Ibu, Mengertilah Aku

Amalia Sulfana *

Perjuangan yang luar biasa, engkau tinggalkan istri dan tiga malaikat kecilmu, untuk menggapai cita-cita adi luhur di Semarang, demi mencerdaskan anak bangsa yang telah diamanahkan kepadamu di sebuah lembaga pendidikan, sebutlah itu Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Dengan berjuta rasa yang tiada mungkin terungkap dan tertulis kata, dini hari kau kayuh Honda Gren biru kesayanganmu dari Ponorogo ke Semarang, menerjang dinginnya pagi, menyibak kabut demi kabut pada lorong jalanan itu, memilah-memilih antara terjalnya bebatuan serta lubang curam di sepanjang jalan raya Purwantoro-Wonogori. Kau sangat mencintai waktu. Ke Semarang, butuh waktu panjang antara 8-9 jam jika ditempuh dengan bus, namun kau lebih memilih 5 jam menantang krikil jalanan. Debu dan terik mentari, justru melecut gairah tersendiri bagimu. Karena Doktor harus terpegang kuat ditangan yang kokoh.

Masih terasa segar, sepercik memori membasahi benak ini. Pertengahan tahun 2008, istrimu melaksanakan kegiatan Prajabatan di Malang, sementara pena mengajakmu menari lembut di atas ombak kota Semarang. Sedang anak-anak harus menahan rindu di rumah bersama para abdi, tempat penitipan luar biasa. “Anakku, maafkan kami, jika hari-harimu tak seindah hari kemarin tanpa kami di sisimu”. Biasanya, kalau tak ada bapak, ibu sebagai pengganti, demikian pun sebaliknya. Tapi hari-hari ke depan jauh berbeda, kalian harus berjuang lewati masa tanpa kami. Jangan pudarkan warna senyuman yang menghiasi wajahmu, wahai malaikatku. Bapak dan ibu juga berusaha bersegenap daya berjuang pada lini masing-masing. Bagi kami, tawa-keceriaan kalianlah motivasi, tangis kalian sembilu yang memaksa deraian air mata keluar sedari kelopaknya. Percayalah, semua kan berakhir dengan keindahan anak-anakku.

Tanpa ibu sang pembawa kehangatan, meninggalkan mereka di waktu siang terasa lebih berat, dibanding dini hari. Tangisan dan rengekan selalu menggema di antara dinding rumah, saat mengantar bapaknya di medan juang. Bebulir air mata terpaksa keluar, meski sudah ditahan. Maaf dan bismillahi tawakkaltu ‘alallah, itulah kata yang terbaik. Kabar ini sampai ke Malang, tempatku melaksanakan tugas kewajiban. “Dik, meninggalkan anak-anak saat siang hari, jauh lebih berat daripada dikala dini hari. Ini aku lakukan karena hari ini aku agak kurang enak badan jika berangkat dini hari seperti yang sudah-sudah. Tapi, apa yang terjadi? Tangisan anak-anak membuatku sedih. Maafkan aku, karena keberangkatanku di siang hari ini membuat anak-anak tidak terkendali emosinya, aku tidak kuasa melihat kesedihan mereka, terutama melihat Cika (18 bulan). Aku harus pergi kuliah ke Semarang, berat…berat…berat dik” : SMS dari suamiku. Sontak hati seorang ibu mana yang mampu menahan kesedihan oleh kabar ini. Ku curahkan gejolak jiwa lewat tangisan dalam. “Anakku”, Pekikku di hati sambil mengepalkan kedua tangan. Perjuangan ini berat, tapi aku yakin semua akan membawa hasil bermanfaat pada saatnya. Bukankah ada musimnya, kekuncup bunga bermekaran jadi bunga-bunga indah yang aromanya menyerbakkan wangi kebahagiaan?

