Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar: MEMPERJUANGKAN PUISI (I – 7)

Dr. JJ Kusni
http://gendhotwukir.multiply.com/

1.

Kali ini, aku mengajakmu memperhatikan dan membicarakan puisi-puisi Gendhotwukir yang sekarang sedang belajar di Jerman, dan agaknya mendalami ilmu filsafat. Gendhotwukir adalah nama pena , bukan nama benar. Nama pena bagi seorang penyair apalagi yang sedang mendalami ilmu filsafat [kalau dugaanku benar], tentu mempunyai makna tersendiri yang sampai sekarang belum kuketahui. Kutanyai ke sana ke mari pada teman-teman yang berasal dari etnik Jawa, mereka pun tidak bisa memberikan keterangan yang pasti. Sebagai orang Jawa barangkali kau lebih paham.

Sejak beberapa minggu mulai dari akhir tahun 2005 hingga bulan Januari 2006 ini, dan nampaknya akan terus berlanjut, Gendhotwukir, wartawan senior Majalah Budaya-Sastra ‘Aksara’ Jakarta, melalui berbagai milis menyiarkan puisi-puisi yang ia tulis sejak tahun 2002 sampai pada tahun 2006. Dari puisi-puisi yang ditulisnya pada masa kurun waktu tersebut kita bisa melihat bahwa Gendhotwukir sejak lama menggeluti dunia perpuisian dan menggunakan puisi sebagai salah satu media pengungkapan diri. Akan tidak berkelebihan pula jika saya mengatakan bahwa melalui rangkaian puisi yang dijuduli penyair, ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ ini bisa dilihat apa-siapa penyair dan bagaimana ciri penyair. Puisi-puisi yang ditulis dalam kurun waktu selama empat tahun terus-menerus tanpa absen, boleh dipandang sebagai sample yang padan atau mewakili.

Hanya saja yang masih saya pelajari, mengapa dalam menyiarkan puisi-puisi ini Gendhotwukir tidak menyusunnya secara kronologis tapi menempatkannya dalam urutan waktu yang meloncat-loncat. Barangkali penempatan sengaja begini dilakukan atas dasar pertimbangan bersifat tematik, bukan suatu kebetulan. Yang sedikit mengganggu dan kurang saya pahami, paling tidak merupakan pertanyaan yang belum terjawab oleh saya mengapa dalam teks puisi Gendhowukir [selanjutnya saya sebut Gendhot] terdapat penggunaan huruf-huruf besar [kapital] seperti ‘Terbang Tinggi’, ‘Burung-burung Bangau’, ‘Aku Termangu’, ‘Sungguh Kita’, ‘Kerak Nisan’, ‘Lalu Kawanan’, dan lain-lain… dan lain-lain yang berserakan dalam puisi Gendhot. `Apakah ini suatu kesengajaan dengan perhitungan dan makna unik ataukah kesalahan ketik yang tidak dikoreksi? Jika suatu kesenggajaan dan dilakukan dengan perhitungan unik maka saya merasa kemampuan saya amat terbatas untuk memahami dasar kesengajaan mahasiswa filsafat ini sehingga terasa menganggu keinginanan saya untuk memahami Gendhot secara maksimal sesuai kemampuan saya. Pengaruh bahasa Jerman yang menulis kata benda dengan huruf besarkah ini? Tapi kata ‘tinggi’ atau ‘termangu’, kukira tidak bisa dikategorikan pada kata benda.

Masalah begini saya angkat karena seorang penyair kukira akan cermat mempertimbangkan masalah-masalah titik-koma, tanda baca dan cara penulisan sebagai bagian dari puisi dan bahasa. Boleh dikatakan tidak ada yang tidak dipertimbangkan dan tidak dihitung dalam puisi [tanpa usah saya mengajukan deretan contoh-contoh pendukung pendapat ini]. Akan sangat aneh, jika orang seperti Gendhot tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal-hal demikian [Lihat: Lampiran]. Apalagi puisi, bahasa dan filsafat, kukira ,mempunyai tautan sangat erat, lebih-lebih bagi seseorang yang menggunakan puisi dan bahasa sebagai sarana pengungkap diri.

Bahwa Gendhot mengalirkan ke berbagai milis ‘Sajak-sajak Protes Sosial’nya di tengah-tengah keadaan tanah air seperti sekarang pun kutafsirkan bukan sebagai suatu kebetulan. ‘Sajak-sajak protes sosial’ ini saya lihat sebagai tanda keperdulian dan kepekaan Gendhot sebagai penyair dan pemikir yang sangat terusik oleh keadaan yang dihadapkan padanya. Di samping itu barangkali ia pun bentuk halus bagaimana Gendhot menanggapi karya-karya sastra baik puisi atau prosa yang ‘wangi birahi’ di dunia sastra Indonesia dengan menggunakan berbagai dalih atau alasan. Dengan ‘sajak-sajak protes sosial’nya secara tidak langsung sebagai orang Jawa, Gendhot barangkali ingin bertanya kepada para sastrawan yang memburu uang dengan dalih seks dan erotisme: ‘Bagaimana sikap para Anda pada masalah-masalah sosial begini?’. Melihat keadaan sosial demikian, Gendhot pun dengan tanpa tedeng aling-aling mempertanyakan penggunaan nama Tuhan yang digunakan untuk korupsi dan melancarkan terorisme. Dengan mengangkat ‘tema-tema sosial’ bahkan memprotes keadaan sosial yang demikian, Gendhot mempertanyakan tanggungjawab sastrawan dan seluruh anak bangsa. Sehingga akhirnya protes Gendhot, sesungguhnya bukan hanya sebatas protes pada keadaan sosial [dalam arti luas] tetapi juga dialamatkan kepada penanggungjawab penyebab keadaan sosial demikian dan kepada ketidakacuhan atau ketidakperdulian pada kemanusiaan. Melalui sikap ini, saya kira, Gendhot hanya kembali melanjutkan tradisi sastra sebagai republik berdaulat dan sastrawan sebagai warga dari republik berdaulat tersebut sesuai dengan sejarah kelahiran sastra itu dan hubungannya dengan kehidupan. Melalui ‘sajak-sajak protes sosial’nya, saya melihat seakan-akan Gendhot ingin mengatakan: Lihat, ini lho masalah-masalah besar yang ada di hadapan kita. Lalu bagaimana para Anda menyikapinya?

[Untuk bisa mengikuti ulang sanjak-sanjak Gendhot, maka sebagian di sini saya lampirkan].

2.

Membaca puisi-puisi Gendhot yang terhimpun dalam ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ pada saya memunculkan beberapa pertanyaan, antara lain: Apa yang disebut masalah sosial, apa saja yang masuk dalam kategori masalah sosial, apakah protes dan bagaimana puisi atau sanjak melakukan protes [jika menggunakan istilah Gendhot, ‘sajak’].

Gendhot dalam kumpulan sanjak ini memang berbicara tentang beberapa masalah mulai dari kaum gelandangan di bawah jembatan melalui masalah kerusakan lingkungan, banjir, terorisme, korupsi, sampai kepada masalah tanah dan lain-lain… Yang menjadi pertanyaan saya: Apakah masalah cinta lelaki dan perempuan yang tentu punya kaitan dengan status perempuan dalam masyarakat, masalah seksual, pelacuran, kriminalitas, lesbian, homo, kenakalan remaja, drop out, pengangguran, dan lain-lain….`bisa dimasukkan masalah sosial atau tidak? Apabila kata sosial adalah sinonim dari masyarakat maka kukira masalah-masalah terakhir ini pun bisa dimasukkan ke dalam masalah masyarakat atau sosial. Masalah sosial adalah masalah kehidupan itu sendiri yang memang menjadi lahan garapan sastra-seni dan ilmu-ilmu sosial. Sanjak-sanjak Gendhot yang dihimpun dalam ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ memang belum seluruhnya disiarkan sehingga barangkali terlalu awal untuk menarik kesimpulan tentang apa yang Gendhot maksudkan dengan sosial dan ‘sajak-sajak sosial’. Yang saya permasalahkan di sini jika lahan garapan sastra-seni termasuk puisi adalah soal-soal kemasyarakatan atau sosial, maka tepatkan kita menggunakan istilah ‘sajak-sajak sosial’ yang tersilip pada ungkapan ‘sajak-sajak protes sosial’. Kalau pemahaman saya benar, kiranya tidak ada karya apa pun yang luput dari masalah sosial atau kehidupan. Cerita-cerita ‘horor’ model Frakenstein atau Dracula atau Harry Porter, legenda-legenda rakyat berbagai negeri dan pulau tanahair , barangkali tetap ada dasar sosialnya. Demikian pun hal nya dengan cerita-cerita cinta seperti Romeo dan Juliet, atau Banyuwangi atau cerita percintaan di zaman feodal Yogyakarta dan cerita-cerita sejenisnya. Juga cerita-cerita Sade, cerita-cerita silat, cerita-cerita Yoesoef Syo’ib [produksi Medan] atau bahkan cerita-cerita yang disebut ‘roman picisan’ yang banyak dijual di pasar-pasar dan pelabuhan laut [dalam hal ini saya menisbikan pengertian porno di dunia sastra].

