Do’a Ananda

Fadelan *

Matahari mulai melukis sesudut kehidupan di muka bumi. Warna kuning kemerah-merahan menebar di tembok, lorong rumah. Setiap sudut mata memandang tanpa celah terlewati. Jam dinding menunjuk angka empat pertanda senja segera tiba, hari siap melayangkan malam kan tiba.

Aku berangkat ke kamar mandi untuk bersihkan badan, sebelum anak-anak dan Ummi (istriku) mendahului. Selesai mandi, sholat ashar, berdoa, lalu meminta anak-anak mandi. Namun belum sempat menyuruhnya mandi, Ummi memberi tahu, “Ayah, Zulfi badannya masih panas”. Ummi langsung mengajakku membawanya ke dokter lagi, kusarankan sebaiknya nanti setelah maghrib.

Aku persiapkan air hangat serta handuk kecil untuk bersihkan wajah, tangan, dan kaki Zulfi, Ummi yang mengerjakannya. Saat mulai usap bagian wajah, terdengar suara sreek-sreek di garasi, pertanda si kecil datang bersama pengasuhnya. Maklum si kecil hobi keliling komplek, sambil menikmati makanannya bersama teman sebaya, dengan pengasuh masing-masing.

Jarum jam menunjukkan angka 16.30 WIB kegiatan membersihkan wajah, tangan dan kaki Zulfi selesai. Ummi segera mandi dan sholat. Selesai sholat, menyiapkan makan Zulfi. Ummi menuju dapur mengambil makanan lalu disuapkan. Saat makan baru dapat separuh, Zulfi muntah, hampir seluruh nasi sudah ditelan, keluar semua. Akhirnya dihentikan, aku ambil kain pel untuk membersihkan bekas muntahnya. Ummi melepas bajunya lantas ambil gantinya. Kondisi ini memantapkan kami membawanya ke dokter. Sekitar 15 menit, aku bersihkan bekas muntahan, lalu mengambil air wudlu, persiapan melaksanakan sholat maghrib.

Suara adzan berkumandang bersautan dari mushola dan masjid di sekitar komplek perumahan. “Kita jama’ah sholat maghrib di rumah saja,” kata Ummi. “Tunggu saya, yah,” sahut anak pertamaku sambil bergegas ke kamar mandi. “Ya, tapi agak cepat, karena Ayah dan Ummi mau mengantar adik ke dokter,” jawabku. Selesai sholat dan berdo’a, berangkat ke dokter. Sampai di tempat praktek dokter, kami mendapat nomor urut pertama, menunggu sebentar kemudian dipersilakan masuk.

“Gimana, masih panas?” tanya bu dokter. “Panasnya belum turun, dan tadi waktu makan muntah” jawab Ummi. “Kalau begitu saya periksa dulu.” Aku naikkan Zulfi ke bed tempat pemeriksaan. Dokter mengecek suhu badannya, tekanan darah, mulut, dan mata. Dari hasil pemeriksaan, bu dokter memberi pengantar cek darah dan rawat inap, jika cek darahnya positif. Kami mohon diri, pulang menyiapkan beberapa keperluan yang dibawa ke RSU.

“Semua barang kebutuhan sudah siap, yah. Aku telepon ibu untuk ke sini menemani anak-anak.” Perasaanku mulai tak enak, aku mengajak Zulfi naik ke mobil, dia bilang tak mau ke rumah sakit sambil menangis. Suaraku menjadi sulit keluar. Bibirku bergetar, seolah kehilangan kata-kata. Tanpa kusadari, mukaku terbasahi lelehan air mata. Ku buka pintu mobil, lalu menaikkan Zulfi ke kursi tengah sesuai permintaannya. Ummi menyusul naik di kursi depan. Beberapa tetangga menghampiri, bertanya “Pak, badhe tindak pundi?,” tanya salah seorang di antara mereka. “Ngeteraken Zulfi cek darah dateng RSU” suara serakku keluar.

