BUDAYA POSTMODERN DAN KAUM MINORITAS

Agus Sulton
Radar Mojokerto 14 Feb 2016

Kehidupan manusia terlahir menyimpan beraneka ragam sosiobudaya yang menyertainya. Tuhan menciptakan manusia dengan bermacam-macam latar dan mengantongi nasib atau takdir yang tidak mudah dibacakan secara nalar walaupun Tuhan juga menciptakan aturan-aturan sepatutnya dilakukan manusia dan tidak dikehendakinya kemungkaran. Hidup bisa dimaknai rangkaian bunga kecil, disebut-sebut makhluk sempurna yang dibekali akal namun lemah tanpa kuasa Tuhan. Jalinan kehidupan merupakan skenario ruang terkecil dari sebuah panggung drama yang sangat renta.

Dalam karikatur Indonesia yang dibangun dari tradisi ketimuran oleh nenek moyang dan kekuatan teologi leluhur menjadikan lingkungan kemasyarakatan dianggapnya lebih bermartabat dan beradab. Manusia yang terlahir dari kondisi lingkungan seperti ini dikehendaki menjalankan norma-norma sosial, budaya-adat, dan agama. Namun lingkungan yang baik dan beradab belum semestinya akan menghasilkan manusia-manusia sesuai pengharapan. Tuhan membekali manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencapai tujuan, harapan, dan cita-cita hidup yang dipilihnya.

“Dan Apabila Tuhan menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Tuhan” (Ar Ra’d/QS. 13:11). Pengertian tersebut memberikan sebuah makna bahwa dimensi manusia terbagi atas dua takdir; yakni takdir mubram, takdir yang tidak datap diubah kecuali atas pertolongan Tuhan dan takdir muallaq, takdir yang dapat dirubah oleh manusia melalui akal dan hati nurani manusia.

Manusia dan Dimensi Seks

Teori Red Quuen Hypothesis menjelaskan bahwa kegiatan seks merupakan aktivitas organisme harus terus beradaptasi dan berkembang biak tidak hanya untuk mendapatkan reproduksi keuntungan tetapi juga untuk bertahan hidup, terus berkembang menentang organisme dalam lingkungan yang selalu berubah, dan bermaksud untuk menjelaskan dua fenomena yang berbeda: tingkat kepunahan konstan seperti yang diamati dalam paleontologi rekor dan keuntungan dari reproduksi seksual.

Dalam perkembangannya, seks tidak semata-mata berdasarkan reproduksi keuntungan. Seks muncul karena ada naluri dan orientasi seseorang terhadap kehendak bangunan psikologis (psychology building). Tidak sedikit kasus penyimpangan seksual yang belum mampu dipecahkan seperti kelompok LGBTI. Lesbian, gay, biseksual, transseksual, dan interseks hadir dan mulai berkembang. Seseorang atau kelompok yang dulunya mereka takut terhadap sistem dan terintimidasi secara sosial sekarang mulai berani menyuarakan konflik batin yang dialaminya. Di Indonesia orientasi penyimpangan seksual dinilai banyak orang sebagai persoalan social pathology.

Semua orang pasti tidak menginginkan dirinya menjadi manusia berperilaku yang kurang baik, menyimpang dari ajaran-ajaran Tuhan. Namun orang terkadang lupa bahwa ada sebab lain seseorang orientasinya menyimpang menjadikan dia lesbian, gay, biseksual, transseksual, dan interseks. Dalam kontruksi sosial, hal demikian dinilai akibat lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat disertai media atau kelompok mempunyai peran serta membentuk seseorang mengalami penyimpangan seksual. Perhatian tersebut bersifat metanarasi asas-asas modern dan tidak diterimanya pluralisme kebenaran.

Dalam pandangan postmodern seperti sekarang ini, elemen pendukung penyebab penyimpangan seksual adalah faktor psikologi. Pembawaan diri seseorang kesukaan terhadap sesama jenis sudah tumbuh sejak mereka belia. Studi kasus menyatakan, mereka-mereka menjadi seorang lesbian, gay, biseksual, transseksual dan intersek karena dari kecil sudah ada naluri ketertarikan terhadap sesama, mudah berfikir sangat cabul apabila melihat orang yang dirasa tampan dan cantik. Di balik pasca pertemuan, mereka (belia) biasanya mudah melamun, berhalusinasi, dan mulai membangun praktik seksual kecil untuk memberikan argumentasi kepuasan. Saat mereka menginjak dewasa, memulai mencari lawan dan mencoba bergabung dengan kelompok-kelompok yang mendukung kebutuhan batinnya.

Konsep penyipangan seksual bukan semata-mata dampak sosial yang kurang baik. Penyimpangan seksual ibarat karakter atau naluri bawaan manusia sejak lahir yang tidak bisa dirubah tetapi dapat dikurangan perlahan. Dalam kutipan awal novel Ashmora Paria karya Herlinatiens mengatakan, bumi dan manusianya menghujat rerupaku dengan cairan kental dari mulut mereka. Bercerita tentang langit, udara, dan tanah menjadikanku semakin merasa kemiskinan jiwa yang membalut hidupku menjadi sedemikian kekal dan tunggal. Hingga membentuk sebuah epos hidup, tentang hikayat pribadi seorang perempuan bumi.

Tentu saja, kutipan demikian bisa ditafsirkan hujatan, cacian masyarakat, dan ceramah-ceramah tidak mempu menyadarkan diri (tokoh utama) menjadi seorang lesbian. Ia menjadi lesbi lantaran seperti takdir, naluri ketertarikan seks yang tidak mempu disembuhkan dengan mengkristalisasi keagungan langit, udara, dan tanah. Sehingga sangat salah kalau perbincangan akan penyimpangan seksual dihadapkan dengan penegakan hukum, dinarasikan sebagai teror moral dan penyakit masyarakat. Tuhan punya kuasa atas takdir yang tidak mampu diubah oleh kekuatan manusia siapapun kecuali atas pertolongan-Nya.

Dinamika LGBTI

Di Indonesia penyimpangan seksual masih mungkin dipandang tabu, seseorang yang sudah terindikasi dirinya mengalami penyimpangan seksual akan merasa takut untuk bersikap terbuka, lingkungan menjadi intimidasi terkuat mereka untuk bersikap tertutup. Dalam pengamatan lain, itulah yang dinamakan mereka sebagai gay dan biseksual. Penamaan arti lesbian, gay, biseksual, transseksual, dan interseks tidak bisa dimaknai secara terpisah dan mutlak tanpa memasuki history pribadinya dalam aktivitas seksual.

Dalam konteks masyarakat kita, pengertian harfiah tidaklah dapat dijadikan tolak ukur suatu kebenaran final, realisasinya orang yang mengalami penyimpangan naluri seksual melakukan pernikahan lawan jenis sekedar pengakuan sosial dan menghindari argumentasi masyarakat. Sebagian orang berpandangan, ritual pernikahan dijalankan untuk menciptakan harapan baru terhadap masa tuanya nanti.

Dengan demikian, keberadaan lesbi, gay, biseksual, transseksual, dan interseks tidak selayaknya dilihat secara subjektif. Diperlukan adanya kajian-kajian objektif yang bersifat solutif dan manusiawi. Mereka abnormal berangkat dari ragam konstruksi sosial, merindukan hak dasar hidup sebagai warga negara.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*