KAJIAN ISLAM: BELAJAR DARI GUS DUR (bagian I – III)

Sutejo

Untuk menggairahkan kembali spiritualitas umat NU –sesuai dengan pesan tema panitia— maka dapat dieksplorasikan sebagai berikut. Pertama, jika yang dijadikan “patokan” adalah Gus Dur, maka penting kita berkaca pengembangan diri ala Gus Dur, dan mungkin berikut penerus organisasinya, KH. Hasyim Muzadi. Karena itu, mari belajar kepada Gus Dur. Kedua, perlunya mengeksplorasi tantangan yang menghadang di kalangan umat sebagai refleksi penyadaran diri bukan untuk mencari kesalahan apalagi membuka aib diri. Ketiga, perlunya upaya diri untuk membangkitkan umat berdasar pada peluang diri (dan organisasi) yang potensial.

/1/
Berkaca pada Sosok Gus Dur

Kita seringkali bangga kepada sosok Gus Dur tetapi nyaris tak mencoba memahami bagaimanakah Gus Dur bergerak dan membangun diri. Bahkan, ketika Gus Dur menjadi Presiden, harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, pada suatu hari menggelar diskusi dengan tema Memahami Gus Dur (25 April 2000). Diskusi itu, semacam upaya nasional dalam rangka ta’aruf dengan Presidennya. Sementara, kita jauh dari Jakarta “tidak pernah” belajar ta’aruf dengan mantan Tanfidziyah PBNU, terlebih ketika sudah menjadi presiden. Dengan tanpa ta’aruf demikian, bisa jadi, kita semakin tidak “mengenal” Gus Dur. Ta’aruf ala The Jakarta Post, dikritisi oleh Prof. Dr. Arief Budiman, Guru Besar Universitas Melbourne di harian Tempo, edisi 21 Mei 2000.

Gus Dur, tulis Arief Budiman, adalah kombinasi dari tiga faktor yang dalam sejarah jarang terjadi. Gus Dur adalah orang yang cerdas dan maju pemikirannya, ia adalah seorang pemimpin Islam yang disegani, dan dia berhasil menjadi presiden. Sebagai orang yang memiliki pandangan maju, Gus Dur mempunyai komitmen yang tinggi terhadap demokrasi dan pluralisme. Sebagai seorang demokrat, Gus Dur percaya bahwa orang berhak punya pendapat yang berlainan. Inilah yang menyebabkan dia tetap mau mencabut TAP MPRS XXV/1966, yang melarang ajaran Marxisme-Lennisme. Bagi Gus Dur, pelarangan ini tidak demokratis. Sedangkan, sebagai seorang pluralis, dia percaya benar bahwa minoritas punya hak hidup. Gus Dur, melindungi minoritas Kristen dan Cina dari tekanan mayoritas Islam dan pribumi (2000:78).

Refleksi kritis untuk mengantarkan Gus Dur “sukses” memimpin negara ini, kata Prof. Dr. Arief Budiman karenanya, (logika dari manusia memiliki kesalahan) maka ia melontarkan pentingnya peran orang-orang yang dekat dan dihormati oleh Gus Dur, seperti kiai senior dari kalangan pesantren NU atau tokoh seperti Nurcholish Madjid, harus melakukan inisiatif untuk menyadarkan Gus Dur dari tindakan-tindakannya yang salah. Sedangkan orang yang berada di luarnya, harus senantiasa melakukan kritik terhadap segala tindakan yang salah. Misalnya, dalam pemecatan Laksamana Sukardi dan Yusuf Kalla, dan sikap Gus Dur dalam persoalan Banser-Jawa Pos. Citra Gus Dur karenanya, sangat dirugikan oleh peristiwa-peristiwa ini (2000:79).