Aku putar kunci kontak mobil, lalu perlahan menyusuri jalan keluar perumahan. Jarak jalan raya Ponorogo – Surabaya ke perumahan semakin jauh, mobilku terasa kelebihan beban. Waktu tempuh mobil jadi lebih lama untuk sampai di perempatan lampu merah pasar Songgo Langit, seolah tak percaya. Pada saat sampai di traffic light, kebetulan pas lampu merah menyala, kami harus berhenti. Menunggu lampu hijau nyala, serasa menanti hujan di musim kemarau. Akhirnya lampu hijau, segera tancap gas. Zulfi bertanya, ”Kita kemana, yah?” “Ke RSU jalan Diponegoro,” “Kok lama…” keluhnya. “Sebentar lagi sampai,” jawabku.

Sampai depan RSU aku dengar suara adzan Isya’. Ummi turun bersama Zulfi menuju loket. Aku bawa mobilku ke tempat parkir. Barang bawaan segera aku turunkan, dan kupastikan semua pintu mobil terkunci. Aku susul ke loket pendaftaran pasien dengan bawa tas baju serta bantal. Ternyata sampai loket, Umi dan Zulfi sudah tak ada.

Menurut penjaga loket, mereka ke ruang pemeriksaan untuk diambil darahnya. Sesampai di ruang pemeriksaan proses pengambilan darah tengah berlangsung, sesaat kemudian seorang perawat keluar ruangan membawa contoh darah untuk dibawa ke laboratorium. Untuk menunggu hasil laboratorium. Aku berjalan di lorong rumah sakit tak jauh dari Ummi dan Zulfi. Banyak pasien dan penunggu dalam satu ruang, juga para pembesuk lalu lalang. Perasaanku agak lega, ternyata sudah banyak orang datang lebih dulu kesini.

30 menit kemudian seorang perawat memberi tahu hasil uji laboratorium. Darah Zulfi ternyata positif demam berdarah dengan trombosit 90.000 dari normalnya 125.000. Maka harus rawat inap. Setelah berkoordinasi dengan perawatnya, nyata kamar yang kosong tinggal di lantai 2. Aku dan Ummi setuju. Dalam benakku, terpenting Zulfi mendapatkan perawatan medis secepatnya.
***

Kami bertiga keluar ruangan menuju lantai 2, sampai depan pintu, Zulfi ngajak pulang. “Dik, kita kesini untuk berobat. Nanti kalau sudah sembuh, kita pulang sama-sama,” kataku menenangkan. Karena kereta pasiennya tak ada, aku berjalan di lorong sambil menggendong Zulfi. Sampai di lantai dua, napasku nyambung-putus nyambung-putus, akhirnya di kamar yang dimaksud. Zulfi saya turunkan di bed yang sudah rapi. Beberapa menit kemudian seorang perawat datang ke kamar, memohon salah seorang dari kami ke kantor perawat. Aku ke kantor perawat, Ummi menemani Zulfi.

Di kantor, aku dimintai persetujuan beberapa tindakan perawatan sesuai diagnosa hasil cek laboratorium. Ada empat poin tindakan perawatan medis awal yang harus disetujui orang tua pasien; 1) pemasukan obat melalui injeksi, 2) transfusi cairan tubuh, 3) bantuan oksigen, dan 4) pemasangan saluran pembuangan lewat hidung. Persetujuan ini dibuat secara tertulis. Selesai menandatangani surat persetujuan, aku ke kamar perawatan.

Ku amati kamar berukuran 3×4 meter persegi. Belum seluruh aku mengamati suasana dalam kamar, dua orang perawat datang membawa keperluan perawatan. Seorang perawat mulai menginjeksikan obat anti biotik dan vitamin. Saat mau diinjeksi, Zulfi menangis ketakutan. Aku dan Ummi menenangkannya. Dengan perasaan kacau, aku tetap pada posisi. Setelah kedua perawat selesai memasukkan obat, melanjutkan memasang infus cairan. Saat pemasangan infus ini, kedua perawat mengalami kesulitan mencari nadinya, sementara Zulfi menangis meronta, “Sakit yah.., sakit yah…,” mulutku seolah terkunci, tertunduk, hanya air mata keluar tanpa kusadari.

