FAHRUDIN MENOLAK TUNDUK PADA MAUT

Dwi Cipta

Seseorang tak bisa menolak maut saat ia sudah datang dan mengajaknya meninggalkan dunia ini. Namun seseorang bisa melawan paksaan maut saat ia baru mengirim pesan bahwa dirinya akan datang. Beberapa orang di antaranya berhasil. Beberapa yang lainnya gagal. Berhasil atau pun gagal, sepanjang manusia telah melakukan perlawanan sepenuh hati terhadap pesan yang dikirimkan oleh Sang Maut, kita layak memberikan penghargaan padanya. Lan Fang, penulis dan aktivis kesenian di Surabaya telah berjuang sepenuh hati melawan penyakit kankernya, dan akhirnya ia tunduk di tangan maut yang perkasa. Sani B Kuncoro berjuang sepenuh hati menolak tunduk pada pesan maut saat ia melawan kanker, dan sampai sejauh ini ia berhasil memenangkan dirinya, keluarga serta publik pecinta tulisannya.

Dalam kasus yang lain kita juga tahu Radhar Panca Dahana telah bergulat selama bertahun-tahun melawan pesan maut lewat penyakit gagal ginjal yang telah menderanya sejak akhir tahun 90-an. Jatuh bangun tangan-tangan maut berusaha menundukkannya, namun dengan jatuh bangun pula Radhar Panca Dahana melawan kuasa tangan maut itu, agar ia bisa memberi manfaat lebih bukan hanya pada diri dan keluarganya, namun juga bagi dunia kesenian dan kebudayaan Indonesia. Berkali-kali Radhar jatuh pingsan di dalam sebuah seminar, di dalam rumahnya, atau mengalami koma berhari-hari di rumah sakit, sebelum menemukan dirinya menghirup napas kembali dengan rasa syukur. Ia menolak menyerah pada maut dengan resiko kesakitan yang menderanya.

Kini, salah satu penulis muda dan aktivis muda di dunia kesenian negeri ini kembali dihadapkan pada kenyataan pahit akibat menerima pesan maut. FAHRUDIN NASRULLOH, penulis kelahiran Jombang 16 Agustus 1976, harus menerima vonis dokter yang menyakitkan berkenaan dengan fungsi alat-alat tubuhnya: GAGAL GINJAL DAN INFEKSI PARU-PARU YANG PARAH!

Sebelum menerima vonis itu, ia beberapa kali mengeluhkan tensi darahnya yang naik, tubuhnya yang sering tak bisa berkompromi dengan hasrat besarnya untuk terus aktif di dunia kesenian dan kebudayaan. Ia sering tak peduli dengan kesakitan-kesakitan ragawi itu. Jiwanya terus gelisah sehingga puluhan cerita pendek lahir dari tangannya, puisi demi puisi mewujud di atas kertas-kertas kerjanya, novel demi novel terus dirautnya, dan puluhan esai serta beberapa riset dunia kesenian di sekitar Jombang dan Jawa Timur lahir dari tangannya. Sejak mengenal dunia sastra di masa remaja ia mengikuti panggilan jiwanya itu dengan melakukan kembara intelektual di Yogyakarta. Selama belajar di kampus UIN SUKA Yogyakarta (IAIN Sunan Kalijaga), ia memuaskan dahaga intelektualnya dengan memasuki berbagai ruang-ruang kesenian di Yogya. Ia melahirkan puisi, cerpen, bakal novel, dan esai-esai sastra dan budaya, seolah-olah tulisannya itu memberi pesan ada keabadaian yang harus diperjuangkannya. Setelah menyelesaikan studinya di UIN Sunan Kalijaga, ia kembali ke kampung halamannya di Jombang, mendirikan dan menghidupi KOMUNITAS LEMBAH PRING Jombang bersama Jabbar Abdullah, Sabrang Suparno dan kawan-kawan di Jombang.

