MELUKIS KATA MENJADI BERJIWA

Bagian 2 Tentang Wisran Hadi
Yusrizal KW
yusrizalkw.wordpress.com

Ketika tamat ASRI Yogyakarta tahun 1969, Wisran Hadi pulang ke Padang. Sebagaimana selama kuliah di Yogya, di Padang ia ingin tetap melukis. Tapi ia malah kecewa, sebab untuk membeli cat ketika itu, ia harus pergi ke Medan yang berjarak 400 km lebih dari Padang. Ini sangat menyulitkan, dan tentu mengganggu pikiran. Jelas, dalam soal biaya, termasuk harga cat dan ongkos ke Medan, dirasakan ketika itu sebagai suatu yang mustahil bisa diatasi.

Padahal, selama lima tahun di Yogya (1964-1969) Wisran bertekad mau menjadi pelukis. Kehidupan Yogya yang tenteram dan kreatif baginya, yang telah melahirkan banyak pelukis yang menyebabkan dia terpesona dan termotivasi. Tak ada sama sekali pikiran untuk menulis naskah drama atau novel seperti sekarang ini. Ia hanya membuat catatan-catatan harian, yang setelah tamat dan pulang ke Padang, catatan-catatan itu tertinggal di pondokannya di Kuncen dan Ngadiwinatan.

Wisran memastikan, dengan keterbatasan bahan menjadi pelukis sebagai pilihan, menetap pula di Padang, rasanya ini sulit. Itu ia rasakan langsung ketika beberapa bulan berada di Padang. Akhirnya, berangkat dari pengalaman menulis dua naskah yang ia kerjakan ketika menjadi guru seni lukis di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Padang (1970-1971), yaitu Sumur Tua dan Dua Segi Tiga untuk pementasan perpisahan sekolah, semuanya merupakan awal yang memungkinkan. Ia banting stir. Memilih menjadi penulis naskah drama dan sutradara teater. Kebetulan, pada masa itu, kegiatan teater sedang marak di Padang.

Ketika menulis, Wisran merasakan tantangan baru. Ternyata, struktur atau pola berpikir dalam menulis jauh berbeda dengan struktur atau pola berpikir dalam melukis. Dalam menulis ia harus menjelaskan semua hal yang antara lain bertumpu pada kata atau teks. Kata harus dapat membangun pikiran dan imajinasi. Sedangkan dalam melukis, ia merasa harus mengkongkritkan imajinasi-imajinasinya terlebih dahulu melalui berbagai media rupa, barulah bisa menawarkannya pada orang lain.

Sebagai orang Minang, tantangan itu tentulah memikat bagi Wisran. Karena ada potensi budaya sebagai orang Minang secara otomatis bergerak di alam bawah sadarnya, ia merasa terlejitkan. Artinya, ia ingin menegaskan sebagai dorongan positif, bahwa sesungguhnya orang Minang seperti dirinya yang dibesarkan dalam kultur budaya Minangkabau, yang akrab dengan “kata”, menyimpulkan salah satu kekuatan orang Minang itu terletak pada memahami makna kata. Mungkin itu pula agaknya menurut Wisran kenapa orang Minang banyak jadi sastrawan, pemikir, politikus dan penjual obat di tengah pasar.

Memasuki Dunia Kata

Dunia kata memang akhirnya menggelitik bagi Wisran. Setelah memahami bedanya pola kreatif dan dorongan berproses antara melukis dan menulis, ia mengembang buku-buku atau naskah-naskah penting. Semua naskah teater yang dianggapnya perlu, seperti karya William Shakespeare, Jean Geredaux, Moliere, Albert Camus, Sophoclas, M. Yamin, Asrul Sani ia kembang. Ia baca. Ia cermati. Ia kritisi. Ia pelajari. Hasilnya, ia mengatakan: Mudah kalau mau serius. Bagi Wisran, mempelajari naskah orang lain untuk studi, adalah energi untuk berproses, setidaknya semacam penerang untuk melihat celah yang akan dimasuki.

Tahun 1971-1974, ia mulai mengikat diri dengan cita-cita melahirkan naskah besar. Maka, ia putuskan menulis naskah yang kemudian dikenal sangat populer dengan judul Puti Bungsu (Wanita Terakhir). Puti Bungsu masa pengerjaannya memakan waktu tiga tahun. Naskah tersebut, memadukan tiga tokoh penting dari cerita rakyat seperti Malin Kundang, Malin Deman dan Sangkuriang menjadi realita cerita yang baru.

Yang menjadi prinsip pada proses penyelesain naskah itu adalah: naskah sebagai produk budaya dan intelektual. Naskah bukan dunia ngawang. Maka pengerjaannya lumayan bernuansa ilmiah. Melakukan observasi, membaca ulang dan mengkritisi serta mempelajari naskah-naskah cerita rakyat Malin Kundang, Malin Deman serta Sangkuriang yang berkembang di tengah masyarakat. Dari situ, akhirnya muncul gagasan untuk memunculkan tafsir baru, yang setidaknya bermakna ‘menggugat realitas’ ke arah pencerahan. Proses pengerjaan naskah membutuhkan kecerdasan kreatif, memiliki keharusan menguasai masalah dan pengetahuan serta memahami tafsir terhadap ketiga cerita rakyat yang telah tertatanam di kepala masyarakat. Karenanya, kerja awal mengumpulkan informasi dan data sekaitan tema garapan, menjadi penting.

