Catatan Sementara untuk Selamanya: Sebuah Hakikat Hidup yang Fana

Imammuddin SA

“Seperti gerimis membasah kering tanah setelah bersetubuh dengan kemarau laga”. Itulah yang pas kiranya untuk menyambut hadirnya kumpulan puisi “Persinggahan Bayang-Bayang” karya Bambang Kempling. Setelah sekian lama kancah persajakan di belantara kesusastraan Lamongan sempat mengering, kini semua itu telah terhapus sudah dengan kehadiran “Persinggahan Bayang-Bayang”. Keberadaannya sebagai pengobat rindu yang mengendap-mengeram di dada para pecinta sastra khususnya puisi.

Bambang Kempling tergolong sebagai salah satu dari sekian banyak sastrawan senior Lamongan yang sangat produktif, di samping ada Herry Lamongan, Pringgo HR, Nurel Javisyarqi, Javed Paul Syata, Syauqi As Sumbawi, dll. Keproduktifannya terlihat setelah sempat menerbitkan antologi puisi tunggalnya yang pertama “Kata Sebuah Sajak”, kini ia berhasil menerbitkan antologi tunggal yang kedua. Meski di usia yang terbilang tidak muda lagi, ia masih getol dan intens dalam menggurat sajak. Semangat bersastra yang membara seperti inilah yang seharusnya diteladani oleh sastrawan muda Indonesia saat ini, termasuk saya pribadi. Jujur saja, saya iri dan kagum dengannya.

Saya tidak banyak cuap-cuap. Langsung saja pada “Persinggahan Bayang-Bayang”. Berangkat dari covernya, saya teringat dengan mitos “Dewi Sri dan Dewa Sadana”. Sebenarnya cerita ini cukup banyak versi. Mereka berdua pada dasarnya adalah bersaudara. Karena suatu hal, oleh ayahnya, Raja Medang Kamulan, mereka berdua dikutuk. Dewi Sri dikutuk menjadi ular sawah sedangkan Sadana dikutuk menjadi burung sriti.

Karena kesabaran dan budi baiknya saat dalam masa kutukan, dewa yang ada di kahyangan memiliki rasa simpati yang lebih sehingga mereka berdua akhirnya diangkat menjadi seorang dewa dan dewi. Mereka berhak mendiyami kahyangan dan kedudukannya sederajat dengan dewa-dewa yang lain. Begitu juga dengan wujudnya, mereka berdua terbebas dari kutukan dan berwujud seperti semula, yaitu manusia.

Melihat sikap mereka berdua yang sangat baik terhadap sesama, sang penghulu dewa memberikan tugas yang sangat berat dan mulia. Dewi Sri dan Dewa Sadana ditugaskan untuk memberikan kesejahteraan bagi manusia di bumi melalui pangan. Mereka diturunkan di bumi secara terpisah. Dewi Sri diturunkan di darat sebagai Dewi Kesuburan tanah (di jawa simbolnya padi). Dewa Sadana diturunkan di laut dalam bentuk ikan. Dewa berkata bahwa mereka berdua yang bersaudara itu akan bisa bertemu dan bersatu di “sepanjang” (sebuah tempat makan yang panjang dan agung).

Berangkat dari mitos itulah saya mungupas kulit luar “Persinggahan Bayang-Bayang”. Buku kumpulan puisi ini merupakan buku yang sarat dengan nilai-nilai kemuliaan hidup yang tidak akan ada habisnya sebagaimana keberadaan ikan-ikan. Meskipun setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun diambil oleh manusia, ikan-ikan itu tidak akan ada habisnya. Ia akan selalu ada untuk memenuhi kebutuhan dan kemuliaan manusia.

Tengok saja sajak yang berjudul “Persinggahan Bayang-Bayang”. Puisi mencakup etape yang pertama yaitu mencari hakikat dan eksistensi diri sendiri. Kata “bayang-bayang” pada judul tersebut bermuara pada jati diri manusia. Keberadaan manusia di bumi ini ibarat sebuah bayang-bayang. Keberadaannya hanyalah bersifat semu.

