STA

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 13 Okt 2013

PADA Jumat lalu (4/10), di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dilangsungkan kuliah umum tentang Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang disampaikan oleh Karlina Supelli, seorang pengajar Program Pascasarjana di Sekolah Tinggi Driyarkara Jakarta. Acara diadakan untuk mengenang STA, sastrawan, pemikir pendidikan, pendiri kampus dan pengajar filsafat yang pernah jadi ketua pertama Akademi Jakarta.

Boleh jadi adalah takdir, bahwa kita akan selalu kembali kepada STA. Ia seorang novelis dan pemikir kebudayaan Indonesia kelahiran Natal, Tapanuli, pada 1908. Masih di masa kolonialisme Belanda, ketika berumur 20-an ia sudah muncul dengan usulan kebudayaan yang sebaiknya ditempuh Indonesia, kelak, bila mau merdeka!

Dan kini Indonesia yang diimpikannya sudah merdeka selama 68 tahun. Tapi, sebagian dari kita masih saja “gentar” terhadap apa yang diproyeksikan STA puluhan tahun lalu. Agar kita merengkuh kebudayaan Barat. Karena bagi STA, seperti dikemukakannya pada 1935 itu, Barat adalah masa depan. Kemajuan yang harus dipeluk, bila Indonesia modern mau dikonkretkan sebagaimana disumpahkan para pemuda pada 1928.

Barat di benak STA masa itu adalah renaisans (pencerahan), pemikiran rasionalisme yang memuja matematika dan teknologi. Yang dilambangkan secara sempurna oleh sikap pantang menyerah dan perkasa Jerman. Sebuah negara yang mampu bangkit dari keterpurukan di Eropa. Sikap yang juga dikibarkan STA melalui roman bertendensnya, Layar Terkembang (1937).

Layar Terkembang menokohkan seorang wanita, Tuti. Tipikal seorang pergerakan yang memuja emansipasi solusi atas persoalan wanita dan juga nantinya, masalah kemerdekaan, demi kesetaraan gender — antarindividu hingga antarbangsa. Tuti mendukung pikiran rasional dan menolak kepercayaan yang berdiri di atas tahyul dan mitologi. Tuti menggugat nilai-nilai tradisional yang menempatkan wanita di belakang pria; bahkan harus hidup dalam pingitan.

STA menyosokkan Tuti sebagai pribadi yang fasih menyampaikan gagasan di forum-forum diskusi. STA menyajikan dalam novelnya, berkali-kali, dan berpuluh-puluh halaman. Dengan penyuguhan verbalitas tinggi, sedikit peristiwa, konflik minimal, dan menghindari karakter rumit. Akibatnya, novel terasa monoton karena hanya berisi pidato-pidato yang sebagian bahkan mustahil dikonkretkan dalam keseharian. Kecuali oleh tokoh-tokoh tipologis, dalam novel yang semata-mata mengemban pesan si pengarang.

Di Layar Terkembang, STA juga menghadirkan seorang tokoh wanita romantis, Maria (adik Tuti), yang menjalin kasih dengan Yusuf. STA kemudian mengarahkan plot berujung pada perubahan karakter tokoh. Maria sejak lama mengagumi kakaknya, Tuti. Tapi Yusuf juga mengagumi Tuti. Hingga ketika Maria meninggal karena sakit, Maria meminta Yusuf membahagiakan kakaknya yang telah mengorbankan masa muda untuk pergerakan nasional.

Bertendes, menyampaikan maksud pengarang (moral, ideologi, pemikiran) secara transparan adalah salah satu ciri kepengarangan STA. Gaya ini dipertahankannya di dalam novel Grotta Azzura (1970) yang terbit pasca-kemerdekaan. Novel 556 halaman ini merupakan novel paling tebal dalam sastra Indonesia masa itu; sebelum dilampaui Arus Balik (1995) karya Pramudya Ananta Toer 760 halaman.

Grotta Azzura mempunyai plot sederhana dan pendek. Seorang pemberontak anti-Soekarno, lari ke luar negeri dan berusaha menyusun pemberontakan dari sana. Tapi yang terjadi adalah pertemuannya dengan seorang wanita asing dan mereka saling jatuh cinta. Sepanjang pelarian cinta itulah novel menghampar sebagai diskusi, perdebatan, antar tokoh-tokoh cerita, atau bersama-sama tokoh lain yang sengaja dimunculkan pengarang meramaikan perbincangan. Sebuah cara penceritaan yang membuat kritikus A Teeuw, pernah menyebut Grotta Azzura novel gagal dan membosankan.

Tapi penilaian A Teeuw tak mengandung arti apa pun, dihadapkan dengan keberadaan novel tersebut sebagai produk khas STA yang berpihak pada sastra bertendens. Sebuah karya intelektual, yang memang secara tegas menyosokkan sikap pantang menyerah, terhadap keadaan yang mengekang tokoh cerita.

Sebagaimana, STA tak pernah menyerah mengusung dan mengagungkan rasionalisme Barat. Itulah yang bisa disimak dari kesungguhannya berpolemik (menghadapi serbuan bantahan) pada 1935 dengan (dari) Sutomo, Sanusi Pane, Adinegoro, Ki Hajar Dewantoro, dll. yang cenderung mempertahankan nilai-nilai Timur sesuai konsepsi masing-masing.

Lalu pada 1986, ketika STA sudah berusia 78 tahun, sementara lawan debatnya berusia 40-50-an, ia menerima bantahan dari Arief Budiman, Umar Kayam, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, dll, yang mempertanyakan konsep Barat dalam benak STA.

Yang mengherankan adalah, STA menolak eksperimentasi dalam karya seni. Padahal eksperimentasi adalah bagian dari semangat individualitas dan kemajuan yang dipujanya dari Barat. Sebuah semangat yang juga dipraktekkan dengan sublim, oleh sahabat STA, sesama pendiri Pujangga Baru (1933), yakni penyair besar Indonesia, Amir Hamzah.

Tapi itulah soalnya. Setiap kali kita merindukan seorang Indonesia, yang bersikukuh mempertahankan pendiriannya dari berbagai ujian kritik, boleh jadi adalah takdir, bahwa kita akan selalu kembali kepada STA. Budayawan yang memiliki kepercayaan besar kepada manusia modern, modernitas dan ide tentang kemajuan, sebagaimana disampaikan Karlina dalam kuliah dua jam itu.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/10/kolom-sta.html