Perjalanan panjang itu memakan waktu 4 tahun 6 bulan. Kesabaran, ketabahan dan saling memberi motivasi ialah aktivitas kami dalam merangkai sebuah takdir kehidupan, walau pun keputusan ada di tangan Yang Maha Kuasa. Ujian demi ujian dilalui suamiku berpenuh semangat, dari ujian komprehensif, ujian proposal, seminar hasil penelitian, ujian kelayakan, ujian tertutup dan lainnya. Meski acap kali revisi membuat kakinya harus berlari kecil dan cepat antara Ponorogo-Semarang. “Allah Yang Maha segalanya, lindungi suamiku, beri ia kesehatan, mudahkan segala urusannya, berikan ilmu yang bermanfaat, dan kembalikan ia ke dalam keluarga ini dengan ilmunya, dan angkatlah derajatnya sesuai dengan apa yang telah Engkau janjikan.” Itulah, rangkaian munajat yang kupanjatkan sepanjang malam. Sempat terbesit dalam pikiranku, kasihan melihatnya pontang-panting, apalagi aku tak bisa berbuat lebih, raga ini hanya mendampingi sebatas membuatkan beberapa potong gorengan pisang raja dan teh poci kesukaannya. Terus semangat suamiku, pasti semua terlewati dengan mudah. Kamu pasti mampu menyempurnakan hasil karyamu, sesuai harapan maha guru!

Waktu berlalu cepat. Akhir dari serangkaian revisi menghembuskan angin segar, 27 Desember 2012 suamiku mendapat jadwal ujian promosi Doktor. Alhamdulillah, aku bersyukur pada Allah SWT yang telah membuka pintu kesempatan tersebut. Ternyata agak runyam mempersiapkan acara luar biasa itu, meski yang melaksanakan pihak kampus IAIN Wali Songo Semarang. Bagi kami, ini ukiran sejarah besar dalam kehidupan sebuah rumah tangga kecil. Hari kamis, puncak acara ujian promosi Doktor, tentu dihadiri para tokoh terhormat dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, yang memberi rekomendasi suamiku untuk menempuh pendidikan S3, teman-teman seangkatan, adik tingkatan, beberapa kawan S2 IAIN Wali Songo, dan anggota keluarga.

Masih terasa getar-getar bangga menyelimuti dada. Sebagai ungkapan syukur kami di acara Ujian Promosi Doktor, suami menyuruhku membuat kue untuk dibawa ke Semarang. Sami’na wa atho’na ya habibi. Ku buat beberapa kue dengan waktu singkat, karena aku harus pandai membagi waktu antara mengajar di SMA Negeri 1 Babadan dengan alokasi waktu 38 jam, mengurus kerjaan rumah, menemani anak-anak belajar dan lainnya. Terbayang di benakku, bahwa sepatutnyalah anak-anakku berpantas diri mengenakan baju baru pada ujian promosi suamiku. Karena itu, ada sebersit niat membelikan baju ke tiga malaikatku yang sholeh-sholehah, disela-sela membuat kue sejumlah 40 toples.

Hari selasa 25 Desember 2012 pukul 09.00, anak pertama kami Nada Muhda Imana, saya ajak ke Madiun untuk membeli sepatu berlebel fladeo yang biasa ia sukai di Matahari. Motor kami pesat melaju antara 80-90 km/jam. Ini aku lakukan karena beberapa faktor; kue yang kubuat masih kurang 10 toples, bapak juga nitip tebusan resep di apotek Madiun, dan pukul 12.00 ada undangan pernikahan di Tambak Kemangi.

Sampai di Toko Matahari, kami menuju tempat sepatu yang biasa disukai Nada. Putar kesana kemari, lihat ini itu, ketika aku suka, Nada tidak. Ku coba mencari model lain, Nada menjawabnya dengan gelengan kepala. Ku cari lagi, “Ini nduk, lucu dan cantik lo”, lagi-lagi gelengan kepala yang kudapat. Kecemasan menyelimuti diriku, apalagi waktu semakin mengejar. “Bu, pulang.” katanya. “Terus Mbak Nada ke Semarang nanti pakai apa?” tanyaku. “Tak tahu.” jawabnya sambil geleng kepala. Aduh, galau hatiku. Dengan rasa kecewa, kami turun, mengambil motor lalu menuju tujuan kedua, menebus obat.

