Sastra dan Problem Bahasa

Agus Wibowo
_Seputar Indonesia, 19/08/2007

WILLIAM Henry Hudson dalam bukunya, Introduction to the Study of Literature (1960),menyatakan bahwa idealnya sastra senantiasa menyumbangkan nilai positif bagi kemanusiaan.

Hal ini lantaran anasir-anasir yang dicipta,bertalian erat dengan penikmatan ragawi dan rohani manusia. Menurut Henry, sastra lewat cara dan bentuknya menjelma memberi kenikmatan batiniah, melalui olah rasa, cipta, dan karya indah dalam sanubari setiap insan.

Sastra lewat kelembutan dan kehalusannya mampu membangkitkan emosi luhur sekaligus menjembatani sifat fitrah manusia yang cinta akan keindahan. Sifat sastra yang holistis dan universal, mampu menerjemahkan polah-tingkah manusia jauh lebih kritis dan mendalam dibandingkan berbagai disiplin ilmu lain.

Ilmu sejarah misalnya, meski mampu menyuguhkan gambaran kehidupan manusia dari masa ke masa,sangat parsial karena kajiannya hanya menitikberatkan pada sistem politik dan pemerintahan. Demikian halnya dengan antropologi-sosial dan sosiologi. Meski keduanya mengkaji manusia dengan segala aktivitasnya, sama sekali tidak menyentuh unsur-unsur batiniah seperti perasaan, cita-cita, kejiwaan alam, pikiran.

Alfred North Whitehead,seorang ahli matematika yang menelurkan karya monumental di bidang matematika dan logika Principia Mathematica (1910), merasakan betapa sastra telah menyelamatkan hidupnya. Awalnya,Whitehead kurang begitu tertarik dengan sastra. Dalam benaknya, sastra tak lebih permainan kata/bahasa yang sia-sia, dan tidak menyumbangkan kontribusi apaapa bagi kehidupan umat manusia.

Sementara penciptanya (sastrawan), kadang kala justru seperti orang tidak waras (gila),kumuh,dekil,dan kadang bau. Ini jauh dari disiplin ilmu matematika yang serbapasti, akurat, dan memiliki peran besar bagi kehidupan umat manusia. Namun, begitu putra kesayangannya sekaligus buah cintanya dengan Evelyn Wade tewas mengenaskan di ujung perang dunia, mengubah seratus delapan puluh derajat pandangannya tentang sastra.

Awalnya Whitehead mencoba melarikan petaka batinnya pada disiplin ilmu yang digelutinya.Apa yang ia dapat? Ternyata matematika yang selama separuh hidup digelutinya, tak mampu meredakan krisis batinnya. Matematika begitu kaku, kejam, dan kurang manusiawi.Disiplin matematika menganggap peristiwa yang menyayat jiwanya, sebagai peristiwa lumrah hukum dari distribusi linier terhadap sebuah kemestian.

Whitehead mencoba melarikan kegundahan hatinya pada disiplin ilmu filsafat, kesenian, dan sastra. Aneh, begitu menggeluti sastra pandangannya begitu luas dan mampu menyadari bahwa apa yang dialaminya,tidak perlu disesali. Apalagi, hingga menyia-nyiakan anugerah kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Whitehead begitu terpana dengan syair-syair penyair romantik seperti Wordsworth dan Mary Shelley yang keras menolak materialisme ilmiah.

Dari puisi-puisi Wordsworth, Whitehead terinspirasikan tentang nature in solido,suatu pandangan bahwa unsur-unsur alami yang ada bersifat saling jalin-menjalin. Sedangkan dari puisi-puisi Mary Shelley, Whitehead terinspirasikan tentang alam semesta yang bersifat dinamis dan berproses.

Dari situ,kemudian ia mengembangkan rumusan soal-soal penting dalam sistem filsafat dan seni yang ia bangun, seperti soal feelings dan prehension, yang tertuang dalam karya besarnya: Process and Reality—sebuah karya filsafat yang kemudian hari oleh Elizabeth M Kraus dinilai sebagai pemikiran tentang “metafisika pengalaman” tertangguh sepanjang sejarah, yang mampu secara filosofis mengukuhkan dunia pengalaman (seni) sebagai yang lebih luas ketimbang dunia pemikiran (Chavchay Syaifullah, 2005)

Apa yang dialami Whitehead menunjukkan betapa sastra mampu melengkapi cacat cela berbagai disiplin ilmu tersebut. Di India misalnya, orang sangat menghargai epos Mahabarata,Ramayana, dan Upanishad serta menganggap layaknya kitab suci yang mesti dibaca setiap waktu. Demikian halnya Alquran— sebagai kitab suci agama Islam—juga menjelma sebagai sebuah karya sastra yang sangat agung. Alquran merangkum berbagai disiplin ilmu, baik sejarah, politik, hukum, sosial, maupun budaya.

