Kasnadi *

Sudah tahukah Anda tentang benda yang bernama “topeng”? Bahan dasar, tempat asal, wujud, dan motifnya beraneka ragam. Ia mampu menggambarkan dan akhirnya mencitrakan segudang karakter dan karakterisasi manusia. Peran topeng pada zaman ini –yang dikatakan oleh banyak orang, zaman milenium, atau zaman elektronik, atau zaman computer, atau zaman global, atau zaman modern, zaman virtual, zaman posmo– luar biasa hebat. Bisa jadi tanpa topeng manusia akan kelabakan, tidak dapat hidup, mati dalam hidup. Mereka akan menjadi sosok terpinggirkan, terkucilkan, asing di negerinya sendiri. Kalau tidak memakai topeng bisa-bisa tidak kumanan. Persis ramalan pujangga yang pernah menghirup udara segar di tlatah Ponorogo, Ronggowarsito, yakni “yen wis teka zaman edan sapa sing ora meIu edan bakale ora keduman”. Wah, jangan heran jika topeng laris manis bak “kacang goreng”, karena ia mampu berfungsi untuk menutupi keasliannya dan dapat digunakan sesuai selera panggung bermainnya.

Topeng bisa menutup wajah dan citra asli manusia, bahkan topeng mampu mengubah eksistensi manusia. Yang bopeng tampak mulus, yang cacat tampak sempurna, yang pelit tampak dermawan, yang culas tampak anggun, yang jail tampak alim, yang kotor tampak bersih, yang najis tampak suci, yang haram tampak halal. Oleh karenanya, kalau ingin tahu yang asli, meminjam istilah Ariel “buka dulu topengmu”.

Untuk menyiasati kesemrawutan tatanan kehidupan zaman modern, agar kita dapat bertahan dan bermain di arena panggung sandiwara ini, kita perlu berguru pada bunglon, seekor reptil yang pandai menyesuaikan diri. Memang, manusia modern sangat membutuhkan topeng. Topeng sudah menjadi kebutuhan pokok, sejajar dengan sandang, pangan, dan papan. Ia sudah menyatu dengan jiwa dan raga, bagai puncak pencarian orang jawa “manunggaling kawula lan gusti”. Oleh karenanya, cara memakainya juga serba cepat dan canggih. –Tidak perlu meniru cara kuno yang biasa dipakai aktor pengemis kota. Mereka untuk mengubah jati dirinya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Mereka mencari dulu WC umum, masuk jelana mlipis, baju necis, dan sepatu mengkilat, keluar menjadi si bongkok yang mengundang recehan–.

Tapi Anda harus tahu, pada era modern ini topeng sudah tidak ada yang menjualnya. Produksi topeng tutup “kerekep”, bukan karena gara-gara mogok para pekerjanya minta kelayakan upah, bukan karena majikannya takut bangkrut gara-gara etos kerja karyawannya, tetapi karena hamper semua manusia bias menciptakannya. Mereka sudah pandai dan ahli menciptakan topeng sendiri-sendiri. Dengan berbagai kreativitasnya, mereka mampu membuat topeng sesuai dengan selera. Mereka menciptakan topeng tidak mau ketinggalan mode. Semakin hari semakin bagus, halus, manis, dan memikat.

Kehebatan topeng-topeng itu mampu menysup di segala penjuru nadi kehidupan. Oleh karenanya, mereka sudah terbiasa berkeliaran di sudut-sudut kota, mereka leluasa ngendon di pojok-pojok kantor, barhamburan di pasar-pasar, berjingkrak-jingkrak di jalan raya. Mereka tak terhalang bergoyang di ruang-ruang sidang, menjilat bantat berpikir uang. Mereka kadang berkelebat di layar kaca, menyampaikan sebuh fatwa demi kekuasaannya. Mereka kadang tak terduga masuk desa membawa senyum sebagai lips service untuk merayu rakyat jelata. Mereka tak segan-segan berdjoget ria di lembaga yang penghuninya takut akan dosa katanya.

Meski topeng marajalela, tak usah risau dan khawatir. Mari menyempatkan diri untuk bercermin, merenung, bersolilokui, dan bertanya kita mengenakan topeng yang mana ya?

*) Penulis adalah staf pengajar di STKIP PGRI Ponorogo.

Categories: Esai