WONG PAK Akulturasi di Balik Barongsai

Tri Wahyuni
http://www.suarakarya-online.com/

Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1999 menjadi peristiwa paling bersejarah bagi Ronald Sjarif atau akrab dipanggil Wong Pak — pengusaha yang juga Ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jakarta. Karena, pada hari itu, Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memperbolehkan kembali kesenian barongsai tampil di Indonesia.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Wong Pak segera memborong 90 set barongsai langsung dari Fu San. Agar kesenian barongsai lebih populer lagi, ia pun tak segan-segan menyumbangkan 10 set barongsainya itu untuk sekolah yang berminat mempelajari barongsai. Bantuan yang diberikan termasuk dukungan pelatih diambil dari kelompok barongsai yang berada di bawah kendalinya di Yayasan Sosial Kong Ha Hong.

Semua itu dilakukan karena menurut pria kelahiran Jakarta, 27 September 1945 didorong oleh kecintaannya akan kesenian barongsai. Barongsai telah menjadi bagian hidupnya sejak ia berusia 10 tahun. “Saya tertarik pada barongsai awalnya karena di dalamnya ada kung fu. Setelah mempelajari satu dua tahun, saya makin jatuh cinta pada barongsai karena menggabungkan kesenian dan olahraga secara harmonis,” kata Wong Pak seputar hobinya itu dalam percakapan dengan Suara Karya di sela-sela acara “Sensasi Imlek” yang digelar di pusat perbelanjaan Mangga Dua Square Jakarta, Sabtu (14/1).

Meski jatuh cinta setengah mati pada kesenian barongsai, Wong Pak mengaku tidak pernah terpikirkan untuk menjadikan kesenian barongsai sebagai ladang kehidupannya. Seperti etnis China lainnya yang suka berdagang, Wong Pak pun berbisnis selain tetap menggeluti barongsai di bawah naungan Yayasan Sosial Kong Ha Hong.

“Semua dana yang diperoleh dari pertunjukkan barongsai kami berikan untuk kesejahteraan para pemain. Hidup pengelolanya dibiayai dari bisnis lain,” kata Wong Pak yang mengantar sekitar 40 orang pemain untuk sebuah pertunjukan barongsai.

Karena itu, lanjut Wong Pak, ia berusaha untuk tidak bersikap terlalu komersil. Yang penting, kesenian barongsai dapat dinikmati semua kalangan masyarakat Indonesia. “Kami siap main tanpa dibayar, kalau pengundang memang benar-benar tidak punya uang. Karena yang utama adalah masyarakat kita bisa menikmati hiburan barongsai,” kata Wong Pak yang tutup jika ditanya soal tarif.

Menjelang peringatan Imlek merupakan masa-masa tersibuk bagi para pemain barongsai Yayasan Kong Ha Hong. Bila dituruti, sehari bisa manggung di 7 tempat. “Bahkan, kami pernah satu kali manggung 11 kali dalam satu hari. Untungnya personil waktu itu cukup banyak, sehingga para pemainnya bisa bergantian. Tetapi, peristiwa itu cukup sekali saja. Karena gerakan dalam barongsai sangat menguras tenaga,” ujar Wong Pak sambil tertawa kecil.

Soal pembagian honor anggotanya, Wong Pak berusaha bersikap profesional. Artinya, mereka yang bekerja paling keras akan mendapat bayaran lebih banyak. Sedangkan mereka yang berada di kendali musik, mendapat bayaran yang lebih kecil. “Kami berusaha terbuka soal honor-honor ini agar tidak ada keributan di belakang,” katanya.

Namun, satu yang jadi kendala adalah sulitnya menjadi kader yang bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Padahal, ia berusaha untuk tidak pilah pilih. Artinya, siapa saja yang berminta bisa bergabung, apapun etnisnya.

“Kami tidak pernah menolak orang, asalkan senang kami terima. Tetapi masalahnya, banyak orangtua yang kemudian melarang anaknya setelah pelajaran sekolahnya jelek atau badan anaknya jadi lembam karena terjatuh atau terbentur selama latihan. Sehingga sulit mencari kader yang bisa bertahan lama,” kata Wong Pak yang mengaku sangat bahagia karena hobinya itu juga diminati anak bungsunya.

Ditanya apakah kesenian barongsai hanya milik kaum pria saja, Wong Pak mengatakan, perempuan juga bisa terlibat dalam barongsai. Namun, pengalaman selama ini belum ada perempuan yang memiliki fisik cukup tangguh untuk menjadi barongsai. “Perempuan biasanya kita tempatkan di bagian musik,” kata ayah tiga anak yang kini lebih suka tampil di balik layar saja.

