JADILAH POHON-POHON KREATIVITAS

(sebuah catatan ulang tahun untuk inioke.com)
Kurnia Effendi *
Facebook, 31 Mei 2010

Penting bagi perkembangan sastra di Indonesia dengan mengawalinya dari yang terkecil. Dari tepi. Dari sebuah noktah. Namun kita percaya, hanya titik yang memiliki api semangat militan yang kelak akan mewarnai kesusatraan Indonesia. Kesanggupan itu, kemudian, kita sadari atas terbukanya hati sang senior dan paramuda, di ranah mana pun.

Tanggal 31 Mei 2010, Sanggar Sastra Remaja Pelangi asuhan Yusrizal KW di Padang akan merayakan ulang tahun pertama website inioke.com. Sebuah situs yang membekali diri dengan semangat sesuai paragraf pembuka saya. Siapa tak kenal penulis cerpen yang acap tampil di Kompas, yang disapa akrab dengan Kawe? Ia sahabat saya dan Gus tf. Dialah yang dengan rendah hati bersedia menjadi bagian tungku api kreatif kaum muda di Sumatera Barat.

Sejak tahun 1997 (walau saya mengenal Kawe jauh sebelum itu), saya sempat singgah di sanggarnya. Saat itu, tak lelahnya Kawe memburu (bukan menunggu) dan meladeni dengan sabar anak-anak pesisir yang jauh untuk belajar menulis. Apakah menulis itu penting? Sampai-sampai Kawe menyediakan waktu begitu banyak bagi mereka yang menurutnya memiliki bakat namun tak tersentuh pendidikan. Saya jawab saja: ya!

Menulis itu satu bentuk ekspresi menyampaikan hasrat dan gagasan. Sebelum mendapati bentuknya, ia sudah merupakan karya, sekalipun seringkas grafiti di jalan-jalan. Ada proses psikologis yang tak disadari sang penulis namun terbaca motifnya oleh sebagian yang pintar. Kawe agaknya sangat sensitif terhadap hal itu. Ia menyerahkan seutuhnya rasa ingin mengembangkan bakat-bakat kuncup itu. Saya sempat ‘mencuri’ metodenya untuk melatih teman-teman yang berminat menulis di Jakarta.

Kemudian hadir Nita Indrawati, sahabat yang juga saya kenal sejak ia menjadi wartawan majalah Kartini dan jumpa di Bukittinggi. Lalu Abel Tasman, penulis yang tekun dan memiliki semangat berbagi. Pada ketiga pundak itu, rasanya, Sanggar Pelangi melangkah dengan percaya diri pada sebuah profesi yang mungkin masih diragukan untuk menjadi kaya materi. Ah, di kepala mereka, saya yakin bukan materi yang menjadi junjungan, tetapi intelektualitas yang dibarengi dengan kepekaan rasa terhadap seni. Maka sekali lagi saya katakan, ini fenomena penting.

Mungkin dunia ini sudah berabad lalu runtuh jika tidak dijaga oleh pilar-pilar budaya. Hanya dengan kebun seni budaya, hati nurani manusia terasah. Dengan kesadaran tinggi, sang akal budi menjaga keharmonisan hidup melalui keindahan yang (kita tahu) menjadi inti penciptaan Tuhan atas alam semesta. Di sana ada cinta yang terus menggelora.

Percaya atau tidak, ketekunan dan keseriusan belajar, tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri. Percaya atau tidak, kebersamaan dalam komunitas, telah membangun rasa percaya diri yang afirmatif, saling menguatkan. Satu-dua mungkin terpelanting oleh ego sendiri. Sepanjang kepemimpinan meletakkan diri pada keteladanan, maka demokrasi tumbuh dan suara sekecil apa pun akan didengar. Tentu Kawe bukan menganggap dirinya sebagai dewa dalam sanggar itu, karena sesungguhnya ia selalu memberi ruang yang leluasa bagi mekarnya kreativitas. Tumbuh-kembang bersama-sama, intinya itu.

Inioke.com adalah sebuah wadah yang dilahirkan oleh rahim bunda Sanggar Sastra Remaja Pelangi, juga pasti atas inisiatif sehat dari mereka lebih mendahulukan kepentingan bersama. Pada situs itu, setiap anggota dibolehkan (atau malah diwajibkan) untuk menulis mengenai apa pun yang positif. Sastra dan jurnalistik, dua hal yang kemudian menjadi nafas belanga itu. Saling merebus untuk mematangkan diri.

