Tag Archives: Kurnia Effendi

JADILAH POHON-POHON KREATIVITAS

(sebuah catatan ulang tahun untuk inioke.com)
Kurnia Effendi *
Facebook, 31 Mei 2010

Penting bagi perkembangan sastra di Indonesia dengan mengawalinya dari yang terkecil. Dari tepi. Dari sebuah noktah. Namun kita percaya, hanya titik yang memiliki api semangat militan yang kelak akan mewarnai kesusatraan Indonesia. Kesanggupan itu, kemudian, kita sadari atas terbukanya hati sang senior dan paramuda, di ranah mana pun.

MENUJU INSTITUSI APRESIASI SASTRA, MUNGKINKAH?

Kurnia Effendi
http://kepakcamar.multiply.com/

Sebuah media maya yang kemudian membangun dunia maya, menurut saya hampir menjadi kehidupan lapis kedua. Berjalan paralel dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Mengapa demikian ? Ada sejumlah kegiatan komunikasi yang begitu intens, bahkan sepertinya kita benar-benar mendengar suara “di sana” yang sedang bercakap-cakap dengan kita melalui tulisan. Ada nada riang, bersemangat, sendu, sinis, meledak-ledak, nylekit, dan banyak lagi, yang kia tangkap dari kalimat-kalimat itu.

ANAK ARLOJI TERHARU DI BALAI SOEDJATMOKO SOLO

Kurnia Effendi
http://pawonsastra.blogspot.com/

Jika ada yang bertanya kepada saya: “Bagaimana perasaanmu saat Anak Arloji dibincang teman-teman penggiat sastra di Solo?” – akan saya jawab: “Itulah malam paling mengharukan untuk awal perjalanan buku.”

Syahdan, saya, Endah, dan Raya berniat membesuk sahabat kami, Sanie B Kuncoro di Solo yang sakit dan baru menjalani operasi. Disepakati akan terbang pada Sabtu pagi, 26 Maret.

BELAJAR MENULIS DARI KURNIA EFFENDI

Sutejo
Ponorogo Pos

Dalam laporan gagas utama Mata Baca, edisi September 2005 (hal. 10-11), diungkapkan beberapa pengalaman yang kemudian menjadi tips menarik seorang cerpenis muda Indonesia yang sangat handal. Ia adalah Kurnia Effendi, yang lahir di Tegal Jawa Tengah 20 Oktober 1960. Berikut merupakan tips menarik itu:

Randu Rekah

Kurnia Effendi
http://www.suarakarya-online.com/

“AKU akan melamarmu di musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin,” kata Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih lumpur yang mengering di atas matakaki.