Puisi

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 22 Sep 2013

HARI ini puisi masih terus ditulis. Hari ini puisi masih diterbitkan dan (mungkin) dibaca. Hari ini puisi masih dibicarakan meski kerap oleh kalangan sendiri. Hari ini masih ada yang bangga dan ingin menjadi penyair. Dan itu melegakan.

Pembahasan buku puisi Iwan Kurniawan, Rontaan Masehi, di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (20-9), salah satu bukti puisi masih ada “tempat”. Saya tak hendak bicara soal pencapaian estetika dan pembaruan sastra. Yang terpenting ia menulis puisi, sebuah upaya “pembebasan” diri sendiri. Dan, puisi ditulis (terserah) untuk rupa-rupa tendensi.

Kita ingat di suatu massa ketika puisi “menjalankan tugas penting” tentang ikrar persatuan, diskursus filsafat, dan polemik arah kebudayaan. Dua hari menjelang Sumpah Pemuda, Muhammad Yamin menulis sajak sembilan bait, Indonesia Toempah Darahkoe, tentu dengan spirit persatuan yang menggebu: “Tumpah darah Nusa-India/ Dalam hatiku selalu mulia/ dijunjung tinggi atas kepala/ Semenjak diri lahir ke bumi/ Sampai bercerai badan dan nyawa, /Karena kita sedarah-sebangsa/ Bertanah air di Indonesia.”

Sutan Takdir Alisyahbana (STA) di satu pihak dan Sanusi Pane dan beberapa nama di pihak lain, dalam polemik kebudayaan, juga memakai puisi sebagai alat. Rupanya STA tak merasa cukup dengan beberapa tulisannya–juga Sanusi—termasuk tulisan awal yang memancing polemik itu, Menoedjoe Masjarakat dan Keboedajaan Baroe: Indonesia Prae—Indonesia, Pujangga Baroe, 2 Agustus 1935).

STA menulis: “Kenangan lama rasa beku,/gunung pelindung rasa pengalang./ Berontak hati hendak bebas,/ menyerang apa segala menghalang, /karena kami telah meninggalkan engkau,/ tasik yang tenang, tiada teriak,/ diteduhi gunung yang rimbun/ dari angin dan topan.” (Menuju ke Laut).
Sanusi Pane menjawab: Aku mencari,/Di kebun India, Aku pesiar/ Di kebun Yunani, Aku berjalan/ Di Tanah Roma,/ Aku mengembara/ Di benua barat.// Segala buku/ Perpustakaan dunia/ Sudah kubaca, /Segala filsafat/ Sudah kuperiksa// Akhirnya ‘kusampai/ Ke dalam taman/ Hati sendiri// Di sana Bahagia/ Sudah lama/Menanti daku. (Mencari)

Juga “patriotisme” Chairil Anwar di masa revolusi kemerdekaan dengan beberapa sajaknya Dipenegoro, Keluarga Gerilya, Perjanjian dengan Bung Karno, dan sajak-sajak serupa yang ditulis penyair lain. Ia sah belaka sebagai puisi yang punya “tugas”. Tak soal puisi menjadi alat, tak soal puisi terlibat. Terlebih di zaman ini, era kebebasan segala urusan, termasuk juga sastra. Ia tak tergantung kritikus. Tak terbelenggu isme-isme, ideologi, guna (sastra untuk sastra atawa untuk masyarakat). Juga tak terperangkap dalam kotak angkatan dan periodesasi. Sastrawan hari ini adalah manusia tanpa angkatan.

Puisi (juga sastra) hari ini mewakili sang pengarangnya sendiri. Menjadi juru bicaranya sendiri. Ia bebas membawa “pesan kenabian”, suara kaum urakan, para demonstran, kaum penghibur, atau sekadar rekaman debur ombak di terpa terang rembulan. Yang terpenting dalam puisi, ia berjejak suara “kejujuran” penulisnya.
Biarlah puisi hadir dengan kebebasannya. Sebagai arus utama atawa sekadar penyeimbang kebenaran-kebenaran yang punya banyak kotak. Biarlah….Yang naratif atau yang liris, yang berkhotbah atau yang bergumam, tentang kekuasaan atau bunga mawar. Sebab, satu-satunya tugas puisi yang terpenting, ia tetap hadir. Dibaca atau tidak, dimengerti atau disalahpahami…

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/09/refleksi-puisi.html