Kasnadi *

Kata pepatah: buruk muka cermin dibelah
Dalam hukum keseimbangan, wajah yang bagus menatap cermin yang buruk bisa menjadi buruk, apalagi wajah yang buruk menatap cermin yang buruk malah menjadi lebih buruk. Cermin dapat berfungsi sebagai refleksi masa silam di samping masa sekarang. Masa silam tidak lain adalah sejarah. Bagi sejarahwan Amerika, Claude G Browers (1878-1958) sejarah adalah obor yang digunakan untuk menerangi masa lampau, untuk tidak mengulang kekeliruan yang pernah kita buat, sebagai pijakan untuk berbuat di hari esok yang lebih baik. Sejarah tak boleh ditinggalkan, karena sejarah dapat dijadikan cermin untuk melihat kemajuan dan atau kemunduran berbagai peristiwa dalam lintas waktu yang cukup panjang. Untuk itu kita bisa belajar dari banyaknya peristiwa masa lampau yang terkumpul dalam “sejarah” melalui cermin.

Masih ingatkah Anda ketika di-“gendong” ibu dan ditimang bapak? Berapa kali Anda kencing (ngompol) di pangkuan ibu dan atau bapak? Bagaimana dengan masa TK yang menyenangkan dengan bimbingan seorang Ibu Guru yang sabar dan ramah? Bagaimana dengan ketika Anda masuk di sekolah dasar, bagaimana ketika Anda berangkat ke sekolah sesama teman SMP, dan bagaimana pula ketika masa remajamu di usia SMA, dan seterusnya…dan seterusnya?

Coba renungkan jika Anda seorang pelajar! Bila ayah dan ibu Anda dahulu sempat menuntut ilmu, merupakan sebuah berkah dan anugarah, walau hanya dengan modal semangat, barangkat sekolah dengan kaki telanjang menapaki jalan terjal berliku dengan jarak bekilo-kilo hingga sampai di sekolah tanpa pernah mengeluh sedikit pun, dengan harapan akan mendapatkan ilmu-ilmu yang kelak akan berguna bagi hidupnya. Sedangkan, apa yang Anda lakukan saat ini? Orang tua dengan sukarela dan penuh harap menyekolahkan Anda, menyediakan biaya dan fasilitas yang cukup, mulai dari uang kantong, uang jajan, uang warnet, uang ulang tahun teman, uang tabungan, tas sekolah, sepeda motor, handphone, notebook, dan ”thethek bengek” yang lain yang tidak pernah berhenti. Tetapi, apa yang membebat pikiran Anda hingga tak satu pun harapan beliau Anda pahami, tetapi Anda memaksa beliau memahami kepalsuan dan tipu muslihat Anda sebagai siswa abad ini?

Jika Anda dilahirkan dengan jenis kelamin wanita, masih ingatkah ketika Anda sering bermain petak umpet, bermain gundu, bermain tali, bermain “pasaran” dengan teman sebaya. Bahkan suatu hari Anda pernah bermain layang-layang dengan teman yang berlainan jenis kelamin, dengan tanpa ada rasa malu menyelimuti hati yang ketika itu Anda tidak pakai rok bahkan sering bertelanjang dada tanpa BH (tentunya) menempel menutupi payudara yang memang belum tumbuh berbentuk.

Sekarang, Anda sudah berusia berapa? Taruhlah usia Anda sekarang sudah empat winduan. Sudah seberapa jauhkah perjalanan hidup Anda melesat lepas dari peristiwa masa kanak-kanak yang indah tanpa rasa dosa, tanpa rasa malu, tanpa banyak pikiran negatif, masa yang penuh kepolosan dan kejujuran itu Anda lakoni? Apakah yang kita kerjakan setelah terbangun dari tidur setelah kepenatan-kepenatan yang kita jalani sebagai wanita yang konon banyak orang bilang sebagai wanita karir? Masih kita jalanikah apa yang Ibunda kita dahulu lakukan untuk diri kita juga untuk ayah kita? Masih sempatkah kita membangunkan anak-anak dengan penuh kelembutan, membuatkan sarapan, mempersiapkan baju dan sepatu suami yang hendak pergi ke kantor. Ataukah Anda disibukkan dengan aktivitas diri kita sendiri yang pusing dengan pekerjaan-pekerjaan yang tengah menanti di kantor? Mulai dari memilih baju, memilih kaca mata, memilih kerudung, ber-make up ria, mempersiapkan HP yang tidak boleh ketinggalan.

Dan coba, barangkali Anda perlu menyisihkan sejenak waktu untuk meneliti HP yang ada digenggaman Anda. Ada berapa nama palsu yang bertengger di dalamnya? Ada berapa nama samaran yang berfungsi sekedar untuk mengelabuhi suami Anda yang barangkali suami Anda juga tidak kalah lihai mengelabuhi Anda. Sudah berapa kalikah Anda menggoda atau mungkin tergoda suami orang?
***

Sebagai sosok yang diciptakan Tuhan dengan jenis kelamin laki-laki, Anda merenunglah sejenak ketika Anda masih betelanjang dada bermain berkejaran bermain layang-layang menyusuri petak-petak sawah, dan bersuka cita ketika layang-layang yang Anda terbangkan melayang di ayun-ayun sang bayu. Kedamaian dan kemenangan yang menghuni pikiran Anda karenanya. Juga ketika sedang menyelam bersama sapi tanpa mempertimbangkan bahwa Anda sedang mandi bersama kotoran dan kencing sapi, itu tidak penting, yang jelas Anda mendapat kesenangan karenanya.

Masa lalu itu, masihkah bersama Anda? Mengapa Anda tega menodai perkawinan Anda dengan mengingkari janji yang Anda ucapkan sendiri di depan penghulu dan tentunya juga di hadapan Tuhan? Mengapa dalam perjalanan waktu yang belum begitu lama Anda sudah menjadi lelaki yang tidak setia? Makhluk apakah yang membuat Anda menjadi berubah semacam itu? Apakah Anda terbius makhluk Tuhan yang paling seksi, macam, tahta, harta, plus wanita?

Coba tengok album kenangan ketika Anda masih di bangku SD yang sedang menenteng piala kemenangan dalam sebuah turnamaen sepak bola. Anda nampak bangga karena penghargaan tersebut Anda raih dengan penuh kejujuran dan sportivitas yang tinggi. Bagaimana dengan kenyataan yang Anda jalani saat ini, masih tersisakah kejujuran-kejujuran dan sportivitas-sportivitas yang dahulu Anda banggakan itu? Atau sudah terbalut manipulasi, kepalsuan, dan kemunafikan yang sebenarnya kata hatimu menentangnya? Masih dapatkah Anda beramah tamah dengan anak buah yang pendidikannya jauh di bawah Anda, jika Anda menjadi seorang pemimpin? Macam apakah kekayaan yang melimpah di rumah mewah Anda. Benarkah itu kristalisasi keringat Anda yang menetes seperti layaknya petani dan abang becak yang berpeluh karena kerja kerasnya.

Akhirnya, marilah kita becermin dengan meninggalkan berkelebatnya hiruk-pikuk dunia yang serba germerlap ini, dan menyisakan sedikit waktu untuk bermenung.

*) Penulis adalah Staf Pengajar STKIP PGRI Ponorogo.

Categories: Esai