Kontribusi Sastrawan bagi Pendidikan Bangsa

Taufiq Ismail *
suaraleuserantara.com 12 Juli 2013

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang sering melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, punya kebiasaan membelikan buku untuk diberikan sebagai oleh-oleh kepada rekan-rekannya di kabinet. Ini cerita awal tahun 1990-an. Dia lebih mengutamakan menghadiahkan karya sastra, misalnya novel-novel pemenang Nobel. Karena Anwar acap kali berkunjung ke Jakarta dan selalu mampir ke toko buku memborong, maka banyak karya sastra Indonesia jadi oleh-olehnya, misalnya novel Budi Darma Olenka, dan berbagai kumpulan puisi utama Indonesia. Hadiah itu disertai dengan catatan kecil Anwar tentang buku tersebut untuk teman-temannya menteri kabinet.

Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, pernah mengumpulkan sejumlah menteri kabinet, sekjen, dirjen, direktur dan eselon bawahnya untuk mendiskusikan cara menulis laporan, memorandum, kertas kerja dan dokumen lainnya. Ini cerita tahun 1979. Dibawanya contoh-contoh laporan yang ditulis anakbuahnya, dibacakannya, dianalisis dan didiskusikan bersama di Regional Language Centre Singapura. Bayangkan, seorang Perdana Menteri langsung bicara dengan anakbuahnya, menekankan pentingnya mengarang prosa yang “bersih dan jelas.” Lee tidak suka tulisan atau laporan yang “elegan dan bergaya-gaya.” Dia maukan laporan, memorandum atau kertas kerja yang “bersih dan jelas” saja. Bagaimana cara menulisnya? “Sederhanakan, digosok terus, lalu kata-kata yang berlebih dibuang, sehingga tulisan jadi ketat dan ringkas,” begitu ujar Lee.

Budaya membaca buku dan budaya me­ngarang di atas, ditambah dengan apresiasi terhadap karya sastra yang luarbiasa merosotnya di negeri kita inilah, yang dicoba diatasi dengan menerbitkan sisipan Kakilangit (Nopember 1996 sampai sekarang) di Horison, dan mulai April 1999 melalui pelatihan guru-guru bahasa dan sastra se-Indonesia. Pelatihan tersebut, yang bernama pelatihanMembaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS), telah berlangsung 7 angkatan dan diikuti oleh sekitar 400 guru dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yog­yakar­ta dan Jawa Timur. Pembiayaan datang dari pemerintah melalui Bappenas dan Depdiknas. MMAS yang mendapat sambutan sangat hangat dari para guru peserta ini, akan dilanjutkan terus ke provinsi-provinsi lain.

Apabila guru bahasa dan sastra adalah sasaran MMAS, maka siswa sekolah lanjutan atas adalah sasaran SBSB dan mahasiswa sastra sasaran SBMM. Seluruh kiprah ini bergerak di dalam perubahan paradigma pendidikan sastra kita.

SBSB adalah program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya. Program ini mendatangkan 47 sastrawan ke 30 sekolah di 20 kota yang terletak di 3 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Dalam acara bertatap muka dengan siswa dan guru ini, sastrawan yang selama ini di kelas disebut-sebut saja namanya, berkisah tentang proses kreatifnya, membacakan karyanya, menunjukkan bukunya pada siswa dan bertanya-jawab. Acara yang berlangsung sejak 21 Februari sampai dengan 22 April 2000 ini diharapkan akan merangsang budaya membaca buku, menulis karangan dan apresiasi sastra para siswa. Para siswa ini adalah murid-murid SMU, SM Kejuruan, Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren. Ketika Horison nomor ini terbit dan beredar, SBSB yang baru dimulai masih berlangsung. Pembukaan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya dihadiri oleh 1500 siswa dan guru. Tanya jawab dan diskusi yang berlangsung seru dan tidak seluruhnya tertampung waktu, membuktikan dahaga sastra siswa dan guru yang tidak sepenuhnya terpuaskan.

SBMM adalah program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca. Program ini mendatangkan 12 sastrawan ke dua kampus di Jakarta, yaitu 6 sastrawan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan 6 sastrawan ke Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (dahulu IKIP), tahun kuliah 2000 – 2001. Tidak pernah ada program yang sinambung, terus-menerus secara teratur, mendatangkan sastrawan berbicara dan berdiskusi dengan mahasiswa sastra di kampus. Hal ini luar biasa senjang dan anehnya. Karya sastrawan berpuluh tahun dikuliahkan, ditelaah, dianalisis, dikritik dan ditulis, tapi sastrawan itu, yang 100-200 meter di luar pagar kampus melintas lalu-lalang, tidak pernah diundangsecara terprogram untuk berbicara langsung mengenai karya, proses kreatif dan latar belakang mereka. Bukankah hal ini akan sangat menambah keluasan wawasan mahasiswa sastra, termasuk dosen-dosennya terhadap karya sastra tersebut? Hal ini sudah keterlaluan dilalaikan. Sastrawan-sastrawan itu pun ingin mengetahui apa yang dibicarakan dosen dan mahasiswa mengenai karya mereka, tapi selama ini gerbang kampus tertutup untuk mereka. Tidak ada kontak terus-menerus, tak ada interaksi yang teratur. Inilah yang dicoba-jembatani dengan SBMM.