Jika kita mengamati cerita-cerita cinta itu, sesungguhnya kita dapatkan protes terhadap keadaan masyarakat pada waktu masanya. yaitu rintangan feodalisme atas terjalinnya percintaan alami dua mahluk sebagaimana agama atau alasasan politik ‘tidak bersih’ lingkungan menghambat percintaan dan terhalangnya pernikahan. Cerita cinta,misalnya ‘Gadis Berambut Putih’ Tiongkok adalah salah satu cara mengungkapkan protes terhadap keadaan dan nilai dominan pada suatu saat tertentu sebagaimana juga adegan telanjang telah digunakan oleh Brigitte Bardot guna melawan kekangan nilai dominan Katolisisme di Perancis sebelum Revolusi Mei 1968. Beberapa literatur juga menunjukkan kepada saya bahwa rambut gondrong, lagu-lagu Elvis Presley yang dibilang oleh Bung Karno sebagai ‘musik ngak-ngik-ngok’ pada hakekatnya adalah ujud pemberontakan generasi muda pada nilai dominan yang mengungkung mereka.

Barangkali adanya benih perlawanan terhadap nilai dominan yang sudah tidak tanggap zaman ini di banyak tempat atau negeri menyebabkan Revolusi Mei 1968 menyusul adanya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar Tiongkok mendapat gaung di mana-mana. Dalam hal ini Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Chou Enlai dengan ‘politik pingpong’*]nya lebih cepat tanggap keadaan dibandingkan dengan banyak negarawan dari Dunia Ketiga [istilah Alfred Sauvy] pada waktu itu. Kalau sekarang di Perancis, bentuk protes ini dilakukan melalui musik rap [Bentuk seni yang sejak lama populer di Tiongkok dan dinamakan khwaipan. Jadi saya meragukan anggapan bahwa rap bermula dari Amerika Serikat].

Apa yang sedang mau katakan dengan contoh-contoh di atas adalah pertanyaan adakah sastra yang lepas dari keadaan sosial? Jika demikian, tepatkah istilah ‘sastra sosial’ padahal lahan garapan sastra itu memang masalah-masalah sosial dan kehidupan? Bahkan pada sanjak-sanjak erotis Paul Valery pun saya melihatnya tidak lepas dari masalah sosial zaman Paul Valery. Demikian juga pandangan filsafat seseorang pun kukira punya dasar atau latarbelakang sosial pada periode sejarah tertentu. Atas dasar alasan-alasan di atas, saya kira akan lebih sederhana jika kita tidak merinci karya sastra sebagai karya sosial atau tidak. Jika kita mengatakan ‘a-sosial’ barangkali yang dimaksudkan adalah sikap yang tidak manusiawi, sikap yang barangkali muncul dari status sosial-ekonomi penyair. Dengan ini saya membedakan antara dasar sosial, fungsi sosial dan sikap sosial seorang penyair dan karya.

Apabila kita berbicara tentang ‘protes sosial’ maka kita sampai pada sikap. Sikap memprotes bisa dituangkan dalam berbagai bentuk pengungkapan seperti mengetengahkan keadaan [naratif, bertutur], memaki langsung, membanding, dan macam-macam cara lagi. Sikap bisa tertuang berupa ‘makna’, bisa juga sebagai ‘pesan’. Makna untuk dikhayati sedangkan pesan untuk dipahami. Pesan mempunyai tujuan, makna barangkali tuturan yang menggelitik kita mencari hakiki tersembunyi. Pesan barangkali suatu anjuran bukan hanya diam tapi bertindak setetelah kita mengkahayati hakekat. Bertindak atas dasar yang dipandang hakiki itu. Makna tidak mengeluarkan pernyataan.

Contoh, baris-baris Robert Burn berikut:

‘My love is like a red, red rose
That’s newly sprung in June’

Beda dengan baris-baris T.S . Eliot dalam ‘The Love Song of Alfred Prufrock:

‘Let’s go then, you and I
when the evening is spread out against th sky
like a patient etherized upon a table’

Berbeda dengan Burn, Eliot mengajak ‘ Let’s go then, you and I’.

Kalau kita menggunakan puisi sebagai sarana pengungkapan menyatakan sikap maka tentu saja atau selayaknya kita memperhatikan kaidah-kaidah sastra atau perpuisian dalam menyampaikan makna atau pesan, sekalipun kita memang mengenal adanya arus yang sekarang disebut gerakan ‘anti puisi’ dalam dunia perpuisian. Berhenti pada makna atau melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan pernyataan, kukira tidak menentukan puitisitas puisi. Inti masalah di sini seperti yang pernah dikatakan oleh penyair Amarzan Ismail Hamid ketika mengomentari sanjak-sanjak A.Wispi alm. adalah ‘puisi itu tetap puisi’ termasuk ketika puisi itu menyampaikan pesan atau pernyataan.

Permasalahan ini agaknya disadari benar oleh Gendhot ketika menulis ‘Sajak-sajak Protes Sosial’nya.

Catatan:
*]. Politik pingpong adalah keputusan PM Chou Enlai mengundang tim pingpong Amerika Serikat ke Tiongkok usai pertandingan pingpong sedunia di Jepang. Para pemain poingpong Amerika Serikat pada waktu itu umumnya berambut gondrong. PM Chou menilai rambut gondrong mereka sebagai ujud pemberontakan pada stagnasi nilai [lihat JJ. Kusni tentang ‘Solusi Dekonstruksi’ dan solusi pemberontakan]. Sejak itu dimulailah proses pendekatan hubungan antara RRT dan Amerika Serikat, berpuncak pada kunjungan Presiden Nixon dan Kissenger ke RRT. Saya memahami ‘politik pingpong’ PM Chou sebagai politik dengan pendekatan kebudayaan.

3.

Sejauh bacaan saya hingga sekarang, terkesan bahwa ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ lebih bersifat tuturan [Lihat: Lampiran]. Gendhot membatasi diri pada pelukisan keadaan papa memilukan Indonesia di berbagai bidang. Di hadapan keadaan papa memilukan demikian, Gendhot menguasai diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan apa-apa kecuali bertutur kepada siapa saja: Beginilah keadaan Indonesiaku sampai dengan hari ini. Apa-bagaimana sikap selanjutnya yang harus dilakukan di hadapan keadaan berwarna hitam suram itu, penyair menyerahkan sepenuhnya kepada para pembaca atau pendengarnya. Kalau Gendhot mengatakan bahwa kusanjak ini adalah ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ maka protes itu ia lakukan dengan cara bertutur. Dengan tuturan ia mengunjungi dan berbicara dengan nurani anak bangsa dan siapa saja. Optimisme? Pesisme? Kedua-duanya ia simpan untuk diri sendiri. Hanya saja dengan ‘tuturan protes’ kita bisa menangkap jelas bahwa penyair menolak kepapaan yang membuat manusia tidak manusiawi di negeri kelahirannya. Indonesia dilihatnya sebagai negeri di mana puisi telah dikubur seperti yang ia tulis dalam puisi berikut:

Sajak Kita Telah Terkubur

Kata – kata kita telah melintas di kelembaban
Menjenguk masa lalu.

Sajak kita telah terkubur
Lesap di Tangis, menggenang di Muara Duka

Juga Bunda kita yang telah tiada
Di tembak tentara

Tiada gerimis kata-kata
Dari kerongkongan kerak Nisan berdebu

Di kuburnya satu, hendak memburu.

