Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Pertama)

Maman S Mahayana
http://riaupos.co

JAGAT Nusantara adalah kisah eksotisme manusia alam. Kebersatuan manusia Nusantara dengan alam itulah yang lalu menghasilkan kebudayaan, melahirkan kesenian, menciptakan puisi! Sebelum bangsa-bangsa asing datang ke Nusantara memperkenalkan kebudayaan mereka dengan segala sistem kepercayaannya, seperti Hindu, Buddha, dan Islam, lalu menyusul Kristen, dan di antara itu: konfusianisme, penduduk etnik di pelosok Nusantara ini sudah hidup semarak dengan sistem kepercayaannya sendiri. Dan puisi telah mereka lahirkan berdasarkan sistem kepercayaan itu sebagai bentuk penghormatan pada alam dan pengagungan pada sesuatu yang dianggap sebagai penghuni atau penguasa alam.

Kedatangan bangsa-bangsa asing adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Maka, segala kebudayaan atau apa pun yang datang dari luar, diterima begitu saja, tanpa resistensi ketika semuanya disampaikan secara baik-baik. Tetapi, kepercayaan yang sudah ada dan menjadi denyut kehidupan keseharian mereka, tetap terpelihara, dan tak hendak dicampakkan begitu saja. Atau, setidak-tidaknya, mereka berusaha mempertahankannya, meski tak terhindarkan lahir sebuah hibrida lewat proses akulturasi dan inkulturasi.

Begitulah, bangsa yang mendiami wilayah Nusantara ini, sudah terbiasa hidup dengan segala keberagaman, lantaran dalam dirinya sudah mendekam naluri budaya yang juga beragam. Heterogenitas, bagi masyarakat Nusantara, adalah keniscayaan, dan sekaligusnya juga seperti sudah sejak awalnya memang begitu: take for granted!

Lihatlah, bagaimana animisme, Hindu, dan Islam bersanding baik-baik saja, seperti yang kerap kita lihat pada ziarah kubur menjelang ramadhan atau seusai lebaran. Bagaimana pula dua “tuhan” disimbolkan pada dzat yang bernama Dewatalla –dewa dan Allahtaalla—. Dia tinggal di swargaloka bersama para bidadari yang kerap turun ke bumi. Dan para bidadari itu sengaja turun ke bumi sekadar hendak merasakan keindahan alam. Mereka iri pada manusia karena manusia, selain leluasa menikmati keindahan jagatnya, juga dapat merasakannya langsung benda-benda alam. Merasakan hangat matahari atau bisa bebas berkecimpung mandi di sungai. Maka, para bidadari pun coba pula mandi, menikmati dan merasakan langsung dinginnya sungai atau air telaga. Saat itulah alam akan memberinya isyarat kepada manusia. Terhamparlah di kaki langit garis melengkung warna-warni yang lalu disebutnya: pelangi! Itulah pertanda alam.
***

Puisi paling tua di Nusantara ini lahir dari ekspresi mereka hidup bersama alam. Mereka belajar pada tanda-tanda alam, dan alam mengajari mereka menciptakan bahasa yang penuh analogi, metafora, personifikasi, simbolisme, dan entah apa lagi. Jadi, jangan salah, leluhur kita sejak lama sudah menjadi penyair alam. Fenomena alam bagi mereka adalah isyarat kehidupan. Maka, perilaku mereka dalam menata kehidupan sosial, tak lepas dari alam sebagai cermin, sebagai pantulan, sebagai representasi penguasa alam memberi penyadaran pada manusia. Dari sanalah penghormatan, ketakjuban, dan sikap hidup wujud dalam bahasa manusia dengan alam sebagai simbolnya.

Majas analogi, metafora, personifikasi, atau simbolisme dalam bahasa manusia, tidak lain merupakan ekspresi mereka, yang –menurut manusia modern sebagai bahasa atau ungkapan puitik—diperlakukan sebagai substansi puisi. Bukankah puisi dibangun lewat kekuatan gaya bahasa semacam itu. Bukankah puisi menjadi lebih hidup lantaran di sana ada ‘penyelewengean’ bahasa denotatif yang berubah maknanya menjadi konotatif.

