Buah Hatiku, Sumber Inspirasiku

Nafsul Latifah *

Setiap insan dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia, tentu mendamba kedamaian, kesejahteraan, saling berdamping serta berpasang-pasangan. Pabila sudah tiba waktunya, keduanya mengikat janji bertalian suci demi membentuk keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Dari awal kebersamaannya selalu merindu sang buah hati, yang kan menambah keharmonisan.

Kehadiran sang anak dalam keluarga tentu selalu dinanti, itu pengharapan, berkah, rahmat, karunia juga amanah dari Allah SWT kepada kita, yang harus disyukuri dalam menempuh hayati. Suatu impian seorang istri, apabila dapat mengandung lalu melahirkan dan dipanggil “ibu“ oleh buah hatinya, dari hasil cinta kasih pernikahan.

Rasa syukur tak ternilai, kala Tuhan menganugerahi buah hati yang dapat mengisi lagi mewarnai kehidupan ini. Saat yang ditunggu pun tiba, terdengarlah tangisan bayi mungil nan cantik beralunan suara merdu menyejukkan hati, disambutlah penuh suka cita bahagia. Lengkap sudah kedamaian yang lama kunanti. Dengan belaian sayang, dan ketulusan oleh karunia-Nya, kuberi tanda kasih atas nama Futiya Nafi Husna. Semoga kelak menjadi wanita yang bermanfaat, baik bagi agama, orang tua, serta bangsa dan negara.

Hari-hari berganti minggu, minggu menuju bulan, bulan menanjaki tahun, kurawat dan kudidik buah hati, dengan penuh perhatian yang selalu tercurah demi kebahagiaannya. Sejak kanak-kanak, anakku tumbuh lincah dengan keceriaan pada kesehariannya, di dalam keluarga yang selalu melindungi, menjaganya. Aku besarkan anakku sambil bekerja di sebuah perusahaan yang bisa menopang ekonomi keluarga.

Karena tuntutan pekerjaan mengharap loyalitas, kedisiplinan tinggi, maka bergayuh di antara dua sisi; mendampingi buah hati yang merupakan kewajiban seorang ibu, dan kewajiban karyawan di sebuah perusahaan. Demi keselarasan keduanya, diusia kurang lebih 1½ tahun hingga 4½ tahun, aku percayakan di sebuah yayasan penitipan anak. Meski hanya 8 jam lamanya dalam sehari tak mendampinginya, terasa berat merindu.

Waktu terus melangkah dalam keceriaan dan gelak tawa seorang anak cantik nan lincah lagi periang menghiasi keluarga. Suatu hari buah hatiku menderita demam. Saya anggap biasa, dan diperiksakan ke dokter umum. Dokter menyatakan penyakit anakku demam biasa, lalu diberi resep obat untuk diminum teratur sesuai petunjuk. Dua hari berlalu, demamnya tetap tinggi belum juga turun. Aku jadi panik, cemas akan keadaan dan dengan apa seyogyanya dilakukan. Di pucuk perasaan bingung aku berdo’a, “Ya Allah, apa yang mesti aku perbuat, dengan melihat buah hatiku sakit demam, yang hanya diam tanpa mengucap kesakitan yang dirasa”.

Lantas ku bawa berobat ke dokter spesialis anak, yang lebih paham penyebab dideritanya. Atas hasil pemeriksaan, dokter mangatakan “Ananda harus dirawat dirumah sakit saat ini juga, karena ada suatu hal”. Lemas terasa seluruh tubuhku, bagai disambar petir siang hari. “Ya Allah, kenapa cobaan ini Kau berikan pada hambamu ini “. Sakit rasanya hati seorang ibu, melihat anaknya terbaring lemas dengan tusukkan jarum di tangannya, diserati oksigen pernafasannya. “Kalau boleh memohon kepada-Mu ya Allah, jangan Kau beri sakit pada buah hatiku, tapi biarlah aku ibunya, yang menggantikan deritanya“.

Aku senantiasa di sampingnya, seakan tak pernah beranjak meninggalkannya walau sesaat. Ku pandangi anakku, kubelai penuh sayang yang terlihat pucat tak berdaya. Hampir lima hari dalam perawatan rumah sakit di Ponorogo. Setiap jam kunjungan dokter aku berharap, semoga pemeriksaan hari itu terjadi perubahan positif. Lama menanti hasil pemeriksaan dengan kecemasan dan kesabaran, akhirnya aku dipanggil ke ruang dokter. Sangat besar harapanku akan kesembuhan sedari perkembangan kesehatan anakku.

Aku berjalan ke ruang dokter dengan pengharapan sambil berlinang air mata. Sangat lembut namun pasti, dokter menenangkan hatiku, “Ibu yang sabar ya, Ananda akan sembuh, tapi karena keterbatasan peralatan medis di rumah sakit ini, kami sarankan agar Ananda dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dengan peralatan lengkap. Karena Ananda menderita radang otak, yang harus segera dilakukan tindakan“.