Selesai perawat memasang infus, aku coba melihat jam dinding berada di sebelah kananku. Ternyata baru menunjuk 20.30 WIB. Sebelum pemasangan selang bantuan oksigen dilakukan, lebih dulu pemasangan selang pembuangan melalui hidung. Persiapan pemasangan selang pembuangan dimulai, aku dan Ummi berbagi tugas. Ummi mengontrol gerakan tangan, aku bagian kaki, sementara Zulfi menangis kian kencang.

Seorang perawat mengontrol gerak kepala, perawat lain memasukkan selang lewat hidung. Selang baru masuk hidung sekitar 10 cm, Zulfi merontah menangis, “Sakit mi… sakit mi…” Kulihat Ummi terus berdo’a sambil menangis. Saat bersamaan keluar darah dari hidung Zulfi. Perawat yang masukkan selang panik. Akhirnya pemasangan selang pembuangan gagal dilakukan. Sementara dara yang keluar dari hidungnya menyebar ke kedua pipinya. Kedua perawat memasang selang oksigen, untuk pemasangan selang pembuangannya, menunggu Zulfi tenang dahulu.

Ummi mengambil handuk kecil, untuk bersihkan darah di pipinya Zulfi. Lalu menyimpan handuk kecil di tas kresek, bersama baju dan celana kotornya. Aku pegangi tangannya yang diinfus, Zulfi dengan suaranya kian parau minta pulang, “Pulang yah sekarang, cepat bilang sama dokter, ayo pulang sekarang,” sambil memegangi tangannya, aku kian tertunduk, air mataku menderas, hatiku hancur. Hanya do’a dan dzikir penguat diri.

Aku dan Ummi sepakat gantian berjaga. Jam menunjukkan 21.10 menit, Ummi pamit untuk istirahat duluan. Sekitar 15 menit kemudian, dua tetangga datang memberi semangat. “Pripun keadaan dik Zulfi?” tanya mereka. “Alhamdulillah baru saja tidur,” jawabku singkat. Mereka memahami keadaanku. Tangan kiriku memegang tangan Zulfi yang diinfus dan tangan kananku menggerak-gerakkan kipas.

Setelah 30 menit menemani kami di rumah sakit, kedua tetangga mohon pamit dengan isyarat dari luar kaca. Aku hanya mengangguk dari dalam kamar. Aku tinggal sendiri menunggui Zulfi, hanya do’a dan dzikir terus berkumandang di dada. Setiap 10 menit sekali, aku lihat jam di dinding, putaran jarum jam sangat lambat. Sesekali aku lihat di luar kamar yang gelap dan sepi. Sekian kali kulihat dengan sisa tenaga yang ada, serta kantuk kian sulit dipertahankan, Umi bangun untuk sholat tahajjud, lalu menggantikan aku menjaga Zulfi.

Jam dinding menunjukkan pukul 02.30 WIB. Aku ke kamar kecil ambil wudlu, lalu sholat. Giliranku istirahat, selesai berdo’a segera rebahkan badan di bed yang kosong. 30 menit kemudian, aku terjaga. Aku mendengar kumandang do’a anak sholeh (Allohummaghfirli dhunubi waliwalidayyah warhamhuma kama robbayani shoghira) diulang sampai tiga kali. Aku hafal suara itu suara Zulfi. Itulah ucapan terakhirnya. Karena setelah itu, Zulfi tak bisa diajak komunikasi, Subhaanalloh…
***

Sekitar 90 menit istirahat, terdengar kumandang adzan subuh. Aku segera bangun ambil air wudlu. Ku lihat jam menunjukkan pukul 04.10. Aku sholat subuh. Usai sholat menggantikan Ummi jaga Zulfi. Setelah Ummi sholat, aku mengemasi barang-barang cucian yang mau dibawa pulang. Jam 06.00 siap-siap pulang, sementara Zulfi masih tidur. “Ayah, nanti tolong dibawakan baju ganti dan termos air” pesan Ummi. “Insya Allah” jawabku. Langkah kakiku serasa berat saat keluar dari kamar. Tapi terus berjalan menuju parkiran.

