Kisah al-Qur’an dan Seorang Ibu yang Bekerja

Shinta Maharani *

Saya seorang ibu dengan 3 anak, yang bekerja di salah satu instansi pemerintah. Mungkin ada yang menganggap saya termasuk berhasil, karena sembari bekerja, telah menyelesaikan pendidikan S-3 di salah satu universitas di Surabaya. Namun sungguh jika boleh memilih, lebih baik mengurus pekerjaan rumah tangga, mendidik putra-putri, tersebab bekerja di luar rumah bukan pilihan terbaik.

Semuanya berawal ketika putra saya duduk di Sekolah Dasar, protes ketika menyuruhnya mengaji Al-Qur’an. Loh kok protes? Padahal di sekolahnya hampir tiap hari mengaji? Protes yang disampaikannya, “Mama nggak ngaji kok menyuruh saya ngaji”, Allahu Akbar! Betapa kalimat tersebut menggugah mengoyak hati, dan sungguh membuat saya terpukul sebagai muslimah juga seorang ibu. Tapi diri akui ini semua kesalahan saya pribadi, begitu sedikitnya waktu untuk putra-putri serta suami, dan terbatasnya pengetahuan agama saya miliki. Waktu sebagian besar terhabiskan di kantor, dari pagi hingga sore, sore hari baru sampai rumah. Ketika di rumah, rasanya sudah lelah untuk memikirkan urusan keluarga pun diri sendiri; mentadabburi Al-Qur’an, mengikuti pengajian, membaca buku-buku keagamaan.

Memang setiap hari libur kami gunakan bersama keluarga, tapi sepertinya waktu yang ada sangat kurang, sehingga ketika hari senin tiba, seperti robot terprogram urusan kantor. Jujur, pernah berpikir untuk memutuskan berhenti kerja, karena hendak mengurus keluarga dan diri saja, namun selalu berbagai perasaan muncul. Meski sebenarnya suami saya merupakan seorang yang cukup dalam karir pun penghasilan. Bahkan terkadang saya anggap masih bisa membagi waktu demi keluarga, toh teman yang lain di kantor juga bisa. Adanya ungkapan “kualitas pertemuan dengan keluarga lebih penting daripada kuantitas” sering menjadi patokan. Sampai akhirnya semua berjalan cepat sebelum sempat tersadarkan, anak saya berubah sangat kritis!

Suatu ketika saya pergi ke Amerika sekitar 3 bulan, guna penelitian. Sekembalinya di Tanah Air, putra saya ngambek dikala menjemput, tidur-tiduran di area parkir stasiun Madiun. Peran ibu seyogyanya mencurahkan kasih sayangnya, membelai dengan jemari tangannya; atas nasihatnya sendiri, tingkah lakunya dijadikan “role model”, jadi sekolah bagi putra-putrinya. Sementara saya? Kadang menyapa hanya lewat telpon, dan akhirnya pengasuh anak saya yang sering memberi nasihat, mendidik daripada saya. Kadangkala cuma bisa marah, kalau diberi laporan dari pengasuh, bahwa anak-anak bertengkar. Hati ini teriris, ketika putri saya bilang, “Mama, saya ikut mama bekerja ya”, kala saya pamit berangkat kerja. “Surga di bawah telapak kaki ibu” akan tetapi, masihkah surga ada di bawah telapak kaki ibu seperti saya? Ibu yang tak menyusui anaknya 2 tahun penuh. Ibu yang larut pekerjaan kantor, sedang anaknya bercengkrama bersama pengasuh. Ibu yang sibuk dengan laptop, sedangkan anaknya tidur siang dengan pengasuh. Ibu yang asyik makan sendiri di kantor, dan anaknya di rumah disuapi pengasuh.