Saya juga teringat dengan falsafah Jawa yang berbunyi “urip iku bebasan mampir ngombe”. Hidup di dunia itu diibaratkan hanya sebatas singgah untuk minum. Orang yang “singgah” itu pastilah tidak akan lama bahkan tidak mungkin akan menetap untuk selama-lamanya. Ia pasti akan pergi lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Tujuan persinggahan di dunia tidak laian hanya untuk sekedar mencicipi kenikmatan dunia yang sedikit dan sementara. Kenikmatan itu hendaknya dirasakan secukupnya saja biar tidak membawa dampak negatif bagi diri sendiri. Kenikmatan yang sementara itu tidak perlu kita genggam erat karena itu hanya sebatas lewatan belaka.

Bagi Bambang Kempling, dunia ini tampak seperti koridor. Yaitu sebuah lorong kecil memanjang yang menghubungkan daerah terkurung. Kata “lorong kecil” merupakan suatu yang bersifat terbatas. Hal ini diperkuat kembali dengan kata “terkurung” yang berkonotasi pada ketidaksanggupan dalam melakukan sesuatu yang lebih bebas.

Kata ganti yang digunakan penyair dalam sajak ini adalah “mu”. Ini bisa merujuk pada pembaca yang diajak ngomong atau bahkan justru dia yang berdialog dengan diri sendiri. Ketika menyadari hal demikian, maka penyair berharap pada “mu” agar ada satu perenungan tentang persinggahannya yang sejenak ini. Yaitu tentang tujuan akhir perjalanan hidup dan kehidupannya sendiri.

“sebuah koridor // memanjang di lubuk malam // membawamu terdiam // berhitung dalam detik hentinya // :sendiri” (Persinggahan Bayang-Bayang, bait 1, hal: 29)

Patut dijadikan catatan bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban untuk diri sendiri. Dalam persinggahan hidup yang sejenak ini, apakah ia mampu memimpin diri sendiri atau justru malah menjerumuskannya dalam kehidupan yang kelam?

Dalam perjalanan tersebut, penyair menjelaskan bahwa kehidup sehari-hari yang “mu” lalui membuatnya enggan menunggu untuk sampai di muara waktu. “Mu” tidak mau menunggu akhir hayatnya dalam keadaan yang kelam sebab pengaruh perhiasan keduniawian serta hubungan horisontal sesama manusia. Di batas muara perjalanan, dua hal itu akan memberikan kesaksian yang sesungguhnya atas keragu-raguan yang selama ini mengendap dalam diri “mu”. Kesaksian itu berupa hakikat segala sesuatu yang ada dalam persinggahan sementara ini adalah semu, ada batasnya, dan pasti berakhir.

“hari-hari yang tergambar // menyajikan keengganan untuk menunggu // malam di persinggahan // antara pilar-pilar // cengkrama bayang-bayang // memberi kesaksian abadi atas sangsi” (Persinggahan Bayang-Bayang, bait 2, hal: 29)

Hal itupun terjawab sudah bahwa persinggahan ini pun telah berakhir. Segala sesuatu yang ada dalam kefanaan ini pasti pergi, berpisah, dan lepas seperti angin. Yang ada hanya berkas jejak yang ditinggalkannya, namun wujudnya hampa. Dan saat itu, dalam koridor fana ini, para penghuninya riuh, tak mampu menciptakan keheningan jiwa. Padahal, yang telah tiada dan berakhir telah berada dalam hening waktu.

“kini, pesta telah usai // lepas bagaikan seketsa angin // dan sebuah koridor itu // tak mampu mengisahkan keheningan” (Persinggahan Bayang-Bayang, bait 3, hal: 29)

Menyoal masalah jiwa yang hening, terdapat dua hal yang berbanding terbalik dalam realitas kehidupan. Ini terlukis dalam fenomena kelahiran dan kematian. Dalam kelahiran, semua orang menyambutnya dengan suka cita, sedangkan bayi yang lahir menangis dengan kencangnya. Sebaliknya, ketika seseorang meninggal dunia, orang-orang yang ada di sekeliling pasti menitikkan air mata, sedangkan yang meninggal khusyuk dalam keheningan.

Dalam tasawuf, bayi menangis saat terlahir ke dunia itu merupakan suatu isyarat atas adanya permasalahan yang berhubungan dengan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Tangisan itu merupakan wujud dari ketakutan-ketakutan. Ketakutan yang dialami berorientasi pada dua hal. Pertama, jiwa/roh merasa jauh dengan Tuhan karena terpisah oleh dinding-dinding kemanusiaan. Kedua, takut apabila tidak sanggup mengemban amanat dari Tuhan sebagai khalifah yang membawa rahmatan lil’alamin.

