KEPERCAYAAN RAKYAT MASIH PINGSAN *

Chavchay Syaifullah
http://www.leadership-park.com/

Apakah setiap kita menjadi naif, bila sebentar-sebentar bertanya: di mana peran negara ketika masyarakat kita saat ini masih saja jumpalitan seperti cacing tanah tersulut api mengatasi kesulitan hidupnya sendiri-sendiri?

Dalam perjalanan 65 tahun kemerdekaan RI ini, siapa pun akan mudah menemukan potret kemiskinan. Dan bila potret 1945 atau potret 1965, tergambar kemiskinan yang hampir merata dalam lanskap pembangunan yang masih minim sehingga terbetik kesusahan hidup rakyat terjadi dalam situasi negara yang memang masih miskin. Namun kini potret kemiskinan itu justru telah banyak berdampingan sangat dekat dengan potret kemewahan yang luar biasa.

Kita bisa dengan mudah menyaksikan pemandangan gedung-gedung perkantoran dan hotel-hotel yang megah berdiri di samping perumahan kumuh berdinding triplek. Juga ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia dalam situasi krisis ekonomi, jalan-jalan raya justru semakin disesaki mobil-mobil mewah. Pusat-pusat perbelanjaan, pusat hiburan, pusat maksiat berlabel salon dan panti pijat, pun justru tumbuh menjamur. Semua ini terjadi berbarengan dengan kabar-kabar kuno tentang busung lapar, kaki gajah, gizi buruk, penangkapan anak jalanan, dan sebagainya.

Belum lagi kini kita menyaksikan bagaimana rakyat harus jumpalitan seperti cacing tanah tersulut api mengatasi masalah-masalah yang muncul dari kebijakan negara yang konon terpaksa harus dijalankan. Lihatlah tarif dasar listrik yang mendadak naik setelah marak gosip rumah berdaya listrik 450 watt akan digratiskan. Lihatlah rumah-rumah yang hancur berantakan dibom tabung gas elpiji 3 kilo gram hasil sumbangan negara sebagai kebijakan pengalihan minyak tanah. Jerit tangis rakyat yang menyaksikan keluarganya hangus terbakar dengan tubuh hitam lebam seperti gorengan ikan lele dumbo, telah dihadapi dengan instruksi normatif Presiden agar rakyat selalu memastikan kompor dalam kondisi off sebelum meninggalkan dapur atau memastikan selang tidak bocor. Rakyat pun harus mengelus dada. Mau kembali ke minyak tanah sudah tidak ada di pasaran, mau beli tabung 14 kilo gram dan kompor gas yang layak jelas tidak mampu.

Maka dengan sangat terpaksa ibu-ibu kita pun rela menyimpan teror bom 3 kilo gram di sudut dapurnya. Dan bila suatu ketika meledak dan membakar para penghuni serta seluruh bagian rumah, itulah yang disebut nasib masing-masing, takdir sendiri-sendiri. Rakyat kembali mengelus dada.

Di tengah kemiskinan yang kisah-kisahnya terlalu lebar dibicarakan ini, kita juga menyaksikan kekerasan dalam bentuk dan modus yang rupa-rupa. Bila sampai dekade awal 1990-an kekerasan di tengah masyarakat yang marak terjadi bersifat individual dan atau sektoral, seperti pencopetan atau pun perkelahian antar geng-geng kecil yang ribut akibat soal remeh temeh, kini tidak lagi begitu.

Indonesia yang sudah berusia kakek-nenek ini, harus menyaksikan tayangan pembakaran ratusan mobil, ratusan rumah, ratusan toko. Menyaksikan tayangan pembantaian rasial dengan tombak-tombak yang ujungnya tertancap wujud asli kepala orang, lengkap dengan darah segarnya. Indonesia harus menyaksikan kekerasan purna dari organisasi-organisasi legal skup besar berlabel pembelaan agama dan atau kesatuan primordial. Organisasi-organisasi seperti ini terus bermunculan dan masih menjadi teror keamanan rakyat, sebab rakyat sudah tahu sama tahu bila organisasi-organisasi besar ini sudah membuat onar, aparat keamanan pun tidak cukup bisa mengendalikan keadaan.