Dan ini berbeda misalnya dengan kasus Atambua. Citra Gus Dur di internasional misalnya, sama sekali tidak terusik oleh kasus Atambua. Bahkan Kompas melaporkan begini: Presiden Abdurrahman Wahid Jadi Soekarno di AS (19/9/2000). Meski, Gus Dur terkulai mendengar berita itu, dalam perjalanannya ke New York (4-8/9/2000) dan Baltimore (8-11/9/2000), nama Gus Dur tetap berkibar. Setelah meninggalkan markas besar PBB misalnya, (Kamis tengah hari), Gus Dur berceramah di Hotel Hilton New York di dua tempat terpisah bersama pakar ilmu pengetahuan dan agama dari berbagai penjuru dunia. Moderator forum, Jonathan Granoff (tokoh dari Lembaga Keamanan Global AS), berkali-kali menyebutnya dengan “Orang Besar dari Asia.” Sampai-sampai Christianto Wibisono, Presiden Indowatch (Indonesian Networking International) yang kini tinggal di Washington dan Arbi Sanit (pengamat politik dari UI yang ikut rombongan Presiden), melihat Gus Dur saat ini seperti Soekarno di era 1960-an. Populer di forum internasional dan diterima kontroversial di Tanah Air (ha. 8).

/2/
Belajar Paham Gus Dur dalam Pengakuan

Berbicara tentang Gus Dur memang cukup susah. Pengantar awal, uapaya membaca Gus Dur (tulisan ini), sejak awal sudah menunjukkan kerumitan itu. Karena itu, tanpa wacana yang utuh, nyaris, kita tidak dapat memahaminya secara komprehensif. Bukankah Gus Dur itu seniman, kolumnis, budayawan, cendekiawan, kyai, dan tokoh internasional. Sebagai seniman, ia pernah dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), 1983-1985; sekaligus pernah juga menjadi Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI), dua kali pada tahun 1986.

Sebagai kolumnis dan penulis, Gus Dur banyak menulis di berbagai media: Tempo, Kompas, Media Indonesia, dll. Kolomnya di Tempo misalnya, telah dibukukan menjadi tiga buku: (i) Kyai Nyentrik Membela Pemerintah (LKIS Yogyakarta: 1997); (ii) Tuhan Tidak Perlu Dibela (LKIS Yogyakarta: 1999); dan Melawan Melalui Lelucon (Pustaka Tempo:2000). Di samping itu, masih banyak tulisan yang sudah dibukukan. Tulisan-tulisannya tentang pondok pesantren dibukukan oleh Lapennas dengan Bunga Rampai Pesantren (1978), pemikirannya tentang keislaman dibukukan dengan judul Muslim di Tengah Pergumulan (1981). Kontroversi pemikiran dan pernyataan Gus Dur dibukukan juga oleh RMI Jawa Timur dengan judul Kiai Menggugat Gus Dur Menjawab, Sebuah Pergumulan Wacana dan Transformasi (1989). Sedangkan, tulisan Gus Dur yang termuat di Prisma diterbitkan dengan judul Prisma Pemikiran Gus Dur (LKIS Yogyakarta:1999). Tulisannya yang di Kompas, diterbitkan dengan judul Gus Dur Menjawab Tantangan Zaman (Kompas, 1999). Tulisannya yang di Media Indonesia diterbitkan dengan judul Islam, Negara, dan Demokrasi: Himpunan Percikan Perenungan Gus Dur (Erlangga: 1999).

Sebagai budayawan dan cendekiawan dia banyak diundang untuk berceramah di berbagai even nasional dan internasional. Misalnya, di Sri Langka Chiangmai, Thailand, pada tanggal 23-27/2/1989, Gus Dur menjadi presenter dengan makalah berjudul “The Future of Constitutionalism and the Nature of the Polity: the Case of Indonesian’s 1945 Constitution” dalam acara Asian Regional Institute of American Council of Learned Societies, Comparative Constitutionalism Project. Kemudian di Konigswinter/Bonn, Jerman dengan makalah berjudul: “Culture Oriented Development Policies and Program: The Case of Pesantren in Indonesia”; disampaikan dalam forum The International Conference tentang “Interactions of Development and Culture: from Dilemmas to Opportunities.” diselenggarakan oleh Fredrich Naumann Foundation dan International University Foundation, Konigswinter/Bonn, 29 Juni-3 Juli 1987.

