Sastra, Kiyai dan Pesantren [Relasi Kearifan yang Tenggelam]

Aguk Irawan MN *
jalanbuntu22.blogspot.co.id

Setiap kali kami sowan (berkunjung) ke ndalem (rumah) kiyai sepuh yang notabane Pesantren salaf, kami selalu ditanyai, apakah diwan atau kitab kumpulan puisi karya Hadratu Syekh Hasyim Asy’ari sudah diterjemah? Tentu kami jawab belum. Pertanyaan yang paling akhir, misalnya ditanyakan oleh Gus Sholah (KH. Shalahudin Wahid) dengan serius kepada kami saat berkunjung ke kediamannya menjelang bulan Ramadahan belum lama ini.

Ada dua kemungkinan kenapa kiyai sepuh itu sampai menanyai kami seperti itu. Setidaknya kami meraba-raba, karena dua alasan. Pertama, ia tahu kalau kami adalah penyuka puisi, atau sastra, baik itu sastra Indonesia maupun sastra arab, yang kebetulan punya latar belakang pendidikan Pesantren salaf. Kedua, kemungkinan ia tahu kami masih bekerja atau setidaknya keluarga besar LKIS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang punya penerbitan dan secara khusus punya lini Pustaka Pesantren, yang dinilainya kurang serius memperhatikan karya masterpeace dari para kiyai.

Dan yang membuat kami paling rikuh, karena merasa tertohok, ketika kiyai itu meneruskan pertanyaannya, kenapa kalian tak coba menulis puisi dengan bahasa arab? Bukankah engkau sudah cukup lama nyantri, bahkan belajar di Timur Tengah? Agar karya itu bisa diapresiasi yang lebih luas? Saat itu juga kami langsung tertunduk lesu dan benar-benar malu.

Tradisi Puisi di Pesantren

Dalam bentangan khazanah Islam dan Pesantren, tak dipungkiri memang, ulama-ulama masa lalu negeri ini, telah banyak menorehkan karya (sajak/syair) yang luar biasa monumentalnya. Bahkan bertaraf dunia, sebut saja (sekedar menyebut nama beberapa saja dari banyak kiyai yang kreatif), seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi dan tentu saja Kiyai Hasyim Asy’ari dan Kiyai Bisri Mustofa yang telah menulis begitu indah Syarh Qashidah Munfarijah, buah pena Taqiuddin As Subki, yang kesemuanya adalah berbahasa Arab.

Kepiawaian para kiai bermain diksi, juga rima dalam sajak (syair) itu tentu lantaran selain kemahirannya dalam ilmu bahasa arab (seperti telah benar menguasai ilmu arudl dan balagah) juga ditunjang oleh malakah atau insting ekspresinya yang begitu lembut, karena ia sering terlibat dan turut merasakan kegetiran yang terjadi di sekelingnya. Oleh karena itu tak sedikit kiyai tempo dulu itu punya kelebihan semacam ikhtira’, yaitu kemampuan berimprovisasi secara sepontan, sehingga dengan muda saja sajak-sajak yang begitu indah dan dengan deras keluar dan mengalir dari bibir atau penanya.

Salah seorang kiyai yang punya kelebihan seperti itu adalah Kiai Abdul Hamid Pasuruan– yang dikenal sebagai seorang wali. Menurut Kiyai Mustofa Bisri, dalam menerangkan berbagai hal ilmu agama kepada santrinya, ia kerap menjadikan kitab fiqih yang awalnya sulit dimengerti menjadi bentuk nadzaman (sajak) yang begitu indah. Bahkan secara sepontan sang kiyai yang sedang berada di depan para santri, langsung merangkai kalimat. Sehingga santri dengan mudah dapat menerima pelajaran. Kiyai ini, secara khusus juga telah mengadaptasi kitab sufistik Sullam At Taufiq yang begitu tebal menjadi sajak yang hanya 553 bait dengan warna lokal-Jawanya. Selain itu, ia juga telah mengiramakan 99 nama Allah (Al Asma’ Al Husna) dengan begitu syahdu dan mengalir.

Selain Kiyai Hamid, Ahmad Qusyairi Siddiq Jember, yang mertua dari Kiyai Hamid juga telah menulis 312 bait sajak dibawah judul Tanwir Al Hija. Sajak ini menjelaskan bagaimana hubungan teologi dan fiqih yang harus saling melengkapi dan beriringan. Dan yang mengagumkan, karya ini membuat ulama kesohor arab, Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki, menulis sebuah syarah dari kitab sajak tersebut dibawah judul Inarat Ad Duja. Ada juga Shalawat Qur’aniah karya Kiai Abdullah Umar Semarang, yang sering disenandungkan oleh para santri khufad-khufadzah, serta saduran Shalawat Badar yang sangat fenomenal karya Kiai Ali Manshur Tuban, kedua karya ini begitu digemari oleh umat-muslim tradisional di sepanjang Pantai Utara. Masih banyak contoh lain, yang tak mungkin dijelaskan satu persatu.

Estafet Kejayaan Islam

Kenapa para kiyai zaman dahulu itu begitu kreatif? Ini ternyata warisan islam dan ulamanya di masa lalu. Dalam tradisi Islam, khususnya pada masa perjuangan Nabi, sastrawan dan karyanya memiliki peran yang cukup penting. Saat perang Khandaq, Nabi Muhammad juga menyenandungkan puisi. Bahkan Nabi memberikan penghargaan kepada Ka’ab bin Zuhair yang membacakan puisi di depan Banat Su’ad.

Tradisi itu berlanjut, misalnya Imam Syafi’i yang identik dengan ulama fiqih (hukum Islam), juga menulis ribuan puisi yang terkumpul dalam Diwan As-Syafii. Salah seorang Imam dari empat mazhab fikih, bersama Maliki, Hanafi, Hambali. Dari tangan Ibnu Hazm, ulama fiqh asal Spanyol, penulis buku fikih termashur Al Muhalla, tercipta puisi cinta yang luar biasa indah Tauqul Hamamah (Kalung Burung Merpati).

Sementara para penyair Islam non-ulama (fiqih) antara lain ada Muizzi, Abu A’la Alma’ari, Hathim At Thai, Abu Nuwas Al Hani, Abu Faraj al Asfahani, hingga Syauqi Bey. Dari kalangan sufi, orang tak akan melupakan Jalaludin Rumi, Hafiz, Attar, Al Hallaj, Rabiah al Adawiyah, Abu Yazid al Bustami, dan masa-masa subur para penyair sufi Islam pada abad ke 10-14.

Persoalannya kini, kenapa tradisi yang kreatif dan arif di masa lalu itu tak bisa bertahan sampai kini? Padahal jumlah kiyai, dan para gus selalu bertambah. Apalagi jumlah santri yang belajar ke Timur Tengah kian hari kian membludak pula? Mungkin salah satu pendorongnya adalah, karena penerus kiyai (santri dan mantan santri) kurang menghargai warisan masa lalunya, hal itu ditopang pula oleh kapitalisasi dunia perbukuan belakangan ini, karena laris manisnya terjemahan buku Timur Tengah ke Indonesia. Dan ini, tak dibohongi membuat masyarakat Pesantren sangat terlena? Wallahu ‘alam bishowab.

* Seperti tertulis dalam bukunya “Pesan Al-Qur’an Untuk Sastrawan”, pernah disampaikan dalam acara Ngabuburit Sastra, Matapena, 9 Agustus 2011.
http://jalanbuntu22.blogspot.co.id/2015/05/sastra-kiyai-dan-pesantren-relasi.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*