Sankt Augustin- Jerman, 060605

Pandangan Gendhot mengingatkan saya kepada pernyataan Elie Wiesel, sastrawan pemenang Nobel Perdamaian, bahwa setelah Auswitch ‘puisi telah mati’. Hanya saja kemudian saya melihat puisi itu muncul kembali semenjak kemenangan rakyat Vietnam dengan sokongan dunia dalam perang mengusir Amerika Serikat. Kalau penglihatan saya benar maka kenyataan dan perkembangan dunia telah membantah pernyataan Elie Wiesel dan bahwa kemanusiaan serta manusia tidak gampang-gampang dikalahkan apalagi dihancurkan. Puisi, jika dipandang sebagai lambang kemanusiaan dan nurani, maka ia pun tidak mati seperti halnya matahari walau pun untuk sementara tertutup awan kelabu dan hitam tapi ia tidak runtuh. Matahari itu tetap ada dan suatu saat akan mengirimkan sinarnya ke bumi. Kalau pun puisi seakan nampak mati di hadapan kekerasan tapi sebagaimana dikatakan oleh Blaise Pascal [1623-1662]: ‘all the efforts of violence cannot weaken truth, and only serve to enhance it the more’, ‘…truth exists to all eternity and finally triumphs over its ennemies’ [Lihar: Julian Hawthorne, John Russel Young, John Porter Lamberton [ed.], Chicago, 1900, hlm-hlm. 270-271]. ‘Truth’ dan puisi , kukira tidak bisa dipisahkan. Puitisitas justru juga hadir oleh adanya ‘truth’ dalam puisi.

Apakah puisi akan mati di Indonesia? Kalau benar demikian maka Indonesia menjaadi suatu kekecualian. Kalau pun Indonesia seperti sekarang pada waktu mendatang, tidak bisa diperttahankan, apakah hal ini berarti ‘sa jak kita telah terkubur’ selamanya? Sebagai orang yang akhirnya jadi pengembara tak menentu ujungnya sampai sekarang akibat tragedi demi tragedi menimpa negeri, tapi saya masih mempercayai bahwa puisi tidak mati di Indonesia. Indonesia bukan negeri di mana puisi akan berkubur. Saya memahami duka Gendhot yang juga duka saya dan duka kita. Tapi saya berbeda dalam melihat esok , pandangan yang membuat saya tidak hilang harapan. Bayangkan apa jadinya jika harapan hilang, apakah hidup akan punya api dan nyala?

Tertinggal kesan pada saya ketika membaca ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot adalah protes dengan airmata sedangkan saya menganjurkan bukan airmata sebagai solusi tapi barangkali adalah solusi dekonstruksi dan pemberontakan. Mulai dari dekonstruksi nurani yang berlanjut dengan pemberontakan pikiran. Saya menolak kepasrahan dan ketundukan. Bahkan saya melihat ‘non-volience movement’ pun terdapat violence yaitu violence of non violence. Kiranya kita jangan tekecoh di sini. Protes sekali pun dengan airmata tidakkah ia merupakan bentuk violence juga? Dalam hal ini saya teringat akan lagu populer di masa Festival Pemuda Dunia di `Berlin pada tahun 1950an yang berlirikkan antara lain:

‘ Join in the fight o Negroes comrades
Join in the fight and struggling comrades

Join in the fight and stand up straight now
Black and white will rebuild the world

O brothers don’t you weep don’t you cry
Salvation is not coming that way’

‘To rebuild a world a new’ yang didenggungkan oleh Bung Karno adalah solusi dekonstruksi dan solusi pemberontakan juga adanya, bukan ‘crying and tears solution’ o,my dearest brother, solusi yang kukira masih relevan untuk hari ini. Puisi pada dasarnya adalah pemberontakan dan dekonstruksi untuk esok yang manusiawi. So what? Lalu apa? Apalagi jika bukan seperti kata T.S. Eliot: ‘Let’s go then, you and I/when the evening is spread out against the sky’. Ya, let’s go you and I . Let’s go merenggut merebut hari ini dan esok. Barangkali tokoh beginilah yang diperlukan Indonesia hari ini dan bukan figure peratap tapi benar-benar seorang penyair yang sanggup tak berkerdip menatap mata ajal demi membela puisi dan mengembangkan puisi sebagai lambang kemanusiaan dan nurani manusia. Jika demikian tentu saja kita tidak kelebihan penyair.

Tapi pergulatan Gendhot nampaknya yang terutama tidak terletak pada soal solusi yang mungkin ia simpan sendiri atau ia cadangkan karena ia hadir dengan kumpulan ‘Sajak-sajak Protes Sosial’nya lebih dengan menyodorkan permasalahan.

Pergulatan yang menonjol pada Gendhot melalui antologi yang bertema besar dan luas ini terletak pada usahanya membela puisi sebagai puisi. Artinya, ia mencoba menyampaikan pikiran dan perasaan ‘protes sosial’nya melalui puisi dan secara puisi. Karena itu ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot saya katakan sebagai perjuangan membela puisi. Usaha memperjuangkan puisi sebagai puisi.

4

Pergulatan yang menonjol pada Gendhot melalui antologi yang bertema besar dan luas ini, sebesar dan seluas kehidupan itu sendiri sehingga merupakan lahan garapan tak kunjung selesai diolah , terletak pada usahanya membela puisi sebagai puisi. Artinya, ia mencoba menyampaikan pikiran dan perasaan ‘protes sosial’nya melalui puisi dan secara puisi. Karena itu ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot saya katakan sebagai perjuangan membela puisi. Usaha memperjuangkan puisi sebagai puisi. Memperjuangkan dan mempertahankan karakteristik puisi sebagai alat pengungkapan diri. Kesan ini menjadi kian mencuat apabila saya bandingkan dengan lirik lagu-lagu penyanyi Perancis, Renaud, misalnya yang terkumpul dalam album ‘’La Jungle’ di mana penyanyi yang menjadi sahabat alm. Presiden Mitterrand dan istrinya Danielle Mitterrand ini melukiskan berlakunya sejenis hukum rimba, ‘la loi de jungle’ di dunia kita. Hanya saja kudapatkan lirik-lirik Renaud Ferre lebih mengutamakan pesan tapi seakan-akan kurang mengindahkan puitisitas seperti yang dicoba oleh Leo Ferre atau Brassen dan lebih-lebih pada Jacques Brel [Lihat: Jean-Claude Zylberstein [ed.], ‘Tout Brel’, Editions Robert Laffont, Paris,1998, 403 hllm]. Selain memperhitungkan puitisitas, dalam lirik-lirik lagunya Brel juga mencoba menukik permasalahan yang dia angkat lebih jauh. Dari renungannya yang melampaui permukaan gejala, Brel sampai pada kesimpulan bahwa ‘l’homme est un nomade’ [manusia adalah seorang nomaden]. Puitisitas tidak identik dengan membuat puisi itu menggelapkan puisi sehingga penyair menyuguhkan puisi-puisi gelap. Dalam hal ini saya teringat akan kata-kata penyair asal Aceh, Agam Wispi yang ketika menyimpulkan pengalaman berpuisinya [Wispi hidup mati dari puisi], sampai pada kesimpulan bahwa ‘puisi yang indah adalah puisi yang sederhana [Lihat: Filem Otobiografis Wispi produksi Yayasan Lontar, Jakarta]. Barangkali sanjak-sanjak Tiongkok Klasik dari Dinasti Tang atau pun haiku Jepang bisa diambil sebagai contoh dari apa yang dikatakan oleh Wispi atau puisi Ho Chi Minh berikut:

‘bulan memancing syair
tunggu sampai besok
aku sibuk dengan urusan perang’

atau puisi Mao Zedong dalam kusanjak ‘Sanjak-sanjak Mao Zedong’ yang diterbitkan oleh Pustaka Bahasa Asing Beijing [1963?]:

‘aku kehilangan alpenku
dan kau liumu’

tapi ‘kehilangan’ ini tidak membuat Mao mundur dari jalan perjuangan yang telah ia pilih atau dalam sanjaknya ‘Mengunjungi Kembali`Shao San’ [lihat: Sepuluh Sanjak-sanjak Terbaru Mao Zedong, terbitan Suara Rakyat Indonesia, Nanchang, tahun [?], alihbahasa Magusig O Bungai].