Kemudian di Berlin, dengan makalah berjudul “Principles of Pesantren Education”, disampaikan pada The Pesantren Education Seminar yang diselenggarakan oleh TU Berlin dan FNS, pada 9-12 Juli 1987. Kemudian di Monash University, Australia pada tanggal 17-20 Desember 1992, dengan makalah berjudul “Islam, Politics and Democracy in Indonesia in the 1950s to 1990s”, disampaikan pada konferensi tentang Democracy in Indonesia yang diselenggarakan oleh CSEAS, Monash.

Juga di Seoul, tanggal 25 Agustus 1990 dengan judul makalah “Islam and Pancasila: Development of Religious Political Doctrine in Indonesia.” yang sampaikan pada Dialogue Group tentang Religious Beliefs: The Transmission and Development of Doctrine yang diadakan oleh The Assembly of the World’s Religions. Di Penang Malasyia, 22-25 Nopember 1980, juga pernah diundang untuk menyampaikan makalah dalam diskusi The Study Days on ‘ASEAN Development Processes and Their Effects on People’ yang diselenggarakan oleh The Asia Partnership for Human Development (APHD) dengan makalah berjudul “Development By Developing Ourselves”. Dan ratusan undangan lain di even nasional dan internasional.

Sebagai kiai, Gus Dur dikenal dengan “kiai Beling”, “kiai Nyentrik”, maupun “kiai Kontroversial”. Bahkan, Gus Dur sendiri pernah “mufarokah” dengan sesepuhnya: KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) yang ketika itu, dikenal dekat dengan keluarga Cendana.

Sedangkan, sebagai tokoh internasional dan nasional, Gus Dur tidak perlu diragukan lagi. Dia pernah menjadi Konsultan Departmen Koperasi, Departemen Agama, dan Departemen Hankam. Pada tahun 1980-1983, Gus Dur pernah menjadi Anggota Pertimbangan Agha Khan Award untuk arsitektur Khan. Tahun 1993 (31 Agustus), Gus Dur memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay Award dari Philipina, di Manila. Gus Dur juga menjadi Anggota Anggota Komisi Agama-Agama Ibrahimi di Madrid, Spanyol. Sejak 1994, Gus Dur menjadi Penasihat The International Dialogue Foundation Project on Perspective Studies and Seculer Law di Den Haag. Gus Dur menjadi Anggota Dewan Internasional Perez Center for Peace (PCP) atau Institut Shimon Perez untuk Perdamaian di Tel Aviv, Israel. Dan dia pun, pernah menjadi Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), periode 1994-1999. Dan setumpuk lagi jabatan organisasi yang pernah diembannya.

Tak mengherankan jika, Gus Dur pernah dinobatkan sebagai Tokoh (paling populer) oleh Pikiran Rakyat (1989), Tokoh tahun 1990 versi Majalah Editor, dan Tokoh Terpopuler 1999 versi Harian Umum Kompas.

/3/
Gus Dur dalam Pemahaman

Sampai saat ini, masih saja banyak kalangan yang meragukan Gus Dur. Ada yang bilang, bahwa Gus Dur kuliah S1 saja tidak tamat. Padahal, Gus Dur di Baghdad sudah memperoleh gelar Lc (setaraf S1). Kemudian, melanjutkan S2, dan sudah mengajukan judul tesis, tapi sial; pembimbing meninggal dan mencari penggantinya susah. Dalam buku Beyond the Symbols (Remaja Rosdakarya: Agustus 2000:20-21) terungkap, bahwa Gus Dur pernah ditawari belajar di sebuah universitas di Australia untuk memperoleh gelar Doktor. Kemudian berangkatlah ia dengan semangat yang menggebu. Semua promotor tidak sanggup. Para promotor, bahkan, menganggap Gus Dur tidak membutuhkan gelar itu. “Dia malah lebih pantas disuruh menguji kandidat Doktor.” begitulah kata Ghafar Rahman. Dan benar, beberapa disertasi calon Doktor dari Australia itu, justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing, dan kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.