“Bu, di acara bapak besok, Nada pakai sandal ibu saja, ibu pakai sepatu kan?” celetuknya waktu di Apotek. “Mbak Nada kalau pakai sandal ibu, nanti kelihatan tua lo, itu ‘kan sandal model ibu-ibu.” jawabku. “Tak apa bu, yang penting aku pakai sandal” jawabnya enteng. Aku terdiam sambil menyimpan sedikit geram, betapa kerasnya aku membagi waktu demi mendapati sepatu fladeo kesukannya, tapi sampai Toko Matahari, tak ada satu pun yang cocok, malah berpaling memilih sandal ibunya. Ya Allah, bagaimana anakku ini nanti, tak bisa kubayangkan komentar orang-orang terdekatku, dan teman-teman suami. Nada juga masih tenggelam dalam diam tak banyak tanya atau berkata. Setelah mendapat obat, aku pulang dengan kecepatan sama, karena waktu menunjukkan 11.20 WIB. Sepanjang perjalanan Madiun-Ponorogo, pikiranku terus berputar, ke mana Nada akan kuajak lagi membeli kebutuhan barunya?

Sesampainya di rumah, jarum jam menunjukkan pukul 11.55 WIB. Aku ganti baju, kuajak kedua anakku yang lain, Kavindra dan Cika menghadiri resepsi pernikahan saudara suami. Kali ini aku tak bersama suami, karena ia sudah di Semarang sejak hari Minggu malam untuk gladi bersih, dan persiapan ujian promosi. Usai resepsi, kubelikan sandal untuk Cika di Luwes sambil melihat sandal atau sepatu model ABG. Aku tersenyum melihat koleksi di Luwes, ada beberapa pasang yang menurutku cocok untuk Nada. Oke, nanti sore entah jam berapa, aku ajak Nada ke sini, suara hatiku. Dan saatnya pulang ke rumah, melanjutkan membuat kue.

Sesampai di rumah, aku panggang kue dan memasukkan yang sudah siap ke masing-masing toples agar tertata rapi. Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa pukul 17.45 WIB, namun kue belum juga selesai, kira-kira kurang 4 loyang belum terpanggang. Dilanjutkan nanti malam saja, janjiku di hati. Ku suruh Nada ambil air wudhu untuk sholat maghrib sendiri, karena posisiku sedang haidh, setelah itu aku ajak ke Luwes melihat sepatu atau sandal yang pas untuknya. Sampai di Toko Luwes kutanya Nada, “Mana nduk yang kamu suka?” “Tak ada, ayo pulang saja bu” lagi-lagi itu tawaran yang diberikannya. “Mbak Nada, tolong kasihani ibu, ibu sudah pusing membagi waktu, sampai di sini kamu mengajak pulang, maumu bagaimana, besok pakai apa?”, “Pakai sandal ibu saja tidak apa-apa, terus bajunya aku pakai baju pemberian bulek Ninok kemarin, masih bagus kok bu, jadi ibu tidak usah membelikan aku sandal dan baju, toh di rumah sudah ada.” “Sudah, begini, toko sepatu mana yang mbak suka, ayo ibu antar!” Nada hanya menggelengkan kepala, merajuk ingin pulang saja, dan bersikukuh tetap ingin memakai sandalku. “Ke toko Batta ya, atau toko mana?” rayuku. “Terserah bu, bu” jawab Nada.

“Allah, tolong bukakan pikiran anakku akan kemauan dan maksud hatiku, tidak lain ini aku lakukan untuk Nada, agar ia pantas dilihat orang di acara nanti, juga untuk menghormati suamiku. Salahkah usahaku ini ya Allah, sementara kerjaan di rumah belum selesai. Allah, aku tidak tahu apa maksud Nada selalu menolak yang aku tawarkan, Allah,” gumamku lirih. Aku keluar dari Luwes dengan kehancuran hati, kemudian aku gas motor menuju Toko Batta. Di sana lagi-lagi tak ada satupun yang cocok, Nada hanya mengajak pulang. Aku belum puas, kumasuki setiap toko sepatu yang ada di Ponorogo dan hasilnya nihil. Akhirnya, pulang dengan kekecewan, kami saling diam sampai di rumah. Aku heran, ada apa dengan Nada, ada sesuatu yang sangat mengganjal hati kecilku.

