MENGGANGGU PIKIRAN DENGAN KATA

Bagian 1 tentang Wisran Hadi
Yusrizal KW
yusrizalkw.wordpress.com

Karena lebih banyak melahirkan”wisran hadi” naskah drama dibanding novel dan cerita pendek, ditambah lagi ia juga seorang sutradara teater, maka tak heran kalau Wisran Hadi lebih kental disebut sebagai salah seorang tokoh teater Indonesia. Di dalam kehidupan kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Minangkabau, Wisran Hadi adalah seorang seniman yang fenomenal.

Disebabkan naskah drama yang ditulisnya dan pementasan yang disutradarainya sering mengundang perbincangan, mulai dari yang kontroversial sampai ke gagasan kata dan parodial sebagai salah satu nyawa karyanya, maka nama Wisran Hadi menemukan tempat ‘duduk’ yang pas di khasanah perteateran Indonesia. Jika Putu Wijaya dikenal dengan bentuk teror, Nano Rintiarno dengan gaya yang cenderung mengajak menertawakan diri sendiri, sedangkan Wisran Hadi pada bentuk mengeksplorasi kata dan parodial dengan sisi lainnya: membenturkan gagasannya dengan realita yang sudah ada, seperti sikapnya yang membenturkan pikirannya pada mitos, demi munculnya pikiran atau tafsir baru terhadap realita yang terjadi.

Dari puluhan naskah yang dilahirkan Wisran (umumnya dipentaskan oleh grupnya sendiri: Bumi Teater), sebahagian besar meraih penghargaan, diterbitkan dan dijadikan bahan kajian oleh peneliti sastra di dalam dan di luar negeri. Naskah-naskah Wisran selain berangkat dari mitos, hikayat, legenda, fenomena adat, sejarah, budaya Minang, juga pemahaman tentang agama. Kesemuaan picu gagasan itu, dieksplorasi Wisran ke dalam kata dengan pemaknaan yang senapas dengan keberadaan muasal gagasannya. Artinya, melalui kata, apa pun gagasan dan pijakan pikirannya, bertujuan mencetuskan nalar. Mendobrak logika yang tertumpu pada tatanan budaya dan tradisi masyarakat yang dinilainya telah menjadi kaku.

Di dalam karya-karyanya, Wisran Hadi telah mengubah sejumlah tokoh-tokoh yang telah menjadi mitos di dalam kebudayaan Minangkabau, menjadi tokoh-tokoh yang parodial. Ia mengejek Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Basa Ampek Balai, dan Cindua Mato, yang sesungguhnya hal itu bagi orang Minang sesuatu yang hidup sebagai hikayat yang dikagumi.

Menurut Prof. Dr. Mursal Esten (almarhum), dalam sebuah perbincangan di Restoran Serba Nikmat Padang, 18 Juli 1991, bahwa Wisran Hadi di dalam karya-karyanya meruntuhkan mitos dan memorak-morandakan status quo. Ia membuat kekayaan tradisi menjadi sesuatu yang relevan dengan zamannya. Karya-karyanya pada hakekatnya bukan hanya kritik terhadap tradisi, tapi lebih jauh adalah kritik terhadap fenomena zaman. Wisran tidak hanya bicara tentang Minangkabau, tapi lebih jauh, tentang bangsa dan manusia pada umumnya. Ia bicara tentang dunia hari ini dan tantangan-tantangannya, tapi menggunakan idiom-idiom tradisi (Minangkabau). Ia tidak menulis dalam bahasa Minangkabau, tapi dalam bahasa Indonesia. Pada hakekatnya, apa yang dilakukan Wisran Hadi adalah membuat tradisi menjadi baru, membuat adat bisa tetap terpakai.

Dalam naskahnya berjudul Puti Bungsu (Wanita Terakhir)¸ Wisran menggabungkan tiga mitos yang melekat di tengah masyarakat yaitu: Malin Kundang, Malin Deman dan Sangkuriang. Tiga mitos tersebut oleh Wisran, tidak diceritakan sebagaimana adanya keberadaan cerita itu di tengah masyarakat. Menurut Umar Junus, mitos tersebut oleh wisran telah mengalami proses demitefikasi. Penyatuan ketiga tokoh dalam cerita rakyat itu saja, sesungguhnya sudah merupakan demitefikasi. Tiga tokoh dalam narasi berbeda, oleh Wisran dipertemukan dalam satu ruang teks cerita baru: Puti Bungsu

Menurut Kritikus Sastra dari Fak. Sastra Universitas Andalas, Ivan Adilla, bahwa jika pada naskah dan pementasan Puti Bungsu Wisran banyak digugat dan dituding karena dianggap menjungkirbalikkan fakta (bagi Wisran sebagai parodi menghidupkan logika baru), dikarenakan masyarakat tidak terbiasa mengkaji, bahkan mendengar kajian tentang naskah Wisran oleh pakar atau pengamat. Sehingga, hal itu menyebabkan masyarakat, termasuk para tokoh Minang, tidak mencari makna untuk dipahami dari modifikasi maupun demitefikasi yang dilakukan penulisnya.

Seperti naskah Puti Bungsu misalnya. Umar Junus pernah menelaah naskah tersebut. Menurutnya, demitefikasi yang dilakukan Wisran melalui naskah Puti Bungsu, digunakan untuk mencari keadaan sosio-budaya yang oleh Wisran dilihat melalui naskah drama yang satu ini. Junus menyimpulkan, Wisran telah menyesuaikan mitos kepada hakikatnya yang dianggapnya ada pada keadaan sosio budaya yang dilukiskannya.