Kalau hingga saat ini, Gus Dur memperoleh Gelar Doktor Honoris Causa dari beberapa perguruan tinggi Thailand, India, dan terakhir dari sebuah perguruan tertua di Perancis. Konon, dalam pelawatannya ke PBB dan Amerika di bulan September lalu, ia memperoleh penghargaan Global Leadership dari “dunia internasional”.

Nah, sekarang bagaimana dengan isu kontroversial yang sering lekat dengannya. Bahkan, beberapa waktu lalu sampai muncul “gugatan” terhadap Gus Dur pada sidang Tahunan MPR 2000. Termasuk permintaan maaf Gus Dur merupakan salah satu syarat yang diajukan DPR adalah perlunya pengendalian dan penghentian pernyataan-pernyataan kontroversialnya. Padahal, Gus Dur sejak awal memang begitu: “kontrovrsial” bagi orang-orang yang tidak bisa membacanya.

Tak mengherankan, jika mereka yang paham akan “kontroversialitas” Gus Dur mencoba untuk menjembatani. Limas Sutanto bilang, bahwa pernyataan Gus Dur adalah semacam “psikoterapi”, karena masyarakat kita yang sudah “sakit jiwa”. Politik “jalan-jalan” Gus Dur ke luar negeri kata Ben Perkasa Drajat, adalah “politik arus balik” yang berbeda dengan pola sebelumnya. Sedang, pembukaan hubungan dagang dengan Israel sesungguhnya adalah sebuah “diplomasi karambol” yang diterapkan Gus Dur untuk memperoleh “banyak efek” balikan: investasi Yahudi di tingkat internasional ke Indonesia di satu sisi, dan di sisi lain, “merangsang” negara “anti Yahudi” untuk ikut berlomba masuk ke Indonesia.

Demikian juga, isu intervensi Presiden terhadap Syahril Sabirin, yang sesungguhnya adalah “pola solusi” yang senantiasa diterapkan Gus Dur: win-win solution. Agar tak berpengaruh banyap terhadap iklim pasar Indonesia. Inilah yang paling populer setelah “kasus Laksamana-Kalla” dan rencana “pengampunan Pak Harto” yang dinilai “sebagai pengaburan hukum”. Terakhir, kasus pemberhentian dengan hormat Rusdihardjo sebagai Kepala Polri, yang dinilai Gus Dur tidak melaksanakan perintah “pelucutan terhadap pengawal Soeharto dan menangkap Tommy”.

Kalau Dr. Roem Rowi pada hari Minggu 24 September 2000, di tengah pengajian pagi di Universitas Muhammadiyah, dengan terang dan jelas “membela” Gus Dur maka sesungguhnya adalah persoalan “hakikat pemahaman”. Mengapa? Karena, banyak masyarakat kita yang “buru-buru marah”, “buru-buru kaget”. Karena itu, yang penting dipahami kalau membaca/mendengar sesuatu: lihat siapa yang bicara kemudian apa yang disampaikan. (Ini semakin menjadi upaya menantang untuk mengerti Gus Dur lebih jauh). Celakanya, kita sendiri: seringkali tidak mengerti dan memahaminya.

Memandang dengan satu sisi saja, barangkali, yang menyebabkannya menjadi kontroversi. “Saya kira, kontroversi tidaknya itu kan (bergantung) pada siapa yang mengatakannya.” ujar Frans Magnes Suseno –seorang filosof dan rohaniawan Kristiani– (lihat Hak Gus Dur untuk Nyleneh, 2000:51).

Dalam “film sejarah” Ke-Gus Dur-an, kenylenehan, inkonsistensi, dan apa pun namanya; pernah dicoba diterjemahkan oleh Al-Zastrouw Ng dalam Gus Dur Siapa Sih Sampeyan? (1999) yang bilang begini: Gus Dur sebagai penumpang kapal yang dinamis yang selalu menyelamatkan kapal dari bahaya tenggelam. Bila kapal oleng ke kanan maka Gus Dur dengan gesit akan lari ke kiri; sebaliknya, jika kapal oleng ke kiri dan semua penumpang mengarah ke kiri maka Gus Dur akan cepat lari ke kanan, meninggalkan orang-orang yang akan menuju ke kanan. Agar kapal tidak tenggelam. Inkonsistensi itu, plin-plan itu, sesungguhnya adalah konsistensi Gus Dur pada prinsip, gagasan, dan bangsa ini, begitulah kata Al-Zastrouw.