Siapakah dari leluhur kita yang mula sekali memperkenalkan metafora: “air tenang menghanyutkan”, “bagai air di pembuluh,” atau personifikasi ilmu padi: makin berisi, makin merunduk? Untuk mengatakan sisi negatif watak manusia, tak perlu pula caci-maki dan sumpah seranah disemburkan. Cukuplah dikatakan: “musang berbulu domba,” atau “ada udang di balik batu,” “pagar makan tanaman,” atau “kacang lupa kulitnya,” dan seterusnya.

Konon, pola persajakan seperti itulah yang disebut bidal. Ada pula yang menyebutnya, peribahasa. Itulah model bahasa puitik, seperti juga mantra, yang paling arkaik. Maka, jika kita mencermati bidal, atau peribahasa, lebih dari separohnya, dapat dipastikan di dalamnya ada pesan-pesan yang kerap berkaitan dengan benda-benda alam.

Peribahasa atau bidal yang dilahirkan masyarakat berbagai etnik di Nusantara itu tidak lain merupakan representasi kedekatan masyarakat dengan alam. Sebutlah misalnya, peribahasa, bagai katak dalam tempurung atau seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Bukankah ungkapan itu sebagai ekspresi metaforis, maknanya tidak ada kaitannya dengan katak dan padi.

Ada pula contoh lain yang bermakna negatif yang berkaitan dengan kehidupan sosial, seperti, antara lain, musuh dalam selimut, padi ditanam ilalang yang tumbuh, atau si pungguk merindukan bulan. Bagaimana pengkhianat disebut musuh dalam selimut, orang yang tak tahu berterima kasih dikatakan sebagai pagar makan tanaman atau padi ditanam ilalang yang tumbuh, dan orang yang mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dapat diraihnya dikatakan pungguk merindukan bulan atau katak hendak menjadi lembu? Bukankah semua itu merupakan ekspresi metaforis? Mengatakan begini yang maksudnya begitu?

Di kalangan filsuf di Yunani sono, ada ungkapan sindrom buah apel—ada pula yang menyebutnya sindrom apel masam. Ungkapan itu ditujukan kepada seseorang yang gagal atau tidak dapat meraih sesuatu, lalu dikatakanlah, bahwa sesuatu itu tidak baik, jelek, dan seterusnya yang serbanegatif. Kini kita bertanya: siapakah orang Melayu yang pertama sekali memperkenalkan peribahasa: “Jangan karena tak mampu menjuluk, mangga manis dikatakan busuk.” Bukankah sindrom buah apel artinya sama dengan sindrom buah mangga? Itulah kekhasan sebuah peribahasa. Selalu ada warna lokal di sana, meski maknanya bisa berlaku universal.

Penciptaan bahasa seperti itu tidak lain, lantaran alam kerap menjadi cermin, menjadi bahan pertimbangan dalam perilaku sosial. Maka, kata-kata umpatan, caci-maki, dan sumpah seranah, sesungguhnya tidak perlu benar disampaikan secara verbalistik, sebab dalam hubungan manusia dengan alam, manusia sudah memanfaatkannya dengan sangat bijaksana. Bukankah buaya darat, muka badak, macan ompong, mulut harimau, lidah ular, otak udang—otak kerbau, kupu-kupu malam atau cinta monyet dan seterusnya, tidak lain adalah bentuk eufimisme untuk menyebut seseorang yang berperilaku negatif. Begitulah para binatang menjadi simbol. Maka, keburukan manusia cukup bercermin pada perilaku para binatang itu.