Sedangkan dalam pencermatan Ivan Adilla, sesungguhnya Wisran memiliki kecenderungan memberi tafsiran baru terhadap sesuatu, sesuatu itu antara lain bisa berupa cerita rakyat yang sudah ada. Wisran tidak melihat Malin Kundang sebagai cerita anak durhaka. Tetapi misalnya, ia ingin memberi isian baru untuk melihat struktur keluarga Minangkabau melalui tokoh-tokoh yang ada. Ia melihat sisi lain dari cerita yang sama. Alternatif demikianlah yang cenderung disodorkan Wisran. Misalnya, Malin Kundang sebenarnya tidak melupakan ibunya, tetapi ibunyalah yang cemburu kenapa Malin Kundang pulamg bersama seorang istri dan tidak bersama ayahnya.

Ditegaskan Ivan, bahwa dari tokoh yang sama, sebagai penulis, Wisran secara tersirat telah memberi alasan tentang tindakan tokoh dari sudut yang selama ini tidak diperhatikan orang. Yakni: Wisran menggugat ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya. Jika dalam cerita berjudul Malin Deman dikatakan bahwa Malin Deman menyembunyikan pakaian Puti Bungsu, sehingga bidadari itu tidak bisa lagi terbang ke langit. Tetapi, oleh Wisran, bukan Malin Deman yang menyembunyikan pakaiannya, melainkan Puti Bungsulah yang tidak mau lagi ke langit, karena ia jatuh hati pada Malin Deman.

Naskah-naskah Wisran umumnya bersetting Minangkabau. Sentilan-sentilan nakal, permainan kata, penjungkirbalikkan tokoh-tokoh, bagian dari ciri Wisran. Menurut Sahrul N, dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang, penulis buku Kontroversi Imam Bonjol, sesungguhnya tema-tema besar Wisran sangat menggelitik. Dalam lakon Imam Bonjol misalnya, oleh Wisran seperti sedang menggelitik pikiran dan menawarkan realita yang lebih mendalam. Seperti misalnya pembrontakkan terhadap sejarah Perang Paderi, atau sejarah Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, konflik kepentingan yang terdiri atas konflik politik, agama, ekonomi, adat dan budaya serta konflik sejarah. Dalam naskah ini, Wisran mencoba untuk melihat dengan kacamatanya sendiri secara rasional dan kritis.

Kepiawaian Wisran, selain memainkan kata dalam fungsi yang tepat sehingga unsur sastra menyatu dengan pas tanpa mesti kehilangan unsur dramatiknya. Dalam naskah berjudul Perguruan misalnya. Di sini, pemahaman sebagai penulis naskah tentang persoalan yang ditulis, memiliki arah kepada aspek pendalaman makna. Dalam naskah Perguruan, Wisran mengangkat realita perguruan Islam di Minangkabau, di masa Perang Paderi, memiliki pesan yang terbungkus busana bahasa yang cenderung filosofis. Betapa tidak terasa menggurui ketika ia menyampaikan persoalan Islam, pergulatan pikiran, pencarian nilai-nilai, argumentasi serta dinamika silat lidah orang Minang yang selalu berujung untuk kata dan pemahaman dan kias pada kata tersirat.

Masalah-masalah keagamaan, juga cukup menjadi perhatian dalam karya-karya Wisran hadi. Hal itu, tentu tidak lepas dari pendidikan yang ia dapatkan sejak kecil, karena ia terlahir dari keluarga seorang ulama, Buya Haji Darwas Idris. Khusunya, pada naskah Jalan Lurus yang mendapat penghargaan naskah terbaik Dewan Kesenian Jakarta, ada pesan religius tersirat di situ. Naskah ini sebuah lakonan yang penuh dengan eksplorasi kata, yang hakikatnya pada jalan kebenaran menuju ridha Allah. Lurus bukan berarti horizontal, melainkan vertikal. Bukan ke depan, tetapi ke atas, pada yang Mahakuasa.

Agaknya, Wisran memang seperti ‘berahi’ melawan kemandekan pikiran, kemapanan realita. Ia merasa gelisah untuk melihat kenyataan sosial dan budaya masyarakatnya, yang tidak mencengkeram wilayah Minangkabau, tetapi Indonesia umumnya. Penjungkirbalikan sesuatu, pemarodian hal-hal yang barangkali tabu dalam pandangan budaya dan adat, baginya hal yang menarik untuk mencetuskan daya kreatifnya. Dari umumnya naskah Wisran, sepertinya, masyarakat adalah publik yang pikiran dan nalarnya harus diganggu. Harus diguncang dengan tawaran-tawaran yang kadang terasa menikam kenyamanan kultur dan tradisi yang statis.

Wisran memilki prinsip yang nyaris sama dengan Rene Descartes. Kalau Rene Descartes meragukan segaka-galanya (cogito ergo sum), maka Wisran memiliki pengecualian. Bagi Wisran, seperti yang sering diungkapkannya, bahwa yang tidak boleh diragukan dan ditentang atau dijungkirbalikkan itu adalah Allah Swt, Alquran, Nabi Muhammad dan hadist. Setelah itu, ayah dan ibu kita. Selain itu? Boleh! Asal, dengan cara yang cerdik dan tepat, serta bisa dipertanggungjawabkan argumentasinya secara intelektual.

Hal itu, tentu salah satu jawaban, kenapa karyanya banyak dianggap kontroversi yang banyak memerahkan telinga masyarakat dan tokoh-tokoh, terutama di ranah Minang.

http://yusrizalkw.wordpress.com/2010/10/21/mengganggu-pikiran-dengan-kata/