Kesemuanya dikemas secara apik dengan unsur dan tingkat kesusastraan yang tinggi.Tidak berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya, selalu mengambil bentuk sastra lantaran mampu menarik sekaligus menghipnotis pembaca untuk mengikuti ajaran dan seruannya. Sastra juga merupakan kritik kehidupan yang bersandar pada hukumhukum kebenaran dan keindahan. Mungkin ada benarnya pendapat Henry, jika saja di dunia ini tidak ada agama, sastra (lah) yang menjadi panutan hidup manusia.

Problem Bahasa

Sastra menjelma melalui media bahasa. Oleh karena itu, peran bahasa tidak bisa dianggap sepele. Meminjam istilah Prof Dr Slamet Mulyana (1964), sastra menggambarkan pengalaman jiwa dalam bentuk rangkaian kata (bahasa) yang indah. Oleh karena itu, produk sastra selalu mengutamakan harmoni antara bentuk dan isi. Sayangnya, bahasa kita (bahasa Indonesia) tidak mampu menangkap dan menerjemahkan semua letupan sekaligus “ujaran” sastra.

Problem ini pernah dikeluhkan penyair Otto Sukatno CR (2007).Menurutnya,lantaran sempitnya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia, sastrawan kita sering meminjam istilah atau kosakata bahasa asing (di luar bahasa Indonesia). Pada gilirannya, produk sastra menjadi elitis lantaran maknanya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu (yang paham bahasa lain).

Produk sastra menjadi kehilangan pembacanya sehingga tidak banyak memberi kontribusi pada kehidupan manusia. Problem bahasa ini semakin terasa ketika menyadur karya sastra atau produk pemikiran bahasa lain (Inggris, Arab, Spanyol, Prancis, India, dan lainlain) ke dalam bahasa kita. Mestinya, karya-karya besar semacam Wordsworth dan Mary Shelleyjuga menggetarkan hati kita layaknya Whitehead.

Sayangnya, bahasa kita mencerabut sekaligus memenggal rasa bahasa sastra tersebut— lantaran kurangnya perbendaharaan kosakata—sehingga membuat karya besar tersebut terasa biasa-biasa saja dan tak mampu menggugah relung batin kita. Misalnya lagi, kiasan-kiasan yang terkandung dalam Alquran seperti “Surga dengan air susu yang mengalir di bawahnya,”menjadi suatu keadaan yang biasa-biasa saja bagi umat muslim kita.

Padahal,di negeri asalnya (Arab),kiasan Alquran ini memberi daya dorong sekaligus elan yang luar biasa.Dalam sejarah Islam, di berbagai medan pertempuran, para sahabat sering menggunakan kiasan Alquran tersebut guna memberi semangat pada prajurit-prajurit muslim. Hasilnya, lantaran kadar keimanan yang tinggi dibalut dengan “iming-iming” kiasan Alquran tersebut, tentara muslim gagah berani maju ke medan pertempuran, bahkan gugur dengan senyum tersungging di bibir.

Dalam dunia filsafat, kita sering menerjemahkan kata being dengan makna “mengada/ada” yang lebih condong pada makna “eksis” atau eksistensi.Padahal, antara “ada”dalam being dan “ada” dalam eksis sangat berbeda.Yang “ada” tidak mesti harus eksis,sementara yang eksistentu saja ada dalam “ada” dan eksistensi (Martin Heidegger, 2003).

Hampir semua penerjemah kita merasakan hal serupa, kesulitan mencari padanan makna kata bahasa asing dalam kosakata bahasa Indonesia. Problem ini tidak lepas dari fenomena politik dan kekuasaan. Selama ini penguasa selalu menempatkan bahasa sebagai komoditas kekuasaan dan sering dipolitisi. Sistem sentralistik serta totaliter Orde Baru (Orba) mengharuskan keseragaman di setiap lini kehidupan, termasuk bahasa. Maka keluarlah aturan baku penggunaan bahasa yang disebut dengan “Ejaan yang Disempurnakan” (EYD).

Memang adanya peraturan yang ketat terhadap masuknya berbagai kosakata asing, dimaksudkan untuk meneguhkan identitas kebangsaan kita.Tetapi di sisi lain, justru menyempitkan ruang apresiasi bahasa kita terhadap berbagai teks-teks sastra asing. Hal ini tentu saja menjadi pemikiran kita bersama.Bukankah bahasa merupakan alat komunikasi yang mesti mampu menerjemahkan simbol-simbol dalam komunikasi tersebut?

Jika tidak,bahasa kita bakal kehilangan nilai universal sekaligus kontribusinya bagi peradaban umat manusia.Sudah saatnya para pakar bahasa mengkaji dan meneliti unsur-unsur kebudayaan kita sehingga menemukan istilah-istilah, padanan kata atau kosakata yang bisa menerjemahkan berbagai simbol bahasa di dunia.Hanya dengan itu, penghayatan kita terhadap dunia sastra—yang selalu menggunakan mediasi bahasa—bisa lebih holistis, mendalam, dan universal, sehingga bisa semakin memperkukuh peradaban bangsa ini.Semoga!

*) Agus Wibowo, seorang esais sastra, Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
Dijumput dari: http://agus82.wordpress.com/2007/08/20/sastra-dan-problem-bahasa/