Di rumah, tangan ini kembali bermain loyang dan panasnya oven dalam memanggang kue sampai tengah malam, tepat pukul 24.00 WIB. Selesai sudah, Subhanallah, betapa padatnya acaraku seharian, dengan sedikit sisa tenaga di jiwa dan raga, kucoba rebahkan badan sambil meluapkan lautan emosi lewat tangis tanpa sepengetahuan anak-anakku. Masih terngiang di pikiran, tak bisa nalarku mengurai alasan, mengapa Nada tidak mau aku belikan sepatu atau sandal dan baju baru, padahal ini akan dipakai di acara resmi bapaknya. Ah, tak terasa lelehan air mata menghantarku nyenyak dalam tidur, walau menyisakan sejuta pertanyaan, yang tak mungkin terjawab oleh dinginnya malam.

Pagi, rabu 26 Desember 2012, masih ada waktu hingga pukul 20.00 WIB. Pukul 24.00 WIB, kami harus berangkat ke Semarang. Pukul 09.00 WIB, aku ajak kembali anakku ke jantung kota. Dalam perjalanan, aku ingat ada sebuah Toko Red Bone tempat mangkal ABG menghabiskan waktu untuk mencukupi kebutuhannya. Ya, di toko itulah aku ajak Nada. “Bu, inikan tokonya anak-anak muda, dan kakak temanku suka belanja di sini” sambut Nada, ketika kuparkir motor di depan toko. Wah ada secercah harapan menyemangati langkahku. “Iya nduk, benar katamu, maaf ibu lupa kalau di sini ada toko ABG, ayo kita masuk.” ajakku. Nada pun antusias memasuki toko. Pandangannya tertuju ke sepasang sepatu sandal berwarna putih, dipegang lalu diamati dan dicoba. “Cantik sekali sepatu itu mbak, lucu.” kataku. “Lucu bu?”, “Iya, ambil saja nduk, kamu pantas memakainya,” komentarku. Memang benar sepatu sandal itu sesuai, kala dipakai anakku. Bukan aji mumpung aku berkomentar demikian. Nada mengambil sepatu sandal itu, harga terpatok Rp. 35.000,- sangat murah, jika dibanding dengan sepasang fladeo.

Transaksi selesai kutawarkan pada Nada untuk membeli baju. Terus terang, baju yang di rumah tak layak pakai versiku. Nada menolak dengan alasan di rumah ada baju bekas pemberian buleknya yang masih bagus. Ada segenggam kesedihan, kala mendengar pernyataan itu. Dengan agak memohon, tetap kutawarkan pergi ke Pos Mode. Nada menolak. “Sudah Nada, kita lihat-lihat saja ya, tidak beli kok, mau to nemani ibu?” tanyaku. “Terserah ibu saja.” Kami lanjutkan perburuan fashion ke Toko Pos Mode. Nada mulai melihat-lihat baju, aku pun sibuk melihat baju yang pas untuknya. Jatuhlah pilihan Nada ke baju warna hijau. “Ini bagus ya bu?” tanya Nada. “Iya, ambillah, ndak apa-apa, cantik untukmu mbak!” jawabku. “Sudah, sekarang Mbak Nada tinggal pilih rok untuk bawahan baju itu, ayo sana cari!” pintaku. “Ibu, untuk yang satu ini Nada tidak nurut sama ibu, bukankah di rumah masih ada rok bagus, kenapa harus beli lagi? Nada tidak mau, pokoknya tidak mau” gerutunya. “Nduk, lihat itu rok jeans bagus sekali, dan cocok untuk bawahan bajumu!” rayuku. Nada tidak merespon sedikitpun pernyataanku, lagi-lagi ia geleng kepala. Dia tetap ngotot tidak mau beli rok, jilbab pun tidak mau, karena di rumah sudah ada.