30 menit kemudian sampai rumah, mobil masuk garasi. Aku segera menurunkan barang bawaan yang perlu dicuci, memasukkannya ke mesin cuci. Aku hampiri anak pertamaku yang sudah rapi dan siap diantar ke sekolah. “Piye nak, keadaane Zulfi?” suara mertuaku menghampiri. ”Alhamdulillah bu, langkung sae. Kala wau taksih bobok” jawabku. “Ayah sarapan dulu, terus mengantarkan aku ke sekolah” pinta anak pertamaku.

Setelah di rumah istirahat sebentar, segera menyiapkan barang-barang yang mau dibawa ke RSU. Sekitar jam 08.00 sampai RSU, mobil kuparkir lalu menuju ruang perawatan Zulfi. Ummi dengan sabar menunggui. Aku letakkan barang bawaan di lemari kecil sebelah bed. Selang pembuangan yang lewat hidung sudah terpasang, dan Zulfi kelihatan tidur terus. Aku agak lega, mudah-mudahan ini pertanda baik. “Tadi pemasangan selang pembuangan lancar-lancar saja. Zulfi menangis sebentar” kata Ummi.

Aku mulai duduk di sebelah bed sambil tangan kiriku memegangi tangan Zulfi yang diinfus. Sesekali Zulfi membuka matanya sebentar kemudian tidur lagi. Untuk mengusir kejenuhan dalam keterbatasan gerak, ku coba dapat merasakan do’a dan dzikir yang keluar dari mulutku sekalipun tanpa suara. Ini upaya yang sulit. Aku terus coba agar dapat terhindar dari siksaan waktu.

Waktu berjalan detik demi detik, menit, dan jam. Alhamdulillah jam dinding menunjukkan 11.00, dokter visit memasuki kamar perawatan Zulfi. Pemeriksaan dilakukan, dokter memberi rekomendasi dua hal; pertama Zulfi dipindah ke ruang sebelah kantor perawat. Kedua, jikalau transfusi cairannya habis, supaya diganti dengan transfusi darah.
***

Udara di ruangan terasa panas. Kipas angin berputar-putar tak mampu dinginkan ruangan. Aku harus mengayun-ayunkan kipas di tangan, agar tak terlalu banyak keringat yang keluar. Pukul 11.30 kumandang adzan Dzuhur terdengar dari sekitar RSU. Aku menuju musholla di lingkungan RSU. Selesai sholat, menggantikan Ummi berjaga. Siang ini terasa agak lain. Perputaran jarum jam sangat lambat. Proses menunggu perawat memindahkan Zulfi ke ruang dekat kantor perawat sungguh lama. Rasanya ingin segera meninggalkan ruang yang panas ini.

Sekitar jam 15.00 WIB seorang perawat memberitahu proses pemindahan Zulfi dapat dilakukan. Aku gendong Zulfi ke kamar dekat kantor perawat, Ummi mengemas barang-barang yang mau dipindah. Ruangan baru cukup luas, ada kursi tamu, lemari dan masih ada ruang agak longgar, serta tidak kalah penting cukup sejuk. Aku mulai mengamati suasana sekitar ruangan. Ruangnya longgar, tetapi dalam hatiku bertanya, “Sanggupkah aku bertahan seperti tadi malam?” Aku merenung sejenak. Akhirnya aku putuskan mengajak anak asuh ibu mertua untuk menemani kami menjaga Zulfi nanti malam.

Sekitar jam 16.00 WIB, ibu-ibu tetangga datang. Kedatangan mereka memberi do’a dan support. Selama tiga puluh menit mereka memberi semangat pada kami. Ruangan jadi sepi lagi. Aku melaksanakan sholat Ashar dan Ummi membersihkan muka, tangan, dan kaki Zulfi. Selesai membersihkan badan Zulfi, Ummi sholat Ashar. Sambil menunggu waktu maghrib, aku dan Ummi bergantian mengisi energi. Yang semestinya ku lakukan siang tadi, baru sekarang waktu memberi izin.

Kumandang adzan maghrib bersautan. Musholla, masjid, di sekitar RSU banyak didirikan. Aku melaksanakan sholat maghrib di kamar. Dzikir do’a kupanjangkan. Selesai sholat istirahat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Aku buka, ternyata anak asuh ibu mertua, Askan sudah berdiri di depan pintu. Alhamdulillah tambahan pasukan datang tepat pada waktunya. Karena malam ini sebelum jam 20.00 kami harus mendapatkan 2 kantong darah untuk transfusi. Berbekal surat pengantar dari dokter siang tadi, aku minta Askan ke PMI. Sekitar jam 19.00 WIB, dua kantong darah yang diperlukan, aku serahkan ke kantor perawat. Satu kantong dipasang sebagai pengganti cairan yang hampir habis, satu lagi disimpan di kantor perawat.