‘pengorbanan pahit membulatkan tekad yang kuasa
menempa surya dan candra bercahya dicakrawala baru’

Dari baris-baris kutipan di atas, saya ingin memperlihatkan bahwa kesederhanaan tidak menghilangkan puitisitas tapi membantu audiens menangkap makna dan sampai kepada pesan. Kesederhanaan puitis ini pun diperlihatkan oleh pantun-pantun, seloka dan gurindam kita yang agaknya mengilhami juga penyair seperti Raudal Tanjung Banua [lihat antologi puisinya ‘Gugusan Mata Ibu’, Bentang, Yogyakarta, Mei 2005]. Tentu saja tidaklah gampang menjadi sederhana yang puitis. Untuk mencapai taraf ini diperlukan kerja keras penyair.

Agaknya Gendhot mencoba menempuh alur jalan puisi demikian, jalan puisi ‘yang utuh’ [fusionnelle], jika menggunakan istilah esais Perancis Yves Mazagre [Lihat: Yeves Mazagre, ‘La Poesi Pense-t-elle’, Majalah Poesi, Paris, September 2005, hlm-hlm. 73-83]. Gendhot mencoba sederhana tapi tetap menjaga puitisitas. Barangkali hal inilah yang menandai antologi ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot [Lihat: Lampiran]. Di sini saya kembali menggunakan puisinya yang saya saya sukai, lepas dari setuju tidaknya saya dengan solusi serta pandangan Gendhot, sebagai contoh dan di atas sudah saya kutip :

Sajak Kita Telah Terkubur

Kata – kata kita telah melintas di kelembaban
Menjenguk masa lalu.

Sajak kita telah terkubur
Lesap di Tangis, menggenang di Muara Duka

Juga Bunda kita yang telah tiada
Di tembak tentara

Tiada gerimis kata-kata
Dari kerongkongan kerak Nisan berdebu

Di kuburnya satu, hendak memburu.

Sankt Augustin- Jerman, 060605

Kalau pemahaman saya benar, dari puisi ini tergambarkan tragedi dan duka Indonesia sampai hari ini, terlukis jelas kepongahan militerisme tanpa mengucapkan militerisme kecuali ‘Juga Bunda kita yang telah tiada/Ditembak tentara’. Tragedi dan duka ini sampai ke tingkat: ‘Tiada gerimis kata-kata/Dari kerongkongan kerak Nisan berdebu’. Tapi sekalipun demikian, walau pun Gendhot hanya membeberkan masalah, sikap yang ia simpan sendiri akhirnya tak tertahan hingga mencuat juga keluar tidak ikut terkubur bersama ‘sajak’nya. Sikap itu terucap dalam dua kata singkat dalam: ‘hendak memburu’. Di hadapan tragedi dan duka ini, Gendhot masih mempunyai kehendak yang tak henti memburu. Kehendak yang tentu saja kukira bernama masih adanya optimisme tapi tidak Gendhot uar-uarkan dalam bentuk slogan atau pernyataan bombas . Ia sadar bahwa ia sedang menulis puisi. Makna dan pesan dipadukan oleh Gendhot. Dalam sanjak ini Gendhot menggabungkan Burn dan Eliot dalam ungkapan-ungkapan sederhana menukik.

Berbicara tentang penukikan masalah, artinya menganalisa masalah dan tidak berhenti pada permukaan atau gejala, sekarang menjadi salah satu debat dalam dunia puisi Perancis seperti yang terungkap dalam polemik di Majalah Poesi nomor September 2005, terutama antara Jacques Roubaud dan Yves Mazagre. Permasalahan yang diperdebatkan adalah soal apakah puisi selayaknya mengandung pemikiran dan renungan ataukah tidak merupakan suatu keniscayaan. Roubaud menganggap tidak merupakan suatu keniscayaan bahkan tidak perlu karena menurut Roubaud puisi adalah ‘suatu permainan bahasa yang otonom’ [est un jeu de langgage autonome] artinya bersifat sangat pribadi, tidak dapat ditransfer’ [demeure prive, intramissible] dan secara pasti tidak harus mempunyai sifat publik [la forme poesi n’est pas strictment publique]. Lebih jauh Roubaud mengatakan bahwa puisi pemikiran atau renungan bukanlah bagian dari sastra. Apakah pendapat yang pernah diucapkan di Indonesia yang mengatakan bahwa ‘penyair tidak memerlukan kepintaran’ termasuk dalam lingkup aliran Roubaud ini? Poesi menurut Roubaud adalah dunia yang berbicara kepada kita dengan menggunakan sarana bahasa dan langsung dengan bahasa. Yves Mazagre menamakan pendapat Roubaud ini sebagai jalan pertama bagi puisi. George Bataille menyebut puisi begini ‘puisi berindah-indah’ [poesi esthetisante] yang dia kritik sebagai ‘puisi kosong’.

Sedangkan jalan kedua bagi puisi adalah jalan yang ditempuh antara lain oleh Andre Breton yang berguru pada kaum romantis Jerman, menganggap bahwa ‘intuisi puisi mengantar kita ke jalan Pengetahuan sebagai bentuk pengenalan atas kenyataan bersifat yang supra peka’.

Pandangan lain yang oleh Mazagre disebut sebagai jalan ketiga bagi puisi adalah jalah yang ditempuh oleh Gertrude Stein. Dalam pandangan Gertrude Stein perumusan dengan kata untuk melukiskan sesuatu memang sering mengasingkan dan bahkan membuat cacat sesuatu tersebut. Namun diperlukan. Stein berpatokan pada perumusan ‘a rose is a rose’ [sekuntum mawar tetap sekuntum mawar] dan ia membawa kita kepada sesuatu lalu dari sesuatu ini kemudian diajak untuk memikirkan maknanya lebih jauh. Sealur dengan Stein adalah C.Pincon yang menganggap bahwa pendalaman makna merupakan keabadian dari eksistensi yang tidak bergerak’ [immobile].

Sedangkan jalan lain adalah apa yang ditempuh oleh ‘operasi anti puisi’ dari penyair Tiongkok seperti Yu Jian yang mengatakan bahwa ‘puisiku memang tidak puitis’ tapi dengan puisi tidak puitis demikian Yu Jian merasa lebih leluasa mengungkapkan diri dan menuangkan segala. Inilah yang dia maksudkan dengan ‘operasi anti puisi’ yang patut digalakkan berdasarkan bahasa-bahasa hidup dalam masyarakat. Puisi yang sebenarnya menurut Yu Jiang adalah kemederkaan itu sendiri. ‘Puisi menolak segala larangan dan tabu’, ujar Mazagre. Puisi-puisi demikian adalah bahasa yang berpadu dengan dunia [univers]. Dengan kata-kata Andre Velter barangkali puisi ‘anti puisi’ ini barangkali bisa disebut sebagai usaha mendapatkan pintu masuk baru ke kenyataan. Pada pihaknya, dalam debat ini, Yves Mazagre menawarkan solusi jalan terpadu.

Jika menggunakan debat di atas sebagai acuan dalam memahami puisi-puisi ‘Sajak-sajak Protes Sosial’, jalan atau alur pikiran manakah yang ditempuh oleh Gendhot dalam kegiatannya berpuisi?

5

Jika menggunakan debat di atas sebagai acuan dalam memahami puisi-puisi ‘Sajak-sajak Protes Sosial’, jalan atau alur pikiran manakah yang ditempuh oleh Gendhot dalam kegiatannya berpuisi?

Kalau pembacaan saya benar atas a antologi ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ ini, maka nampak bahwa penyair dalam antologi ini tidak berhenti pada metode Robert Burn dan juga tidak menggunakan model Renaud tapi lebih mencoba mentrapkan solusi jalan terpadu yang diusulkan oleh Yves Mazagre di mana pemikiran dan seluruh unsur perpuisian dimanfaatkan.