Kerja-kerja intelektual dan aktivismenya di dunia kesenian telah memberi sumbangan tak kecil pada dunia sastra secara khusus dan dunia kesenian kita. Dari proses kreatifnya, lahirlah kumpulan cerpennya yang unik, “Syeh Bejirum dan Rajah Anjing”, novel Syekh Branjang Abang, Kumpulan Puisi “Rawa Rontek,” sebuah buku tentang Ludruk dan sekumpulan esainya yang tersebar di berbagai media. Dari komunitas yang didirikannya, secara berkala ia mengadakan acara “GELADAK SASTRA LEMBAH PRING” yang berjalan nyaris tanpa putus meski pun tak ditopang oleh funding luar atau dalam negeri. Ia terus bergerak tanpa henti dengan memasuki komunitas-komunitas Ludruk di Jombang dan sekitarnya, mendokumentasikan karya dan aktivitas mereka baik di masa lalu maupun masa sekarang. Bersama kawan-kawannya di Jombang dan Surabaya, ia memasuki ruang-ruang kelas baik di Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, komunitas film, pesantren hingga para petani di sekitarnya agar mereka lebih peduli dengan diri dan masyarakat sekitarnya.

Lelaki bertubuh pendek ini, meski rajin beribadah, pernah dituduh komunis hanya karena kegiatan-kegiatan keseniannya yang seringkali mendobrak batas-batas formal pembelajaran yang biasanya tersekat di ruang kelas saja. Namun ia tak mundur dengan segala macam tuduhan dan stigma. Ia tak peduli dengan adanya pengakuan formal dari institusi sastra atau kesenian kita yang seringkali lebih terpesona pada figur2x besar dan kerja-kerja yang dari luar tampak wah. Dari kerja kerasnya di dunia sastra dan kesenian/kebudayaan secara umum.

Kini kekuatan fisik dan hasrat besarnya untuk bekerja baik bagi diri dan keluarganya maupun bagi publik kesenian dan kebudayaan Jombang secara khusus dan negeri ini secara umum diuji dengan penyakit GAGAL GINJAL DAN INFEKSI PARU-PARU yang tiba-tiba menghampirinya. Ia telah tumbang selama dua minggu terakhir ini di rumah pribadinya dan di rumah sakit. Dua kali cuci darah rupanya tak cukup menjadi cobaannya. Ia mesti menghadapi vonis dokter yang tak memiliki batas waktu: CUCI DARAH SEMINGGU SEKALI!

Kita tak bisa membayangkan apa yang ada di benak FAHRUDIN NASRULLOH ketika menghadapi vonis ini. Ia tak sedang menyaksikan maut seperti yang dikisahkan di dalam buku atau di film. Ia tak sedang menyimak kisah maut menghampiri diri kawan-kawan atau kenalannya. Ia sendiri kini tengah berhadapan dengan pesan kehadiran maut. Apakah kita akan mendiamkan saja salah satu penulis muda terbaik yang pernah dilahirkan Jombang dan Indonesia ini direnggut maut dengan cepat? Bisakah kita berbuat sesuau agar bisa menunda kehadiran sang maut yang ingin mengajak Fahrudin ke kehidupan dan dunia yang lain? Fahrudin memutuskan melawan pesan maut. Dan rasanya kita juga tak akan berdiam diri dengan membiarkan Fahrudin berjuang sendirian.

Ia telah mengabadikan diri dan kerjanya lewat tulisan dan kerja-kerja keseniannya. Maka, marilah kita membangun solidaritas untuk membantu Fahrudin untuk mengabadikan diri dan kerjanya di benak kita dengan perlawanannya pada kehadiran maut yang bisa setiap saat merenggutnya dari sisi kita. Kawan-kawan di Solo, Semarang, Yogyakarta, Purwokerto, Wonosobo, Jakarta, dan Bandung akan mengadakan penggalangan dana untuk Fahrudin Nasrulloh. Silahkan berkoordinasi dengan kawan-kawan di masing-masing kota untuk berjuang bersama Fahrudin melawan Maut!

Dijumput dari: http://jualbukusastra.blogspot.com/2013/05/jbspeduli-belanja-buku-sambil-donasi.html?spref=fb