Kekerasan yang tidak kalah mengerikan yaitu dalam proses pemilihan kepala daerah. 498 kabupaten/kota di Indonesia harus menyelenggarakan pemilihan kepala daerah. Andai saja di setiap kabupaten/kota terdapat 2 pasangan calon bupati/walikota, terdapatlah 996 kekuatan yang potensial melahirkan kekerasan di tanah air ini. Hal ini semakin mengerikan sebab kekisruhan pilkada di mana pun telah menumpahkan darah segar, menghanguskan kantor-kantor pemerintah, serta kekerasan yang berlarut-larut. Kekerasan ini semakin besar sebab didukung oleh kekuatan modal yang besar. Hal ini mudah dipahami karena setiap calon bupati dan calon walikota dipastikan memiliki modal besar, ini karena antara lain masyarakat kita sudah apatis dengan idealisme politik dan memilih politik uang sebagai jawaban atas janji-janji yang tidak pernah ditepati. Ibu pertiwi mengelus dada.

Di tengah kemiskinan dan kekerasan yang harus disaksikan oleh Indonesia yang kini tengah duduk lelah di kursi goyang, korupsi semakin menjadi-jadi. Jumlah pelakunya terus bertambah. Modusnya semakin aneh-aneh saja. Rakyat kini umumnya sudah tidak bisa lagi berharap pada kerja Polisi, Kejaksaan, bahkan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tingkat kepercayaan rakyat terhadap Presiden dalam hal pemberantasan korupsi semakin hari semakin pupus. Kalaupun ada aksi-aksi penangkapan koruptor, termasuk oleh KPK, rakyat sesekali hanya tertawa sambil menebak-nebak ini ada angin politik apalagi, ini ada rekayasa apalagi, ini ada pengalihan isu apalagi, atau ini ada dagelan apalagi.

Ya, kepercayaan rakyat sudah harus masuk ke ruang ICU. Sebab kondisi kepercayaan rakyat sudah gawat darurat dan butuh penanganan khusus. Namun sayang, dokter-dokter kepercayaan rakyat yang jujur dan berani sudah banyak yang wafat, ruang ICU pun sudah penuh. Kepercayaan rakyat akhirnya pingsan di ruang tunggu. Ibu pertiwi tak kuasa menahan gejolak darah di wajahnya. Ibu pertiwi memeluk erat kepercayaan rakyat sambil menahan air mata yang hampir saja tumpah serupa air bah.

Namun ketika luka kemiskinan, kekerasan, dan korupsi coba disembuhkan Indonesia, sayang bin sayang Indonesia harus melihat rakyatnya tidak memiliki daya saing yang tinggi. Indonesia kembali lelah dan duduk di kursi goyang. Ia kembali menyaksikan tayangan daya saing anak bangsa megap-megap dalam hempasan gelombang besar. Ia menyaksikan bagaimana dunia birokrasi tidak lagi memiliki daya saing yang baik, sehingga untuk meraih jabatan, kaum birokrat harus melahirkan fitnah dan jebakan. Ia menyaksikan dunia kampus tidak lagi memiliki daya saing, sehingga lahir di sana-sini karya-karya plagiat, hasil penelitian yang tidak valid, gelar-gelar akademis yang kosong melompong, juga mahasiswa-mahasiswi yang lebih senang pacaran ketimbang belajar.

Indonesia menyaksikan dunia politik tidak punya daya saing, sehingga melahirkan politikus-politikus yang gemar membunuh keluhuran cita-cita politik sebagai alat mewujudkan kesejahteraan umum. Politik telah berubah menjadi medan konspirasi, telah menjadi ajang caci maki, dan gawatnya politik telah dijadikan mesin untuk menghasilkan uang jumlah besar dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ia juga menyaksikan guru agama berdaya saing rendah, sehingga selalu melakukan agitasi terhadap kelompok yang lebih maju dengan dalil-dalil agama. Ia juga menyaksikan artis-artis berdaya saing rendah, sehingga kerap masuk ke dunia pelacuran kelas kakap yang melayani oknum pejabat bermental bejat, politikus yang haus seks bebas, dan pengusaha yang hobi pelacuran.

Di atas kursi goyangnya, Indonesia meneteskan air matanya. Ia biarkan air mata itu membasahi pipinya. Ia seperti tidak bisa lagi membendung kesedihan purba itu. Kini Indonesia merasakan luka daya saing anak bangsa seperti luka yang telah melahirkan luka kemiskinan, luka kekerasan, dan luka korupsi. Luka demi luka yang meneteskan darah dan air mata, membuat lautan tidak lagi biru, gunung tidak lagi tinggi, hutan tidak lagi gondrong, air bercampur racun, tempe bercampur formalin, rumah sakit jadi perusahaan orang sakit, seks bebas jadi rutinitas, bencana alam jadi siklus, kemewahan jadi tontonan, kekerasan jadi jalan keluar, kemiskinan jadi tontonan, dan seterusnya.

