Putu Setia, Mendebat Usai Menggugat

Judul: Mendebat Bali (Catatan Perjalanan Budaya Bali Hingga Bom Kuta)
Pengarang: Putu Setia
Tebal: XII + 344
Penerbit: PT Pustaka Manik Geni, 2002
Peresensi: I Nyoman Tingkat
www.balipost.co.id

PERGULATAN telah melahirkan gugatan. Gugatan tentu saja lahir dari rasa tidak puas. Ketidakpuasan pun membangun wacana berkepanjangan dalam pro-kontra pendapat. Sikap demikian akhirnya melahirkan perdebatan sebagai akibat pikiran kritis masyarakat. Kurang lebih bertitik tolak dari kerangka berpikir itulah, Putu Setia menulis buku ini. Buku ini menyusul setelah Putu Setia menerbitkan buku setema tahun 1986 dalam judul “Menggugat Bali”.

“Menggugat Bali” maupun “Mendebat Bali” merupakan catatan perjalanan sekaligus pergulatan Putu Setia secara suntuk larut dalam kontemplasi memberdayakan budaya Bali. Sebagai seorang musafir budaya, Putu telah menjewer orang Bali dan budaya Bali. Itu tersirat sekaligus tersurat dari kedua bukunya dengan judul rada protes.

Jika buku “Menggugat Bali” ia tulis dengan mengambil jarak melalui perenungan dari luar daerah — ditulis di Jakarta, maka buku “Mendebat Bali” dia tulis dengan larut berintegrasi dalam komunitas masyarakat Bali. Namun esensinya tetap sama: kegelisahan sekaligus protes yang dibungkus secara jenaka. Lelucon-lelucon dalam buku “Mendebat Bali” ini tak ubahnya sebuah hiburan pelepas lelah di tengah-tengah kesibukan tanpa batas masyarakat Bali dalam glomour pariwisata. Disajikan dengan gaya pragina bondres.

Karena disajikan secara jenaka dengan jeweran-jeweran penuh kelakar, buku ini terkesan tidak serius bagi pembaca yang tidak paham esensi sebuah bondres sebagai bentuk kesenian. Sebagai bentuk kesenian, sesuatu yang serius dibuat mencair oleh Putu Setia dalam gaya humor. Karena itulah, membaca buku ini seakan mengajak pembaca menertawakan diri-sendiri. Merenung melakukan introspeksi. Mulat sarira terhadap pernik-pernik budaya dalam tantangan fenomena global yang dirumuskan dalam dua tema pokok yakni (1) agama dan adat, serta (2) kesenian dan imbas pariwisata. Tema pertama mencakup 45 tulisan dan tema kedua memuat 39 tulisan. Semua tulisan ini, sebelumnya pernah dimuat dalam rubrik “Bondres” Bali Post, saban Sabtu sejak 2000 hingga 2002.

Tema pertama diawali dengan judul “Om Swastiyastu” diakhiri dengan “Kulkul”. Pemilihan salam panganjali umat Hindu sebagai pemahbah atur sangat pas dan disikapi dengan kritis berdasarkan realitas empiris lapangan yang menimbulkan kegelisahan di mata Putu. Misalnya, seorang tampil sebagai pembicara, entah berpidato, memberi ceramah, membacakan, memulai memimpin rapat, ia berkata, “Sebelumnya, kepada umat sedharma, saya menyampaikan panganjali umat Om Swastiyastu”

Oleh Putu Setia, kesalahkaprahan itu terletak pada pembiasaan (pembudayaan) terhadap sebuah kejanggalan. Putu pun lantas menganalogikan panganjali itu dengan salam profan semisal “selamat pagi”, “selamat sore”, atau “selamat siang”. Sebagai sebuah salam, Putu mendebat sebagai layaknya pragina bondres, “Tidak ada orang memberi kata pengantar untuk sebuah salam, karena salam itu sendiri adalah kata pengantar”.