Penyair yang semula mengendalikan diri untuk Cuma bertutur tentang keadaan, akhirnya tidak lagi mengendalikan perasaan dan tidak lagi menyembunyikan keinginannya tentang wajah kehidupan, termasuk Indonesia, yang ia mimpikan. Mimpi ini ia nyatakan dalam puisi berikut yang disiarkan, bukan dalam rangkaian pertama, tapi pada serie ke-VIII [saya dapatkan belakangan]:

Negeri Makna

hidup damai tetap terjaga
hadir’mu’ Bunda tegak berdiri
pertanda hidup semestinya membawa kasih dunia
memandang alur-alur sapa
agar kasih semakin tumbuh dewasa.

lalu kuncup-kuncup mekar mencinta wajah ceria
cinta yang kau tawarkan, laksana embun pagi
bening memberi salam bagi rerumputan hijau
memancarkan seberkas cahaya bintang bening.

keteduhan puteri adalah ruh dalam hati tak bernoda
menitipkan kasih
renung keindahan istana
kecup keelokan’mu’.

negeri bayu membelai senyum mesra
temui ombak ajak seri menuju negeri makna
menjunjung tinggi bela, bila cinta tertikam negeri angkara murka
keheningan menjadi bermakna tatkala Sang Puteri tiba
menghalau pekat jiwa.

Berbagi kasih
laju perlawanan ‘tuk sesama
semua berlaku karena cinta
seia bangun langit cemara, rindang ‘tuk semua nurani semesta.

rajabasa, 110602

Mimpi penyair ia rumuskan sebagai ‘Negeri Makna’. Sebagai seorang mahasiswa filsafat, Gendhotwukir dalam puisi-puisinya memperlihatkan usaha keras menggunakan gejala sebagai pengantar diri menyelam lubuk hakekat. Jalan keluar yang diajukannya adalah jalan kasih, yang memperlihatkan pengaruh Katolilisisme pada diri penyair seperti antara lain tertuang dalam bait berikut:

Berbagi kasih
laju perlawanan ‘tuk sesama
semua berlaku karena cinta
seia bangun langit cemara, rindang ‘tuk semua nurani semesta.

Solusi cinta ini juga dikemukakan ulang oleh penyair antara lain dalam sanjaknya berjudul ‘Tuk Katresnan’, puisi berbahasa Jawa. Lebih jauh penyair menulis tentang apa yang ia maksudkan dengan cinta sebagai suatu falsafah:

“Cinta adalah menggapai angan-angan tertuju belaka
luka-luka adalah kepingan cinta, meski tak tergapai cinta yang terkaya
cinta menjadi kerdil tatkala menolak menjadi meluka
tengoklah ke gudang luka-luka. Cucup manisnya luka-luka cinta
nada-nada luka melodikan cinta bergema”

Apakah ini yang ditawarkan oleh penyair sebagai jalan keluar dari kemelut, tragedi, duka serta luka yang menimpa Indonesia sampai ini? Kata-kata ‘Cucup manisnya luka-luka cinta/nada-nada luka melodikan cinta bergema’ menampilkan ke hadapan saya tokoh Yesus dengan filsafat dan sikap cintanya yang konsekwen ia pertahankan hingga salib Golgotha. Pada baris-baris ini pun saya melihat usaha keras penyair menukik hakekat permasalahan atas dasar gejala yang ia lihat.

Apakah dengan baris-baris demikian Gendhot menyandarkan mimpinya terwujud melalui kasihsayang dan pengorbanan seorang mesias yang bersifat individual? Agaknya juga tidak karena agaknya penyair lebih memilih kebangkitan bersama para pencinta seperti yang ia tulis bahwa dengan: ‘berbagi kasih’ maka ‘laju perlawanan ‘tuk semua’ yang ‘semua berlaku karena cinta’ dan ‘seia bangun langit cemara, rindang ‘tuk semua nurani semesta’ maka ‘Negeri Makna’nya akan terwujud. Dari sini nampak bahwa penyair tidak menyandarkan diri pada adanya mesianisme supermen. Ketika penyair mengatakan ‘seia bangun’ saya melihat betapa penyair menyandarkan diri pada manusia. Manusia dengan cinta kemanusiaan dan bukan pada manusia yang menyalahgunakan nama Tuhan seperti yang ditulisnya di bawah ini:

Memoar Terorisme

Atas nama Allah dan Agama, nyawa melayang di aroma kebencian. Atas nama yang katanya kesucian, duka anak-cucu kita mulai tersimpan.

Jika demikian Allah itu harus juga ditiadakan. Ia tidak membela kemanusiaan, setelah Ke-Allah-an-Nya diilhamkan.

Ataukkah kita yang telah salah membaca Allah dan kemauanNya?

Ataukah karena kita juga telah menyebut diri Allah?

Jerman, Juli 05

Manusia-manusia yang ‘menyebut diri Allah’ dan ‘yang telah salah membaca Allah dan kemauanNya’ dikritik keras oleh penyair dan barangkali ia masukkan kedalam kategori ‘manusia sampah’ yang membuat kehidupan di negeri kita berada ‘Di Toilet Kubangan’ yang membuat nurani kita ‘menjadi ‘batu/kelu; gagu’. Jalan cinta agaknya dilihat oleh penyair sebagai cara untuk mengobah ‘manusia sampah’, manusia batu/kelu;gagu’ untuk menjadi manusia lagi.

Dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan serta saat bertutur, Gendhotwukir sebagai penyair nampak sangat keras berusaha memperjuangkan puisi tetap sebagai puisi dengan jalan terpadu yang dirumuskan oleh Mazagre. Usaha ini ia coba dengan mempertahankan persamaan bunyi atau menggunakan perbandingan-perbandingan tanpa keseganan memasukkan kata-kata daerah bahkan singkatan-singkatan seperti Bulog, TKI, APBN yang dipandangnya layak yang bagi sementara penyair dipandang menggagetkan jika di bawah ke perpuisian. Pada usaha terakhir ini, saya melihat penyair juga sedang melakukan ‘operasi anti puisi’ model penyair Yu Jian.

Dalam usaha memperjuangkan puisi tetap sebagai puisi, agaknya tidak semua usaha Gendhot terlalu berhasil. Kadang karena usaha ini terasa ada yang sangat dipaksakan, apalagi saya kira, persamaan bunyi tidak menjamin puitisitas sebuah puisi. Untuk menjelaskan maksud saya, saya ingin mengangkat puisi Gendhot berikut:

Di Tanah Airku

di tanah airku
aku telah menjadi batu
kelu; gagu
di menara setuju;
korupsi tanpa malu
budak papi-papi meraju
; sejarah membeku
pada kelangkaan sagu
parlemen pesiar melulu
rakyat tidak maju-maju

Bangku Kelas-Jerman, 070106

Persamaan bunyi atau persajakan pada puisi di atas memang dipertahankan benar oleh Gendhot dari sejak judul hingga baris terakhir. Puitisitas masih bisa didapat pada pada tiga baris pertama:

‘di tanahairku
aku telah menjadi batu
kelu; gagu
di menara setuju’

Tapi pada baris-baris selanjutnya puitisitasnya menurun sedangkan persajakan akhir hanya menimbulkan kekakuan sanjak. Berbeda dengan sanjak berikut:

Sajak Kita Telah Terkubur

Kata – kata kita telah melintas di kelembaban
Menjenguk masa lalu.

Sajak kita telah terkubur
Lesap di Tangis, menggenang di Muara Duka

Juga Bunda kita yang telah tiada
Di tembak tentara

Tiada gerimis kata-kata
Dari kerongkongan kerak Nisan berdebu

Di kuburnya satu, hendak memburu.

Sankt Augustin- Jerman, 060605

Persamaan bunyi pada ‘Sajak Kita TelahTerkubur’ sekalipun dipertahankan tapi ia nampak tidak terlalu dipaksakan. Sanjak ini lebih terasa keluar langsung dari hati setelah dilakukan pengendapan. Iramanya sesuai dengan emosi yang ada pada diri penyair. Pilihan kata dan perbandingan-perbandingan yang digunakan lebih tertakar oleh hasil renungan. Saya melihat bahwa kata ‘sajak’ yang ‘telah terkubur’ merupakan lambang yang dalam sebagai buah renungan Gendhot membaca dan menghadapi situasi. Kedalaman renungan ini tidak saya dapatkan pada sanjak ‘Di Tanah Airku’ yang ditulis Gendhot pada 7 Januari 2006. Benar juga bahwa sanjak ‘Di Tanah Airku’ memperoleh pembelaan teoritis jika kita menggunakan ‘operasi anti puisi’ Yu Jian. Dan tentu saja hak masing-masing penyair untuk memilih jalan bagi puisinya. Sebagaimana wajar pula bahwa tidak tiap puisi yang ditulis seorang penyair mencapai hasil serupa. Barangkali yang ketat menyeleksi puisi-puisinya adalah Chairil Anwar sebagaimana yang terdapat dalam antologi puisinya ‘Deru Campur Debu’ [Dian Rakyat, Jakarta, 1993].