Di dalam kesedihan yang pilu, Indonesia tiba-tiba bangkit dari kursi goyangnya. Ia berjalan perlahan. Ia melihat kalender. Ia melihat warna merah di tanggal tujuh belas. Ia mulai sadar, usianya sudah 65 tahun. Ia mulai sadar usianya sudah cukup tua. Karenanya ia semakin mantap berpikir bahwa usia 65 tahun adalah usia yang asyik untuk berpikir dewasa, bertindak penuh wibawa, dan melangkah penuh kepastian.

Indonesia lantas berlari-lari anjing menghampiri daun jendela. Ia membuka jendela selebar-lebarnya. Halaman nusantara terbentang luas di matanya. Dengan suara lantang, Indonesia pun memanggil-manggil anak-anaknya. Ia memanggil-manggil kesetiakawanan sosial, ia memanggil-manggil pendidikan, ia memanggil-manggil kejujuran, ia memanggil-manggil keberanian, ia memanggil-manggil demokrasi, ia juga memanggil-manggil kemajuan.

Kepada anak-anaknya ia meminta untuk segera masing-masing membangun karakter. Karakter bukan ilmu dan pengetahuan, namun nilai dan jiwa. Nilai dan jiwa akan tumbuh antara lain dari lingkungan dan cita-cita. Indonesia meminta anaknya bernama kesetiakawanan sosial untuk segera membangun karakter dari lingkungan yang menjalin kepedulian satu sama lain, untuk cita-cita membangun peradaban yang berkemanusiaan dan berkeadilan.

Indonesia juga meminta kepada anaknya bernama pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan zaman. Pendidikan yang terjangkau bagi rakyat harus segera direalisasi. Lembaga-lembaga pendidikan yang diskriminatif harus segera dievaluasi, agar siswa-siswa sekolah unggulan kelak tidak berlaku elitis di tengah masyarakat, sementara siswa-siswa sekolah rendahan hanya bisa minderan karena terlalu sering terkena stigma.

Indonesia juga meminta anaknya bernama kejujuran untuk berjalan bareng dengan keberanian, sebab tidak ada kebenaran yang gratisan. Semuanya harus dimulai dari perjuangan yang jujur dan berani. Tanpa itu, demokrasi hanya tinggal urusan formal-formalan di atas kertas. Apapun sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem sosial kalau dilakukan secara tidak jujur dan tidak berani, maka yang terjadi hanya kekacauan. Bukan kemajuan. Karena itu kepada anaknya bernama kemajuan, Indonesia sangat berharap agar bersabar dalam melangkah sambil menyesuaikan diri dengan kemanusiaan dan keadilan sosial. Kesempatan dan pintu masuk untuk maju, harus dimiliki oleh setiap bangsa Indonesia. Tidak boleh ada sekelompok kecil orang maju menari-nari di atas golongan besar yang tidak maju. Kesenjangan pasti bisa diatasi.

Indonesia menegaskan kepada anak-anaknya bahwa karakter bangsa harus segera dicipta, digerakkan, dan diajak berlari menuju cita-cita kebersamaan, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Namun apa daya, hingga hari ini kepercayaan rakyat masih pingsan dalam pelukan ibu pertiwi di ruang tunggu di sebuah rumah sakit. Indonesia harus segera menjemputnya. Indonesia harus segera mengajaknya pulang untuk kembali bernyanyi dan menari. Tapi apakah kepercayaan rakyat masih bisa bernyanyi dan menari? Bisa! Tentu setelah disembuhkan dulu luka lamanya. Tapi, maaf, siapakah Indonesia itu? Hmmm…..kenapa kau masih bertanya terus soal ini? Kenapa kau masih bertanya terus tentang siapa Indonesia? Dengarlah baik-baik, Indonesia adalah kita semua. Indonesia adalah kita semua. Indonesia adalah kita semua.

Chavchay Syaifullah – Sastrawan & Wartawan, aktif di Yayasan Dayamuda Nusantara (Yadanu) dan Indonesia Institute for Democratic Development (IIDD), kini tinggal di Banten.

*) Materi ini dipresentasikan dalam Forum Media Massa bertajuk “Refleksi Kesetiakawanan Sosial dalam 65 Tahun Kemerdekaan RI”, di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, 16 Agustus 2010.