Menulis Teori di Tengah Tradisi Lisan

Dr. Faruk HT
http://www.jalasutra.com

Linguistik modern yang dipelopori Ferdinand de Saussure, dengan teorinya mengenai kearbitreran tanda bahasa, telah menumbuhkan pelbagai pandangan baru, bukan saja perihal pemahaman mengenai karya sastra, melainkan juga pemahaman mengenai pelbagai aspek kehidupan, termasuk apa yang disebut dengan realitas. Dalam pandangan baru ini, aktivitas pemahaman dipercaya tidak pernah bebas dari sikap apriori, prasangka, dan seperangkat cara pemahaman yang sudah ada dalam pikiran subjek yang memahami. Dengan kata lain, pandangan baru ini menyangkal sama sekali kemungkinan adanya pemahaman yang bersifat spontan, bersih dari pelbagai bentuk prasangka.

Teori pada dasarnya suatu prasangka pula, seperangkat cara berpikir dan cara pemahaman yang digunakan orang dalam memahami suatu kenyataan, dalam mengonstruksi dunia pengalaman. Namun, ada perbedaan yang cukup mendasar antara teori dengan prasangka pada umumnya, yang kemudian ini cenderung bersifat implisit dan bahkan tidak selalu disadari oleh subjek yang melakukan pemahaman, sedangkan teori merupakan seperangkat gagasan yang eksplisit, yang dirumuskan secara relatif lugas, sistematik, dengan sekaligus kesadaran akan alasan-alasan penggunaannya.

Dengan karakteristik serupa itu, setidaknya ada dua hal yang diimplikasikan oleh teori. Pertama, prasangkanya menjadi relatif stabil, membentuk satu perangkat gagasan dengan tingkat koherensi logika yang relatif tinggi, bebas dari perubahan suasana hati subjek bersangkutan yang biasanya labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Kedua, prasangka itu juga menjadi terbuka, dapat dikomunikasikan dan disimak oleh orang lain, sehingga dapat pula dikontrol dan membentuk sebuah kultur dialogis dan/atau diskursif yang bermuara pada pengayaan dan peningkatan kualitas pemahaman itu sendiri.

Tentu, teori sendiri bukan hanya berkedudukan sebagai seperangkat gagasan yang digunakan untuk memandu pemahaman, melainkan dapat pula menjadi objek pemahaman itu sendiri. Dalam hal ini, kemungkinan adanya prasangka dalam pemahaman terhadap suatu teori pun menjadi hal yang tidak terelakkan. Masyarakat dengan dasar budaya lisan yang kuat dan yang karenanya cenderung bekerja secara intuitif, mengikuti naluri yang terbentuk secara tradisional, melakukan pengulangan yang terus-menerus terhadap teori yang pada dasarnya bersifat reflektif dan berbasis budaya tulis. Karenanya, teori cenderung dipahami bukan sebagai sesuatu yang transitif, melainkan intransitif, yakni bukan sebagai sesuatu yang menunjuk dan memandu kepada kenyataan, melainkan kenyataan sendiri. Teori diperlakukan lebih sebagai semacam mantra atau kekuatan magis yang membentuk kenyataan.

Dengan kecenderungan yang demikian, dalam pandangan masyarakat lisan, penanda menjadi kehilangan petanda yang menjadi acuannya, justru dapat bergerak bebas, berkombinasi dengan penanda-penanda lain yang acuan asalnya dapat sangat berbeda dan bahkan secara logis bertentangan. Kecenderungan demikianlah yang sering terjadi dalam dunia akademik Indonesia, yang di dalamnya teori benar-benar menjadi semacam mantera. Dasar budaya lisan yang seperti itu pula yang membuat teori, di Indonesia, juga kehilangan petandanya, hubungannya dengan kenyataan; teori menjadi sesuatu yang eksistensinya berhenti hanya sebagai seperangkat pernyataan simbolik yang abstrak, yang tidak digunakan sebagai pemandu bagi pemahaman mengenai kenyataan.

Bila demikian halnya, buku Rh. Widada ini menjadi salah satu usaha untuk keluar dari kecenderungan menempatkan teori sekadar sebagai pernyataan simbolik dan/atau mantra di atas. Ia berusaha untuk menjadikan teori benar-benar sebagai pedoman bagi pemahaman mengenai kenyataan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang cenderung lebih menyukai pernyataan-pernyataan simbolik yang abstrak, mantra-mantra, tentu usaha itu dapat menghadapkan penulis buku ini pada tantangan yang sangat berat, baik secara subjektif maupun objektif. Secara subjektif penulis buku ini sendiri harus dapat membebaskan dirinya dari budaya lisan itu, sedangkan secara objektif buku ini bisa menjadi susah mendapat penerimaan dari pembacanya, akan dianggap membosankan karena terlampau teknis.

Ketika di Indonesia, terbentuknya budaya tulis tidak hanya mendapatkan ancaman dari budaya lisan yang sudah ada sebelumnya, yakni budaya lisan yang disebut primer, melainkan juga budaya media massa audio-visual (elektronik) yang disebut sebagai budaya lisan kedua (secondary orality), apa yang diusahakan dalam buku ini tentu merupakan sebuah usaha yang, menurut saya, heroik, yaitu berusaha meneruskan sebuah bangunan budaya yang tidak hanya prematur, melainkan bahkan sekarat.[]

29 Januari 2006
Dijumput dari: http://www.jalasutra.com/index.php?route=product/product&product_id=114