Sedangkan seseorang yang meninggal itu terlihat tenang sebab roh telah keluar dari belenggu dinding-dinding kemanusiaan dan keduniawian. Roh merasa tenang sebab merasa dekat kembali dengan Tuhan. Namun masalah roh bisa kembali dekat dengan Tuhan itu tergantung amaliah selama berada di persinggahan jasadi dan duniawi. Apabila semasa dalam alam kebendaan ini roh bisa mengendalikan sifat kemanusiaan dengan ketenangan dan keheningan, maka ia akan dengan mudah kembali di sisi Tuhan. “Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kamu di sisi Tuhanmu dengan ridlo yang saling meridloi”.

Inilah kekuatan sajak Bambang Kempling, semakin digali lebih dalam, nilai kemuliaan akan semakin bermekaran. Inilah yang harus dimakan dan ditelan sebagai nutrisi hidup dan kehidupan agar kita tak salah melangkah. Intip saja lagi dari sajak yang berjudul “Kelopak Kembang Pilar Dekat Rumah”. Sajak ini tampaknya berbicara masalah keyakinan dan keimanan. Meskipun pada dasarnya judul sajak ini bisa jadi diambil saat penyair melihat sebuah tanaman hias (bunga) yang dijadikan pilar pagar sebuah rumah, tetap saja memiliki kandungan yang dahsyat jika digali isi sajaknya.

Kelopak merupakan suatu bagian tipis yang berfungsi sebagai tabir. Bunga dapat diartikan sebagai kebahagiaan atau cinta. Pilar adalah penyanggah, penyokong, atau penguat. Teras merupakan bagian depan dari sebuah rumah. Rumah dapat dimetaforkan sebagai hati. Jika dilebur jadi satu maka maksud judul itu yaitu keimanan yang ada di dalam hati itu memiliki tabir penyangga yang disebut cinta.

Tabir cinta itu telah mekar dalam kehidupan yang kotor ini. Tabir cinta itu menangkap sebuah petunjuk dari sebuah kabar tentang hakikat nama yang diagungkan. Dalam tradisi Jawa diistilahkan dengan “jenenge urip”, yaitu nama bagi hidup. Setiap hidup atau yang hidup pasti memiliki nama bahkan Tuhan juga punya nama yang termaktub dalam 99 asma’ul husnah. Nabi Muhammad juga memiliki 99 nama yang termaktub dalam kitab “Dala’ilul Khoiror”. Nabi Adam juga diajarkan oleh Allah nama-nama yang agung yang dirahasiakan sebagai bekal misi kemanusiaan dan untuk mematahkan kesombongan bangsa jin serta keragu-raguan malaikat. Nama-nama itulah sebagai bentuk penguat keimanan manusia agar menjadi makhluk yang unggul, kuat, dan mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain.

merekah di antara // daun-daun berdebu // ia menangkap bulir-bulir cahaya // dari secarik kabar // tentang rahasia untuk nama-nama // yang telah diagungkan (Kelopak Kembang Pilar Teras Rumah, bait 1, hal 49).

Dalam hal ini penyair juga mengajak dialog pembaca. Ia menanyakan langsung kepada pembaca, apakah pembaca mendengar kabar tersebut dari Tuhan? Saat mengetahui kabar rahasia nama-nama itu, dengan seketika hati penyair tersentuh hingga menembus sukma.

“kau dengar siulan itu?” katanya // Angin lembut kemudian menjentik-jentik sukma (Kelopak Kembang Pilar Teras Rumah, bait 2 dan 3, hal 49).

Penyair kembali bertanya kepada pembaca, tetapi tentang mimpi, harapan, dan cita-cita. apakah pembaca merasakan mimpi-mimpi itu? Mimpi itu berupa fenomena jalan kembali kepada Tuhan yang sangat bercabang-cabang. Mimpi tentang sarana atau kendaraan yang digunakan untuk sampai di sisi Tuhan. Mimpi tentang berbagai bentuk fenomena kehidupan yang harus ditinggalkan dengan keheningan dan ketenangan demi bersatu kembali dengan Tuhan sebagai kekasihnya. Semua itu terus bermekaran dalam keimanan seorang manusia yang tercerahkan hingga berakhir pada batu nisan.

adakah kau telah menikmati // mimpi yang telah kau curi darinya // :mimpinya tentang jalan berayun // buat kereta pada taburnya // mimpinya tentang helai-helai warna // yang terbang saat hening (Kelopak Kembang Pilar Teras Rumah, bait 4 , hal 49).
ia merambat sampai setapak jalan berbatu (Kelopak Kembang Pilar Teras Rumah, bait 5, hal 49).