Selain para binatang, benda-benda alam pun dimanfaatkan untuk ‘bercermin’. Lahirlah benda-benda alam yang dilekatkan pada tubuh manusia. Sebut saja, misalnya, kepala batu, mulut jamban, lidah api, dan seterusnya. Itulah kreativitas manusia memanfaatkan alam untuk menciptakan bahasa dalam kehidupan sosial.
***

Kreativitas manusia tidak cuma berhenti sampai di sana. Di balik alam, bersembunyi makhluk lain yang mukim di sana. Bahkan juga yang mungkin menjadi penguasa alam. Kadang kala alam yang tidak ramah membuat manusia merasa perlu melakukan bujuk rayu atau meminta pertolongan makhluk lain untuk meredakan kemarahan alam. Dari sanalah muncul puja-puji, bujuk rayu, doa pengharapan dan keselamatan atau sekadar say hello hendak menyapa makhluk penghuni atau penguasa alam.

Segala puja-puji dan bujuk rayu itu tidak lain adalah ekspresi komunikasi antara manusia dan makhluk gaib. Itulah sebabnya, kita memahami, bahwa peristiwa komunikasi itu bukan dalam konteks hubungan sosial, melainkan hubungan dengan makhluk lain yang punya bahasanya sendiri, dunianya sendiri. Mengingat komunikasi itu ditujukan bagi makhluk gaib, maka hanya mereka saja yang memahami puja-puji dan bujuk rayu itu. Di dalam komunikasi seperti itu, peristiwa menjadi lebih penting daripada makna, suasana yang dihadirkan lebih penting daripada pesan. Demikian juga, kata-kata atau kalimat yang jumpalitan dan tak dapat ditangkap maknanya, tak menjadi soal, sebab yang penting di sana adalah penghadiran suasana magis. Di situlah pengulangan bunyi yang sama atau kata yang sebunyi atau repetisi, memainkan peranan agar tercipta jalinan komunikasi antara manusia dan makhluk gaib yang entah itu.

Perhatikanlah teks di bawah ini:

Deungdeuleu sima deuleu
Deungdeuleu malik katineung
Nénjo aing sia ceurik
Ceurik sia inget ka aing
Nya aing nu boga asihan neuleu.

Lihatlah-lihat sihir lihatlah
lihatlah-lihat berbalik rindu
pandang aku, kau menangis
tangismu ingat aku
karena akulah pemilik pengasih pandang

Itulah doa kemat atau asihan (mantra) dalam bahasa Sunda yang dalam bahasa etnik lain, juga dapat dengan mudah kita jumpai. Alam, jagat supranatural, kehidupan dunia gaib, kisah-kisah mitis jagat tidak kasat mata, telah mengajari leluhur kita menciptakan metafora, analogi, personifikasi, yang segalanya itu tanpa disadarinya, telah memperkaya bahasa, menghadirkan doa puja-puji, melantunkan puisi!
***

Apa kaitannya uraian panjang lebar tentang penyair alam dan doa puja-puji yang menjelma mantra dengan antologi puisi yang berjudul Olang 2 karya Dheni Kurnia? Di sinilah kehadiran antologi puisi Olang 2 karya Dheni Kurnia dalam peta perpuisian Indonesia menjadi khas, sangat unik, dan tentu saja penting. Pengalaman Dheni sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Talang Mamak yang tinggal di wilayah Bukit Tigapuluh, Indragiri Hulu, Riau, telah menjadikan puisi-puisinya sebagai ekspresi gebalau batin dan sekaligus juga semacam gerak spiritualitas yang tidak dapat dibendungnya lagi untuk berkabar tentang dunia Talang Mamak. Sekian lama ia mengerami pengalaman hidup dengan masyarakat Talang Mamak, memendamnya lama, tiba-tiba seperti mencolot begitu saja. Maka, dapat dipahami jika penyair menempatkan puisinya sebagai realitas, sebagai fakta.