Tentang kesenian barongsai, Wong Pak menuturkan, seperti kelompok silat yang beragam, barongsai memiliki dua aliran utama, yakni Utara dan Selatan. Aliran Utara dikenal sebagai Bei Jing Shi, sedangkan aliran Selatan adalah Nan Shi.

“Semula, aliran Utara berkembang di Indonesia, tetapi ketika barongsai kembali populer saat Presiden (waktu itu) KH Abdurrahman Wahid mengizinkannya, yang berkembang pesat justru aliran Selatan,” ujarnya.

Salah satu aksi yang dikenal pencinta film laga adalah adegan dari film Tai Chi Master, yakni ketika dua barongsai berebut sebungkil selada cai bing.

Jenis barongsai ini berpusat di Fo San-Gunung Budha-yang memang menjadi tempat berkiprahnya sosok Wong Fei Hung. Daerah ini adalah kawasan Provinsi Guang Dong (baca, Kwang Tung) di sekitar Kota Guang Zhou alias Canton.

Daerah selatan Cina memang dinamis dan memiliki gaya tersendiri, tidak sekadar membuntut apa yang ada di Beijing. Sejarah pun mencatat, di selatan tampil sosok Wong Fei Hung yang piawai Gong Fu sekaligus memiliki kelompok barongsai yang menjadi ikon kepahlawanan melawan Barat.

Barongsai ala Wong Fei Hung memang lebih diminati karena secara fisik lebih mudah dikendalikan pemain. Barongsai selatan lebih pendek dibandingkan dengan saudaranya yang di utara. Barongsai Bei Jing memang terlihat lebih klasik, didominasi warna merah-kuning, dan sering menampilkan atraksi menunggang bola.

Fisik barongsai “cempluk” ala selatan ini terlihat sedikit lebih manis karena antara pemain kepala dan ekor tidak terdapat jarak yang renggang sehingga lebih mudah berkoordinasi. Gerakan yang dilakukan pun tentu lebih bervariasi, lincah, dan gemulai secara serempak.

Keseragaman gerak kaki, kepala, kedipan mata, dan kibasan ekor lebih mudah dilakukan. Memang menarik melihat polah barongsai, sesekali mulut menganga terutama saat mengejar hong bao (angpao). Genit, lucu, sedih, dan nakal, itulah ekspresi barongsai.

Tidak hanya aliran Wong Fei Hung, barongsai telah sedemikian rupa mengalami modifikasi. Sebagai contoh adalah atraksi di atas tonggak setinggi tiga meter yang ditemukan di Malaysia. Atraksi ini sekarang selalu dilombakan dalam kejuaraan dunia.

Perlengkapan pokok barongsai juga mengalami perubahan. Dulu, kepala barongsai terbuat dari jalinan rotan seberat 10 kilogram. Kini, kepala dibuat dari bahan campuran yang lebih ringan hanya mencapai 3 kg saja.

Kalau dulu pergelaran barongsai sering diiringi dua badut, Dai Ti Tou Fu atau disebut Bi Lek (dialek Hokkian), kini badut itu sudah bukan keharusan.

Kostum pun terkadang dimodifikasi dengan warna lebih beragam meski tetap tidak meninggalkan bentuk asal barongsai. Tetapi, sejauh ini memang belum terlihat barongsai yang mirip Barong Bali atau Sisingaan Jawa Barat.

Meski terjadi modifikasi dan Wong Fei Hung-isasi, tetap ada satu pakem yang dipegang dalam permainan barongsai. Setiap pertunjukan harus ada sebungkal sawi hijau (cai bing) yang diperebutkan. Menurut Wong Pak, keberadaan cai bing tidak bisa ditawar dalam pertunjukan barongsai.

Malah, agar perebutan cai bing lebih seru, dia mendatangkan tiang besi dari Cina untuk menggantungkan sayur di pucuk tiang. Tiang itu setinggi enam meter dan baru ada satu di Indonesia.

Fenomena barongsai memang menarik karena atraksi ini semakin warna-warni. Terlebih, barongsai kini telah banyak dimainkan anak-anak Indonesia, tidak terbatas etnis China. Akulturasi telah terjadi dalam kesenian barongsai.

Satu yang masih menjadi impian Wong Pak adalah barongsai bisa dipertandingkan di event nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) maupun kelas internasional seperti olimpiade. “Kami berharap suatu hari barongsai bisa dipertandingkan,” kata Wong Pak menutup pembicaraan.

/15 Januari 2006