Keteguhan Hati Mencari Makna Hidup

Judul: Rantau 1 Muara
Penulis: A Fuadi
Penerbit: Kompas Gramedia
Cetakan: Juni 2013
Tebal: 407 halaman
Peresensi: A Wahyu Kristianto
Media Indonesia, 23 Juni 2013

“Mungkin dengan menjadi penulis dan wartawan, aku bisa merintis jalan untuk bisa awet muda dengan tulisan dan karya jurnalistik yang berguna dan abadi, bisa mengubah dunia hanya dengan kata-kata.”

ALIF baru saja menyelesaikan tugasnya menuntut ilmu di jurusan hubungan internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Ia telah menjadi seorang sarjana. Lepas dari bangku kuliah, tokoh utama yang dikisahkan sebagai seorang anak berdarah Minang yang merantau ke Pulau Jawa itu dihadapkan pada situasi yang tidak mengenakkan.

Saat itu adalah titik awal masa reformasi Indonesia yang berbalut krisis ekonomi. Tak berbeda dengan kebanyakan orang di masa itu, Alif juga merasakan kesengsaraan yang teramat sangat. Ia kehilangan ladang pendapatan yang berasal dari salah satu koran lokal Bandung tempat dia biasanya menjadi kontributor.

Tak ada lagi uang saku yang membiayai perantauannya. Tak ada pula uang kiriman untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Berbekal prestasi yang ciamik di bangku kuliah, Alif ke sana kemari mencari pekerjaan yang lebih banyak berujung penolakan.

Saat ia hampir tanpa harapan, takdir mempertemukan Alif dengan profesi kewartawanan. Ia diterima sebagai jurnalis di majalah Ibu Kota yang sangat populer di kala itu, Majalah Derap. Alif pun pindah ke Jakarta untuk merintis profesi barunya.

Begitulah kisah yang membuka halaman-halaman awal buku Rantau 1 Muara ini. Seri terakhir dari trilogi kisah Negeri 5 Menara baru saja diluncurkan oleh penulis Ahmad Fuadi. Novel Rantau 1 Muara mempunyai daya tarik tersendiri sejak melihat sampulnya. Berbalut desain sampul yang sederhana dan permainan warna hijau toska yang menyejukan mata, visualisasi novel itu terlihat elegan.

Dengan desain buku yang menarik, alangkah tergodanya untuk menilai buku tersebut dari sampulnya dengan berujung ekspektasi besar pada jalan cerita buku pamungkas yang ditulis selama dua tahun itu. Semiotika yang dipakai pada sampul buku ini berjalan dengan sempurna. Waktu dua tahun untuk merampungkan novel anyar itu bagi Ahmad Fuadi seperti jalan panjang yang membuatnya berutang budi pada banyak orang. Hal tersebut terlihat dari kata pengantar yang lebih banyak disisipi ucapan terima kasih pada karib kerabat sanak keluarga daripada memaparkan benang merah novel 407 halaman ini.

Melahap halaman demi halaman novel ini membuat fungsi bacaan sebagai hiburan menjadi sangat kentara. Empat puluh enam bab dijalin dengan alur yang mengalir, deskripsi yang sangat rinci hingga pesan-pesan sederhana yang terasa tidak dipaksakan. Berbicara pesan, novel ini dipenuhi berbagai pesan kehidupan yang memang menjadi senjata utamanya.

Motivasi hidup

Sejak buku pertama berjudul Negeri 5 Menara rampung, penulis konsisten meramu pesan dan motivasi hidup dalam setiap cerita yang ditulisnya. Hal itu pula terasa di buku ini. Meskipun banyak pesan dan motivasi, buku ini tidak seperti menggurui pembaca. Cerdiknya, penulis membiarkan pembaca memahami dengan persepsi setiap artian pesan yang disisipkan. Sepeti salah satu kalimat di halaman 221. “Bagi Mas Garuda makan bersama itu penting. Dan memasak makanan buat teman itu lebih penting lagi.” Penulis cukup cerdas membuat adonan cerita yang legit untuk disantap. Tak ada halaman yang mengharuskan pembaca untuk mengerinyitkan kening mencerna cerita yang ditulis Ahmad Fuadi. Semuanya bisa dinikmati sembari menghabiskan sore yang bermandikan kemilau matahari ataupun sembari duduk di kereta menuju rumah. Ciri khas lain yang terasa dari buku ini adalah bagaimana penulis meramu romansa dalam cerita Rantau 1 Muara.

Tak hanya menjadi sebuah bumbu semata, romansa anak muda yang dikisahkan dalam buku ini memiliki porsi tersendiri yang cukup esensial. Ramuan romansa tersebut juga begitu kental dengan karakter anak muda Minang yang tetap menjunjung kesopanan walaupun berbicara cinta. Dengan latar belakang yang memang berdarah Minang tidak sulit bagi penulis untuk menjelmakan karakter pemuda Minang yang kuat pada diri Alif.

Romantisme dari meja redaksi Majalah Derap juga menjadi sebuah hiburan yang maksimal untuk pembaca. Pengisahan hari-hari Alif yang berprofesi sebagai seorang jurnalis terasa begitu nyata. Pembaca bahkan bisa dengan sangat jelas membayangkan tugas-tugas yang ditunaikan Alif selama berkarier di Derap.

Latar belakang wartawan yang pernah ditekuni penulis memang banyak membantu mengejawantahkan kisah apik kewartawanan Alif. “Saya sampai minta izin pada teman-teman wartawan untuk kembali ikut rapat redaksi demi mendapatkan kembali i sebagai wartawan,” beber Ahmad Fuadi yang sangat mementingkan riset untuk membangun imajinasi kisah-kisah yang ia tulis.

Setiap buku pasti memiliki kekurangan, begitupun buku Rantau 1 Muara. Satu kekurangan yang sangat terasa ialah penulis yang terlalu berani dan sering menggunakan kata-kata serapan dari bahasa Minangkabau ke dalam kalimat.

Kata-kata yang dipakai pun bukanlah kata-kata serapan yang populer, bukan kata-kata yang familiar oleh orang di luar Sumatra Barat misalnya penggunaan kata lindap di kalimat “Di bawah sinar lindap, aku melihat kamarku masih persis seperti waktu aku tinggalkan.” Penggunaan kata serapan yang kurang familiar memang baik untuk mengenalkan ke khalayak, tapi alangkah lebih baik menggunakan kata yang dimengerti orang banyak.

Meskipun begitu, kisah dari novel ini memperlihatkan kesinambungan dengan dua novel terdahulu karena kisah yang disampaikan dalam buku ini melanjutkan periode terdahulu kehidupan Alif.

Di buku ini, sosok Alif dihadapkan pada pencarian paling krusial dari periode hidup manusia yang terdiri dari pencarian passion pekerjaan, belahan jiwa, hingga pencarian makna hidup itu sendiri yang membawa Alif ke Amerika. Rantau 1 Muara dirasa cukup pas untuk merepresentasikan kepamungkasan cerita trilogi Negeri 5 Menara.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/06/jendela-buku-keteguhan-hati-mencari.html