Memoar Sang Pejuang Perdamaian

Buku: Nonviolent Soldier of Islam, Biografi Badshah Khan
Pengarang: Eknath Easwaran
Penerbit: Bunyan, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2013
Halaman: xx + 332 hlm.
Peresensi: Supriyadi *
Lampung Post, 12 Mei 2013

BARANGKALI semua orang hanya mengenal Mahatma Gandhi jika disebutkan tokoh perdamaian dari tanah India. Memang benar, Gandhi dan ajaran antikekerasannya telah banyak memengaruhi perilaku hidup umat manusia, bahkan berpengaruh pula pada gerakan politik dalam menentang imperialisme Inggris di India pada masa lalu.

Namun demikian, selain Gandhi yang tegas memperjuangkan perdamaian dan antikekerasan, ada juga seorang yang berjasa dalam hal tersebut. Dia adalah Badshah Khan, seorang Muslim saleh yang juga mempraktikkan ajaran Gandhi tentang perdamaian dan antikekerasan. Pengaruhnya juga besar, bahkan dia juga dijuluki sebagai orang suci.

Eknath Easwaran dalam bukunya yang berjudul Nonviolent of Islam; Biografi Badshah Khan menguraikan biografi tokoh Islam yang memperjuangkan perdamaian dengan gerakan antikekerasan tersebut. Badshah Khan yang memiliki nama Khan Abdul Ghaffar Khan tersebut lahir dan besar di keluarga berdarah Pathan di perbatasan Barat Laut Pakistan dan Afganistan pada 1890.

Khan adalah seorang yang memiliki fisik besar dan tinggi. Akan tetapi, sinar wajahnya dan aura yang dipancarkannya sangat berlainan dengan kondisi fisik tersebut. Dia adalah seorang yang lembut, bijak, dan berpemikiran antikekerasan. Misi perdamaian yang diusungnya pun telah membuat babak baru bagi gerakan umat Islam dan masyarakat India kala itu.

Setelah sekian lama Inggris menduduki India, memasang pasukan militer di berbagai daerah di India, dan menempati pos-pos penting dalam rangka penjajahan, rakyat India sangat tertekan dan hidup sengsara. Ibarat cacing yang diinjak, banyak pemberontakan terjadi untuk melawan kolonialisme Inggris di tanah India tersebut.

Dalam kondisi yang demikian, Mahatma Gandhi muncul sebagai sosok yang berpengaruh untuk mewujudkan kemerdekaan melalui jalan perdamaian dan antikekerasan. Gandhi telah menawan imajinasi rakyat India dengan tantangan yang belum pernah ada sebelumnya; memaksa Inggris “meninggalkan India” dan menyaksikan kepergian mereka sebagai teman. Peristiwa tersebut adalah satu-satunya penggulingan kekuasaan imperialisme tanpa kekerasan yang tercatat dalam sejarah, dan keberhasilannya menjadi pusat perhatian seluruh dunia pada masa kini (hlm. 2).

Namun demikian, gerakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh Gandhi. Badshah Khan yang dikenal sebagai seseorang yang suci dan mampu mempraktikkan berbagai ajaran Gandhi tersebut juga menyita perhatian umat manusia. Badshah Khan juga tidak kalah dalam menggerakkan masyarakat India dalam menentang kolonialisme-imperialisme Inggris di India melalui jalur antikekerasan.

Khan telah menyulitkan Inggris dan mengejutkan rakyat India dengan pembentukan pasukan seratus ribu prajurit antikekerasan yang berasal dari salah satu bangsa yang paling kental dengan kekerasan di dunia, kaum Pathan. Penduduk-penduduk desa di Provinsi Perbatasan Barat Laut menganggapnya orang suci dan memanggilnya Badshah Khan “raja para khan”. Di seluruh India, dia dikenal sebagai Gandhi dari Perbatasan, karena dari semua murid Gandhi, dialah yang bisa menjadi cermin terbaik keutuhan ajaran Gandhi (hlm. 3).

Ketika puluhan ribu orang dari bangsanya binasa di tangan kekejaman kolonialisme Inggris, Khan tidak sekalipun tergerak untuk membalasnya dengan mengangkat senjata. Hal tersebut memang terkesan sangat ironis. Bahkan, Khan juga mengampanyekan gerakan perdamaian dari desa yang satu ke desa yang lain selama sisa hidupnya.

Perjalanan Khan dari desa ke desa tersebut hampir tidak pernah berhenti, dan bahkan dipenuhi banyak kesulitan. Dalam dua kesempatan, dia nyaris dibunuh. Penolakan muncul tidak hanya dari pemerintah Inggris dan para mullah, tetapi juga dari para khan yang kaya yang melihat reformasi sebagai ancaman terhadap kepentingan mereka. Inggris dengan saksama melindungi hak-hak istimewa orang-orang semacam ini dan menggunakan hak-hak istimewa itu sebagai sarana untuk mendongkel keresahan yang tengah merebak. Khan benar-benar beradap pada posisi serbasulit (hlm. 173).

Namun demikian, Khan tetap memegang komitmennya untuk mencerahkan budi dan pemikiran masyarakat India. Meskipun ditentang Inggris dan beberapa kali keluar-masuk penjara, Khan tetap berada pada jalur untuk memperjuangkan perdamaian dan gerakan antikekerasan. Lebih dari itu, Khan juga sangat religius dalam kesehariannya.

Karena perjuangan Khan yang terus menerus tersebut, pengaruhnya pun muncul dan tampak nyata. Masyarakat Pathan yang semula merupakan sebuah suku yang penuh dendam, tanpa hati nurani, dan penuh dengan kekerasan justru diubah oleh Khan. Pengaruh Khan pada masyarakat ini adalah bahwa ketika kaum Muslim antikekerasan kaum Pathan bergabung dalam “pasukan Tuhan” bersumpah untuk menyerahkan nyawa mereka atas nama kemerdekaan, tanpa melakukan perlawanan (hlm. 261).

Sungguh Badshah Khan telah berhasil menanamkan ideologi antikekerasannya di masyarakat Pathan dan mengubah karakter kaum Pathan 180 derajat. Perjuangan tersebut tidak dilakukannya dengan mudah, melainkan dengan perjuangan secara intens dan terus menerus tanpa mengenal kata lelah. Begitulah yang dilakukan oleh seorang Badshah Khan, seorang Muslim saleh yang berhasil memberikan warna antikekerasan dan perdamaian.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul Nonviolent Soldier of Islam; Biografi Badshah Khan ini, pembaca diajak untuk menyelami memoar seorang pencerah dengan gerakan antikekerasan untuk mewujudkan perdamaian dari Pathan. Badshah Khan merupakan tokoh inspiratif yang berpengaruh, tidak hanya bagi kaum Pathan, tetapi hendaknya juga bisa diteladani oleh umat manusia sepanjang masa untuk menciptakan perdamaina dunia, kehidupan tanpa kekerasan.

*) Supriyadi, anggota Dewan Isyrafi Yasalma, Yogyakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/buku-memoar-sang-pejuang-perdamaian.html