Jika menelusuri bagaimana para leluhur Nusantara ini menciptakan puisi, menjadikan dirinya sebagai penyair alam, maka Dheni Kurnia seperti begitu saja memadukan puisi alam dengan mantra; atau sebaliknya. Tentu saja di dalamnya, termasuk tradisi masyarakat. Lalu, dengan kesadaran sebagai penyair kotemporer, ia merasa perlu mengemasnya tidak sebagai mantra atau doa-doa an sich, melainkan sebagai puisi yang di sana, mantra dan jampi-jampi, menjadi ruh atau menjadi tubuh puisi; atau mantra dan jampi-jampi, lesap menjadi puisi kontemporer yang jejaknya dapat ditelusuri ke masa lalu. Di sana alam pun menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikannya begitu saja. Dengan demikian, tubuh puisi-puisi Dheni Kurnia, tidak lagi perlu berada dalam permainan tipografi atau penyusunan bait-bait, melainkan pada tuntutan puisi itu sendiri membangun tema melalui repetisi, persamaan bunyi pada larik atau antarlarik.

Kini kita coba membandingkan mantra Sunda tadi dengan dua bait terakhir puisi Dheni Kurnia yang berjudul “Bulian.”

Keramat menangkap ringgit
Hakikat adalah taburan ruh
Menghujat pelupuh dan gendam
Untuk mengisi ruang alam raya
Melalui gentong air biasa
Takluklah semua jin dan manusia

Adalah marah menjadi kenang
Adalah dendam menjadi rindu
Adalah hilang balek ke rumah
Adalah piutang takkan hilang
Adalah sayang tumpah ruah
Adalah rezeki bertambah tambah

Berdasarkan judulnya saja: “Bunian,” puisi ini mengisyaratkan pesan tentang peristiwa atau perkara atau dunia yang berkaitan dengan kehidupan makhluk halus: jin, siluman, hantu, tuyul, dan seterusnya. Mantra Sunda tadi adalah doa pengasihan, jampi-jampi pesona atau pengemat agar seseorang jatuh cinta kepada si pembaca mantra itu. Di Nusantara ini, begitu banyak mantra sejenis itu. Hampir semua etnik punya mantra demikian.

Nah, kini kita kembali pada puisi Dheni Kurnia. Perhatikan pesan dan cara membangun tubuh puisi itu. Pesannya seperti seseorang minta rezeki. Mungkin betul. Jadi, ada pula mantra minta rezeki dengan melibatkan peranan para makhluk halus, seperti seseorang yang memelihara tuyul, kecik, dan sebangsanya. Berdasarkan logika formal, pesan dalam puisi itu tampak seperti paradoksal. Bagaimana mungkin makhluk halus mengerti ringgit, rezeki, dan seterusnya. Bukankah urusan yang begituan hanya berada dalam dunia manusia?

Meskipun demikian, jangan lupa, bukankah dalam Islam pun, ada bermacam-macam doa untuk berbagai kepentingan, mulai urusan memasuki rumah-rumah agung sampai menuju tandas, mulai dari urusan pribadi sampai perkara publik, bahkan bangsa dan umat manusia secara keseluruhan. Begitulah, doa (dalam sistem kepercayaan mana pun) menjadi penting karena ia berkaitan dengan urusan iman, keyakinan, dan penciptaan harapan menghadapi kehidupan—yang dalam masyarakat tradisional dibangun lewat mitos-mitos. Mantra yang (dipercaya) dapat mendatangkan rezeki, sesungguhnya juga sekadar penciptaan harapan, tetapi tokh sering juga diperlakukan sebagai pembenaran rasional. Dengan begitu, rasionalitas dan irasionalitas cuma dibatasi garis tipis yang dalam beberapa kasus bisa bolak-balik menerabas garis tipis itu.

Di situlah, rasio, logika atau akal sehat, cenderung gagal menjelaskan peristiwa-peristiwa irasional dan gaib. Berbagai peristiwa gaib itu, hanya mungkin dapat dirasakan atau diyakini jika ada pengalaman batin atau pengalaman spiritual. Dheni Kurnia coba mengingatkan itu. Dan puisi yang menjadi salurannya, seperti memahami keterbatasan logika. Sering kali berbagai peristiwa gaib itu hanya dapat dirasakan, tetapi sulit dijelaskan. Puisi punya peluang menyimpan dan menyembunyikan berbagai peristiwa yang tidak dapat diungkapkan itu.

