MENGENANG WS RENDRA, Penghayatan Cinta Rendra kepada Allah

Musa Ismail *
http://riaupos.co

SIAPA yang tidak mengenali Rendra? Beliau bernama Willybrordus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo. Sastrawan besar yang biasa disapa W.S. Rendra itu lahir di Kampung Jayengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 7 November 1935, pukul 17.05 WIB. Ayahnya bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmojo. Ibunya, Raden Ajeng Ismadillah. Pendidikan SMA Rendra di kampung kelahirannya. Willy—begitu sapaan akrabnya—masuk Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan meraih gelar Sarjana Muda (B.A). Pada 1964 hingga Agustus 1967, Rendra berada di Amerika Serikat. Di sana, ia belajar di American Academy of Dramatic Arts.

Pendidikan Rendra dari TK hingga SMA sangat memengaruhi kepribadiannya. Menurut Rendra, ayahnya memang ekstrem anti-feodalisme. Niat ayahnya mendidik anaknya secara modern dan Barat tidak bisa diubah walaupun Eyang Sosrowinoto tidak menyetujui cucunya dimasukkan di sekolah Barat. Rendra dimasukkan di TK milik Yayasan Kanisius yang dikelola Suster Fransiskan dari Misi Katolik Belanda. Sekolah ini mempraktikkan metode pendidikan Maria Montessori (ahli pendidikan Italia) dan Froebel (ahli pendidikan Jerman). Montessori (1870-1952) menitikberatkan pada pembebasan anak didik. Friedrich Wilhelm August Froebel (1782-1852) sangat memerhatikan unsur-unsur naluri dan intuisi dalam mendidik. Rendra merasa beruntung dididik di sekolah Barat modern yang progresif.

Selama di TK dan SMA inilah, dia ditempat untuk mengungkapkan diri dengan bebas, jelas, dan teratur. Pemahaman Rendra tentang demokrasi dan hak asasi manusia lahir dari lingkungan pendidikan ini. Selama pendidikan, dia dilatih menganalisis secara ilmiah dengan tuntas. Kenyataan objektif diberikan tempat penting dalam mempertimbangkan pikiran. Uniknya lagi di rumah, Rendra dididik oleh kerabat yang disapanya Mas Junaidi. Dia belajar tentang kesadaran pancaindera, kesadaran pikiran, dan kesadaran naluri. Rendra diajari meraba sebatang besi, kayu, pentungan karet, dan cara membedakan sifat benda tersebut melalui indera tangan.

”Melalui perabaan, saya juga dilatih menghayati pasir, tanah liat, abu, krikil, permukaan kaca, berbagai daun, lantai, tembok, dan sebagainya. Saya juga diajari menghayati lingkungan melalui pendengaran, penciuman, pengecapan, dan penglihatan,” kata penyair yang dijuluki Si Burung Merak itu.

Selain itu, Rendra juga mempelajari penghayatan hal-hal lain. Pertama, meraba raga (saya menerjemahkan penghayatan raga). Penyair yang mempelajari Silat Bangau Putih ini diajari duduk bersila dengan tenang, mata terpejam. Lalu, ia meraba-raba sesuatu hanya dengan pikiran. Sambil duduk bersila dengan tenang, Rendra meraba telapak kaki, lutut, bahu, hidung, daun telinga, ubun-ubun, bola mata, rongga hidung, dan seluruh bagian tubuh dengan pikiran. Latihan ini, menurut Rendra, mampu memunculkan rasa rileks dan rasa tentram. Kedua, meraba dunia (saya menerjemahkan penghayatan dunia). Sambil duduk tenang, Rendra dilatih meraba dunia sekelilingnya dengan pikiran. Misalnya, detail kamar tempat ia berada, kamar mandi, dapur, kelas di sekolah, kereta yang biasa membawanya ke sekolah, orang tua, teman. Pokoknya, seluruh isi alam raya, baik nyata maupun gaib. Menurut Rendra, latihan ini membawa rasa kebebasan yang sangat luas dan meningkatkan rasa solidaritas pada seluruh isi alam semesta raya. Kedua penghayatan ini, kata Rendra mengutip Mas Junaidi, disebut penyadaran pikiran. Baginya, pelajaran di sekolah dan di rumah saling mengisi.

”Rupanya, hal itu pula yang mendorong saya, sebagai seniman, sangat menghargai realisme—tapi tidak puas dengan sekadar realisme saja,” kata penyair yang suka bersemadi dan bertafakur ini. ”Itu juga memudahkan saya sebagai manusia untuk hilir mudik antara filsafat, mistik, ilmu pengetahuan, dan agama,” lanjutnya.