Membaca antologi ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot, saya melihat bahwa penyair merasa sangat terusik oleh keadaan sosial yang dihadapinya saban hari dari waktu ke waktu dan kepekaan serta kegundahan membuat penyair ingin segera mereaksi atau menanggap dalam bentuk puisi. Hanya saja kekurang kesabaran membuatnya tidak seketat Chairil Anwar dalam menjaga kadar puitisitas puisinya. Keinginan segera menanggap agaknya jauh lebih mengusik diri penyair dibandingkan dengan pertimbangan kematangan puisi sekalipun puitisas senantiasa masuk dalam pertimbangan. Akibat logis dari keadaan begini, maka penyair sering memaksa-maksa diri dan mencari puitisitas dengan takaran matematika atau rumus. Akibatnya terjadilah pemaksaan diri atau lahirnya puisi yang lahir awal dari kandungan jiwa penyair. Hal ini saya lihat – kalau penglihatan saya benar – dengan membandingkan puisi ‘Sajak Kita Telah Terkubur’ dan ‘Di Tanah Airku’ di atas.

Dalam hubungan bagaimana meneyeleksi puisi ini saya ingin mengangkat ulang pengalaman yang diceritakan oleh Raudal Tanjung Buana ketika berada di Sanggar Minum Kopi Bali bersama antara Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira.

6

Dalam hubungan, bagaimana menyeleksi puisi ini saya ingin mengangkat ulang pengalaman yang diceritakan oleh Raudal Tanjung Buana ketika berada di Sanggar Minum Kopi Bali bersama antara Umbu Landu Paranggi [penyair yang lama tinggal di Yogyakarta sebelum pindah ke Bali] dan Frans Nadjira.

Untuk antologi puisinya ‘Gugusan Mata Ibu’ [Lihat:Penerbit Bentang, Yogyakarta, Mei 2005] tentang sikap ketat penyair menjaga puitisitas puisi, penyair Raudal Tanjung Banua dalam semacam kata pendahuluan berjudul ‘Rantau, Sparring Partner,* Silaturahmi’ antara lain menulis sebagai berikut [dengan pemintaan maaf kepada Raudal dan Penerbit Bentang Yogyakarta karena mengutipnya agak panjang tanpa izin, dan terimakasih jika permintaan maaf ini diterima!]:

“Di Sanggar Minum Kopi dimulailah tradisi kreatif yang sebenarnya. Puisi-puisi awal saya yang ditulis semasa di Padang, dibongkar, dan dirombak. Ini berlaku bagi semua penyair di sanggar, setiap ada karya baru [termasuk kemudian cerpen dan esai] tak lepas dari komentar. Kalau puisi kerap diasumsikan sebagai anakn kandung spiritual penyairnya, tentu akan ada saja rasa kecewa dan sakit hati. Tapi anehnya, tidak ada di antara kami yang kapok, malah selalu mencandu untuk datang membawa puisi baru, kemudian “dibantai” lagi beramai-ramai. Menariknya, keputusan untuk “merombak” [baca:merevisi], sepenuhnya ada di tangan penyair bersangkutan. Lewat cara ini, banyak sajak awal saya yang kemudian saya revisi, bahkan ditulis ulang, tapi ada juga yang saya pertahankan. Berbarengan dengan itu, puisi-puisi baru pun lahir”.

Ditulis juga oleh Raudal bahwa:

“Tradisi ini terus menjadi spirit dan inspirasi. Kami biasa mencorat-coret sebuah sajak, bahkan sampai tinggal satu kata. Ibarat tubuh, mungkin hanya tinggal sekerat tulang iga’.

Dituturkan juga oleh Raudal bahwa “Umbu sering menerima segapok puisi dari rekan penyair yang “ngamuk”, tapi tak jarang dengan tegarnya Umbu bilang, :Cukup diwakili satu sajak , ya!”. Kejam memang. `Tapi ia punya alasan: tingginya pengulangan dan keseragaman, atau kurangnya pengendapan” [Rudal Tanjung Banua , 2005:vii-viii].

Saya kira sikap Sanggar Warung Kopi dan Umbu ini adalah sikap bertanggungjawab terhadap puisi yang mungkin bisa digunakan juga dalam melihat ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot sebagai penyair. Sikap ini pun kukira termasuk sikap tanggungjawab penyair pada puisi, tanggungjawab puisi sebagai puisi dan tanggungujawab penyair sebagai penyair. Produktivitas sering melalaikan tanggungjawab ini. Apa yang dikisahkan oleh Raudal tentang proses kreatif di Sanggar Minum Kopi Bali mengingatkan saya akan masa remaja Yogya. Proses kreatif demikian pada waktu itu kami namakan sebagai saling asih, saling asah dan saling asuh. Dan ia memang merupakan tradisi seniman Yogya serta Republik Sastra-seni Bringharjo-nya. Perumusan yang kukira lebih mempunyai akar lokal dan tidak sangat mengArab jika kita menggunakan istilah ‘silaturahmi’. Tapi jika Raudal menggunakan istilah ‘silahturahmi’ disamping memang merupakan haknya, saya juga memandangnya sekaligus merupakan pencerminan keadaan yang menjurus ke arah sektarisme yang tidak pernah toleran dan secara nilai, anti Republik dan Indonesia karena tidak memperhitungkan keberadaan orang lain yang berbeda dan hakekat republik dan Indonesia itu sendiri. Ujud juga keterasingan diri di negeri sendiri. Dari segi antropologi mentalitas, penggunaan istilah ini barangkali juga perwujudan dari hilangnya jati diri seseorang baik sebagai bangsa atau pun individu. Seperti halnya apakah wasalam walaikum, apakah salam yang punya dasar budaya lokal di negeri kita, padahal Islam adalah agama baru di negeri yang bernama Indonesia yang hadir di negeri ini paling-paling sejak abad ke-XIII [kalau pengetahuan sejarah saya benar!]. Tapi barangkali memang demikian perkembangan Indonesia sekarang. Persoalan dan perkembangan besar yang tentu berada di luar permasalahan puisi –puisi Gendhot tapi hadir kehadapan kita mempertanyakan, apa-siapakah Indonesia itu? Benarkah Indonesia itu hanya milik para pengucap wasalam walaikum, silaturahmi dan pemegang salib?

Terhadap pertanyaan besar ini, kukira penyair perlu bersikap sebagaimana yang diucapkan oleh penyair Ramadhan KH dalam kumpulan puisinya ‘Priangan Si Jelita’ [Pustaka Jaya, Jakarta, 1958]:

‘Penyair paling setia
mengajak sekali waktu untuk bersikap’

Terus-terang saya menentang pelanggaran, pelecehan dan penginjak-injakan terhadap kemajemukan, bhinneka tunggal ika, yang merupakan hakekat republik dan Indonesia, bahkan kehidupan itu sendiri. Diktatur mayoritas akan menghancurkan republik, Indonesia dan mengacaukan kehidupan atas nama Tuhan sekali pun, apalagi jika kita mencermati sejarah Tuhan dari zaman ke zaman. Masalah ini pun disentuh oleh Gendhot dalam puisi-puisinya yang terkadang terasa menggugat Tuhan ketika bicara tentang cinta manusiawi dan keadaan sosial. Apakah mengatakan saling asih, saling asah dan saling asuh kurang bermakna, kurang prestisius dibandingkan dengan kalau mengatakan ‘silaturahmi’? Saya permasalahkan penggunaan istilah begini karena bagiku bahasa atau istilah tidak lepas dari alur pikir seseorang, apalagi bagi seorang yang berani menyebut diri sebagai penyair.

Tentu saja ini adalah suatu catatan sampingan dan pengembangan masalah ketika membicarakan puisi-puisi Gendhot dari segi ‘pengendapan’ dan ‘perombakan’. Masalah-masalah di atas kuketengahkan dari sudut pandang bahwa penyair adalah seorang free thinker yang oleh Mazagre dan Chairil Anwar disebut sebagai tidak punya tabu dan larangan dalam usaha memanusiawikan manusia dan pengembaraan batin penyair. Sedangkan masalah ‘pengendapan’ dan ‘perombakan’ mencerminkan tingkat profesionalisme.