Lemas seluruh tubuh ini ketika dokter mengatakan hal itu. Tanpa terasa deraian air mataku tercurah tak terbendung. Dan tanpa berucap sepatah-kata, aku hanya ingin menjerit, menangis sekuat hatiku,”Ya Allah…? Mengapa cobaan ini Kau berikan pada anakku, ya Allah”. Terasa sesak dada ini, seolah tak bisa menghela nafas lagi.

Namun, alunan kalimat toyyibah dari jiwaku, mendorongnya bangkit tegar menerima ini ikhlas, berserah kepada-Nya. Dengan teriring do’a sepenuh hati kepada-Nya, kuputuskan dirawat di rumah sakit di Madiun. Semangat yang sertai deraian air mata; kudekap buah hatiku penuh perhatian dalam mengiringi perjalanan, menuju kota Madiun.

Selama 7 hari anakku dirawat, terasa berat beban yang Allah beri. Sungguh cobaan ini, suatu penderitaan terbesar dalam hidupku. Keceriaan anakku kala beranjak usia 3 tahun, seakan hilang oleh sakit dideritanya. Dengan terganggunya motorik buah hatiku, penyembuhan dimulai dari nol lagi; proses berjalan, bergerak, dan bicara, hingga harus dilakukan berkesabaran dan terapi khusus oleh dokter spesialis. Ini mendorong ku selalu berusaha mencari cara, agar dapat membantu proses penyembuhan, selain dengan memberi perhatian khusus untuk membesarkan hatinya.

Makin berat derita yang kulalui, dalam rangkain kesembuhannya. Kadang berputus asa, berkeluh kesah, “Ya Allah, begitu beratnya ujian Kau berikan pada hamba-Mu. Kapankah cobaan ini berakhir? Ya Allah, inikah jalan-Mu sebagai penghubung menuju-Mu”. Itulah ujian kesabaran yang ku hadapi saat itu. Harus mampu tabah serta berkeyakinan, bahwa Allah tak kan memberi cobaan hambanya, melebihi batas kemampuannya. Alhamdulillah, berkat rahmat-nya, do’a yang selalu kupanjatkan hari ke hari, seakan nampak pada diri buah hatiku, meski masih dalam pengawasan dokter.

Menginjak usia 4½ tahun, anakku memasuki tahap sekolah jenjang pertama. Aku percayakan di sebuah Taman Kanak-Kanak di dekat tempatku bekerja. Perkembangan anakku dari waktu ke waktu dengan pengawasan guru TK dipaparkan, bahwa ia tergolong pendiam, dan tak seperti anak seusianya. Mendengar laporan gurunya, sebagai orang tua aku menjelaskan latar belakang kesehatannya, lalu akhirnya dimengerti.
***

Perjalanan di TK masih satu semester, anakku mulai bosan, dan menunjukkan kekesalannya, serta tiada keinginan berangkat sekolah. Selalu marah dengan emosional tinggi, menolak apabila ku ajak ke sekolah. Dengan kasih sayang serta kesabaran, ku dekati anakku dan coba selami yang jadi penyebab perubahannya.

Saat di pangkuanku, dalam belaian dekapan lembut, aku bertanya; “Nak, mengapa tak mau belajar dengan teman-teman di sekolah?” Setelah lama bersegala bujuk rayu, ujungnya bersuara lirih lembut, “Bunda, aku mau sekolah di TK Qurrota A’yun”. Ya Allah, ternyata ia merasakan kejenuhan belajar di TK, tempat aku menitipkannya mulai usia 1½ tahun.

Demi semangat pendidikan dan perkembangannya, aku berusaha memindahkan di TK Qurrota A’yun. Pihak sekolah belum dapat menerima, karena pelajaran baru berjalan setengah semester, namun bisa diterima di TK B nanti. Lega rasanya hati ini, mendengar jawaban tersebut. Setibanya di rumah, aku menjelaskan pada buah hatiku “Nafi, boleh pindah di TK Qurrota A’yun nanti, kalau sudah di TK B“. Dari sorot mata bening nan polosnya, terlihat keceriaan terpancar kembali di mukanya, setelah kujelaskan dan mendengarnya. Aku ikut lega bahagia, karena mulai ada kemauan masuk sekolah, walau di setiap harinya harus menjelaskan serta memberi semangat untuk pindah. Melihat kembalinya senyuman serta kemauan belajarnya, seakan terasa bagai panas setahun terhapus hujan sehari di hatiku, sangat sejuk nan nyaman sekali.

Usia 5½ tahun, aku pindahkan di TK B Qurrota A’yun atas kehendak buah hatiku sendiri. Sebenarnya, hati kecilku berat mengikuti kemauannya, karena keterbatasan kemampuannya. Namun oleh semangatnya yang kuat, dan demi perkembangan pendidikannya, aku hanya mampu memberi do’a pengharapan serta membimbing untuknya. Sebelum memasuki pendidikan di sekolah TK B Qurrota A’yun, aku juga menceritakan latar belakang kesehatan anakku. Hasil pengamatan guru pembimbing menjelaskan anakku dalam mengikuti pelajaran, dipandang bisa melanjutkan di Sekolah Dasar. “Alhamdulillah, Ya Allah, inikah jawaban dari kesabaran dan keraguanku terhadap perkembangan buah hatiku“. Itulah syukur kebahagiaan pertama terucap di atas perkembangannya, selama dia sembuh sedari sakit.