Kalau Anda membaca Hak Gus Dur untuk Nyleneh (Juli, 2000), maka akan sampailah pemahaman itu, tentang asbabun nuzul kenylenehannya, ide-ide genialnya, dalam memposisikan Islam dan negara, NU dan negara. Bagaimana Gus Dur dengan tegas, memposisikan pada pilihan bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah sesuatu yang sudah final (1984), kemudian diikuti dengan pribumisasi Islam yang mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi (1987), yang menggiring Gus Dur ke pengadilan 200 kiai, sampai juga kehadiran Gus Dur dalam Sidang Raya XI PGI yang mengejutkan banyak kalangan.

Ketika muncul era ICMI-sasi, Gus Dur keras menolak. Bahkan, bersama Bondan Gunawan Cs, Gus Dur mendirikan Fordem sebagai “tandingannya”. Kedekatannya dengan Jenderal Benny Murdanny, pembelaannya terhadap Shalman Rusdie sang “Satanic Verses”, dan Arswendo Atmowiloto “Monitor”, hingga muhibahnya ke Israel bersama Djohan Effendi dan Muhammad Habib Chirzin. Sampai langkah-langkah “kudanya” di jelang reformasi menjadikannya, dua tiga langkah meninggalkan rival-rival politiknya.

Dan kini, “realitas kontroversial” itu dijadikan asumsi politik oleh “para peselancar politik” untuk berliuk di samudera politik Indonesia yang seperti laut lepas. Dalam bahasa Hendardi, “era ini”, disebutnya dengan “proses pencucian baju kotor” Golkar, yang demikian getol melakukan “gerakan interpelasi” beberapa waktu lalu, berikutnya barangkali “gerakan pernyataan pendapat”.

Kontroversialitas Gus Dur yang pernah bilang bahwa pelaku kerusuhan di Aceh adalah Islam kanan, misalnya, yang menentang arus publik yang mengatakan bahwa ABRI berada di belakang kerusuhan Aceh di di satu sisi, dan pihak GAM di sisi yang lain. Dengan arif, Dr. Moersidin Moekhlas (dosen Unsyiah Aceh) membenarkannya, sebagai upaya pancingan Gus Dur agar ulama Aceh “bangkit” untuk berperan.

Seorang T.A. Harahap –seorang pendeta di Gereja Huria Kristen Batak Protestan– bilang, bahwa Gus Dur itu seorang punakawan sejati, sebuah simbol penjelmaan nurani rakyat kecil. Dawam Rahardjo pun komentar, bahwa Gus Dur adalah seorang cendekiawan, sekaligus linguis macam Dr. Nono Anwar Makarim atau Dr. Nurcholis Madjid. Sebagai modernis, kata Kacung Marijan, Gus Dur juga dinilai banyak orang yang sangat toleran terhadap agami samawi. Bahkan, terhadap kebatinan sekali pun ia mencoba untuk mengerti, begitulah kata Soetjipto Wirasardjono. Di mata, KH. Mustofa Bisri, sosok Gus Dur adalah sosok yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap negeri dan bangsanya. Fachri Ali kemudian bilang, Gus Dur sebagai sosok yang sangat longgar dalam berpikir. “Andaikata Wahid, tidak lahir di Indonesia atau negara-negara mayoritas beragama Islam, kelonggaran berpikirnya itu pastilah mengantarkannya kepada sifat-sifat Ivan Illich atau Paulo Freire: postulat-postulat agama di dalam berpikir. Wahid, dalam batas-batas tertentu, adalah agamawan dan pemikir yang paling liberal di Indonesia, yang menurut saya, belum tertandingi oleh Nurcholish Madjid sekali pun.”

Tetapi ada juga yang menilai, bahwa potret Gus Dur yang “berladunni” sebagai sesuatu yang terlalu Wah! Begitulah, Mahrus Irsyam bilang. Bahkan ia, suka nabrak-nabrak dalam bahasa Murdiono.
***