KEKAGUMAN SEORANG HALIM HD

Zentha

Jokasmo adalah pentas monolog Cak Tohir, seorang tua di atas 60 tahun, mantan dalangnya grup lawak Srimulat. Berpentas secara maraton di 33 kota. Hanya membawa seorang diri dan tas butut berisi pakaian. Terserah saja, panitia pementasan menyediakan ruang dan properti bagi pementasannya.

“Bahkan,” kata Bang Halim,”ketika pentas di ISI Solo kemarin, kebetulan mati lampu. Toh, ia tetap melanjutkan pentas. Bercerita dengan gayanya yang kadang lucu, serius, dan kritis.”

Sampai-sampai para penonton yang terharu, menyediakan hape atau asesoris miliknya yang bisa mengeluarkan cahaya untuk membantu penerangan pada pementasan tersebut.

“Saya juga bingung, dengan semangat Cak Tohir ini,” kata Bang Halim lagi, “ia berpentas mengikuti naluri hatinya. Masak habis pentas dari Surabaya, ia lanjutkan ke Cirebon. Sudah gitu lantas ke jember.”

Mendengarkan cerita Bang Halim ini, seperti malah mengingatkan sendiri bagi seingat saya tentang sosok budayawan ini yang seringkali menuliskan predikat namanya di esai-esainya yang berupa pikiran-pikiran kebudayaan di media-media massa dengan sebutan networker kebudayaan.

Hidup berpindah-pindah. Begitu nampaknya, yang saya tangkap dan teliti dari kabar beliau ini. Sebentar adanya di Surabaya, lantas ada pergerakan seni disana. Sebentar ada kabarnya di Makassar, lantas ada festival seni di sana. Dan memang lebih sering saya bertemu beliau di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo. Sewaktu masih kuliah dulu, dikenalkan saya kepada beliau oleh Cak Luhur, teman satu kelas saya, yang juga adalah sutradara kondang di Grup Teater Surabaya, yang notabene juga adalah sutradara saya dulu di grup teater kampus saya di UPN Veteran Jogja.

Sejak perkenalan yang pertama itu, tepatnya pas pementasan “Caligula” olehTeater Payung Hitam dari Bandung di Ruang Teater TBS, di sebuah tanggal dan bulan di tahun 1996 kalau tidak salah. Seusai pementasan, setelah hujan reda, kami pun – saya, Cak Luhur dan Bang Halim – ngobrol di warung hik di bawah pohon, samping gedung teater TBS. Waktu itu, saya hanya pendengar yang baik. Menyimak bagaimana Cak Luhur dan Bang Halim bicara masalah Caligula dan juga proses atau perkembangan teater di Indonesia.

Pun, ketika suatu waktu, saya main di Wisma Seni di belakang TBS, bertemu lagi dengan Bang Halim. Selalu disambut ramah kedatangan saya. Tidak selalu beliau mengenal siapa yang diajaknya bicara. Karenanya, saya lantas mengenalkan diri sebagai temannya Cak Luhur. Dan karena saya datang membawa pertanyaan, beliau yang nampaknya sibuk pun, lantas mengajak saya duduk-duduk di pendopo. Bercerita apa saja, seperti beritikad memberi penjelasan pada setiapkali pertanyaan saya.

Dan pertemuan demi pertemuan saya yang tak terduga dengan beliau di sekitar wisma seni, TBS dan pernah di Jogja, barangkali beliau tidak selalu ingat, dan mengenal saya. Tapi karena setiapkali saya datang dengan bertanya, beliau pun senang dan mengalir saja bercerita. Hingga pada suatu kali, berkenaan dengan Rendra. Saya pernah mendengar dari mulut beliau yang selalu bertutur serius dantak pernah sekalipun saya tangkap bernada marah. Meski, bahan yang diceritakan adalah represi melulu, penguasa yang mengkerdilkan arti dan makna seni, pun begitu, banyak pula masyarakat kita yang seperti mengamini saja kesombongan pemerintahnya itu dengan bersikap hedonis dan cenderung lari meninggalkan adat tradisinya.

“Rendra adalah sahabat terbaik saya. Ia sangat mengesankan bagi saya bagaimana selalu berpikir positif dan optimis untuk terus bisa melahirkan karya seni. Meski zaman dimana ia hidup adalah zaman represif rezim,” kata Bang Halim, ”masih teringat bagi saya bagaimana dulu memahaminya sewaktu peristiwa perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis tahun 1972 yang diprakarsainya itu. Ia tidak saja seorang pribadi yang getol dalam menggali sesuatu yang baru dalam esensi misteri ilmu pengetahuan, tapi juga seorang yang kukuh dalam memperjuangkan arus kebudayaan.”

Begitupun, selalu asyik bagi saya ketika bertemu dengan beliau lalu mendengarkan kisah-kisah beliau yang bersentuhan dengan para sahabatnya. Seperti Emha Ainun, Soe Hok Gie, Arief Budiman, dan lainnya, yang dari tuturan beliau, ditandai sebagai sosok-sosok pembaharu kebudayaan di Indonesia.

“Saya bersyukur, bangsa ini memiliki teman-teman yang baik itu,” begitu lagi kata beliau yang pernah saya dengar dan ingat.

Begitupun sewaktu saya ketemu lagi dengan Bang Halim pada pementasan Teater Gandrik “Gundala Gawat” di Jogja, medio April yang lalu.

“Saya lagi pindahan rumah. Waaaahh …. Pindahan itu ternyata bukan urusan yang remeh,” kisah Bang Halim, “tapi saya harus sempatkan nonton pementasan ini.”

Dengan naik kereta Prameks dari Solo, pun, satu jam sebelum pertunjukan,laki-laki yang selalu ramah dan suka bercerita ini pun sampai Gedung TBY dan seperti biasanya, ketika bertemu beliau, langsung saya sodorkan pertanyaan. Dan begitulah, beliau pun panjang lebar berkisah mengenakkan telinga dan pencernaan saya.

“Seni itu anugerah,” kata Bang Halim, “jika ada yang mati-matian berjuang dan berusaha untuk menghadirkannya sudah sepantasnya kita menghormati dan menikmatinya.”

3 April 2013
https://id-id.facebook.com/notes/dwi-klik-santosa/kekaguman-seorang-halim-hd/10151636869718245