Pada tahun pertama yang telah berlalu, banyak hal disampaikan di sana. Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah anggota aktif di sanggar itu tidak semata bicara di panggung regional. Ini yang saya maksud pada alinea pembuka. Sesungguhnya, dari tepi kita sanggup membangun ‘negeri’. Dari tlatah lokal Sumatera Barat, atau tepatnya Padang, gaung suara mereka terdengar ke antero Nusantara melalui karya. Mau tahu apa saja yang telah mereka (sebagai generasi muda) capai?

Sebut saja Maghriza Novita Syahti. Dua tahun berturut-turut menjuarai Lomba Menulis Cerpen PT. Rohto Laboratories (2008 dan 2009), dan Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Balai Bahasa Padang (2009). Ia seorang cerpenis yang karyanya tersebar di Padang Ekspres, Majalah Story, dan P’Mails (Keluarga Padang Ekspres).

Amelia Asmi juga demikian. Tahun 2008 dan 2009 menjuarai Lomba Cerpen PT. Rohto Laboratories untuk dua kategori peserta. Ia juga seorang cerpenis. Seperti halnya Ria Febrina dengan prestasi kejuaraan penulisan Artikel “Museum Adtyawarman” (2008), artikel “Pariwisata” yang diselenggarakan koran Singgalang. (2008), juga juara I Lomba Menulis Feature yang diselenggarakan FBSS Universitas Indonesia (2008), Juara II Lomba Menulis Cerpen Balai Bahasa Padang (2009). Selain menulis prosa, Ria juga menulis puisi dan masuk dalam antologi “Dua Episode Pacar Merah” (Dewan Kesenian Sumatera Barat, 2006).

Bagaimana dengan Nilna Rahmi Isna, Dodi Prananda, Lily Devani, Irma Ganesia, Dini Qamatopa, Samsiarni, dan David Pratama? Mereka meramaikan pelbagai kompetisi penulisan tingkat nasional dan daerah, pun pada festival yang berskala internasional seperti “Student Essay Competition Industrial Festival 2010?, yang diselenggarakan Politeknik Unand, dan David meraih salah satu hadiahnya. Mereka juga menulis di media massa daerah maupun pusat.

Mengapa daftar itu didominasi perempuan? Pertanyaan ini tak bisa saya jawab tanpa melakukan riset. Namun yang membanggakan, hanya dari sebuah rumah kontrakan yang menjadi sekolah sederhana, ada pencerahan luar biasa. Haqul yaqin, tanpa “guru-guru” yang memiliki integritas tinggi dan kekayaan welas asih, mustahil mampu ditanamkan sebuah pohon rindang dengan reranting kreativitas dan loyalitas.

Terakhir saya mampir ke Sanggar Sastra Remaja Pelangi pada bulan Februari 2010, bersama Renny Yulia, seorang aniters dari Lubuk Basung, (penulis cerpen “Janji” di Kompas). Melihat sikap dan perkembangan mereka yang selalu antusias mereguk ilmu, membuat semangat saya tak padam dalam mencintai sastra. Ada baiknya, mereka yang sudah menjadi pohon-pohon kecil, kelak melepaskan diri dan membangun padepokan-padepokan alit yang terus melahirkan calon penulis baru Indonesia. Menggarap “kebun” baru.

Kini merupakan waktu yang baik untuk mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para sahabat di Sanggar Pelangi. Semoga ulang tahun inioke.com menjadi titik pijak demi menggapai agungnya karya sastra namun tetap merendahkan hati agar akar-akarnya kian merasuk bumi terdalam khazanah kebijakan. Kita tak perlu menggilai nama besar, tetapi sangat diharapkan untuk menulis karya besar.

Salam hangat dari Jakarta. Atas nama pribadi. Atas nama Asosiasi Penulis Cerita (ANITA). Atas nama Kedailalang. Dan atas nama Komunitas Sastra Indonesia.

*) Penulis Memoar Hee Ah Lee, Four Fingered Pianist
Dijumput dari: http://komunitassastra.wordpress.com/tag/sanggar-sastra-remaja-pelangi/