Ciri khusus SBMM ini adalah bahwa sebulan sebelum sastrawan datang berbicara di kampus, 25 eksemplar buku karya utama sastrawan tersebut dibagikan kepada 25 mahasiswa dan dosen untuk dibaca tamat dan ditelaah, sehingga mereka akan menjadi peserta inti yang berdiskusi aktif dalam acara tersebut. Itulah sebab program ini berjudul Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca. Pembagian buku adalah untuk menghindari kebiasaan lama mahasiswa yang datang ke acara ceramah atau diskusi dengan kepala kosong saja. Dengan demikian diharapkan terstimulasi kebiasaan membaca buku di kalangan mahasiswa.

Kedua program ini, yaitu Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya dan programSastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca ini dibantu sepenuhnya oleh Ford Foundation. Diharapkan, apabila sukses, SBSB dan SBMM dilanjutkan ke provinsi dan perguruan tinggi lainnya.
***

Salah arah pendidikan sastra kita dimulai di tahun 1950-an ketika di PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), yang berubah jadi FKIP, belakangan jadi IKIP dan baru-baru ini berubah nama lagi menjadi Universitas Negeri setempat, guru SMA (sekarang SMU) yang dibentuk, dipersiapkan untuk mengajarkan bahasa saja. Sastra hanya dititipkan untuk diajarkan, sehingga mereka tak dapat dipersalahkan bila mereka sangat canggung bahkan kurang suka atau terpaksa saja mengajarkan sastra. Sastra di SMU diajarkan luarbiasa sedikit, antara 15-20 %, sedangkan tatabahasa terlampau banyak, empat sampai lima kali lipat, yaitu 80-85%. Di SMU negara-negara lain (Kanada, Jepang, Swiss, Rusia, Jerman, Perancis, Belanda, Amerika Serikat) kaidah-kaidah tatabahasa tak diajarkan lagi, karena dianggap sudah cukup diberikan sebelumnya di SD dan SMP. Di SMU negeri-negeri lain itu siswa dibimbing membaca buku, membaca buku, membaca buku, lalu mengarang, mengarang dan mengarang. Bukan berarti mereka mengabaikan tatabahasa. Penguasaan tatabahasa siswa dicek melalui penggunaannya dalam karangan yang mereka tulis.

Di ujung jalan dari pelatihan guru MMAS dan penggarapan siswa SBSB ini adalah bakal terbenturnya paradigma perubahan dengan kurikulum, Ebtanas, tidak tersedianya buku karya sastra di perpustakaan sekolah, soal-soal pilihan ganda, tidak adanya ujian mengarang, dan beberapa lagi butir masalah lain. Secara bertahap semuanya ini haruslah diatasi dengan tekun dan kesabaran bersama.

Pengamatan terhadap masalah ini, secara internal di Horison lebih intens dilakukan sejak 1996, ketika Horison berumur 30 tahun. Berbeda dengan dasawarsa-dasawarsa sebelumnya, kini bukan keluhan, kecaman, atau kritik lagi yang ditembakkan, tapi partisipasi kongkrit dalam pemecahan masalah yang dilangkahkan. Sisipan Kakilangit, pelatihan Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra untuk guru, program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya untuk siswa dan program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca untuk mahasiswa merupakan langkah-langkah kongkrit tersebut. Pada saat tulisan ini disiarkan, ayunan langkah baru merayap di 4 provinsi. Tanpa dukungan yang lebih luas semua fihak, rasanya kiprah ini masih belum akan optima. Kami sangat mengharapkan dukungan anda.

Agenda kerja Horison, di samping konsisten meneruskan apa yang jadi cita-cita di awal pendiriannya dulu, kini bertambah dengan kontribusinya terhadap pendidikan bangsa. Kami gembira bahwa rekan-rekan sastrawan yang peduli pada pendidikan bangsa mendukung gagasan positif ini.*** |horison|

*) Taufiq Ismail, Budayawan
Dijumput dari: http://suaraleuserantara.com/2013/07/12/kontribusi-sastrawan-bagi-pendidikan-bangsa/