Dalam satu larik puisi, tersimpan begitu banyak peristiwa. Perhatikan lagi larik-larik pada bait terakhir puisi itu: /… marah menjadi kenang/ dendam menjadi rindu/ hilang balik ke rumah … mengingatkan kita pada salah satu ayat dalam surat Yassin: Kun faya kun! Jadi, maka jadilah. Oleh karena itu, marah menjadi kenang dan dendam menjadi rindu sesungguhnya, di belakangnya ada problem yang serius dan tak dapat diremehkan. Puncaknya dinyatakan dalam tiga larik terakhir: piutang takkan hilang/sayang tumpah ruah/ dan rezeki bertambah-tambah// Dengan demikian, puisi ini seperti hendak mengangkat nilai-nilai sakral sebuah mantra, dan sekaligus menjadikannya sebagai peristiwa profan lantaran yang diharapkan tidak lain persoalan duniawi yang dapat memberi kesenangan bagi manusia.

Sebagai sebuah teks puisi, secara tekstual kita dapat melusuri pesan atau makna yang tersebunyi di sana. Tetapi, jika teks itu ditempatkan sebagai sebuah peristiwa, maka kisah-kisah yang berada di balik fakta-fakta itu akan menjadi lebih hidup manakala ia berada dalam konteks peristiwa. Itulah yang saya maksud, peristiwa lebih penting daripada makna, karena di dalam peristiwa, kita sebenarnya dapat menangkap atau merasakan atau merasakan sendiri berbagai hal yang tidak terungkapkan itu. Di situlah keunikan puisi-puisi Dheni Kurnia dapat menjadi kisah besar dalam perjalanan perpuisian Indonesia.

Seperti disebutkan, batas peristiwa rasional dan irasional, dunia kasat mata dan alam gaib, atau fakta—fiksi, dapat dengan mudah dipertukarkan tempatnya. Kredo penyair: “Bagi saya, puisi adalah realitas—kenyataan” secara akademis memang masih dapat diperdebatkan. Meski begitu, jika kita lebih mencermati puisi-puisinya, maka kredo itu dapat kita pahami. Sebab, yang hendak ditekankan penyair adalah fakta peristiwa dan bukan makna teks. Dengan demikian, jika di antara sejumlah puisi Dheni Kurnia ini ada yang sulit dilacak maknanya, seperti juga sejumlah puisi Sutardji Calzoum Bachri dengan berbagai tipografinya, puisi-puisi yang demikian itu tidak termasuk kategori puisi gelap, sebab yang hendak diungkapkan di sana tidak lain adalah peristiwa (dalam) puisi, dan bukan makna puisi.

Tidak dapat dimungkiri, bahwa realitas masyarakat kita kerap berada dalam dua dunia: realitas faktual dan realitas fiksional. Atau, dunia yang ditandai garis demarkasi yang memisahkan rasionalitas dan irasionalitas. Tetapi itulah fakta dalam kehidupan masyarakat kita. Batas perkara rasionalitas dan irasionalitas bisa begitu tipis, atau bahkan kerap terjadi peristiwa tumpang tindih antara rasionalitas yang faktual, menjadi fiksional, sementara irasionalitas yang menabrak hukum logika, diperlakukan sebagai peristiwa faktual.

Untuk menegaskan, bahwa tarik-menarik dunia real dengan dunia gaib, kehidupan manusia dengan makhluk bunian dan sebangsanya, sebagai sebuah fakta penyair menampilkan pola mantra dengan permainan repetisinya. Dengan begitu, fakta-fiksi dalam puisi-puisi Dheni Kurnia bisa seenaknya saling bertukar tempat, sementara jejak mantra dapat dimanfaatkannya untuk menyampaikan berbagai kepentingan, baik yang berurusan dengan tema yang diangkat, maupun persajakan yang hendak dibangun.***

http://riaupos.co/3121-spesial-puisi-alam-membangun-mitos-baru.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*