***

Catatan:
Bandingkan ide ‘sparring partner’ ini dengan ide pelukis Amrus Natalsja dari Sanggar Bumi Tarung Yogya [dihancurkan sejak Orba berkuasa]]. Lihat: JJ. Kusni dalam ‘Catatan Di meja Nusa Dua dan Café Bandar’ serie sebelumnya tahun 2005.`Tentang Sanggar Bumi Tarung, lihat: JJ. Kusni, ‘Di Tengah Pergolakan. Pengalaman Turba Lekra’, Penerbit Ombak Yogyakarta, Agustus 2005].

7.

Dari profesionalisme penyair masalah ‘pengendapan’ dan ‘perombakan’ menunjukkan bahwa penyair ingin agar sanjaknya dalam mengolah tema apa pun tetap mampu mempertahankan kadar puitisitas. Protes [sosial] dalam sanjak, atau ‘sajak-sajak protes sosial’ bukanlah masalah baru dalam sejarah sastra dunia, termasuk dalam sejarah sastra Indonesia atau sebelum negeri ini menjadi Indonesia. Sehingga, kukira, permasalahan utamanya tertumpu pada ‘mutu artistik’ puisi. Karena ‘puisi tetap puisi’, jika menggunakan istilah penyair Amarzan Ismail Hamid di majalah Medium Jakarta [2005] ketika membicarakan tentang penyair Agam Wispi. Jika menggunakan Artinya tidak semua ‘puisi’ otomatis menjadi puisi. Di sinilah barangkali ‘mutu artistik’ ini berdiri sebagai juri. Kadang sulit dirumuskan secara obyektif dan hanya bisa dirasakan. Karena itu dalam berbagai tulisan sering didapatkan ucapan atau keterangan seperti ‘penilaian ini tidak didasarkan pada teori-teori tertentu tapi tidak lebih dari penilaian subyektif suka dan tidak sukanya saya’ [baca penulis resensi atau juri suatu lomba puisi ]. Metode subyektif ini memang lebih gampang dilakukan karena kurang menuntut jerih payah dalam mencari acuan dan pembanding. Hanya saja kelemahannya, ‘debat’ atau ‘diskusi’ seakan sejak awal sudah ditutup oleh pernyataan ‘penilaian subyektif’. Tapi benarkah ‘penilaian subyektif’ dalam menilai sebuah puisi memang tidak bisa dicarikan dan diberikan dasar penjelasan? Jika benar demikian maka untuk apa diselenggarakan Fakultas Sastra?

Pergulatan sengit menjaga puitisitas puisi [puisi sebagai puisi] ketika menyampaikan protes-protes atau kritik agaknya merupakan inti pergulatan penyair sejak lama. Dalam hal ini , Lembaga Kebudayaan Rakyat [Lekra] yang mengibarkan panji ‘seni untuk rakyat’ belum selesai dengan misinya karena terlalu awal dihancurkan secara organisasi oleh Orde Baru tapi ia meninggalkan ide ‘tinggi mutu artistik dan tinggi mutu ideologi’ [baca: pesan!]. Dengan ‘jam terbang’ kepenyairannya barangkali Taufiq Ismail cukup berhasil, tanpa mempersoalkan setuju tidak setuju dengan pandangan-pandangan Taufiq [lihat antara lain : Taufiq Ismail, ‘Tirani Dan Benteng’, Penerbit Yayasan Ananda, Jakarta, 1993]. Dari sudut pandang sejarah, kukira .`’Tirani Dan Benteng’ merupakan satu kronologi sejarah Indonesia pada masa Tragedi Nasional 1965 berdasarkan pandangan tertentu [sekali lagi lepaskan diri dari masalah setuju dan tidak setuju! Taqufiq dan siapa saja berhak mempunyai pendapat. Soalnya, apakah di negeri ini kita bisa menghormati hak berbeda?!]. Melalui ‘Tirani Dan Benteng’ , Taufiq dengan jujur mengatakan dan mencatat dirinya tanpa keengganan bahwa ‘ Inilah aku Taufiq Ismail!’.Kemudian bisakah Taufiq menghormati pendapat dan sepakat memberi hak hidup kepada pendapat yang berbeda dengannya? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah sebuah nilai tersendiri. Jawaban Arief Budiman dan Goenawan Mohamad terhadap pertanyaan ini kukira telah memperlihatkan kebesaran jiwa mereka baik sebagai anak manusia maupun sebagai budayawan dan pemikir.

Sambil membaca ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ Gendhot saya tertarik pada usaha dan cara Dorothea Rosa Herliany seperti antara lain yang dilakukannnya dalam sanjak berikut:

Negeri Bencana

alangkah giris lagu hujan, musim yang
terlalu cepat menyeberangi tanahtanah
pecah dan padang tandus. kunikmati
kehangatan rindu yang berhamburan
bersama uap hujan

tapi tak bisa kurasakan tanah bencana
mangkukmangkuk bubur diaaduk debu. Dan
burung bangkai yang tak sabar menunggu.

tak tak bisa kurasakan tubuh yang
gemetar. Tulangtulang gemerutuk dan
pasirpaasir yang tiba-tiba berdarah

dengarlah angin; ia tak lagi menerbangkan
debudebu, tapi bau daging saudaramu

[Dari : Mimpi Gugur Daun Zaitun, 1999].

Menjelaskan latarbelakang puisi Rosa ini, Herman J.Waluyo menulis:

‘Puisinya [baca: Dorothea Rosa Herliany –JJK] yang berjudul “Negeri Bencana” berlatar belakang kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Penyair menyatakan dengarlah angin, ia tak lagi menerbangkan sebu-debu/tapi bau daging saudaramu. Saat kerusuhan itu, banyak orang terbakar di toko, rumah-rumah, atau mobil yang dibakar massa”. [Lihat:Herman J Waluyo, ‘Apresiasi Puisi’, PT.Gramedia Pustaska Utama, Jakarta 2003, hlm. 155].

Cara Rosa dan Taufiq berbeda dalam melukiskan serta menyampaikan pandangan atas keadaan yang dihadapi. Tapi yang mau saya tunjukkan dengan mengangkat puisi Rosa ini adalah usaha Rosa untuk mempertahankan puitisitas dalam mengungkapkan kritiknya atas kerusuhan Mei 1998. Rosa mencoba keras tidak jatuh pada kalimat-kalimat sloganis dalam mengajukan pandangannya [tentu masih banyak contoh lagi dari Rosa], tapi ia dengan menjaga kesabaran melakukan renungan dan pengendapan lalu menuangkannya dalam bentuk puisi. Rosa agaknya nampak cukup berdisiplin dalam soal menjaga puitisitas ini. Sedangkan Gendhot mungkin agak kurang, karena barangkali mengejar desakan rancangan dan tidak tahan oleh pecutan keadaan yang menyiksa jiwanya.

Sekali lagi bahwa Gendhot sadar akan arti puitisitas, kukira tidak terbantahkan. Hal ini saya llihat dari usaha Gendhot menghindari monotonisme bentuk dan melakukan berbagai percobaan seperti yang ditunjukkan oleh puisinya di bawah ini:

Di Toilet-Kubangan

Di toilet anak kecil membayang gedung megah. Lalu melesap di ruang kusut, tempat guru dan murid menyari ilmu. Sesak ilmu, hafal ditiru. Guru membisu. Gaji tak baru, buku baru !! disunat melulu.

Di toilet ibu membisu, membaca lutut kaku. Tumpuhan utang, tak kunjung hilang. Hutang; maling negara.

Di toilet teroris meramu, Asu-Mengasu ! Dancuk-Mendancuk ! Matamu, Sahid ???!!!

Di toilet mahasiwa menghafal, utang negara di pundaknya. Demo, bukannya ajar asih.

Di toilet Petani ( maaf petani kok Toilet, kubangan. Aku juga anak petani ) menghojat pada emprit-emprit yang merampok padi, juga emprit-emprit Bulog. Harga gabah naik, turun, turun dan terus turun !

Di toilet politikus memasang, rencana mengambil uang dari lutut pertiwi yang membisu, gedung baru dan APBN !