Memang suara hati tak membohongi. Saya renungkan itu, hanya dari cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Saya tersadar ini realita, kenyataan yang terjadi. Sungguh saya tuliskan ini, semoga ada yang bisa ambil pelajaran darinya. Siapapun yang membacanya dapat menentukan prioritas hidup, dan tak salah memilih. Kini, saya dan suami sering memutar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an di mobil, kemana pun pergi, juga ikut pengajian demi menentramkan hati menambah pengetahuan, tak lupa berusaha menghafal Al-Qur’an meski sedikit demi sedikit. Mencari referensi di internet tentang dilema ibu bekerja; saya yakin, semua sendi kehidupan telah diatur Islam. Islam sebagai agama sempurna, memberi petunjuk arahan apa-bagaimana sebaiknya; batasan pekerjaan yang harus dihindari, panduan penghasilan harta seorang ibu yang bekerja. Karena sesungguhnya, peran utama yang mesti dijalai seorang ibu ialah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami. Menyelesaikan pekerjaan rumah, saya rasa tak kalah berat dari pekerjaan suami memenuhi nafkah. Seorang ibu, tak berkewajiban turut mencari nafkah, ini telah dibebankan ke suami.

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (Al Baqarah: 233)

Akan tetapi, ada hal perlu saya renungkan, ketika memutuskan bekerja membantu suami memenuhi nafkah. Saya patut meluruskan niat untuk benar-benar membantu penuhi nafkah keluarga, bukan ingin mengejar karir, kedudukan, popularitas atau demi kebutuhan lain yang bukan utama, atau pun hanya ingin terlihat mentereng di mata orang lain.

Sebagai ibu, saya perlu terus memperkaya diri atas ilmu yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadist, agar dapat memilah-memilih informasi benar lagi bermanfaat bagi diri serta keluarga. Tugas utama manusia ialah beribadah kepada Allah Subhanallahuwataala, ini berlaku untuk lelaki pun perempuan. Kini yang bisa saya lakukan, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an diwaktu berhadapan laptop ketika berada di kantor, tak lupa berupaya menghafal beberapa surat pendek serta aktif dalam pengajian. Tak ada kata terlambat untuk sebuah usaha, bahkan saat ini mulai mengumpulkan berkas-berkas kedinasan guna berencana mutasi pada profesi lebih fleksibel jam kerjanya.

Sesungguhnya seorang muslim, siapapun dia, dalam posisi apapun kedudukannya di tengah masyarakat, berkewajiban melaksanakan aturan yang diperintahkan-Nya. Saya yakin perjuangan memerlukan pengorbanan besar. Maka tekad membaja pribadi, untuk senantiasa menyibukkan diri membentuk kepribadian yang mencintai Al-Qur’an. Semoga tercipta keluarga yang kecanduan, takut kehilangan Al-Kitab, sebagai langkah nyata mewujudkan cita-cita.

Saya berikhtiar sekuat daya mengamalkan ketentuan yang telah disyariatkan Allah SWT, dengan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya, termasuk mendidik 3 anak. Menghilangkan berbagai motivasi dan tujuan yang hanya disandarkan pada materi, manfaat dan berbagai unsur lain selain keridhaan-Nya. Menempatkan ridha-Nya sebagai tiang tertinggi. Dengan hal tersebut, akan dapat diraih derajat mulia di sisi-Nya, Insyaallah.

Sungguh Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Semoga saya dapat memetik pelajaran ini. Saya pribadi telah berjanji untuk senantiasa menghiasi diri dengan Al-qur’an, Insyaallah bisa luangkan waktu untuk keluarga. Dan Allah senantiasa memberi jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi hamba-hamba-Nya.

*) Dr. Shinta Maharani, lahir di Surabaya, 25 Mei 1979, adalah Wali dari Ananda M. Singgih Arya Duta (siswa kelas 1-Abdul Aziz), Chantika Maha Dewi, dan M. Rizki Aditya. Alamat sekarang di Perum Garden Family Blok C5 Singosaren Ponorogo. Penulis adalah istri dari Dr. M. Miftahul Ulum.