Mimpi tidak hanya berorientasi pada harapan dan cita-cita. mimpi juga dapat berkonotasi pada suatu bentuk pengetahuan dan kesadaran. Sebab pada dasarnya Tuhan kerap memberikan petunjuk atau pengetahuan kepada manusia melalui mimpi-mimpi. Mimpi yang berupa petunjuk atau pengetahuan itu merupakan suatu hidayah yang luar biasa. Dapat dikatakan mimpi tersebut merupakan suatu pengetahuan yang diambil sebelum suatu peristiwa terjadi dalam realitas. Mimpi ini diberikan tanpa sepengatahuan orang lain. Hanya Tuhan dan orang yang diberi hidayah, petunjuk, dan pengetahuan melalui mimpi itu sendiri.

Sebuah isyarat juga disampaikan Bambang Kempling dalam sajak “Setangkai Daun Buat Kawan”. Kali ini ia mengambil hujjah pada kehidupan anak-anak. Dalam sajak ini, anak-anak digambarkan sedang menunggu penyair dan kawannya, bisa jadi pembaca juga. Ada satu hal yang dilakukan oleh para anak itu, yaitu merencanakan masa tuanya yang mulia dengan kepolosan dan kesucian. Dengan polos ia ia merencanakan masa depannya dengan sederhana dan tidak neko-neko. Sementara itu, sang penyair dilukiskan sebagai sosok manusia yang tak pasti dan selalu diliputi dengan kesalahan dan kekhilafan. Manusia adalah tempat salah dan lupa.

anak-anak menunggu kita di jalanan // sembari melukis senja di ujung kubah // sedang kita hanya sebatas bayang // yang luput di persinggahan (Setangkai Daun Buat Kawan, bait 1, hal 30).

Bagi penyair, kehidupannya yang telah terlewati terasa sepi dan sangat sepi. Ia merindukan satu kehidupan yang sama persis dengan kehidupan yang dirindukan kawannya. Kehidupan yang dicita-citakan penyair beserta kawannya yaitu mampu menikmati keindahan hidup di usia tua. Saat usia itu tiba, mereka tidak ingin lagi disibukkan dengan hal-hal keduniawian yang menjerat-mengikat pada keresahan. Mereka hanya ingin menikmati kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menyongsong datangnya ajalnya.

gerimis kemarin malam // terasa sepi // amatlah sepi (Setangkai Daun Buat Kawan, bait 2, hal 30).
setangkai daun yang kau rindui // kurindui juga // tapi // bagaimana kita bisa menikmati // segores senja itu? (Setangkai Daun Buat Kawan, bait 3, hal 30).

Dari fenomena anak kecil yang telah ditangkap penyair, ada satu hal besar dan luar biasa yang memberkas di relung hatinya. Ia menangkap bahwa dalam jiwa anak-anak selalu bermekaran bunga kebahagiaan meskipun dirinya tergulung dalam keterpurukan dan luka. Kehidupan yang semacam inilah yang ingin dipersembahkan penyair untuk diri sendiri dan sahabatnya. Kehidupan tanpa kesedihan. Kehidupan tanpa keluhan.

sapuan yang tersisa // :ada pada senyum yang mengembang // dari luka anak-anak kita (Setangkai Daun Buat Kawan, bait 4, hal 30).

Fenomena yang terlukis di atas adalah sebagian kecil dari kandunga sajak-sajak Bambang Kempling. Orientasi utama isinya adalah untuk mengangkat derajat manusian dalam kemuliaan hidup sebagai khalifah fil ardli. Ini adalah catata kesementaraan untuk kehidupan yang abadi dan selamanya, ketika manusia menjalankan tanggung jawabnya dalam kurungan kefanaan.

7 Juli 2014, Lamongan, Jawa Timur