Usia 6½ tahun mulai memasuki Sekolah Dasar. Sebagai ibu yang tahu kemampuan serta perkembangan buah hati, sebisa mungkin mengarahkannya bersekolah di Sekolah Dasar umum, dengan berbagai pertimbangan. Tapi buah hatiku menangis dan memohon untuk bersekolah di SDIT Qurrota A’yun. Maka dengan Bismillah, aku melangkah mendaftarkan buah hatiku di sana. Semoga Allah meridhoi kemauan buah hatiku yang besar dan tak dapat dirubah.

Saat proses pendidikan kelas 1 mulai, aku langsung menemui wali kelas untuk menyampaikan riwayat kesehatan anakku, dengan harapan ada dukungan dan perhatian khusus atas kekurangannya. Namun timbul kurang percaya diri serta keraguan sebagai ibu, terhadap kamampuan anakku. Karena seiring perjalanan proses pembelajaran berlangsung, mendapati memo yang dituliskan guru pembimbing. Kalimatnya, “Mohon motivasi dan bimbingan belajar Ananda”.

Dari awal mendapatkan memo, kami berusaha memahaminya. Namun hal itu sering dituliskan di buku penghubung siswa, dengan tak menunjukkan problema yang terjadi terhadap buah hatiku, sehingga terasa keberatan aku baca tulisan tersebut, seakan tiada hal positif sedikitpun pada anakku. Tanpa tahu makna terkandung dari tulisan memo, lalu solusi bagaimana, dan apa yang harus kulakukan. Padahal seorang ibu, akan berusaha maksimal demi menyelesaikan masalah pendidikan untuk buah hatinya, tidak harus selalu dengan memo yang tiada penjelasan pasti.

Itulah awal keraguanku terhadap kemampuan anakku dalam menuntut ilmu, atas seringnya mendapati memo. Padahal hari-hariku sudah tercurahkan sepenuh perhatian, hanya untuk buah hatiku satu-satunya. Aku selalu mencari metode tepat, demi kemandiriannya dalam belajar. Bahkan pekerjaan kantor, terkadang berantakan olehnya.

Sebenarnya, sering aku utarakan riwayat kesehatan buah hatiku ke pihak sekolah, dan sempat aku bertanya kepada guru pembimbing, maksud memo tersebut. Jawabannya “Ananda tolong diberikan motifasi belajar, karena dengan pertanyaan lisan Ananda mampu menjawab, tetapi dalam hal membaca dan menulis tertinggal dengan teman di kelasnya“ tanpa ada solusi untuk mengatasi kondisinya.

Hal itu problema baru yang harus diselesaikan dan mencari solusi sendiri. Karena usaha terasa belum ada hasil, sempat ingin ambil putusan untuk memindahkan ke sekolah lain, sesuai kemampuannya. Sebagai ibu pernah berkata pada buah hatiku, untuk pindah sekolah lain saja. Tapi setelah anakku mendengarnya, dengan raut polos menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca meneteskan air mata, tak berucap sepatah-kata. Tak sampai hatiku katakan itu ke anakku, tapi demi masa depan pendidikannya, terpaksa ku katakan. Itu pun kulakukan semata tak dapat mengarahkan, atau memilih antara kemampuan, dan kemauan kuat buah hatiku untuk tetap di SDIT Qurrota A’yun.

Dengan penuh semangat dan kesedihan tersirat di wajahnya, anakku berucap “Bunda, aku janji mau belajar lebih rajin, tapi jangan dipindah sekolahku ya” Sakit hati ini, mendengar harapan buah hatiku. Sambil kudekap, kupeluk dengan kasih sayang, serasa menetes air mata dalam hatiku, “Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu, berilah jalan kemudahan bagi buah hatiku, untuk menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi. Serta bimbinglah, demi menggapai impiannya. Hanya kepada-Mu, hambamu ini berserah memohon pertolongan. Kabulkanlah do’a kami”…

Dalam hatiku bersuara, “Jangan jenuh dalam langkahmu, teruslah berlatih, dan tunjukkan kau hebat, bahkan lebih bisa menjadi indah bersinar. Bersabarlah buah hatiku, harapanmu semoga terwujud. Allah selalu membimbing dan mengarahkan setiap langkahmu”. Aku senantiasa berpegang teguh firman Allah SWT, Surat Al-Inssyiroh ayat 6:“Sesungguhnya, setelah kesulitan ada kemudahan”. Amiin…Ya Robbal’alamiin.

*) Nafsul Latifah, lahir di Ponorogo, 18 Nopember 1972, adalah Wali dari Ananda Futiya Nafi Husna (siswa kelas 2-Ali). Alamat sekarang di Jl. Menur Gg.V Perum Griya Asa No 31 Ponorogo. Penulis adalah istri dari Agus Setyo Budi.