Mengarang untuk Jadi Pengarang?

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id

Pelajaran mengarang kini memasuki babak baru. Untuk pertama kali dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun pelajaran 2002/2003, pelajaran mengarang dipraktikkan di tingkat SLTP, SMU dan SMK. Siswa sempat kaget menerima kenyataan ini. Mengarang, dinilai oleh beberapa siswa sangat sulit. Tak ubahnya seperti pelajaran matematika, yang memang sebagian besar tidak diminati oleh siswa.

Ujian praktik mengarang ini terpisah dengan jadwal ujian tulis dan penyelenggaraannya berdasarkan otonomi sekolah masing-masing. Berbeda dengan ujian tulis Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan induk dari mengarang, materi soalnya didrop dari Depdiknas pusat. Tidak saja mengarang dalam bahasa Indonesia, melalui ujian akhir tahun ini, siswa SMU juga wajib mengikuti praktik mengarang dalam bahasa Inggris. Akibatnya, ketakutan siswa kian bertambah.

Rasa takut dan kaget ini, di lingkungan siswa memang tidak berlebihan. Sebab, selama ini mereka telah dicekoki dengan sistem LJK (Lembar Jawaban Komputer) dan sistem evaluasi multiple choice (pilihan berganda). Kedua sistem ini artinya, peserta ujian tinggal mengucek nomor jawaban yang benar dari beberapa jawaban yang telah disediakan dalam soal itu. Maka dari itu, ketika diinformasikan ada ujian mengarang, siswa tidak percaya. Karena komputer secanggih apapun tidak bisa memeriksa karangan siswa. Pendapat seperti inilah yang merasuki siswa dan juga guru, sehingga pelajaran mengerang di kelas bertahun-tahun diabaikan.

Secara teoritis beberapa jenis karangan telah dipelajari oleh para pelajar seperti karangan narasi, eksposisi, deskripsi, persuasi dan argumentasi. Namun, ketika mereka disuruh mengarang, masalah pun langsung muncul. Kalimat pertama tidak muncul-muncul. Kata dan kalimat berputar-putar di kepala. Keadaan ini sungguh sangat tidak mengenakkan siswa. Apalagi dalam suasana ujian, soal mengarang ada di penghujung waktu. Akhirnya lahirlah sebuah karangan seadanya, asal ngumpul.

Persyaratan mengarang sangat ketat untuk mendapatkan nilai yang baik. Dalam Ebtanas tahun pelajaran 1995/1997 (tanpa LJK) tingkat SMU, soal mengarang bahasa Indonesia, tidak saja ketat tetapi juga cukup banyak. Siswa disuruh mengarang persuasi. Karangan terdiri atas tiga bagian (pendahuluan, isi dan penutup). Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penggunaan ejaan yang benar, karangan harus rapi, hubungan antarkalimat dalam paragraf, hubungan antarparagraf dalam karangan. Peserta ujian harus memilih salah satu tema dari tiga tema yang telah disediakan dalam soal itu. Dengan persyaratan seperti itu, yang memang sudah standar, siswa tetap saja pusing memikirkan bagaimana caranya agar lahir sebuah karangan.

Caranya, memang tidak muncul begitu saja dalam ujian. Memerlukan waktu, latihan berulang-ulang dan kemauan. Semua itu adalah proses, sebab mengarang atau menulis merupakan suatu keterampilan. Semakin sering dilatih, maka siswa semakin terampil mengarang. Proses seperti ini jarang dilakukan di sekolah dan merupakan hal yang kurang mendapat perhatian oleh sebagian besar guru. Mengarang atau menulis bukan monopoli bidang studi bahasa, mata pelajaran lainnya juga bisa melakukan.

Pincang Mengarang

Sastrawan Taufik Ismail yang baru-baru ini dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa di bidang pendidikan sastra mengatakan, siswa di Indonesia saat ini dalam keadaan rabun membaca dan pincang mengarang. Dalam pidato pengukuhan gelar kehormatan di Universitas Negeri Yogjakarta itu, Taufik mengusulkan agar dalam setahun siswa setingkat SMU wajib menghasilkan 36 karangan dalam 36 kali pertemuan. Siswa SLTP wajib menulis 24 karangan (dalam 24 kali pertemuan setahun) dan siswa SD menghasilkan 12 karangan (dalam 12 kali pertemuan setahun).

Mengarang tidak bisa dipisahkan dari membaca. Bahkan kegiatan membaca sebagai modal dasar untuk siswa dapat mengarang. Untuk itu, Taufik yang sangat prihatin dengan kondisi pendidikan sastra di tanah air kembali mengusulkan agar siswa SMU wajib membaca buku sastra, 15 buah buku selama 3 tahun, siswa SLTP, 9 buku dan siswa SD, 3 buku sastra. Usulan berupa data-data mengarang dan membaca itu yang telah lama diperjuangkan oleh para sastrawan, akhirnya diterima oleh Pusat Kurikulum Depdiknas.

Penjabaran kurikulum seperti itu tentu tidak mudah dan tidak mungkin sekaligus. Sebab melibatkan banyak hal seperti penyediaan buku sastra, pengkaderan guru-guru khusus mengajar sastra, dan Ebtanas. Semua itu telah dirintis dan dirasakan di lingkungan pendidikan atas kerja sama Depdiknas dengan beberapa orang sastrawan melalui kegiatan-kegiatan sastra di pusat maupun daerah. Khusus tentang Ebtanas, yang kini berganti nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) telah menampakkan hasil dengan diadakannya ujian praktik mengarang.

Mengarang memang wajib dan harus dipraktikkan. Ujian ini akan berdampak pada proses pembelajaran di kelas. Bagaimanapun, seorang guru kini harus menoleh kembali proses belajar mengajar di kelas. Guru yang paling berkompeten dalam hal ini adalah guru bahasa Indonesia. Kompetensi pelajaran bahasa Indonesia seperti yang dituntut dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), salah satunya adalah siswa mampu mengarang atau menulis.

Tak Jadi Pengarang

Walaupun mengarang ini getol diperjuangkan oleh Taufik Ismail dan sastrawan lainnya, menurut hemat penulis, pelajaran mengarang di sekolah bukan untuk menghasilkan atau mencetak para sastrawan. Memang ada kesan seperti itu. Akan tetapi, mengarang dalam pengertian yang lebih luas — menulis, merupakan hal yang esensial dalam dunia pendidikan. Kemauan menulis merupakan cermin kaum terpelajar, bukankah begitu?

Kemampuan menulis di tingkat pendidikan dasar dan menengah akan sangat berpengaruh dengan kemampuan siswa kelak melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak tugas seperti peper, makalah, laporan dan skripsi harus diselesaikan dengan menulis atau mengarang.

Pada realitasnya, banyak mahasiswa yang terbengkalai kuliahnya, gara-gara tak mampu menulis. Demikian juga setelah bekerja, banyak pekerjaan yang terkait dengan tulis-menulis seperti laporan kegiatan, surat menyurat dan menyusun proposal. Bahkan zaman sekarang ini adalah ”zaman proposal”. Sedikit-sedikit buat proposal untuk mendapatkan dana, dari dana yang bernilai satu juta sampai ratusan juta jumlahnya.

*) I Nyoman Suaka, IKIP Saraswati Tabanan