Dalam buku puisi Doa untuk Anak Kecil (kumpulan puisi Rendra yang belum pernah dipublikasikan), penyair Sapardi Djoko Damono berpendapat, ”Dalam keadaan apa pun, Rendra senantiasa menyihir kita lewat kata-kata” (tulisan disampul buku bergambar kendi yang meneteskan air bermotif bulu merak. Di atas kendi tersebut tertulis nama W.S. Rendra berwarna merah. Di bagian lain, penyair Seno Gumira Ajidarma berpendapat bahwa dalam hal Rendra, perhatian itu adalah kepedulian, keberpihakan, dan akhirnya keterlibatan sehingga sastra baginya jelas bukanlah sekadar seni demi pertumbuhan seni itu sendiri. Lalu, penyair Agus Noor berpandangan bahwa dalam banyak sajak Rendra selalu ada gairah pemberontakan, yang tak takluk pada keadaan. Kita terpesona bukan hanya pada kata-kata yang dituliskannya, tetapi juga pada tenaga dalam sajak-sajaknya. Inilah kenapa sajak-sajak Rendra menjadi penting di zaman ini. Zaman yang penuh godaan kesementaraan. Kemudian, Komaruddin Hidayat berkomentar bahwa Renda adalah sosok pejuang kemanusiaan dan kebudayaan dengan senjata kata-kata. Dia sosok besar yang piawai merangkai fenomena dalam kalimat-kalimat bernas. Disuntikkannya semangat dan gairah melawan dalam setiap pintalan baris. Membaca puisi-puisinya bagaikan tersengat percikan bara yang berusaha mempertahankan nyalanya di tengah serbuan hawa dingin. Yang terakhir, seniman Sujiwo Tejo berkata, dari dulu setiap membaca puisi Mas Willy (Rendra) dia selalu diingatkan bahwa walau meledak-ledak dan berdaya pukau, puisi bisa tetap sederhana, berbahasa sehari-hari, sangat religius.

Kereligiusan Rendra dapat kita kupas melalui beberapa puisinya dalam Doa untuk Anak Kecil (Bentang, 2013). Puisi-puisi tersebut di antaranya Tuhan, Aku Cinta pada-Mu (h.61), Gumamku, ya Allah (h. 3), Doa (h.5). Puisi-puisi Rendra tersebut merupakan pernyataan bahwa kehidupan ini tidak berjalan dengan sendirinya. Ada Allah Azzawajalla yang mengatur semua kehidupan ini.

Tuhanku, Aku Cinta pada-Mu
Aku lemas
tapi berdaya
Aku tak sambat rasa sakit
atau gatal.

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak napas
tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar.

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi.

Aku ingin kembali ke jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah.

Tuhanku, aku cinta pada-Mu.

Penghayatan akan alam sangat tergambar dalam puisi ini. Rendra menghayati alam nyata dan gaib dengan pikiran-pikiran kritisnya. Puisi ini merupakan bukti sikap kritisnya dalam menyikapi hidup. Kehidupan ini bermula dari Allah Taala dan berakhir kepada Allah Taala. Karena itu, …kembali ke jalan alam merupakan satu keinginan meningkatkan pengabdian kepada Allah sebagai rasa cinta kepada Khalik Semesta Alam. Di awal puisi ini, Rendra menolak keluhan melalui diksi sambat (keluhan/mengeluh) terhadap berbagai ”penyakit” kehidupan. Di sinilah letak kesadaran penghayatan Rendra kepada Allah. Semua kehidupan ini penuh rahasia Ilahi dan kerinduan seperti larik adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!….Api rindu pada-Mu menyala di pundak yang sepi (puisi Gumamku, ya Allah). Namun, apa pun hasil dari perjalanan kehidupan ini, Rendra tetap mengenang kematian. Allah menatap hati/Manusia menatap raga/Hamba bersujud kepada-Mu, ya Allah!/Karena hidupku, karena matiku// (dalam puisi Doa). Puisi ini merupakan kesadaran Rendra setelah penghayatan perjalanan panjang kehidupannya. Akhirnya, Rendra meninggal dunia pada Kamis malam Jumat, 6 Agustus 2009. Beliau dimakamkan di Kampus Bengkel Teater Rendra bakda salat Jumat. Ya, Allah, ampunilah dosa-dosa hamba/supaya bersih jiwa hamba/Sehingga dengan begitu mata hamba/bisa melihat cahaya-Mu/Telinga hamba bisa mendengar bisikan-Mu/Dan nafas-Mu membimbing kelakuanku/Amin, ya robbal alamin.***

*) Musa Ismail, adalah guru di SMAN 3 Bengkalis. Penulis juga dosen STAIN Bengkalis dan dosen Politeknik Negeri Bengkalis. Setakat ini, dia sudah menghasilkan tujuh buku karya sastra berupa cerpen, novel, dan esai sastra-budaya.
http://riaupos.co/3201-spesial-penghayatan-cinta-rendra-kepada-allah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*