Begitu pula dalam tajuk “Kulkul”, Putu menyerempet pengrajin di desa lain (luar Pujungan) yang doyan memprofankan benda sakral yang bernama kulkul. Sebagai benda sakral, kulkul adalah tenget. Tidak sembarang orang boleh memukulnya, apalagi melecehkannya dalam bentuk alat vital. “Yang menarik, di desa saya tidak ada yang membuat kulkul porno. Ini desa tenget (sakral), jangan menjual barang begituan”, tulis Putu.

Selanjutnya pada tema kedua, Putu mengawali dengan judul “Persembahan”. Judul inilah yang selanjutnya mengalir dalam kegelisahan tanpa tepi terhadap perilaku berkesenian masyarakat Bali belakangan ini, sampai dengan ledakan bom Kuta, 12 Oktober 2002. Di sini kata “persembahan” mengalami erosi secara semantik karena itu perlu didebat setelah digugat. “Kalau begitu, persembahan itu motivasinya berbeda-beda. Ada yang dengan ketulus-ikhlasan tinggi, tanpa mengharapkan hasil materi. Ada yang sudah merancang-rancang nilai jual, dan motivasinya memang materi. Lalu ada yang berkarya hanya untuk memenuhi pesanan dengan jadwal yang pas”, tulis Putu.

Proses yang mengalir terhadap laku berkesenian masyarakat Bali, oleh penulis buku ini ditautkan dengan kemajuan perkembangan pariwisata yang membawa serta budaya dengan segala eksesnya. Termasuk menggoncang pakem kesenian Bali yang digarap asal-asalan hanya demi uang. Akibat lanjutannya, batas sakral dan profan pun tak jelas. Fenomena itu terangkum dalam judul “Barong-barongan”. Jangan-jangan profanisasi terhadap kesenian sakral ini telah menjadi pemicu ledakan bom Kuta, walaupun Putu Setia sangat optimis dengan kebangkitan pariwisata Bali pascabom Kuta di akhir catatan ini.

Selanjutnya, model kesenian pun berubah demi memuaskan penonton. Karena itulah lahir “Joged Binal” dan “Joget Angguk-angguk”. Dalam “Joged Binal”, Putu tidak hanya berceloteh tentang gaya penari yang erotis, tetapi juga masuknya fenomena money dance — memberi suap kepada panitia pementasan agar bisa ngibing. Fenomena ini adalah wujud KKN yang merasuk ke dunia seni. Dalam judul “Joget Angguk-angguk”, digambarkan penari wanita Bali yang berani vulgar tidak kalah dengan Inul. Gerakan erotis yang ditabukan pada masa lalu, kini menjadi suatu yang biasa dan lumrah dilakukan penari wanita.

Prasasti Sejarah

Begitulah Putu Setiap berhasil mereka pernak-pernik budaya Bali yang terus bermetamorfosis dalam dinamika zaman dengan segala keluh-kesahnya. Karena itu, buku ini bisa dijadikan prasasti sejarah perkembangan budaya pop Bali berdasarkan amatan seorang musafir budaya lokal sehingga kekentalan santan kearifan lokal mewarnai isi buku ini dapat dijadikan dokumen budaya intelektual.

Di samping itu, dalam buku ini, Putu Setia memberikan pengantar dan penutup sendiri. Tidak melibatkan budayawan lain seperti kecenderungan dalam sebuah peluncuran buku selama ini. “Keberanian” ini menjadi titik lemah sekaligus keunggulan kembang rampai ini. Dikatakan lemah, karena dengan demikian Putu terkesan menonjolkan egonya sebagai pribadi dengan memborong lakon seperti layaknya topeng pajegan. Padahal, pentas bondres senantiasa melibatkan kelompok/grup. Kecuali itu, secara teknis, kesalahan cetak juga mewarnai buku ini sebagai titik lemah yang lain.

Keunggulannya, Putu Setia tampak percaya diri dan secara otonomi tidak mengandalkan reputasi budayawan lain untuk memberikan prolog maupun epilogi dalam catatan perjalanan budaya ini. Sebagaimana layaknya pragina bondres, Putu Setia menari sendiri di atas panggung budaya di tengah-tengah penonton yang gelisah. Selanjutnya, terserah penonton (baca: pembaca). Mau menerima, menolak, mengapresiasi, maupun mendebat ulang, silakan saja.
***