Kalau menuruti kemauanku, semua yang dikenakan anak-anak dalam acara Promosi Doktor bapaknya harus baru, karena ini momen penting yang dihadiri banyak orang. Apa kata orang-orang nanti, melihat anak-anakku berpakaian biasa tidak baru? Seperti tak mampu membelikan saja. Tapi akhirnya, aku menuruti Nada, meski hatiku tidak puas dan tak sependapat dengannya. Kami pun pulang. Tiba di rumah, bergegas melanjutkan kegiatan, mempersiapkan apa saja yang perlu dibawa nanti malam.

Senja menampakkan semburat jingga di kaki langit. Ku rasakan aroma malam menyapaku, mengantarku bertemu pijar elok sang rembulan. Waktu berjalan tiada henti. Detik-detik keberangkatan ke Semarang kian dekat. Sebelum kaki ini benar-benar meninggalkan sementara hunian kami, aku sempatkan membuka Facebook untuk berpamitan, mohon doa dari teman-teman dan saudara untuk kelancaran acara Promosi Doktor suamiku. Tak disangka, mata ini terperanjat oleh status anakku yang berbunyi, “Kesederhanaan adalah segalanya, aku mencintai kesederhanaan, biarlah aku tetap dalam kesederhanaan. Bukan berarti kesederhanaan itu hina, dan memang tidak harus dihina”. Butir demi butir air mata yang jatuh semakin deras membasahi pipiku, aku tertegun lalu berkata; Ya Allah, inikah maksud dibalik sikap anakku yang selalu menolak ketika kucoba membelikan beberapa kebutuhannya yang agak mahal? Sungguh kata-kata bersahaja, mampu meraup kesan anehku padanya. Terima kasih anakku, melalui sikap tegasmu membuat ibu sadar, bahwa menyambut sesuatu yang menyenangkan, tak harus dengan barang-barang baru dan mahal. Terjawab sudah kegalauan yang menyita hatiku. Nada pun tampil bersegala yang diingini, walau ada rasa kurang klop, aku melihatnya. Tapi itu bukan jadi soal baginya, toh dia tampak enjoy sekali mengikuti prosesi acara bapaknya.
***

Allah, Engkaulah yang mengatur semua ini, Engkau jadikan ia malaikat pengingatku, ketika aku terlalu menggebu menginginkan sesuatu yang bersifat duniawi. Ku rasa benar, tampil bagus bukan berarti harus mahal, dan sederhana bukan berarti jelek. Alhamdulillah, telah Kau ciptakan Nada untukku. Jadikan ia anak sholehah yang senantiasa taati aturan main-Mu, selalu mendoakan kedua orangtuanya. Jagalah ia, lindungilah dan berilah umur panjang yang bermanfaat. Mudahkan segala urusannya, serta berilah jalan demi menggapai cita-citanya.
***

Terimakasih kuucapkan kepada Ustadz dan Ustadzah di Lembaga Pendidikan SDIT Qurrota A’yun, tempat Nada dan adik-adiknya menimba ilmu, yang telah mendidik anak-anak kami pendidikan karakter bersegala keikhlasan, ketelatenan serta penuh tanggung jawab, hingga mereka memiliki kepribadian tangguh. Apa yang dilakukan ustadz dan ustadzah, semoga Allah menilainya sebagai amal ibadah, dan mendapat balasan yang lebih baik. Amin.

*) Amalia Sulfana, S.Ag, lahir di Ponorogo, 17 Mei 1974, adalah Wali dari Ananda Nada Muhda Imana (siswi kelas 6-Umar) dan M. Kavindra (siswa kelas 2-Umar). Alamat sekarang di Jl. Perikanan 66 Pondok Babadan Ponorogo. Penulis adalah istri dari Dr. Nurul Iman, M.Ag.