Sekitar jam 22.00 aku dibangunkan, karena Zulfi pipis. Aku ganti celana dan kain alas tidurnya. Aku lihat Askan sudah mulai ngantuk. Aku ganti berjaga. Tangan kiriku memegang tangan Zulfi, tangan kananku memegang kipas. Hafalan dzikir segera kubaca di hati. Ngantuk sementara dapat ku hindari. Aku coba menikmati sepi dan sunyi. Jam dinding menunjukan 02.30 WIB. Ummi bangun untuk sholat tahajjud. Aku sudah sulit rasanya untuk dapat menahan kantuk. Selesai sholat, Ummi menggantikan berjaga. Sebelum istirahat, aku sholat terlebih dahulu.

30 menit aku istirahat dibangunkan, karena Zulfi buang air besar dalam kondisi tidak sadar. Aku bersikan cairan tersebut dan mengganti celananya. Celana dan kain alas tidur yang terkena kotoran, segera kumasukkan ke kresek. Aku cuci tangan lalu berwudlu. Adzan subuh berkumandang dari musholla dan masjid. Selesai sholat, aku lihat nafas Zulfi mulai kurang teratur. Aku melafalkan kalimat ”Alloh… Alloh… Alloh… agak keras.

Aku terus peluk kepalanya sambil kubisikkan Alloh… Alloh ke telinganya. Ummi memeluk tubuhnya sambil menangis mengucapkan Alloh….Alloh bersamaku. Sekitar jam 06.20 WIB bibirnya bergerak tersenyum. Kemudian bilang, “Udah, udah, udah…” aku tetap melafalkan Alloh. Kupegang kakinya mulai dingin. Badannya masih panas, nafasnya tak teratur. Badannya dingin, tapi lehernya panas. Bersamaan dingin lehernya, nafasnya terhenti. Aku mengakhiri kalimat ucapanku dengan Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Aku, Ummi, ibu mertua, dan adik menangis. Aku seolah tak percaya, tapi itulah kenyataan.
***

Ummi memintaku untuk kuat dan bisa antar Zulfi sampai ke peristirahatan terakhir. Alhamdulillah, Allah memberi kekuatan. Kami mandikan jenazah anak tercinta, yang semasa hidupnya selalu menyenangkan semua orang. Aku kafani, sholati, dan aku adzani di liang kubur, Subhanalloh. Terima kasih, Ya Allah. Kau beri kami kekuatan untuk melakukan hal yang sangat-sangat berat. Engkaulah sang Maha Perkasa lagi memberi kekuatan.

Pelajaran kauniyah kehidupan telah Allah sampaikan. Waktu satu hari dua malam, merupakan masa yang ditetapkan. Akhir kehidupan dunia ialah kematian. Anak dan orang tua itu pertalian kasih sayang. Sebagian menjadi ayat dari bagian yang lainnya. Dalam sebuah hadist disebutkan, jika seorang anak yang belum baligh meninggal dunia, kelak di akhirat tidak akan mau masuk surga, sebelum masuk bersama orang tuanya.

Aku dan Ummi berdoa, semoga Allah mengampuni dosa kami. Ini menginspirasi kami untuk selalu berusaha beramal baik, astaghfirullah adzim. Semoga do’a almarhum Zulfi menjelang detik-detik terakhir ketidaksadarannya dikabulkan Allah. Semoga kami sekeluarga, dipertemukan di surga kelak, amin yaa robbal alamiin.

*) Fadelan, lahir di Jombang, 09 Mei 1961 adalah Wali dari Ananda Muh. Fatkhi Assidiqi (siswa kelas 2-Utsman) dan Maulida Ihza Fairuz. Alamat sekarang di Jl. Parang Centung 9 Ponorogo. Penulis adalah suami dari Ernin Naurinnisa.