembak mati itu adalah kakak ayahku. Sementara ayahku berlari menyelamatkan diri, kakak ayahku meregang nyawa dengan dua pelor bersarang di dadanya. Aku sebenarnya tak pernah bermimpi bertemu cucu pembunuh anggota dekat keluargaku, lalu sempat mencintai dan melewatkan waktu begitu panjang bersamanya.

“Mengapa kau diam Fraya? Kau semestinya tak melimpahkan kebencianmu pada Inge.”

“Aku ingin membangun mahligai yang tak dikotori oleh sejarah tragis yang secara psikologis bisa mengganggu batinku. Mengapa Inge tidak bilang dari awal jika kakeknya adalah pembunuh itu.”

“Dia takut kehilangan kamu Fraya. Jujur ketika dia bertemu kamu dan kamu menegaskan bahwa kamu tak akan membangun hubungan dekat dengan cucu-cucu para pembunuh pemuda Rawagede, Inge sangat khawatir bahwa mimpinya untuk memilikimu kandas.”

“Tapi sebaiknya dia jujur sejak awal.”

“Tidak mudah melakukan itu. Apalagi dari awal dia sudah tertarik dan ingin terus bersamamu. Aku ke sini mambawa pesan Inge. Dia besok ingin bertemu kamu di taman bunga tulip di dekat kincir angin tua. Ku harap kau mau datang. Dia semalam menangis, air matanya menderas membasahi bunga tulip yang dipeluknya erat.”

/17 Desember 2011