Sankt Augustin- Jerman, 091204

Juga pada puisi berikut:

Tragedi Pembunuhan Kenangan

Sejak aku membunuh kenangan, ada yang mengatakan aku akan membunuh kehidupan. Tidaklah demikian. Hidup tanpa kenangan berarti berenang-renang di lautan waktu obyektif. Dengan kekar tangan-tangan memegang rembulan dan matahari. Tiada malam tiada siang, karena telah kuhancurkan semuanya. Dengan remuknya matahari dan rembulan maka bertaburan kunang-kunang di setiap sudut pandang. Itulah keabadian. Malam dan siang tiada, maka tiada kemarin, tiada masa yang akan datang. Masa kini pun tiada karena yang ada adalah “ini hidup”. Siapa tidak merindukan itu. Aku adalah yang sama. Tapi yang sama tetap akan dirindu agar ada yang baru. Surgaku adalah kesendirian dalam keabadian tanpa malam dan siang. Saat itu tiada duka, duka adalah kelahiran janin dari gelap dan terang. Camkan dunia tanpa terang dan gelap ! Jangan lalu mengigau yang ada adalah kegelapan. Yang ada adalah keabadian terang. Kegelapan adalah terang yang belum sempurna. Kesempurnaan dan keabadian tanpa mengenal sekepak kegelapan. Keabadian sejati adalah bersama matahari-matahari yang memancar dari berpenjuru-penjuru. Tiada mengenal perjalanan hidup, bukan berenang melainkan berenang-renang…

Sungai Rhein, 060304

Puisi-puisi Gendhot, kiranya sulit dipahami tanpa disertai bekal pengetahuan dasar filosofi karena terkesan pada saya bahwa dalam melihat Indonesia dan masalah, sebagai pelajar filsafat, Gendhot berangkat dari pandangan sadar filosofis. Jika dikatakan secara umum, sekalipun karya setelah ditulis dan disiarkan menempuh jalan kehidupan sendiri tapi untuk memahami mereka diperlukan pengetahuan tentang penulis – ibu kandung karya –, tahu latar sejarah dan keadaan, jadi tidak cukup hanya bersandar pada teks sebagai teks. Kecuali itu Gendhot juga sadar akan arti puisi dan sadar bahwa ia sedang menulis puisi karena itu ia berusaha sekeras mungkin mempertahankan puitisitas puisi-puisinya walau pun kadang ia tidak terlalu berhasil. Usaha mempertahankan puitisitas puisi yang menandai antologi inilah yang saya namakan ‘memperjuangkan puisi’ sehingga puisi berbicara sebagai puisi.

Sedangkan eksperimen-eksperimen bentuk yang dilakukan oleh Gendhot memperlihatkan usaha penyair yang tak henti mencari terobosan demi terobosan dari kemandegan – tanda dari kegelisahan kembara batiniah penyair sehingga tidak heran terkadang terdengar suaranya kritik pada Tuhan yang seakan lepas tangan pada keadaan buruk di bumi yang mengusik nurani penyair. Ini kupahami sebagai tanda bahwa penyair pada dasarnya memang seorang pemberontak-pencari nilai manusiawi – prasyarat untuk berada selangkah di depan keadaan sehingga tak segan seperti tokoh SunWukung tidak segan menyerbu dan mengobrak-abrik sorga . Karena penyair adalah seorang penyair maka senjatanya tidak lain Singkat kata, kukira dengan keberhasilan dan kegagalannya, Gendhot telah mencoba menulis puisi sebagai puisi. Puisi sebagai lambang dan alat memanusiawikan manusia dan memcoba memindahkan ‘sorga’ ke bumi, seperti yang tercermin pada judul antologi ‘ Sajak-sajak Protes Sosial’. Karena penyair akan berhenti menjadi penyair jika tidak lagi bersyair maka melihat pencarian dan usaha sadar Gendhot, tidak berkelebihan bahwa di hari-hari mendatang dari tangan Gendhotwukir akan lahir puisi-puisi dengan puitisitas dan nilai ide yang lebih berbobot. Apakah ini penantian sia-sia? Gendhot sajalah yang akan membantu kita menjawabnya.****

Paris, Januari 2006
_____________________________________
* Dr. JJ Kusni, Sastrawan dan Esais yang tinggal di Paris, lahir pada tanggal 25 September 1940 di Kasongan, Kalimantan Tengah. Di tengah kesibukannya menjadi penulis yang sangat produktif, ia masih memberikan kuliah dan seminar di tingkal nasional maupun internasional seperti di Perancis, China, USA, Vietnam, Jepang, Australia, Malaysia, Indonesia dan masih banyak negara lainnya.

Riwayat Pendidikan: Political Science (Journalism and Communication), Gadjah Mada University (Yogyakarta, Indonesia, 1965); Maîtrise: Economic Developement of l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (l’EHESS, Sorbonne) (Paris,Perancis) ; M.A. in anthropology of l’EHESS (Paris, Perancis); Ph.D. in history of l’EHESS (Paris,Perancis); International Law (Diplomacy) of New South Wales University,Sydney (Australia).

Buku dan karyanya yang telah diterbitkan: Negara Etnik. Beberapa Gagasan Tentang Pemberdayaan Dan Pembangunan Masyarakat Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah (Fuspad, Yogyakarta: 2002), Dayak Membangun. Masalah Etnik Dan Pembangunan. Kasus Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah (PT. Paragon, Jakarta: 1994), Sanjak dan Bunga (Yogyakarta: 1959), Indonesian Progresive Poem (Jajasan Pembaruan, Jakarta: 1962), Karungut Jata Sansana Tingang (PT Paragon Jakarta: 1994), Sansana Naga Dan Tahun-tahun Pembunuhan (ISDM, Culemborg: 2000), Di Negeri Orang. Puisi Penyair Indonesia Eksil (Amanah Lontar Jakarta & Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, Amsterdam: 2002), Catatan Studi Tentang Drama Teladan Tiongkok (Angin Timur, Nanchang: 1970), Catatan Studi Tentang Garis Sastra-Seni PKI 1950-1965 (Suara Rakyat Indonesia, Beijing: 1969), Di Tengah Pergolakan. Sastra & Seni (Yayasan Langer: 1981) dan masih banyak lagi.

Adapun naskah drama yang telah dipentaskan: Api Di pematang. Drama tentang aksi sepihak (Pesat,Yogyakarta:1964), Tanah Ketaon. Drama tentang aksi tani di Boyolali 1964 (Sudah dipentaskan di Yogyakarta), Obor Merapi. Drama tentang aksi tani di Boyolali 1964 (Sudah dipentaskan di Yogyakarta), Nyanyian Remaja. Saduran dari karya Yang Mo (Sudah dipentaskan di Yogyakarta: 1964), Crime and Punishment. Saduran dari karya Dostoyevski (Sudah dipentaskan di Yogyakarta: 1962), Bukit Belleville. Drama tentang Komune Paris (Sudah dipentaskan dan diterbitkan oleh Suara Rakyat Indonesia: Beijing,1978), Di sebuah Perkebunan Kopi. Drama tentang perlawanan kaum tani Sumatra Utara (Majalah Api, Tirana: 1980).

Beberapa naskah buku yang telah siap untuk diterbitkan: Kekuasaan Paralel: Kekuasaan Republik & Masyrakat Adat — Usul Bagi Indonesia Di tengah Krisis, Budaya Betang (Long House Culture) dan Tragedi Sampit Februari 2000. Akar Dari Sebuah Konflik Etnik. Kasus Kalimantan Tengah.

* Gendhotwukir, Penyair Cyber, lahir 7 Januari 1978 di Desa Gemer, Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Pernah aktif di Komunitas Teater Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Teater Komunitas Merapi dan Teater Kampus “KAMPUNK”. Banyak karya puisinya tersebar di berbagai situs internet, milis dan beberapa telah mulai terbit di beberapa media cetak di Indonesia. Penyair Cyber ini pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “Widya Sasana” Malang. Saat ini menetap di Jerman dan tercatat sebagai mahasiswa filsafat dan teologi di Philosophisch – Theologische Hochschule St. Augustin, Jerman. Disamping studi, juga menulis opini dan menjadi jurnalis untuk Majalah Sastra Budaya “AKSARA”, Majalah Katolik “HIDUP” dan Harian Suara Merdeka CyberNews.

Dijumput dari:
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/182
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/183
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/184
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/185
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/186
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/187
http://gendhotwukir.multiply.com/journal/item/188