Ketika naskah itu selesai, Wisran berpikir untuk mementaskan. November 1976, ia mendirikan Bumi Teater, yang sekaligus memilihnya sebagai pimpinan dan sutradara. Pendirian Bumi Teater bersama Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Raudha Thaib (Upita Agustin), A.Alin De dan Herisman Is, menjadikan Wisran makin tertantang. Ia pun menggarap Puti Bungsu, kemudian dipentaskan pada juni 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang ketika itu juga ditayangkan oleh TVRI. Masa latihan, juga merupakan masa revisi yang sekaligus penguatan di sana-sini bagian tertentu naskah Puti Bungsu.

Ternyata, naskah dan pertunjukan lakon Puti Bungsu mendapat gugatan serius dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh dari kalangan adat dan agama di Sumatra Barat. Bahkan ada yang mengajukan protes ke gubernur. Alasannya, karakter yang dipinjam Wisran (Malin Kundang, Malin Deman, Malin Duano dan Sangkuriang), berbeda dengan aslinya. Tetapi, bagi Wisran, itulah tendangan dari silat kata yang diberinya energi kreatif dan pemikiran yang menemukan realita baru dalam menafsir fenomena kehidupan, naskah drama dan tokoh adalah medianya. Prof. Dr. Umar Junus, kritikus yang kini mukim di Malaysia, mengatakan ketika itu, bahwa naskah Puti Bungsu sesungguhnya bentuk menggunakan naskah atau karya sebagai alat melihat kenyataan sosio budaya masyarakat.

Bagi Wisran, kalau seorang kreator hanya menggambarkan kembali sesuatu sebagaimana yang sudah ada, tertanam di benak masyarakat, itu tentu sebagai hal sia-sia. Tidak ada nilai kejut yang memberi penyadaran, bahwa kehidupan ini mestinya melesat ke arah pencairan suatu yang beku sebagai sebuah gagasan, nilai dan tatanan budaya ke arah nilai yang lebih kembali memanusiakan dan memberi makna baru. Karena itu hati dan pikiran kita bekerja.

Seperti gregetan melihat kecenderungan kenyataan sosial, budaya dan fenomena-fenomena yang mematikan imajinasi dan logika atau nalar masyarakat karena tidak ada ‘penggelitik nakal’ pada pikiran dan imajinasi masyarakat, Wisran makin produktif menetaskan naskah-naskah yang kontroversial. Maka Malin Kundang dalam naskah tidak durhaka dan tidak menjadi batu. Pahlawan Tuanku Imam Bonjol adalah sosok yang juga manusia, punya perasaan gamang, ragu, konyol, dan bahkan ikut menggunting pita dalam peresmian sebuah proyek. Hang Tuah dan Hang Jebat dalam naskahnya berjudul Senadung Semenanjung, juga dapat kecaman dari orang Melayu karena tergambarkan bukan sebagaimana terdapat dalam cerita aslinya, sehingga naskah Wisran dianggap merusak cerita kebanggaan Melayu. Dan banyak lagi naskah Wisran digugat bahkan ada para tokoh, ulama dan adat sampai pemerintah daerah yang menyidangkan Wisran sebagai penjungkirbalikan fakta sejarah dan hal yang dianggap kekayaan budaya. Tapi, tak satu pun jeratan yang mampu mengungkung Wisran. Ia tetap, malah makin banyak yang diparodikannya. Karena itu, hampir dari ratusan naskahnya (drama, novel, cerpen, esei, cerita rakyat), bernuansa parodi, atau setidaknya mengejek dengan permainan kata atau perilaku unik tokoh yang diciptakannya.

Karena Kata dan Tanya?

Proses kreatif oleh Wisran adalah bermula dari sejauh mana kita mempertanyakan sesuatu, baik dari sisi sosial, budaya, adat dan kehidupan yang tengah berkembang pada masyarakat. Kemudian, sejauh mana sesuatu bisa dimaknai dengan kata yang juga mempertimbangkan pembaca atau audein sebuah pertunjukan. Atau sejauh mana kita mampu memparodikan dan memperolok sesuatu dengan cerdas lagi indah? Seandainya memiliki kritik sosial, kritikan itu bagaimana membungkusnya dengan kata sebagai busana, parodi sebagai permainan dan ironika yang menyentil.

Pada drama misalnya. Ia menyadarai ekespresi akhirnya ke pertunjukan. Berarti, bukan semata mendeskripsikan. Maka pertanyaan yang dirinya menjadi detil dan kompleks terhadap cerita dan tokoh-tokohnya. Misalnya, apakah Hang Tuah, Malin Kundang atau Cindua Mato itu seorang banci, atau botak kepalanya? Apakah dia seorang yang pemarah atau ramah? Apakah yang menjadi kesenangan setiap tokoh itu? Bagaimana pula dengan Sangkuriang, Gading Cempaka atau Dara Jingga? Cantikkah? Keramatkah dia seperti Nyi Roro Kidul? Atau perempuan-perempuan biasa saja?

Jawaban yang didapat kemudian adalah tantangan baru. Tokoh harus dijajaki kemungkinan sosoknya. Tidak kasat mata lagi melihatnya. Melainkan mengarah pada pendalaman. Misalnya, kalau diangkat menjadi tokoh, bagaimana cara berpikirnya, watak, budaya yang melatarinya serta keyakinan yang menyemangati hidupnya. Kemudian, pengarang juga akan mempertanyakan, apakah Imam Bonjol itu hampir seperti nabi, Cundua Mato apa buktinya sebagai orang Minang, Hang Tuah adakah benar sebagai orang Melayu. Kalau pertanyaan-pertanyaan kritis dan bertujuan positif tersebut tidak bisa dijawab, artinya sebagai penulis naskah harus menyadari, ia mengehentikan dulu dulu kerjanya. Kembali kepada studi lanjutan untuk memosisikan tokoh yang ditampilkan. Ini agar memiliki argumen, tidak seperti mengarang-ngarang sesuka hati saja. Pengarang harus memetakan masalah, pertanyaan yang butuh jawaban serta solusi yang pas untuk naskah. Ia juga harus memahami, dari displin ilmu mana ia harus bergerak, sesuai tentu dengan kebutuhan penulisan.

Sebagaimana selalu diungkapkan Wisran dalam setiap wawancaranya, dalam kretaivitas atau proses penulisan kreatif ia tetap bertolak pada data-data yang telah tersedia. Data-data yang dicari dan dikumpulkan dari berbagai disiplin keilmuan dan asumsi-asumsi. Penafsiran-penafsiran yang dilakukan kemudian tehadap data-data itu juga ditopang oleh logika artistik, sesuatu yang disarankan bagi penulis naskah yang juga sutradara.

Dalam menafsir, keselarasan peristiwa dengan kurun waktu dan manusianya, harus bisa dicerna logika. Begitu juga konflik-konflik yang terjadi di sekitar tokoh. Kemudian, bagaimana mengemas konflik dengan sugesti pada perjalanan kehidupan tokoh-tokoh, baik dengan dirinya, masyarakat, latar belakang budayanya. Sehingga, ada sisi lain yang diharapkan dari sebuah naskah sebagai produk intelektual dan budaya, yakni dapat membantu peneliti memandang masalah-masalah tokoh yang diamati.

Membaca naskah-naskah Wisran, juga menyaksikan pertunjukannya, kita melihat sesuatu yang diparodikan, tukikan yang ironis, permainan kata yang liar dan satir. Kritik-kritik sosialnya disampaikan seperti dengan bercemooh atau bergurau dan beberapa bahkan dengan plesetan kata. Karena ia menyadari, kekuatannya adalah kata. Kata salah satu sumber kekuatan dan idenya, selain dari membaca, melihat permainan tradisi, kehidupan masyarakat adat, kelas bawah atau perilaku pemangku adat dan pejabat. Tak heran tentunya, ketika deretan penghargaan diraih Wisran, yang diakibatkan bahwa menulis naskah drama, termasuk novel, cerpen, adalah menulis kehidupan dengan tajam sehingga sayatannya bisa dirasakan setimpal dengan pengetahuan yang menikmatinya.

Banyak penghargaan diraih Wisran. Buktinya: menerima Penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta melalui Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional atas buku Empat Sandiwara Orang Melayu, di Jakarta, 4 Oktober 2000. Penghargaan Sea Write Award 2000 dari Kerajaan, Thailand atas buku yang sama, 21 September 2000 yang diserahkan di Bangkok oleh Princess Bajrakitiyabha. Kemudian ia juga mendapat Hadiah Buku Utama dari Yayasan IKAPI dan Departemen Pendidikan Nasional atas buku novel Tamu di Jakarta, 2 Oktober 1998 serta Hadiah Buku Sastra Terbaik Pertemuan Sastrawan Nusantara melalui buku drama Jalan Lurus, 11 Desember 1997 di Padang. Wisran juga merupakan Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1996 atas naskah drama Gading Cempaka. Lalu sebelumnya ia memenangkan Sayembara Penulisan Drama Kanak-kanak Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1996 atas naskah drama Mama di Mana, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1980 atas naskah drama: Imam Bonjol, pemenang Sayembara Penulisan Naskah, Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1979, atas naskah drama: Penyeberangan, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1979 atas naskah drama Pewaris, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1978 atas naskah drama: Perguruan, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta1978 atas naskah drama: Malin Kundang, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1977 atas naskah drama: Cindra Mata, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, 1977 atas naskah dramaAnggun Nan Tongga. Menerima hadiah pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta, 176 atas naskah drama: Ring, pemenang Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 1976 atas naskah drama: Gaung.

http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/melukis-kata-menjadi-berjiwa/